Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing puing Keretakan
Sore ini, hujan turun sangat deras. Aruna melihat Faisal yang sedang berdiri didepan gerbang sekolah tanpa motornya, tampak sedang menunggu hujan reda. Aruna yang saat itu berada di dalam mobil milik Arya, meminta Arya untuk berhenti sebentar.
" Kenapa nyuruh aku berhenti, Na? Ada yang ketinggalan? Kita harus cepet cepet sampai di tempat les 15 menit lagi. " protes Arya sambil melihat ke arah jam tangannya.
" tunggu bentar, Ya. Aku mau kasih payung ini ke Faisal. Kasian dia kehujanan. " Ucap Aruna sambil menunjuk ke arah Faisal.
" Mantan kamu, ko masih peduli sih? Bukannya kamu udah milih buat ngejauh dari dia karena sifatnya yang emosian? " tanya Arya dengan nada datar, seolah kepedulian adalah sesuatu yang tidak logis.
Aruna tidak menjawab. Ia turun dari mobil, berlari kecil mendekati Faisal. Namun berhenti beberapa meter sebelum Faisal menyadarinya. Ia meletakkan payung miliknya diatas bangku depan gerbang sekolah yang tertutup oleh pepohonan tipis, tepat di jalur yang akan dilalui Faisal, lalu kembali ke mobil.
- dia pasti liat payung itu. Gumam Aruna saat mobil Arya mulai melaju.
Ia melihat melalui kaca spion, Faisal mengambil payung itu dengan ekspresi heran, Aruna tersenyum pahit. Baginya, mencintai Faisal sekarang adalah tentang hal hal kecil yang tak perlu di akui. Ia membiarkan Arya memiliki statusnya sebagai kekasih, namun ia membiarkan Faisal memiliki jiwanya melalu perhatian rahasia itu.
- Mencintaimu dari jauh ternyata lebih bikin aku cape daripada belajar seharian sama Arya, tapi cuman ini satu satunya cara biar aku tetep ngerasa Deket sama kamu, Sal.
Suasana di dalam mobil mendadak terasa sangat dingin. Arya tidak melaju dengan cepat, tapi tangannya mencengkram stir dengan kuat, terlihat kesal. Matanya sesekali lirik ke arah Aruna lalu diarahkan lurus kedepan saat Aruna tak sengaja memergokinya.
" Aku ga ngerti, dulu kamu ninggalin dia demi sama aku. Tapi sekarang, kayanya kamu masih suka sama dia?! " Suara Arya memecah keheningan. Nadanya tidak tinggi, namun tajam.
Aruna mencoba menghindari tatapan mata Arya dengan pura pura sibuk mengecek tas nya yang sedikit basah terkena hujan.
" Maksud kamu apa? Kamu ngira aku ga setia sama kamu? "
Arya menoleh, wajahnya yang kaku kini terlihat lebih keras dari biasanya.
" Payung tadi, dan lirikan mata yang sering aku liat. Kamu pikir aku ga merhatiin hal hal kecil kaya gitu? "
Aruna terdiam. Ia lupa bahwa Arya adalah orang yang sangat detail. Baginya, hidup adalah tentang deretan data yang harus di analisis.
" Aku cuma pengen bantu dia, lagian kamu ga liat apa diluar ujan. " bela Aruna, suaranya terdengar lemah diantara rintik hujan yang menghantam atap mobil.
Arya mendengus pelan, sebuah tawa sinis yang jarang ia tunjukan.
" Ngebantu? Menurut aku, apa yang kamu lakuin itu udah berlebihan. Kamu buang buang energi kamu sendiri cuman untuk orang yang bahkan udah ga nganggap kamu ada di hidupnya. "
Ia memajukan wajahnya, menatap Aruna tajam.
" kenapa kamu terus terusan nyari alesan buat balik ke masalalu kamu sih, Na. Sementara aku disini ngasih semua yang kamu butuhkan buat masa depan. Aku bantu kamu belajar, aku ikut serta mastiin nilai nilai kamu tetep aman, dan aku ngasih kestabilan yang gak Faisal punya. "
" Tapi hidup bukan cuma soal nilai dan stabilitas, Arya! " potong Aruna, matanya mulai berkaca kaca. " Hidup itu tentang rasa. Sesuatu yang ga akan pernah bisa bikin kamu ngerti, karena kamu selalu liat semuanya sebagai angka dan rumus! "
Arya kembali menyenderkan punggungnya di jok mobil. Ia menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.
" Rasa apa? Asal kamu tau, Na. Tapi kalo emang perhatian perhatian kecil itu lebih penting buat kamu dari apa yang udah aku kasih, aku bisa apa, Na. Semua terserah kamu, kamu yang punya kendali atas hidup kamu sendiri. "
Arya mempercepat laju mobilnya dengan sentakan yang lebih keras dari biasanya.
" Tapi jangan pernah salahin aku kalo suatu saat nanti, aku berhenti peduli sama nilai kamu. Aku bukan orang yang suka buang buang waktu untuk sesuatu yang gak ada timbal baliknya, Na. "
Keheningan terasa di sepanjang perjalanan menuju tempat les, tidak ada lagi kata yang terucap diantara mereka. Arya menyetir dengan kecepatan yang tidak stabil, hingga terkadang membuat kaki Aruna gemetar sedikit. Sementara Aruna memandang keluar jendela, melihat pohon dan trotoar yang basah terkena rintik hujan.
Didalam mobil itu, Aruna menyadari bahwa ia sedang berada diantara dua kutub ekstrim. seorang pria yang memberinya masa depan tetapi dengan kehampaan, dan seorang pria yang menjadi jiwanya tapi sudah menjadi masalalu. Dan Arya dengan segala kelakuannya, baru saja memberikan ancaman terselubung bahwa bantuannya bukanlah sesuatu yang tulus, ia berharap timbal balik.
Malam harinya.
" Na, ada yang mau aku omongin sama kamu. Kita ke kedai kopi dulu bentar. " ucap Arya.
Aruna hanya mengangguk.
Mereka tiba diparkiran sebuah kedai kopi klasik yang terkesan sederhana, jauh dari kata mewah seperti tempat yang biasa mereka kunjungi.
Arya melirik sekilas ke arah Aruna yang sedang mengeluarkan dompet dari tasnya.
" Itu apa? coba sini aku liat! " ucap Arya sambil merebut dompet dari tangan Aruna.
" Gila ya kamu, Na. Niat aku ngajak kesini tuh buat ngobrolin tentang hubungan kita. Tapi kamu.... " Arya membanting dompet Aruna ke arah kaca depan. " Kamu masih nyimpen foto dia? Maaf Na aku gabisa terus terusan ngasih toleransi ke kamu. Aku mau kita putus, kamu boleh pergi sekarang! "
Tangis Aruna pecah, perlahan ia turun dari mobil Arya dengan perasaan campur aduk.
Kedai kopi itu cukup terang. Namun, bagi Aruna. Dunia sekitarnya baru saja runtuh. Arya benar benar pergi setelah perdebatan kecil di mobil dan sebuah insiden di parkiran, dimana Arya tak sengaja melihat foto Faisal yang masih tersimpan di dompetnya. Kejadian itu menjadi ledakan emosional yang tak bisa dikontrol Arya. Ia memutuskan Aruna begitu saja, memutus hubungan yang selama ini menjadi pegangan Aruna.
Aruna duduk dimeja sudut dekat jendela, bahunya bergetar kecil. Didepannya ada secangkir cokelat panas yang mulai dingin. Ia merasa benar benar kehilangan arah, masa depannya yang terjamin lewat Arya seolah hilang begitu saja, sementara masa lalunya bersama Faisal semakin menjauh.