NovelToon NovelToon
Legenda Sang Bayangan

Legenda Sang Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: kansszy

sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Hari itu hujan turun pelan, seolah dunia tahu ada sesuatu yang berakhir.

Tauke Besar meninggal di pagi hari, tanpa teriakan, tanpa drama. Ia duduk di kursi kayunya, menghadap halaman, seperti biasa. Saat kami menyadarinya, tubuhnya sudah dingin, dan wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang seumur hidup memikul beban Keluarga Tong.

Aku berdiri cukup lama di ambang pintu.

Tidak ada air mata yang jatuh saat itu. Hanya satu pikiran yang terus berulang: akhirnya datang juga.

Tauke Besar bukan hanya pemimpin. Ia adalah dinding terakhir antara Keluarga Tong dan dunia yang selalu ingin menelan kami. Ia yang memutuskan kapan kami bergerak dan kapan kami diam. Ia yang menahan ambisi orang-orang sepertiku—termasuk aku.

Dan sekarang, kursi itu kosong.

Tidak ada pemilihan. Tidak ada perdebatan panjang. Semua mata mengarah padaku. Aku sudah tahu momen ini akan datang, hanya saja aku berharap waktunya lebih lama. Seseorang menyebut namaku dengan suara pelan, seolah takut mengubah kenyataan.

“Kenzy… kau yang paling pantas.”

Aku ingin menolak.

Aku benar-benar ingin.

Aku tahu betapa mahalnya posisi itu. Aku tahu menjadi pemimpin berarti hidup orang lain akan bergantung pada keputusan yang kau buat di pagi hari dan kau sesali di malam hari. Tapi aku juga tahu—jika aku melangkah mundur, Tong akan retak dari dalam.

Malam itu, aku duduk di kursi Tauke Besar untuk pertama kalinya. Terlalu besar. Terlalu berat. Aku bisa merasakan bekas tangan tuanya di sandaran kayu, seolah ia masih di sana, menatapku dengan tatapan yang sama seperti dulu.

“Jangan pimpin dengan amarah,” katanya dulu.

“Dan jangan pimpin hanya dengan kepintaranmu sendiri.”

Aku mengerti sekarang.

Menjadi Tauke Besar bukan soal menjadi yang terkuat atau terpintar. Ini tentang menjadi orang yang paling siap memikul konsekuensi. Sejak hari itu, aku tidak lagi hanya bertanggung jawab atas darahku sendiri, tapi atas masa depan puluhan orang yang ingin hidup tanpa perang.

Aku mengubah banyak hal. Tidak drastis, tidak cepat. Keluarga Tong tidak lagi membangun pengaruh lewat ketakutan, tapi lewat kepercayaan. Kami memilih diam saat dunia berisik. Kami memilih bertahan saat yang lain berebut wilayah.

Beberapa tidak setuju. Beberapa pergi. Itu harga yang harus kubayar.

Di umur dua puluh delapan, aku belajar bahwa memimpin berarti sering merasa sendirian—even saat dikelilingi banyak orang. Tapi setiap kali aku ragu, aku mengingat wajah Tauke Besar di pagi terakhirnya. Tenang. Tidak menyesal.

Jika aku bisa mencapai ketenangan itu suatu hari nanti, maka mungkin… aku tidak gagal sebagai penerusnya.

Aku adalah Tauke Besar Kenzy Tong sekarang.

Dan tugasku bukan membuat Tong ditakuti—

melainkan memastikan Tong tetap hidup, bahkan setelah namaku dilupakan.

...****************...

Aku selalu tahu hari ini akan datang.

Aku hanya tidak menyangka pelakunya adalah Basyir.

Basyir sudah lama bersama Keluarga Tong, bahkan sebelum aku cukup dewasa untuk memahami arti kepemimpinan. Ia cerdas, pandai bicara, dan tahu bagaimana mempengaruhi orang-orang yang lelah hidup dalam bayangan. Saat aku menggantikan Tauke Besar, akulah yang pertama menunjuknya sebagai penasehat dalam urusan internal. Kesalahan pertamaku adalah percaya terlalu cepat.

Konflik tidak meledak. Ia tumbuh pelan, seperti retakan kecil di tembok tua. Basyir mulai mempertanyakan kebijakanku di hadapan orang banyak—selalu dengan nada sopan, selalu dengan alasan “demi kemajuan Tong”. Ia menyebutku terlalu lunak, terlalu memilih damai, terlalu sibuk melindungi masa depan hingga lupa bahwa Tong pernah ditakuti.

Sebagian orang mengangguk.

Sebagian mulai ragu padaku.

Aku memilih diam. Aku percaya waktu akan membuktikan arah yang kupilih. Tapi aku lupa satu hal penting: keraguan yang dibiarkan terlalu lama akan mencari pemimpin baru.

Pengkhianatan itu terjadi tanpa pedang terhunus.

Suatu malam, jalur persediaan diputus dari dalam. Pesan-pesan rahasia bocor ke klan luar. Beberapa anggota Tong menghilang—bukan diculik, melainkan pergi. Dan di tengah kekacauan itu, nama Basyir disebut berulang kali, bukan sebagai pelaku, melainkan sebagai alternatif.

Ia akhirnya menemuiku di aula lama, tempat Tauke Besar dulu duduk.

“Kau pemimpin yang baik, Kenzy,” katanya tenang. “Tapi Tong tidak butuh orang baik. Tong butuh orang yang berani mengambil alih dunia sebelum dunia menginjak kita.”

Aku menatapnya lama.

“Dan kau pikir pengkhianatan adalah keberanian?”

“Tidak,” jawabnya. “Ini efisiensi.”

Basyir telah menyiapkan segalanya. Separuh dewan internal memihaknya. Ia menjanjikan pengaruh, keamanan, dan kembalinya kejayaan lama. Ia tidak ingin menghancurkan Tong—ia ingin mengendalikan Tong.

Aku bisa memerintahkan penangkapan. Aku bisa memicu perang internal. Tapi bayangan Scarlet dan Lin terlintas di pikiranku. Aku tahu ke mana jalan itu berakhir.

Maka aku memilih cara yang lebih menyakitkan.

Aku membuka semua catatan keputusan. Semua aliran sumber daya. Semua bukti manipulasi Basyir—perlahan, ke orang yang tepat. Aku tidak menyerangnya. Aku membiarkannya berbicara terlalu banyak. Dan ketika kebenaran tak lagi bisa ditutup, para pendukungnya runtuh satu per satu.

Basyir melarikan diri malam itu.

Tidak ada pengejaran besar. Tidak ada pengumuman. Aku membiarkannya pergi dengan satu pesan terakhir yang kusampaikan lewat orang kepercayaannya: Tong tidak akan mengejarmu. Tapi Tong juga tidak akan melindungimu.

Pengkhianatan itu meninggalkan bekas. Kepercayaan retak. Aku kehilangan orang-orang yang kukenal sejak kecil. Tapi aku belajar pelajaran terpenting dalam kepemimpinan:

Musuh dari luar menguji kekuatanmu.

Pengkhianatan dari dalam menguji prinsipmu.

Aku tetap berdiri sebagai Tauke Besar.

Bukan karena aku tak tergoyahkan—

melainkan karena aku memilih Tong, bahkan saat Tong nyaris memilih meninggalkanku.

Dan sejak hari itu, aku memimpin dengan satu aturan baru:

tidak semua yang setia berbicara keras,

dan tidak semua yang lantang… layak dipercaya.

1
Adi Arkan Imani
bagus
KanKaaan!!!
cocok buat orang yang lagi mencari cerita dan inspirasi
Adi Arkan Imani
lumayan
kansszy: heeheeee maksih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!