Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
“Xiao Han,” ucap Holdes dengan suara tenang namun penuh wibawa, tangannya merangkul pinggang Janetta dengan posesif. “Sisanya papa serahkan padamu. Sudah cukup lama papa dan mamamu berakting.”
Janetta tersenyum tipis, tatapannya tajam namun puas.
“Sudah waktunya kita berhenti berpura-pura,” lanjut Holdes. “Sekarang saatnya fokus pada dunia kami sendiri.”
Colly yang berdiri di samping mereka mengangkat wajahnya, matanya berbinar.
“Papa dan Mama mau liburan?” tanyanya penuh harap.
Holdes mengangguk perlahan.
“Dalam waktu dekat. Selama ini papa terlalu sibuk dengan bisnis. Kali ini papa ingin menemani mamamu menikmati hidup… keliling dunia.”
"Jangan lupa hadiahku!" ucap Colly dengan manja.
Janetta menoleh pada putrinya, lalu mengulurkan tangan menyentuh pipi Colly dengan lembut.
“Tenang saja,” jawab Janetta sambil mengusap wajah putrinya. “Kalian adalah alasan kami bertahan sejauh ini.”
Xiao Han melangkah mendekat, ekspresinya kembali serius, aura dingin pemimpin dunia bawah terpancar jelas dari sorot matanya.
“Pa, Ma,” katanya pelan, “ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan. Tentang seseorang yang sebelumnya menyerang Colly dan Dicky.”
Sorot mata Holdes langsung berubah tajam.
“Kalau begitu,” katanya singkat, “kita bahas di dalam.”
Ia menoleh ke arah Janetta, lalu pada anak-anaknya.
“Mari masuk. Kita lanjutkan sambil makan.”
Keluarga Shen melangkah meninggalkan halaman mansion—
Ruang makan itu dipenuhi berbagai hidangan kelas atas. Aroma makanan hangat bercampur dengan suasana berat yang menggantung di udara.
Colly menyantap makanannya dengan lahap, seolah kejadian berdarah malam tadi tidak meninggalkan bekas apa pun di wajahnya.
Berbeda dengan Holdes—pria itu sama sekali tidak menyentuh makanannya. Tatapannya terpaku pada layar tablet yang diletakkan di atas meja, rekaman yang baru saja diberikan Xiao Han.
Raut wajahnya mengeras.
“Dia kembali… dan ingin membalas dendam?” gumam Holdes dingin. “Untuk apa dia menemui Yohanes? Bocah itu sama sekali tidak berguna.”
Xiao Han menyandarkan punggungnya ke kursi, rahangnya mengeras.
“Kalau bukan karena para tetua, Yohanes sudah lama aku habisi. Wilayah utara kacau, tapi dia lepas tangan. Bukannya mencari solusi, dia malah bersenang-senang di klub malam.”
Janetta meletakkan sendoknya perlahan, tatapannya tenang namun tajam.
“Lalu, apa kata yang lain?” tanyanya.
“Aku meminta wilayah itu dikembalikan padaku,” jawab Xiao Han tanpa emosi, “tapi tidak ada yang setuju. Sampai sekarang masalahnya belum selesai. Mereka lebih memilih mengorbankan anak buah daripada menyerahkan wilayah itu.”
Holdes terkekeh pelan—bukan tawa, melainkan dengusan sinis.
“Tipikal. Para tetua selalu takut kehilangan kekuasaan, meski harus menenggelamkan bawahannya sendiri.”
Colly berhenti makan dan menoleh ke arah kakaknya.
“Kalau begitu, mereka bukan ingin menyelesaikan masalah,” katanya ringan namun menusuk, “mereka hanya ingin mempertahankan kursi mereka.”
Xiao Han melirik adiknya sekilas, lalu tersenyum tipis.
“Kau benar.”
Janetta menyandarkan tubuhnya ke kursi, kedua lengannya terlipat anggun.
“Kalau wilayah utara tidak mau menyerah secara baik-baik,” katanya datar, “maka buat mereka tidak punya pilihan.”
Holdes menutup tablet itu perlahan.
“Kita tidak perlu meminta izin,” ujarnya tenang namun berbahaya. “Wilayah itu memang seharusnya kembali ke tangan yang mampu mengendalikannya.”
Ia menatap Xiao Han lurus.
“Mulai sekarang, kau pegang penuh wilayah utara. Tetua-tetua itu akan segera mengerti… atau tersingkir.”
Xiao Han mengangguk.
“Baik, Pa.”
“Bagaimanapun juga, tetap berhati-hati dengan bocah itu,” ujar Holdes akhirnya, suaranya rendah dan penuh peringatan. “Walau dia tidak punya kemampuan apa-apa, dia punya dukungan dari belakang. Serangan terhadap Colly kemarin bisa saja terulang.”
Colly menyeka bibirnya dengan serbet, lalu tersenyum kecil.
“Pa, tenang saja. Aku bisa menghadapinya,” jawabnya santai. “Lagipula, kakak sudah menambahkan pengawal untukku.”
Janetta langsung menyela, tatapannya tajam namun penuh perhitungan.
“Pengawal tidak bisa masuk ke dalam kelas,” katanya tenang. “Mereka hanya bisa melindungimu dari kejauhan. Kalau ada yang menyamar sebagai mahasiswa ... seperti Long Shen, kau tetap berada dalam bahaya.”
Colly terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan.
“Di kelasku belum ada mahasiswa baru. Aku mengenal hampir semuanya. Aku rasa mereka bukan mata-mata.”
Xiao Han yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
“Justru itu yang berbahaya,” katanya dingin. “Musuh yang baik tidak muncul sebagai orang baru. Mereka akan menyatu, berbaur, dan menunggu saat yang tepat.”
Colly mengerutkan kening.
“Maksud kakak…?”
“Mereka bisa memakai orang lama,” lanjut Xiao Han. “Dosen, staf kampus, bahkan teman yang sudah kau kenal. Jangan lengah hanya karena merasa aman.”
Suasana meja makan kembali sunyi.
Janetta bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Colly, lalu mengangkat dagu putrinya dengan lembut.
“Kau adalah putri keluarga Shen,” ucapnya pelan tapi tegas. “Kau tidak perlu takut… tapi kau juga tidak boleh ceroboh.”
Holdes mengangguk setuju.
“Mulai besok, semua aktivitasmu akan dipantau lebih ketat. Bukan untuk mengekangmu,” katanya, “melainkan memastikan tidak ada yang cukup dekat untuk melukaimu.”
Colly menatap kedua orang tuanya, lalu tersenyum kecil—senyum seorang gadis muda yang tumbuh di tengah darah dan kekuasaan.
“Baik, Pa… Ma. Aku akan lebih berhati-hati.”