NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.

Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.

Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.

Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.

Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minta sama pak lurah?

  Darah terasa membeku ketika Galih menyadari apa yang baru saja ia katakan, terdengar oleh Rama, "itu teman ayah." Katanya. Galih dapat melihat rasa ingin tahu di wajah Rama, beruntung ia segera menyadari keberadaan Rama di sana.

  "Teman ayah yang di mana? Aku belum pernah dengar sebelumnya, tapi kenapa aku merasa tidak asing sama nama itu." Tukas Rama.

 "Teman ayah yang jauh di Jakarta sana, Rama." Balas Arumni, sementara Galih mengalihkan perhatian dengan sibuk memasak.

  "Wah, ibu juga tahu wanita yang bernama Mita itu? Dia cantik dan baik nggak ya, bu?"

  Pertanyaan Rama membuat Galih dan Arumni saling menatap, keduanya tampak susah payah menelan ludahnya sendiri.

  "Kenapa ibu sama ayah malah diam? Aku sudah cukup besar kan, untuk sedikit tahu urusan orang dewasa?" sambung Rama sambil menaik turunkan alisnya.

  "Iya Rama, ibu tahu." Jawab Arumni, "Mita teman ayah itu, cantik juga baik, dan—berkulit putih juga."

  "Seperti aku ya, bu?" ucap Rama yang membuat mereka kembali terdiam. "Maksud ku, kulitnya."

  "Oh, iya. Putihnya seperti kamu, Rama." Jawab Arumni lagi dengan berat hati, kala mengingat masa itu.

   "Ibu setuju tidak, kalau ayah dijodohkan dengannya?"

  Arumni kembali terdiam, kali ini disertai mata berkilau.

  "Kenapa ibu bersedih? Ibu kan sudah berbahagia bersama ayah Adit?" pikirnya, "jangan bilang ibu masih tidak rela, jika ayah menikah lagi ya, bu?" Gurau Rama yang membuat Arumni semakin tak mampu membendung cairan bening.

  Wajahnya mengukir senyum, namun pipinya basah. "Rela, sayang. Rela banget." Arumni menekankan, "ibu malah sangat berharap, kalau ayahmu segera mendapat penganti ibu."

  Rama menghapus air mata Arumni. "Tapi kenapa ibu menangis?"

  "Ini air mata bahagia, Rama." Umpat Arumni.

  Satu alisnya meninggi, Rama merasa lucu mendengarnya. "Ini pertama kali aku melihatnya," katanya.

  "Sudah, ke depan sana. Nanti masakannya jadi nggak cepat matang."

  "Oke, lain kali kalau bahagia tersenyum atau tertawa ya, ibu. Jangan mengeluarkan air mata." Ucap Rama yang membuat mereka jadi tertawa.

  Mereka kembali melanjutkan memasak, setelah Rama keluar dari dapur.

  Arumni mengamati Galih yang tiba-tiba jadi pendiam. "Chef, kalau masak nggak boleh buka mulut kan, ya?" Gurau Arumni, yang kembali dijawab oleh dirinya sendiri. "Iya, kan takut makanannya terkontaminasi."

  "Darah ku terasa membeku, Arumni. Aku belum siap cerita sama Rama." Katanya, yang membuat Arumni tak mampu menjawab.

   Galih mengambil napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan diri. "Suatu hari nanti, aku pasti menceritakan semua padannya. Hari ini, aku masih ingin menjadi ayah yang sempurna di matanya." Ucap Galih yang dibalas anggukan oleh Arumni.

  Galih merasa ada sesuatu yang menghalangi untuk menceritakan masa lalunya itu pada Rama. Ia belum siap, untuk membuka lembar demi lembar kenangan yang mungkin akan membuat Rama melihatnya dengan mata yang berbeda.

  Beberapa saat berlalu, masakan telah matang dan siap untuk disajikan. Aroma masakan Galih menyeruak ke seluruh ruangan, membuat siapapun yang berada di sana merasa lapar dan ingin segera menyantapnya.

  Semua ikut membantu menyiapkan sarapan sekaligus makan siang itu. Mereka semua duduk menikmati makanan yang Galih dan Arumni masak.

  Sambil makan, Galih bertanya pada Ayub, pemuda yang usianya paling tua diantara mereka. "Ayub, kamu kelas berapa?"

  "Kelas 12, mas." Jawabnya.

  "Berarti sudah mau lulus tahun ini, ya? Rencana, mau kuliah di mana?"

  Belum sempat Ayub menjawab, salah satu temannya yang lebih dulu menjawab. "Ayub nggak mau kuliah, mas. Katanya mau langsung nikah," kata Alfan sambil menahan tawa.

  "Eh, sembarangan ente!" balas Ayub.

  "Nggak apa-apa, mas Ayub. Yang penting kalau kasih nafkah buat istri, jangan minta sama bapaknya mas Ayub." Saut Figi yang membuat semuanya meledakan tawa.

  "Jadi minta sama siapa, Gi?" tanya Fahri.

  "Ya, cari sendiri lah, mas Fahri. Masak minta sama pak lurah?" jawab Figi yang kembali memicu gelak tawa semua orang yang ada di sana.

 "Jangan minta sama pak lurah, sama tetangga saja yang dekat." Kata Tya.

  "Mana ada tetangga yang mau ngasih nafkah buat istri tetangganya?" balas Deni.

  "Ada, Den. Kalau tetangganya juga suka sama istri Ayub." Jawab Alfan.

  "Eh, jaga ucapan mu ya, Fan. Aku ajak istriku pindah rumah kalau tetanggaan sama kamu!" gurau balik Ayub.

  Candaan mereka memicu gelak tawa, suasana di rumah Arumni menjadi hangat dan riuh berkat candaan dari mereka.

  "Jadi benar kamu mau langsung nikah, Yub?" tanya Galih.

  "Nggak, mas!" protes Ayub. "Aku masih ingin mencari uang dan sukses dulu sebelum menikah." Kata Ayub yang dibalas anggukan kepala oleh Galih.

  "Suksesnya yang bagaimana, Ayub?" tanya Galih lagi.

  "Ya minimal aku punya rumah dulu, punya penghasilan tetap buat mencukupi kehidupan sehari-hari. Baru aku mau menikah," jawabnya.

  "Mau langsung menikah saja, emang mas Ayub sudah ada calon istrinya?" balas Figi yang kembali memicu ledakan tawa.

  "Tapi ada benarnya juga kata kamu, Gi." Ucap Deni, "kalau mau menikah wajib ada calon istrinya, kan? Lah, mas Ayub aja malu-malu Gitu sama cewe, gimana mau nikah?" ledek Deni.

  "Aku nggak malu ya, Den." Protes Ayub lagi, "aku cuma belum berani deketin cewek kalau belum punya rumah dan pekerjaan sendiri." Katanya.

  "Memangnya kalau belum punya rumah sama pekerjaan terus nikah kenapa, Yub?" Galih ingin tahu pendapat Ayub.

  "Yang pasti akan dipadang sebelah mata oleh keluarga ceweknya, kalau nggak ya pastinya setelah menikah aku jadi harus kerja jauh buat dapetin yang aku mau itu. Intinya aku nggak mau ninggalin istriku di rumah, lalu aku jauh entah di mana, aku yakin yang begitu cobaannya berat." Kata Ayub yang membuat Galih tersedak makanannya.

  Galih jadi teringat, saat meninggalkan Arumni di rumah, lalu dirinya berada jauh di Jakarta sana, dan yang Ayub katakan itu memang benar, cobaannya berat.

  "Hati-hati, ayah." Ucap Rama sambil memberikan segelas air putih untuk ayahnya.

  "Terimakasih, Rama." Ucap Galih, lalu melanjutkan pertanyaan yang tadi, "kamu masih sekolah, tapi pikiranmu sudah luas sekali, Ayub?"

  "Bapak yang memberi tahu semua itu, mas." Ucapnya.

  Tanpa terasa, mereka telah selesai makan. Arumni hendak membereskan sisa makanan, namun ponselnya berbunyi. Dia sudah paham, itu sudah pasti dari suami tersayang.

  "Bagaimana melewatkan setengah hari ini bersama kakak mu, tanpa ada bu Erin yang mengawasi, sayang?" pesan dari Adit yang langsung dibalas VC oleh Arumni.

  Adit segera menghubungkan, dia hanya tersenyum tanpa berkata, Arumni membalas dengan senyuman yang sama, "kita habis sarapan sekaligus makan siang, mas." Kata Arumni, lalu mengedarkan ponselnya pada mereka semua yang berada di sana.

   "Wah, asyiknya." Kata Adit, "harusnya tadi aku ikut." Katanya.

  "Lain kali ayah harus ikut," saut Rama dan Tya dari samping Arumni.

  "Iya, ayah janji. Habis ini kalian mau ngapain? Sayang sekali ayah baru bisa datang sore." Katanya.

  "Man—" ucap Rama yang langsung dicegah oleh Tya.

   "Rahasia, ayah. Yang penting kita mau seru-seruan di sini, biar ayah jadi ingin cepat-cepat ke sini." Kata Tya.

  "Sisakan keseruan kalian buat ayah, ya... Ayah akan datang tiga jam lagi."

  "Oke, ayah!" seru Tya dan Rama secara bersamaan.

  Ayub, Figi, Alfan, Fahri, dan Deni turut ke samping dan belakang Arumni. Mereka semua tampak begitu akrab dengan Adit.

  "Hallo pak polisi...." Ucap semuanya sambil melambaikan tangan pada Adit.

 "Hallo, gimana anak-anak, apa semuanya aman?"

 "Aman terkendali." Jawab semuanya.

 Adit tersenyum, mereka bertanya tentang banyak hal, dan meminta agar Adit segera datang ke sana. Namun Adit masih harus membuat suatu laporan di kantornya.

Adit mengangkat tangan sebagai tanda pamit di depan kamera, "sampai jumpa nanti ya, anak-anak." Ucapnya, lalu mematikan kamera dan mengakhiri panggilan video call.

...****************...

1
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
Djabat
betul mama alin
Djabat
ganteng-ganteng jerawatan 😄
Restu Langit 2: pubertas 🤭
total 2 replies
Djabat
nikah lagi aja Galih. Lama-lama pasti lupa sama masalalu mu
Restu Langit 2: sedang diusahakan🤭
total 1 replies
Djabat
ikut saja arumni, cuma di alun-alun kan? 😄
Restu Langit 2: takut suaminya salah sangka 🤭
total 1 replies
Djabat
aku sudah baca langit Wonosobo thor 👍
Fatra Ay-yusuf
jangan biarkan masalalumu membelenggumu Galih, kubur masalalumu rajutlah kisah yng baru,
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/
Restu Langit 2: terimakasih banyak wahai readers 😘😘
total 1 replies
Fatra Ay-yusuf
wahwah kiren nikah gw nggk di undang nih thor 🤣
Restu Langit 2: Sepuluh tahun itu cukup mengubah banyak hal, sampai nggak ada yang tahu kapan dia nikah 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!