Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.
Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.
Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.
Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — Sisi Lain Keenan
Bel pulang sudah lewat cukup lama, tapi koridor lantai satu masih hidup dengan langkah dan suara kecil. Beberapa siswa baru keluar dari kelas tambahan, sebagian lain terburu-buru menuju gerbang karena jadwal bimbel sore.
Di tengah lalu-lalang itu, Nayla menunduk sambil merapikan lembar tugas matematika ke dalam map kuningnya yang ujungnya sudah kusut.
Sore ini ia harus ke rumah sakit, kontrol alergi kulit yang kambuh sejak kemarin. Bukan sesuatu yang serius, tapi tetap perlu dicek.
Tiba-tiba, hentakan kaki cepat terdengar dari arah tangga parkiran. Nayla menoleh refleks.
Keenan.
Cowok itu baru saja menuruni tangga dengan langkah tergesa, rahang dan ekspresinya tegang. Seragamnya masih rapi, tapi gerakannya terlihat gelisah seolah setiap detik sangat berarti. Tanpa membuang waktu, ia mengambil helm dari motor sport hitamnya dan memakainya dengan cekatan.
Nayla berhenti sejenak.
'Dia mau ke mana, sih? Kok mukanya seserius itu? Tumben banget.'
Sebelum ia sempat menebak lebih jauh, motor hitam itu sudah melesat keluar gerbang, suara knalpotnya cukup keras untuk membuat beberapa siswa spontan menoleh.
Nayla hanya mengedip, lalu melanjutkan langkahnya menuruni trotoar menuju halte. Ia membuka aplikasi, memesan ojek. Rumah sakit tempat kontrol alerginya cuma sepuluh menit dari sekolah.
Beberapa menit kemudian, ojeknya tiba. Ia naik perlahan. Saat itu, sebuah motor hitam melintas di tikungan—motor Keenan.
Nayla mengerutkan alis. 'Seriusan? Tujuan kami sama?'
"Ke Rumah Sakit Bintaro, Kak?" tanya driver ojeknya.
"Ya, Bang," jawab Nayla, matanya tetap tertuju pada motor hitam yang baru saja lewat.
Perjalanan dimulai, bersamaan dengan rasa penasaran yang ikut menumpuk di dadanya.
...----------------...
Sesampainya di rumah sakit, suasananya lebih sunyi dari biasanya. Lorong luas hanya dihuni beberapa keluarga yang duduk diam, wajah lelah tertumpuk di antara kursi. AC menggantungkan hawa dingin yang menusuk kulit, membuat langkah Nayla terdengar lebih berat dan sunyi.
Setelah registrasi, ia diarahkan ke ruang tunggu Poli Kulit. Baru beberapa langkah, tubuhnya berhenti.
Di ujung lorong, seseorang berdiri.
Keenan.
Helm ditenteng longgar di tangan, wajahnya tegang—bukan tegang marah atau sok jagoan seperti biasanya, tapi cemas yang berusaha disembunyikan. Tidak ada tingkah hiperaktif, tidak ada celotehan sok keren. Ini… Keenan versi lain. Lebih lembut. Lebih rapuh, tapi dengan cara yang tidak langsung bisa dipahami.
Nayla buru-buru menoleh ke arah lain, mencoba menyembunyikan bahwa ia memperhatikan.
Tapi pintu kamar di dekatnya sedikit terbuka. Dari celah itu terdengar suara samar—obrolan ringan—yang membuat keberadaan Keenan semakin terasa nyata. Versi dirinya yang Nayla lihat di lapangan itu terasa jauh berbeda dari yang kini diamati.
"Keenan… kamu nggak usah bolak-balik ke sini. Fokus sekolah saja," suara perempuan lembut terdengar, namun lelah.
Keenan membalas pelan, hampir berbisik, "Aku nggak apa-apa, Ma."
"Aku cuma mau lihat kondisi Mama. Dokter bilang tekanan darah Mama turun lagi kemarin."
Nayla menahan napas. Nadanya… berbeda. Ini bukan Keenan yang santai dan suka menantang, tapi seorang anak laki-laki yang sangat peduli pada ibunya.
Lalu suara lain terdengar, lebih berat, lebih tegas.
"Keenan."
Keenan menegakkan bahu secara refleks. Nayla ikut otomatis menegakkan tubuhnya.
"Oh…" gumamnya pelan. Itu pasti ayahnya Keenan. Suara yang punya wibawa, tapi tidak perlu keras.
"Iya, Yah?" jawab Keenan singkat, suaranya stabil.
Ayahnya berdiri di dekat pintu, menatapnya dengan tegas tapi tidak keras. "Ayah nggak melarang kamu datang," katanya, suara terkontrol. "Tapi sekolahmu jangan sampai keteter. Kamu ingat apa yang kita omongkan dari dulu?"
Keenan menggeser helm di genggamannya. "Iya, aku ingat."
"Perusahaan perlu kamu mulai belajar pelan-pelan." Nada ayahnya stabil, tapi jelas ia menahan banyak hal. "Kamu nggak bisa terus lari dari itu. Kamu yang akan nerusin nanti."
Keenan menarik napas kecil, matanya menatap lantai sejenak. "Aku bukan lari, Yah… Aku cuma pengen masa depan yang aku pilih."
Hening sejenak. Berat, tapi tidak meledak.
Ayahnya menghembuskan napas pelan, lebih karena lelah daripada marah. "Keenan," katanya lembut, "jangan bikin Ayah kecewa."
Pintu perlahan tertutup kembali.
Dari celahnya terdengar suara ibunya, lembut dan hangat. "Jangan terlalu dipikirkan, Nak. Mama selalu dukung mimpi kamu. Ayah hanya masih belum menerima."
Keenan menunduk, sorot matanya melunak. Ia mendekat, mencium tangan ibunya pelan.
"Iya, Ma," ucapnya lirih. "Keenan pamit dulu, ya. Nanti jenguk lagi. Mama jangan kepikiran terus."
Wanita itu mengusap rambut Keenan dengan gerakan otomatis hangat dan menenangkan. "Hati-hati, Sayang."
Keenan menarik napas panjang, menahan sesuatu yang tidak ia tunjukkan pada siapa pun di sekolah. Lalu mundur beberapa langkah, menutup pintu dengan perlahan, dan menatap lorong sejenak sebelum berbalik.
Nayla, yang dari tadi mengamati, bergerak ke kursi ruang tunggu terdekat, berpura-pura memeriksa nomor antrean. Jantungnya masih berdebar.
Jadi ini alasan Keenan terburu-buru… Ibunya sakit. Ia menanggung beban keluarga sebesar itu sendirian.
Rasanya… bukan kasihan. Lebih seperti memahami seseorang dengan cara yang tak pernah ia rencanakan.
Kontrol Nayla selesai lebih cepat dari perkiraan, hanya sekitar lima belas menit. Saat ia keluar, langkahnya melewati lorong yang sama…
Keenan masih di sana.
Duduk sendiri, helm dipeluk longgar di pangkuan. Rambutnya agak berantakan, bekas ia tarik ke belakang beberapa kali, sorot matanya kosong bukan dingin, tapi capek. Capek dari hal-hal yang menumpuk, dari tekanan yang tak terlihat.
Nayla ragu sejenak melewati sisi Keenan. Lorong terasa terlalu sempit, tapi tidak ada lagi jalur lain. Akhirnya, ia melangkah pelan.
Saat hampir melewatinya, Keenan mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu—singkat, tapi cukup membuat dada Nayla hangat sekaligus panik.
"…Nay?" suara Keenan pelan, nyaris tidak percaya.
"Kontrol," jawab Nayla singkat, berusaha terdengar casual. "Alergi. Biasa aja."
Keenan mengangguk pelan. "Oh… Kupikir tadi…"
Ia berhenti, tidak melanjutkan.
Nayla mengangkat alis tipis. "Aku nggak ngikutin kamu kok," katanya sambil mengangkat kantong obat sebagai bukti.
Keenan buru-buru menunduk, pura-pura batuk. Ujung telinganya memerah sedikit, jelas berusaha menutupi rasa malunya.
"Aku nggak mikir gitu kok," katanya cepat, suara sedikit gugup.
"Yaelah," Nayla menahan senyum. "Muka kamu jelas banget ngomong gitu."
Keenan menghela napas kecil, dramatis tapi lembut. "Iya, iya. Salah ku."
Nayla hanya mengangguk santai. "Aman. Santai aja."
Untuk sesaat, Keenan tertawa pelan—hangat, lelah, tapi nyata. Suara itu cukup membuat lorong sepi terasa sedikit lebih ringan.
Karena penasaran, dan agar tidak terlihat terlalu tahu, Nayla akhirnya bertanya pelan,
"Kamu sendiri habis ngurus apa?"
Keenan terdiam sepersekian detik. Jika tidak diperhatikan, orang mungkin mengira ia hanya berpikir sebentar.
Tapi Nayla menangkap jeda itu—tipis, tapi nyata.
Akhirnya Keenan menjawab, suaranya turun setengah oktaf, hampir bisikan.
"…Mama."
Nayla hanya mengangguk kecil, lembut. Tidak menekan, tidak menuntut penjelasan. "Semoga cepat membaik, ya."
Keenan menatap lantai sejenak, mengusap belakang lehernya—gestur gugup yang sudah ia lakukan beberapa kali sejak tadi.
"Iya. Makasih," jawabnya pelan.
Jeda kecil memenuhi udara.
Bukan canggung. Justru… tenang. Seperti keduanya sama-sama butuh sunyi sebentar.
.
.
Mereka berjalan menuju lift. Keenan menahan pintu agar tidak tertutup, memberi isyarat agar Nayla masuk lebih dulu, lalu berdiri di sampingnya. Tidak ada percakapan. Hanya suara AC dan angka lantai yang berganti pelan.
Saat pintu lift terbuka di lantai satu, mereka keluar bersamaan.
Di lorong, langkah mereka otomatis menyamakan ritme. Tidak jelas siapa yang menyesuaikan duluan—rasanya seperti sesuatu terjadi begitu saja.
Diamnya nyaman. Begitu alami sampai mereka hampir lupa, jarang ada orang lain yang membuat ritme serupa terasa begitu normal.
Ketika pintu keluar terbuka ke area parkir, keduanya terhenti sebentar—setengah detik yang cukup untuk terasa, meski tak ada yang mengucapkan apa pun.
Nayla baru saja menatap hp-nya untuk memesan ojol ketika Keenan memanggil.
"Nay?"
"Hm?"
Keenan mencondongkan badan sedikit, ragu sepersekian detik. Nada suaranya ringan, hampir bercanda, tapi mata itu tetap serius.
"Kalo besok aku… agak telat latihan, jangan bilang ke Rakha aku di rumah sakit, ya."
Nayla menatapnya sejenak, cukup lama untuk menangkap maksud di balik permintaan itu. Lalu mengangguk pelan.
"Iya. Aku nggak bakal bilang ke Rakha."
Keenan tersenyum—tipis, samar, sesuatu yang baru terlihat hari ini.
"Naik apa ke sini?" tanyanya, suaranya ringan tapi ada nada penasaran.
"Pake ojol," jawab Nayla, sambil menatapnya sebentar.
Keenan mengangkat bahu, santai. Matanya masih menempel di Nayla.
"Mau bareng aja nggak?"
"Gak usah, Keenan. Aku udah pesen ojolnya kok."
Keenan menatapnya sebentar, lalu mengangguk perlahan. "Beneran gapapa?"
"Serius, gapapa. Aku masih mau ke tempat lain."
Keenan tersenyum tipis lagi, kali ini lebih pelan, hampir seperti mengalah pada pilihan Nayla. "Oke deh. Hati-hati di jalan, ya."
Mesin motornya meraung pelan saat ia melaju pergi. Sisa-sisa sore yang biasanya biasa saja terasa… berbeda, hangat, dan diam-diam membuat hari itu lebih lengket di ingatan Nayla.
...----------------...
Malam itu, Keenan tiba di rumah hampir jam tujuh. Ia memutari beberapa blok—bukan karena ada tujuan, hanya butuh sedikit angin sebelum pulang.
Ketika akhirnya memarkir motor, gerakannya pelan, jauh dari ngebut tak sabar yang ia lakukan saat meninggalkan sekolah. Jaketnya masih berbau obat-obatan rumah sakit, tapi ia sama sekali tidak menyadarinya.
Kamarnya gelap, hanya lampu belajar yang menyala redup, membentuk bayangan panjang di dinding. Tanpa membuang waktu, Keenan langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur, membiarkan lelah menumpuk larut begitu saja.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Jelas ia tahu siapa pengirimnya.
> rakha sok kul: Jangan kabur latihan lagi. Besok datang tepat waktu.
Keenan menatap layar hp-nya dengan lama. Pesan sesingkat itu… entah kenapa terasa hangat. Lain dari tekanan rumah, ekspektasi ayah, semua beban yang menempel sejak kecil.
Ia membalas, jempolnya bergerak pelan.
> Keenan: Pasti. Besok gue yang nge-lead passing lu.
Tak sampai beberapa detik, notifikasi lain muncul.
> rakha sok kul: Jangan cuma ngomong doang.
Keenan mendengus kecil, sudut bibirnya tersungging tanpa ia sadari.
Entah kenapa… malam ini terasa ringan. Rasanya seperti, meski dunia menuntut segalanya darinya, ada satu orang yang membuatnya merasa… aman, bahkan dari jauh.
Ia meletakkan ponsel di meja, menatap langit-langit remang, membiarkan hening menggantung sebentar. Napasnya perlahan mereda. Pikiran yang sebelumnya kusut, sedikit demi sedikit menenangkan diri.
Akhirnya, ia memejamkan mata. Malam itu, ia benar-benar tertidur dengan tenang dan lega.
kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭