Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantin, Maag, dan Kepanikan yang Membawa Kebenaran
[Sore harinya, Bijel baru saja sampai di Tulungagung. Ia merasa sangat lelah setelah mengurusi pekerjaannya di Malang. Ia bahkan belum sempat makan. Tiba-tiba, Gus Arya mengajaknya untuk membeli makan di kantin pesantren. Sesampainya di kantin, yang mana banyak santri sedang membeli jajanan, Bijel mencari tempat duduk. Kepalanya terasa pusing karena belum makan. Gus Arya memesankan makanan dan menyuruh Bijel untuk menunggu saja, karena ada banyak santri putra dan Arya tidak ingin Bijel menjadi pusat perhatian. Namun, sejak kedatangan Gus Arya mengajak Ning Bijel ke kantin, Bijel sudah menjadi pusat perhatian para santri putra.]
Santri 1: (berbisik kepada temannya) "Eh, lihat! Itu Ning Abigail sama Gus Arya!"
Santri 2: (dengan nada terkejut) "Serius?! Ngapain mereka di sini?"
Santri 3: (dengan nada kagum) "Gila, Ning Abigail cantik banget ya kalau dilihat dari dekat."
Santri 4: (dengan nada iri) "Beruntung banget Gus Arya bisa dekat sama Ning Abigail."
Santri 5: (dengan nada penasaran) "Mereka pacaran ya?"
Santri 6: (dengan nada yakin) "Nggak mungkin lah! Gus Arya kan orangnya dingin banget."
Santri 7: (dengan nada menggoda) "Siapa tahu aja Gus Arya menyimpan hati buat Ning Abigail."
Santri 8: (dengan nada sinis) "Halah, palingan juga cuma teman biasa."
Santri 9: (dengan nada berharap) "Andai aku bisa sedekat itu sama Ning Abigail."
Santri 10: (dengan nada menyindir) "Mimpi aja terus!"
[Saat Bijel sedang makan, tiba-tiba perutnya terasa sakit. Arya panik dan berpikir bahwa maag-nya kambuh. Dan benar saja, Bijel meminta tolong untuk diambilkan obatnya di dalam tas. Tasnya ada di mobil, sedangkan kuncinya ada di ndalem tengah. Ia berbicara dengan nada dingin, tegas, cuek, sambil merintih kesakitan dan memegangi perutnya.]
Ning Abigail: (dengan nada menahan sakit) "Mas... Mas Arya... Perut saya sakit..."
Gus Arya: (dengan nada panik) "Ya Allah, Bijel! Kamu kenapa? Apa maag kamu kambuh?"
Ning Abigail: (dengan nada lirih) "Iya... Obat... Obat saya di tas... Tolong..."
Gus Arya: (dengan nada khawatir) "Tas kamu dimana?"
Ning Abigail: (dengan nada lemas) "Di mobil... Kuncinya di ndalem tengah..."
[Arya dengan tergesa-gesa berlalu menuju ndalem tengah. Sesampainya di ndalem tengah, ia berteriak kepada Kang Resya meminta kunci mobil Ning Bijel. Setelah mengambil kunci mobil, Arya membuka mobil Bijel dan mengambil tas Bijel yang berisi laptop, iPad, dan juga HP yang tertinggal.]
Gus Arya: (berteriak) "Kang Resya! Kang Resya! Kunci mobil Ning Abigail mana?!"
Kang Resya: (dengan nada terkejut) "Gus Arya? Ada apa, Gus?"
Gus Arya: (dengan nada panik) "Ning Abigail sakit! Maag-nya kambuh! Saya butuh kunci mobilnya sekarang!"
Kang Resya: (dengan nada khawatir) "Ya Allah! Ini, Gus, kuncinya! Hati-hati, Gus!"
[Gus Arya segera mengambil kunci mobil dari tangan Kang Resya dan berlari menuju tempat parkir mobil. Ia membuka mobil Bijel dan mengambil tas Bijel yang berisi laptop, iPad, dan juga HP yang tertinggal. Dengan tergesa-gesa, ia kembali menuju kantin untuk memberikan obat kepada Ning Abigail.]
Gus Arya: (dengan nada panik, menghampiri Ning Abigail) "Ini, Bijel, obat kamu! Cepat diminum!"
Ning Abigail: (dengan nada lemas, menerima obat dari Gus Arya) "Terima kasih..."
[Ning Abigail segera meminum obatnya dengan bantuan Gus Arya. Setelah meminum obat, ia mencoba untuk mengatur napasnya dan beristirahat sejenak. Gus Arya terus memantau kondisi Ning Abigail dengan cemas.]
[Para santri yang berada di kantin menyaksikan kejadian tersebut dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang merasa khawatir, ada yang merasa penasaran, dan ada juga yang merasa iri dengan perhatian yang diberikan oleh Gus Arya kepada Ning Abigail.]
Santri 1: (berbisik) "Gila, Gus Arya perhatian banget sama Ning Abigail."
Santri 2: (berbisik) "Iya, mereka beneran pacaran kali ya?"
Santri 3: (berbisik) "Nggak mungkin lah! Gus Arya kan nggak pernah deket sama cewek."
Santri 4: (berbisik) "Tapi kok sekarang jadi perhatian banget gitu sama Ning Abigail?"
Santri 5: (berbisik) "Mungkin mereka dijodohkan?"
Santri 6: (berbisik) "Wah, bisa jadi tuh!"
[Setelah beberapa saat, kondisi Ning Abigail mulai membaik. Gus Arya kemudian memutuskan untuk membawa Ning Abigail kembali ke ndalem barat untuk beristirahat.]
Gus Arya: (dengan nada khawatir) "Gimana, Bijel? Sudah mendingan?"
Ning Abigail: (dengan nada lemas) "Sudah, Mas. Terima kasih."
Gus Arya: (dengan nada lembut) "Sudah, sekarang kita kembali ke ndalem barat ya? Kamu istirahat saja di sana."
Ning Abigail: (dengan nada pasrah) "Iya, Mas."
[Gus Arya membantu Ning Abigail berdiri dan memapahnya menuju ndalem barat. Para santri yang berada di kantin masih terus memperhatikan mereka dengan tatapan penasaran dan penuh tanda tanya.]
[Dalam perjalanan menuju ndalem barat, Ning Abigail merasa bersalah karena sudah merepotkan Gus Arya. Ia juga merasa malu karena sudah membuat keributan di kantin dan menjadi pusat perhatian para santri. Namun, di sisi lain, ia juga merasa nyaman dengan perhatian yang diberikan oleh Gus Arya kepadanya. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diri Gus Arya, sesuatu yang membuatnya merasa aman dan terlindungi.]