ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 27: Sajadah Berdarah dan Ujian Kesetiaan.
Narapidana bertato kalajengking itu, yang dikenal dengan nama Carlos, menerjang maju. Pisau buatannya berkilat tertimpa cahaya lampu neon sel yang berkedip. Alaska tidak lagi memiliki senjata api, tidak memiliki pelindung tubuh, dan tidak memiliki anak buah yang melindunginya. Namun, ia memiliki sesuatu yang lebih tajam dari sebelumnya: kejernihan pikiran.
Dengan gerakan yang tenang namun eksplosif, Alaska menghindar ke samping. Ia menangkap pergelangan tangan Carlos, memutarnya dengan teknik yang mematikan, lalu menghantamkan sikunya ke ulu hati pria itu. Carlos terjajar ke belakang, terbatuk darah, namun kebencian di matanya belum padam.
"Kau... kau sudah lemah, Alaska!" geram Carlos. "Kau tidak lagi menyerang untuk membunuh!"
Alaska berdiri tegak, napasnya teratur.
"Aku tidak lemah. Aku hanya tidak lagi memiliki alasan untuk menjadi iblis sepertimu. Pergilah, sebelum aku terpaksa mematahkan tanganmu yang lain!"
Tiba-tiba, dari arah lorong, terdengar langkah kaki sepatu bot yang berat. Bukan sipir, melainkan tiga narapidana lain yang memegang besi runcing. Mereka adalah orang-orang bayaran kartel yang telah menyusup ke dalam lapas. Alaska menyadari bahwa ini adalah eksekusi terencana.
Pertarungan di Ruang Sempit
Alaska melirik ke arah sajadahnya yang terbentang di sudut sel. Ia tidak ingin kain suci itu ternoda oleh darah para pembunuh ini. Dengan cepat, ia melangkah keluar dari selnya, menutup pintu jeruji di belakangnya agar area ibadahnya tetap bersih.
"Empat lawan satu." Alaska meregangkan jemarinya. "Aku pernah menghadapi yang lebih buruk."
Pertempuran pecah di koridor blok C yang sempit. Alaska bertarung seperti badai yang terkendali. Ia menggunakan tembok penjara sebagai tumpuan, melakukan tendangan memutar yang menjatuhkan dua orang sekaligus. Setiap serangan yang ia lepaskan hanya bertujuan untuk melumpuhkan, bukan menghabisi nyawa.
Namun, Carlos kembali bangkit dan menusukkan pisaunya ke arah punggung Alaska.
Srettt!
Baju oranye Alaska robek, meninggalkan luka sayatan panjang di punggungnya. Darah mulai merembes, tapi Alaska tidak meringis. Rasa sakit fisik itu seolah menjadi penebusan bagi dosa-dosanya di masa lalu. Ia berbalik, menangkap kepala Carlos, dan menghantamkannya ke jeruji besi hingga pria itu pingsan seketika.
Tiga orang lainnya, melihat keganasan "Sang Naga" yang bangkit kembali, mulai ragu. Pada saat itulah, alarm penjara meraung, dan pasukan antihuru-hara masuk untuk mengendalikan situasi.
Bisikan dari Luar Dinding.
Keesokan harinya, di ruang kunjungan yang dibatasi kaca tebal, Bara muncul dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya.
"Tuan, serangan semalam hanya permulaan. Kartel Meksiko telah mengeluarkan contract kill terbuka senilai 10 juta dolar untuk siapa pun yang bisa menghabisi Anda di dalam. Saya bisa mengaturnya agar Anda dipindahkan ke sel isolasi yang lebih aman," lapor Bara.
Alaska menggeleng.
"Jangan, Bara. Jika aku bersembunyi di isolasi, mereka akan tahu bahwa aku takut. Biarkan aku di sini. Di sini adalah tempatku untuk membuktikan bahwa iman bukan hanya tentang sujud, tapi tentang keteguhan di bawah ancaman."
Bara menghela napas, lalu menyodorkan sebuah amplop cokelat ke celah bawah kaca.
"Ini dari Nyonya Sania. Dia menitipkannya saat berkunjung ke yayasan tadi pagi."
Alaska membuka amplop itu. Di dalamnya ada sebuah foto panti asuhan yang baru saja selesai direnovasi—bekas gudang senjata milik Alaska yang kini dipenuhi warna-warni cat dan tawa anak-anak. Di balik foto itu tertulis pesan singkat:
"Bunga yang paling indah seringkali tumbuh dari tanah yang paling banyak menerima tumpahan air mata dan luka. Jangan menyerah pada badai, karena akar Anda sedang diperkuat oleh-Nya."
Membaca tulisan itu, Alaska merasakan kekuatan baru mengalir di nadinya. Luka di punggungnya tidak lagi terasa perih.
Strategi Sang Naga.
"Bara, dengarkan instruksiku," ucap Alaska dengan suara rendah yang penuh otoritas.
"Gunakan sisa koneksi kita di intelijen internasional. Jangan serang mereka dengan peluru. Serang mereka dengan data. Kirimkan semua bukti transaksi pencucian uang kartel Meksiko ke interpol secara bertahap. Jika mereka ingin membakarku, aku akan pastikan seluruh kerajaan mereka ikut terbakar bersamaku."
"Tapi Tuan, itu akan membuat mereka semakin gila!"
"Biarkan saja. Naga yang bertobat tidak akan lari dari api. Ia akan masuk ke dalamnya untuk memurnikan diri," jawab Alaska tegas.
Malam yang Panjang.
Kembali di selnya, Alaska membersihkan luka di punggungnya dengan air wudu. Ia kembali membentangkan sajadahnya. Meskipun tubuhnya memar dan penuh luka, ada senyuman tipis di wajahnya.
Ia mulai menyadari bahwa penjara ini bukanlah tempat hukumannya, melainkan madrasahnya. Setiap serangan dari narapidana lain adalah ujian bagi kesabarannya. Setiap godaan untuk membalas dendam adalah ujian bagi integritasnya.
Di kejauhan, ia mendengar suara Dante yang masih berteriak di sel isolasi, mengutuk namanya. Alaska menutup matanya, lalu berbisik dalam doa yang masih terbata-bata.
"Ya Tuhan... jika ini adalah cara-Mu untuk menghapus noda di tanganku, maka hancurkanlah tubuhku, tapi jangan biarkan hatiku kembali ke kegelapan."
Malam itu, di bawah temaram lampu penjara, Sang Naga tidak lagi mengaum karena kemarahan. Ia sedang bersujud dalam kesunyian, mencari cahaya di antara jeruji besi yang dingin.
__Ujian terberat bagi seseorang yang berhijrah bukanlah saat ia harus meninggalkan hartanya, melainkan saat ia harus tetap bersabar ketika masa lalu datang untuk menuntut balas. Iman yang sejati tidak diuji di atas hamparan karpet yang empuk, melainkan di atas hamparan bara api yang menuntut keteguhan hati. Jangan takut pada luka fisik, karena luka itulah yang kelak akan menjadi saksi bahwa kita pernah berjuang untuk menjadi lebih baik__
Bersambung ....