Sejak usia lima tahun, Raya Amelia hidup dalam neraka buatan ayahnya, Davin, yang menyalahkannya atas kematian sang ibu. Penderitaan Raya kian sempurna saat ibu dan kakak tiri masuk ke kehidupannya, membawa siksaan fisik dan mental yang bertubi-tubi. Namun, kehancuran sesungguhnya baru saja dimulai, di tengah rasa sakit itu, Raya kini mengandung benih dari Leo, kakak tirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qwan in, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Roda pesawat baru saja menyentuh landasan pacu, namun pikiran Leo sudah terbang kembali ke desa. Begitu pintu keluar bandara terbuka, ia tidak membuang waktu. Dengan langkah lebar yang terburu-buru, ia langsung meluncur menuju jantung kota, ke sebuah gedung pencakar langit yang berdiri angkuh sebagai simbol kekuasaannya.
Suasana lobi kantor yang megah seketika berubah hening saat sosoknya muncul. Para karyawan berbaris rapi, menunduk hormat sambil memberikan salam yang senada. Namun, Leo hanya melenggang. Ia melewati mereka dengan tatapan lurus ke depan, terlalu angkuh untuk sekadar mengangguk atau membalas sapaan yang menurutnya tidak perlu.
Di dalam ruang rapat yang luas dan dingin, suasana terasa mencekam. Di sana sudah duduk David, ayah tiri Leo, pria yang juga merupakan ayah kandung Raya, beserta jajaran klien dan notaris yang sudah tampak jenuh menunggu.
Bagi Leo, tumpukan dokumen di hadapannya terasa seperti beban yang sangat membosankan. Meski matanya menatap lembaran kertas, pikirannya justru terbang kembali ke rumah kayu sederhana itu. Ia membayangkan wajah dingin Raya dan tawa kecil Lili. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaan kantoran ini agar bisa secepatnya kembali ke desa.
Begitu tanda tangan terakhir dibubuhkan dan para tamu meninggalkan ruangan, hanya tersisa Leo dan David dalam kesunyian yang menyesakkan.
"Leo, sebenarnya apa yang kau lakukan?" suara David memecah keheningan, terdengar berat dan penuh tuntutan.
"Kau tidak pulang ke rumah, dan kau membiarkan perusahaan ini berjalan tanpa pengawasan yang benar."
Leo merapikan jasnya, menatap David dengan sorot mata tajam. "Selama aku tidak di sini, apa grafiknya menurun? Tidak, kan?" sahut Leo datar.
"Aku tetap memegang kendali, meskipun dari jarak jauh. Itu sudah lebih dari cukup."
Tanpa menunggu balasan, Leo berbalik. Ia meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi, meninggalkan David yang hanya bisa terpaku menatap punggung anak tirinya yang kian menjauh.
"Anak itu benar-benar mustahil untuk diajak bicara," gumam David pelan.
Ia menghela napas panjang, teringat bagaimana sifat Leo berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir. "Semenjak kematian Raya, dia berubah total. Leo yang sekarang jauh lebih tertutup dan sangat dingin," gumam David lagi.
Leo melangkah lebar meninggalkan ruang rapat, mengabaikan segala kemewahan kantor yang dulu sangat ia banggakan. Roni, asisten pribadinya, setengah berlari mencoba mengimbangi langkah sang bos yang tampak seperti orang yang sedang dikejar waktu.
"Antarkan aku ke pusat perbelanjaan," perintah Leo tanpa menoleh, suaranya terdengar datar namun tak terbantah.
Roni sempat tertegun sejenak. "Pusat perbelanjaan, Pak? Ada urusan bisnis yang saya lewatkan?" tanyanya bingung, namun hanya dibalas dengan tatapan tajam dari Leo yang sudah masuk ke dalam mobil. Tanpa banyak tanya lagi, Roni segera mengarahkan mobil ke mal terbesar di pusat kota.
Begitu sampai, Leo tidak menuju butik mewah langganannya seperti biasa. Ia justru melangkah tegap menuju toko mainan anak-anak. Langkahnya yang mantap dengan setelan jas mahalnya membuat para pelayan toko langsung siaga menyambut dengan gugup.
"Aku ingin mainan untuk anak perempuan usia enam tahun," ucap Leo singkat.
Penjaga toko itu dengan cekatan menunjukkan berbagai pilihan terbaik. Mulai dari boneka Teddy bear berukuran besar yang sangat lembut, rumah-rumahan Barbie yang megah, hingga set masak-masakan lengkap. Leo hanya melirik sekilas ke arah barang-barang itu.
"Bungkus semuanya," ucap Leo singkat sambil menyodorkan kartu kreditnya. Ia tidak peduli pada harganya, yang ia bayangkan hanyalah bagaimana mata bulat Lili akan berbinar saat melihatnya nanti.
Tak berhenti di situ, Leo segera beralih ke area pakaian anak-anak. Ia menyisir deretan pakaian, Ingatannya kembali pada Lili yang sering kali hanya mengenakan jaket tipis yang warnanya sudah mulai pudar karena sering dicuci, padahal cuaca desa di kaki gunung itu sangatlah dingin. Ia pun memborong beberapa pakaian hangat, jaket bulu tebal, sweater rajut, dan beberapa syal kecil dengan motif lucu.
"Pak... apa semua ini untuk anak perempuan di desa itu?" tanya Roni, yang kini kewalahan memeluk tumpukan tas belanjaan yang menutupi pandangannya.
"Hmm," gumam Leo pendek, memberikan konfirmasi yang sangat langka.
Setelah semua belanjaan masuk ke bagasi, mereka kembali ke dalam mobil. Leo menyandarkan kepalanya, namun auranya masih tampak tidak sabar.
"Kita kembali ke desa sekarang," ujar Leo dengan suara datarnya.
Roni menghela napas panjang, mencoba memberanikan diri. "Tapi Pak... apa tidak lebih baik kita beristirahat dulu di kota? Kita bisa kembali besok pagi saat tubuh Anda sudah lebih segar."
Leo melirik jam tangan mewahnya. Jarum jam masih menunjukkan pukul 04:30 sore.
"Ini masih jam kerja, Roni. Lakukan saja perintahku," sahut Leo singkat, menutup segala ruang perdebatan.
Roni yang merasa tidak punya pilihan lain hanya bisa mengangguk pasrah. Ia mulai menjalankan mobilnya, membelah kepadatan kota menuju jalanan menanjak yang berkabut, membawa seorang pria angkuh yang rela menempuh ratusan kilometer hanya demi senyum seorang gadis kecil.
Ditunggu ya triple updatenya 💖💖💖💪💪