Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Tidak lama kemudian, suasana malam itu berubah drastis.
Beberapa anak buah menyeret dua pasangan suami istri ke halaman mansion. Tangan mereka terikat, wajah kedua wanita paruh baya itu pucat pasi, mata mereka dipenuhi ketakutan yang tak bisa disembunyikan.
“Pa! Ma!”
Chimmy langsung bangkit dari kursinya dan berlari menghampiri kedua orang tuanya.
Di saat yang sama, Lucy menjerit panik.
“Pa! Ma!”
“Janetta Lee!” bentak Chimmy sambil berbalik menatap wanita itu dengan mata merah. “Kenapa kau menyeret orang tuaku ke sini?! Ini tidak ada hubungannya dengan mereka!”
Lucy berlutut tanpa sadar. Suaranya gemetar.
“Nyonya… apa salahku? Kenapa orang tuaku harus ikut terlibat? Tolong lepaskan mereka…”
Janetta mematikan puntung rokoknya perlahan di asbak kristal.
Ia mengambil rokok baru, menyalakannya dengan pemantik api emas, lalu menghembuskan asap tipis dengan tenang—seolah jeritan di depannya hanyalah suara angin.
“Mereka adalah orang tua angkat kalian,” ujar Janetta santai.
“Bukan darah daging, tapi cukup berharga, bukan?”
Ia tersenyum tipis.
“Tidak apa. Biarkan mereka ikut meramaikan malam ini.”
Wajah Chimmy langsung membeku.
“Bagaimana kau bisa tahu keberadaan orang tuaku?” tanyanya lirih, penuh ketegangan.
Janetta menoleh ke arahnya. Tatapannya tajam namun dingin.
“Yang aku tahu… bukan hanya itu.”
Jacky yang sejak tadi diam, mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Mustahil… Janetta dan Holdes sudah pensiun dari dunia mafia. Tapi dia masih bisa menemukan keluarga dua wanita ini dengan begitu cepat?"
“Tuan… aku mohon,” Lucy merangkak mendekati Holdes lalu berlutut di samping kakinya.
“Lepaskan orang tuaku. Mereka tidak bersalah…”
“Sumpal mulutnya. Berisik sekali.”
Suara Janetta datar, tanpa emosi.
Dua orang langsung menarik Lucy ke belakang. Mulutnya disumpal kasar, isakannya teredam menjadi suara tertahan yang menyayat.
“Maafkan putri kami…” wanita paruh baya itu menangis tersedu.
“Kalau Lucy berbuat salah, tolong maafkan dia."
Janetta menoleh perlahan. Tatapannya tenang, hampir lembut.
“Tenang saja,” ucapnya santai.
“Putri yang kalian besarkan memang tertarik pada suami orang. Aku hanya memberi pelajaran.”
Ia menghembuskan asap rokoknya.
“Dia tidak akan mati.”
Janetta tersenyum tipis.
“Tujuanku hanya satu—agar kalian melihat hasil dari didikan kalian sendiri.”
“Janetta Lee!” bentak Chimmy, emosinya meledak.
“Jangan keterlaluan! Suamimu menyukai wanita lain, itu bukan kesalahan orang lain! Kalau mau menyalahkan, salahkan dirimu sendiri karena tak lagi menarik di matanya!”
Suasana mendadak membeku.
Namun Janetta justru tertawa kecil.
“Benar,” katanya ringan.
“Aku memang tidak bisa mengawasi suamiku setiap saat.”
Ia menatap Holdes sekilas, lalu kembali ke Chimmy.
“Pria yang setia memang tidak perlu diawasi.”
Nada suaranya berubah dingin.
“Dan kalau dia menyukai barang murahan, silakan saja.”
Chimmy mengepalkan tangannya.
“Chimmy,” lanjut Janetta, suaranya tenang namun menekan.
“Kalaupun kau menjadi istrinya… kau tetap di bawahku.”
Wajah Chimmy berubah pucat.
“Tahan dia. Jalankan tugas kalian,” perintah Janetta.
Empat orang langsung bergerak. Chimmy ditahan paksa hingga tubuhnya terbaring di lantai marmer yang dingin.
“Lepaskan aku!” teriak Chimmy panik.
“Apa yang ingin kau lakukan?!”
Janetta berdiri dari kursinya. Sepatu hak tingginya berbunyi pelan saat mendekat.
“Bukankah kau sendiri yang menerima tantanganku?” ujarnya dingin.
“Kalau kau lolos…”
Ia menunduk, menatap Chimmy tanpa sedikit pun belas kasihan.
“...aku akan menikahkanmu dengan suamiku.”
Bibir Janetta melengkung tipis.
“Aku rela.”
“Kakak… apa yang Mama lakukan?” bisik Colly.
“Anak kecil tidak boleh melihat,” jawab Xiao Han lirih, tangannya refleks menutup sebagian pandangan adiknya.
“Holdes! Tolong aku!” teriak Chimmy histeris.
“Kita sudah bersama selama empat bulan! Apa kau tega membiarkan wanita iblis ini menyiksaku?!”
Kedua orang tua Chimmy gemetar hebat. Begitu pula Lucy yang hanya bisa mengeluarkan suara teredam dari balik sumbatan di mulutnya.
Namun Holdes sama sekali tidak bersuara.
Ia hanya mengangkat gelas dan meneguk minumannya, seolah yang terjadi di depannya hanyalah tontonan biasa.
Jacky mengepalkan tangannya di bawah meja. Otot rahangnya mengeras, jelas menahan diri agar tidak melompat maju.
“Janetta Lee…” gumamnya pelan.
“Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan?”
“Nyonya.”
Seorang pria bertubuh tinggi melangkah maju. Ia mengenakan sarung tangan medis berwarna hitam.
“Forty adalah mantan asisten seorang dokter,” ucap Janetta santai.
“Dia akan memeriksamu ... apakah kau masih bersih… atau sudah berpenyakit.”
“A—apa maksudmu?!” suara Chimmy bergetar.
Kedua tangan dan kakinya ditahan kuat oleh empat orang anak buah Janetta.
“Maksudku sederhana,” jawab Janetta sambil berjalan kembali ke kursinya, lalu duduk dengan anggun.
“Lolos atau tidaknya tantanganmu tergantung pada hasil pemeriksaan.”
Ia menyilangkan kaki.
“Aku tidak ingin kau membawa penyakit ke dalam rumah ini.”
“Kau gila, Janetta!” teriak Chimmy panik.
“Selama ini hanya suamimu yang menyentuhku! Tidak ada pria lain!”
Janetta mengangkat alisnya tipis.
“Gadis muda sepertimu,” katanya dingin,
“mana mungkin hanya disentuh satu pria.”
Ia menghembuskan napas pelan.
“Meski begitu, aku tetap perlu memastikan. Bersih… atau kotor.”
Tatapan Janetta beralih pada pria bersarung tangan itu.
“Forty,” ucapnya tanpa emosi.
“Lakukan sekarang.”
“Lepaskan pakaiannya,” perintah Forty datar.
“Tidak! Aku tidak mau!” jerit Chimmy meronta histeris.
Jacky bangkit dari kursinya.
“Bibi… apakah ini tidak terlalu berlebihan?” tanyanya menahan emosi.
“Bukankah ini sudah melampaui batas?”
Janetta menoleh perlahan.
“Jacky,” tanyanya tenang,
“apakah kau mengenal wanita itu?”
“Tidak,” jawab Jacky cepat.
“Kalau begitu,” ujar Janetta sambil kembali menatap Chimmy,
“lebih baik kau duduk… dan menonton saja.”
Nada suaranya lembut.
“Janetta Lee, lepaskan aku… aku tidak mau lagi menjadi istri Holdes… tolong lepaskan aku…”
Tangisan Chimmy pecah, suaranya serak penuh ketakutan.
“Sudah terlambat,” jawab Janetta dingin.
“Kau sudah tidur dengannya. Maka sebagai istri sah, aku harus bertanggung jawab atas kesalahan suamiku.”
Tatapan Janetta beralih ke Lucy yang gemetar hebat.
“Aku bahkan bersedia menerimamu sebagai adik,” lanjutnya pelan namun menusuk,
“asal kau masih bersih. Setelah kau selesai… giliran Lucy.”
Tubuh Lucy melemas, wajahnya pucat seperti kehilangan darah.
“Forty,” perintah Janetta tanpa emosi,
“jangan buang waktu. Periksa keseluruhannya.”
“TIDAK!” jerit Chimmy.
“Tolong aku! Kakak—tolong aku! Aku tidak mau! Aku menyerah!”
Teriakan itu membuat semua orang terdiam sesaat.
“Kakak?” Janetta menyipitkan mata.
“Siapa kakakmu? Kau belum menjadi bagian dari keluarga ini. Aku bahkan belum mengakuimu.”
“Kakak… selamatkan aku…” Chimmy menangis putus asa.
Janetta mengangkat tangannya sedikit.
“Lepaskan celananya!"
Lucy memejamkan matanya, tubuhnya bergetar tak terkendali saat melihat tangan-tangan itu bergerak mendekat ke arah Chimmy.
"Apakah kalian tahu, suara tangisannya sangat menyenangkan, aku suka melihat orang yang menantangku, ketakutan," ujar Janetta.