Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Dini bangkit dari lantai, menyilangkan kedua tangan di dada untuk menutup bra merah yang ia kenakan. Karena baju seragamnya tidak lagi utuh.
Buk! Buk! Buk!
Dini menatap Aksa dan Burhan yang masuk secara bersamaan. Antara senang dan sedih yang Dini rasakan ketika Aksa datang. Dia yakin Aksa mampu membebaskan dirinya dari Ringgo, tapi ketika Aksa berkelahi dengan ayah tirinya itu yang membuat Dini sedih dan khawatir Aksa akan kalah. Hingga beberapa menit kemudian, Aksa mampu menghajar tubuh Ringgo hingga jatuh tersungkur.
"Dini..." Aksa meninggalkan Ringgo berlari ke arah kekasihnya. Wajahnya merah padam ketika melihat baju Dini yang tidak lagi mampu menutup aurat. Aksa membuka baju lengan pendek yang melekat di badan menyisakan kaos bagian dalam. Dia pasangkan baju tersebut ke tubuh Dini karena ia tidak membawa jaket. "Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya cemas.
Dini menggeleng dengan bibir terkatup, hendak mengucap kata terimakasih pun hanya di hati.
Dooorrr!
Refleks Dini merangkul perut Aksa dari belakang ketika suara tembakan berasal dari arah Ringgo dan Burhan. Langit-langit triplek di atas Ringgo yang diterjang peluru pun hancur menimpa kepalanya.
"Ampun bos, apa salah saya?" Tanya Ringgo dengan suara bergetar. Nyalinya ternyata melempem seperti kerupuk kaleng tersiram air, ketika berhadapan dengan pria yang selama ini ia panggil bos. Dia termangu memandangi Burhan yang tiba-tiba menyerangnya.
"Kamu masih tanya apa salah kamu?!" Bentak Burhan, sembari melayangkan kepalan tangan ke wajah Ringgo. Seketika darah mengalir di ujung bibir Ringgo.
"Maaf Bos saya terlambat datang karena menjemput wanita yang saya janjikan," Ringgo pikir Burhan marah karena dia tidak cepat datang ke kediaman Burhan ketika siang tadi di telepon. Namun, Ringgo harus kecewa ketika Burhan tidak menunjukkan rasa senang dengan penuturannya.
"Oh iya bos, saya sudah berhasil membawa anak tiri saya," Ringgo memperjelas, ia pikir Burhan tidak mendengar. Namun, Ringgo justru kena bogem yang kedua kali. Dia merutuk dalam hati, ketika ingat betapa sulitnya untuk membawa Dini, tapi begitu berhasil Burhan tidak senang.
Flashback On.
Ringgo takut ketika Burhan memanggilnya untuk datang ke rumahnya. Dia yakin jika bos akan menagih hutangnya karena tidak berhasil menyerahkan Dini. Ringgo bingung, uang dari mana untuk membayar hutang? Sedangkan rumah kontrakan kecil itupun belum ia bayar.
"Brengsek! Aku harus bagaimana!" Umpat Ringgo menjambak rambutnya sendiri. Dia lempar handphone ke tempat tidur, lalu berdiri mondar mandir bagaimana caranya agar bisa menyerahkan Dini hari itu juga.
"Sebaiknya aku ke desa saat ini juga" monolog Ringgo tidak mau menemui Burhan tanpa membawa Dini. Dia meninggalkan kontrakan terpaksa menyewa ojek untuk mengantar ke desa. Tentu saja Ringgo tidak mungkin datang ke kediaman mbah Ambar karena sudah pasti misinya gagal.
Siang itu Ringgo tiba di kecamatan di mana Dini sekolah. Dia bertanya lokasi kelas Dini lalu menunggu hingga anak-anak pulang. Mata Ringgo tidak mau berpaling dari pintu kelas Dini. Tetapi rupanya khusus kelas 3 ipa 1 pulang belakangan. Ringgo tetap sabar menunggu sambil terus mengawasi.
Hingga waktu berganti sore, Dini keluar kelas bersama Lestari lalu pulang berboncengan.
Ringgo cepat-cepat naik ojek untuk mengikuti anak tirinya itu. Dari jauh ia melihat Dini berhenti. "Saya turun disini saja, Pak," ucapnya kepada ojek.
"Menang mau kemana, Pak?" Ojek sempat bingung karena Ringgo turun di tempat yang jauh dari rumah.
"Oh, saya mau membeli tanah di sekitar sini," Ringgo tersenyum, tangannya membetulkan masker karena ia pikir ojek curiga.
"Oh" hanya itu jawaban ojek manggut-manggut lalu putar balik.
Ringgo bukan melaui jalan umum, tapi masuk ke kebun singkong. Di tempat itulah ia mengawasi Dini. Begitu Lestari turun, ia segera menyergap Dini dari belakang.
Flashback Off.
"Sekarang saya minta dilunasi bos" Ringgo minta bayaran padahal situasinya sedang panas.
"Saya suruh kamu datang ke rumah bukan untuk menculik Dini! Dasar bodoh!" Burhan menunggu Ringgo hingga malam tetapi tidak datang. Ketika ia telepon ulang, pun tidak diangkat. Padahal Burhan ingin memberi tahu Ringgo agar membatalkan rencananya untuk membeli Dini.
"Diniiii..." jerit Ratna yang sedang menangis tergugu berlari melewati Burhan dan Ringgo. Dia tarik pelan tubuh Dini yang masih ketakutan di belakang Aksa. Mata basah Itu meneliti tubuh putrinya dari atas sampai bawah. Takut, jika Dini mengalami cedera mengingat bagaimana kejamnya Ringgo dan Burhan. Terlebih Burhan saat ini membawa pistol.
"Aku baik-baik saja, Bu..." Dini merangkul ibunya. Sedetik kemudian, Ratna membalas
"Tante menyusul?" Tanya Aksa tidak menyangka jika Ratna pun datang ke tempat ini. Belum sempat menjawab pertanyaan Aksa, tatapan mereka berpaling karena mendengar suara gaduh di depan pintu masuk.
"Jangan bergerak!" Teriak polisi mengacungkan pistol ke arah Burhan. Rupanya ketika mendengar tembakan, pemilik kontrakan dan tetangga sekitar melaporkan kepada polisi.
...~Bersambung~...