Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Permintaan Maaf yang Gagal
Permintaan maaf yang gagal akan membuat Lana menyadari bahwa Adrian bukanlah pria yang bisa luluh hanya dengan tetesan air mata seorang gadis kecil. Lana berdiri di tengah lorong sekolah yang riuh dengan satu tangan mencengkeram erat selebaran berisi fotonya yang sedang dihujani fitnah keji. Kertas selebaran itu terasa begitu panas di tangannya seolah menyala karena kata kata keji yang menuduhnya sebagai orang yang tidak bermoral.
Maya berdiri tepat di hadapannya dengan senyum kemenangan yang membuat harga diri Lana serasa diinjak-injak di depan umum. Tangan Maya menunjuk langsung ke wajah Lana dengan gerakan yang penuh dengan penghinaan, sementara teman-teman Maya yang berdiri di belakangnya mulai mengeluarkan suara sorak ejek. Setiap mata siswa yang melintas memberikan tatapan yang sangat menghina seolah Lana adalah noda kotor yang mencemari lingkungan sekolah mereka.
Ia merasa kakinya sangat berat untuk melangkah sementara bisik-bisik jahat mulai terdengar semakin nyaring memenuhi koridor. "Lihat siapa ini, gadis yang suka bersenang-senang di malam hari," "Pasti mencari uang cepat dengan cara yang tidak benar," kata-kata itu terdengar jelas hingga membuat telinga Lana terasa sakit. Lana berusaha mencari perlindungan namun ia justru ditarik paksa oleh seorang guru bimbingan konseling menuju ruang kepala sekolah secara mendadak.
"Jelaskan pada kami semua, apakah foto di dalam selebaran ini benar-benar dirimu yang sedang bersenang senang di tempat maksiat?" tanya sang guru dengan nada bicara yang sangat tajam. Matanya memancarkan kebencian seolah Lana telah melakukan kejahatan yang tak terampuni di tengah lingkungan sekolah yang seharusnya suci.
Lana hanya bisa terdiam membisu dengan bibir yang bergetar hebat karena ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia berada di sana karena melarikan diri dari seorang kolonel. Kata "kolonel" dan "pernikahan" terasa seperti batu besar yang terjebak di tenggorokannya, tidak bisa diluarkan. Di dalam ruangan yang pengap itu, ia merasa sangat terpojok oleh tuduhan-tuduhan yang terus menyerang kehormatannya tanpa ampun.
Air mata jatuh membasahi seragam putih abu-abu nya namun ia tetap memilih untuk menutup rapat mulutnya demi menjaga rahasia pernikahannya. Setiap tetesan air mata yang jatuh hanya membuat ia merasa lebih lemah dan lebih terasing. "Jika kamu tetap diam, maka kami tidak punya pilihan lain selain memberikan sanksi pemberhentian sementara dari sekolah ini," ancam kepala sekolah sambil memukul meja kerja dengan keras.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan tersebut hingga suara dering gawai milik kepala sekolah memecah suasana yang sangat tegang. Bunyi dering itu terdengar seperti lonceng keselamatan, namun wajah sang kepala sekolah yang tadinya sangat garang seketika berubah menjadi pucat pasi saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar.
Ia segera mengangkat panggilan tersebut dengan sikap yang sangat sopan bahkan terlihat sedikit membungkukkan badannya secara refleks. Tangannya gemetar saat memegang gawai, dan ia berbicara dengan nada yang jauh lebih lemah. "Benar, Tuan Kolonel, siswi yang bersangkutan sedang berada di ruangan saya untuk kami mintai keterangan lebih lanjut," ujar kepala sekolah dengan suara yang gemetar.
Lana mendongakkan kepala dan merasa sebuah harapan kecil muncul di tengah keputusasaan yang sedang menghimpit batinnya yang lelah. Mungkin, akhirnya Adrian akan datang untuk menyelamatkannya dari semua tuduhan ini. Namun harapan itu sirna seketika saat ia menyadari bahwa Adrian menelepon bukan untuk membelanya melainkan untuk memastikan bahwa hukuman sosial tersebut berjalan lancar.
Ia bisa mendengar suara dingin Adrian dari seberang sambungan telepon yang memerintahkan agar Lana tidak diberikan perlakuan istimewa apa pun. Suara itu sama dinginnya dengan tatapan yang ia lihat malam sebelumnya, tanpa ada sentuhan kasih atau belas kasihan. "Biarkan dia menanggung semua akibat dari kecerobohan yang telah dia perbuat sendiri tanpa campur tangan dari pihak markas," tegas Adrian melalui pengeras suara.
Hati Lana serasa hancur berkeping-keping mendengar pernyataan suaminya yang sangat tidak berperasaan dan justru membiarkannya terlunta-lunta dalam fitnah. Rasanya seperti Adrian telah menendang dirinya saat ia sudah terjatuh di tanah. Ia keluar dari ruangan kepala sekolah dengan langkah gontai sementara para siswa sudah menunggu di depan pintu untuk kembali melemparkan cacian.
Lana berlari menuju kantin sekolah untuk bersembunyi namun ia justru terjebak di tengah kerumunan yang semakin beringas melemparkan sampah ke arahnya. Potongan roti, ember minuman, dan kertas buram terbang ke arahnya, menyentuh kulitnya yang sensitif. Perundungan di kantin sekolah menjadi puncak penderitaan Lana hari ini karena ia benar benar merasa sendirian tanpa ada satu pun pelindung yang datang menolong.