Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya
Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Berita penangkapan Pak Baskoro menyebar secepat api di atas rumput kering. Namun, bagi sebagian orang, runtuhnya sebuah kekuasaan bukanlah akhir dari sebuah konflik, melainkan awal dari dendam baru.
Siang itu, ketika jam istirahat baru saja dimulai, suasana tenang di koridor depan ruang guru pecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru dan deru napas yang penuh amarah.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian bermerek namun tampak kusut, muncul dengan wajah memerah. Ia adalah Ibu Baskoro. Tanpa mempedulikan tatapan heran para siswa dan guru, ia langsung menerobos menuju meja Raisa.
"Di mana perempuan itu?! Di mana guru yang sok suci itu?!" teriaknya, suaranya melengking memenuhi ruangan.
Raisa yang tengah mengoreksi esai siswa, mendongak dengan tenang. Sebelum ia sempat berdiri, Ibu Baskoro sudah sampai di depan mejanya dan menggebrak meja kayu itu dengan keras hingga tumpukan buku berserakan di lantai.
"Puas kamu sekarang, hah?!" teriak Ibu Baskoro, telunjuknya menunjuk tepat ke wajah Raisa. "Gara-gara laporan sampahmu itu, suami saya ditangkap! Gara-gara kamu, nama keluarga saya hancur! Kamu pikir kamu siapa, mengurusi urusan keluarga kami?"
Para guru lain, termasuk Bu Ratna yang biasanya sinis, terdiam membeku melihat amukan itu. Pak Fajar mencoba mendekat untuk menengahi, namun Ibu Baskoro justru semakin histeris.
"Jangan ikut campur! Ini urusan saya dengan perempuan yang sudah menghancurkan masa depan anak saya!" Ibu Baskoro kembali menatap Raisa dengan tatapan benci yang mendalam. "Rendi sekarang ketakutan di dalam tahanan, dia dijauhi teman-temannya karena ulahmu! Kamu itu cuma guru biasa, berani-beraninya mengusik orang seperti kami!"
Raisa berdiri perlahan. Meski jantungnya berdegup kencang karena terkejut, ia tidak membiarkan wajahnya menunjukkan ketakutan. Ia menatap Ibu Baskoro dengan sorot mata yang jernih namun tegas.
"Ibu, saya mengerti ini saat yang sulit bagi keluarga Anda," ucap Raisa dengan nada terkontrol. "Tetapi penangkapan Pak Baskoro adalah urusan hukum berdasarkan bukti korupsi yang ada. Dan mengenai Rendi, saya hanya menjalankan tugas saya untuk melindungi siswa lain yang menjadi korban perundungannya. Keadilan tidak mengenal status sosial, Bu."
"Keadilan? Jangan bicara soal keadilan padaku!" Ibu Baskoro meraih sebuah vas bunga kecil di meja samping dan hendak melemparkannya ke arah Raisa.
"Cukup!"
Sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa menghentikan gerakan tangan Ibu Baskoro. Di ambang pintu ruang guru, berdiri Pak Usman. Di belakangnya, tampak Fatih yang masih mengenakan kemeja formal, wajahnya tampak lebih dingin dari biasanya.
Pak Usman melangkah masuk dengan tenang, namun setiap langkahnya memberikan tekanan yang kuat. "Ibu Baskoro, saya sarankan Anda meletakkan benda itu sebelum masalah ini menjadi kasus hukum baru bagi Anda."
Ibu Baskoro menoleh, wajahnya sedikit pucat melihat sosok Pak Usman yang merupakan tokoh berpengaruh yang selama ini tidak bisa disentuh oleh suaminya. "Pak Usman... ini... ini perempuan ini..."
"Perempuan ini adalah pendidik yang melakukan hal benar," potong Pak Usman tegas. "Jika Anda ingin mencari pihak yang bertanggung jawab atas kehancuran keluarga Anda, lihatlah ke cermin, bukan ke arah orang yang mengungkap kebenaran. Suami Anda jatuh karena perbuatannya sendiri."
Fatih melangkah maju, berdiri sedikit di depan Raisa, seolah membentuk tameng yang tak terlihat. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Ibu Baskoro, namun tatapan matanya yang tajam dan dingin sudah cukup untuk membuat wanita itu menciut.
Fatih kemudian menoleh sedikit ke arah Raisa. "Anda terluka?" tanya Fatih singkat.
Raisa menggeleng pelan. "Tidak. Saya baik-baik saja."
Ibu Baskoro, yang merasa sudah terdesak dan kehilangan muka di depan semua guru, akhirnya menjatuhkan vas itu kembali ke meja. Ia menangis sesenggukan, sebuah tangisan frustrasi karena kekuasaan yang selama ini ia banggakan telah lenyap.
"Pergi dari sini, Bu. Urusan suami Anda biar diselesaikan oleh pengacara di kantor polisi, bukan dengan mengintimidasi guru di sekolah," ujar Pak Usman dengan nada final.
Dengan langkah lunglai, Ibu Baskoro meninggalkan ruang guru. Suasana mendadak hening. Gavin dan Dafa yang mengintip dari balik jendela saling berpandangan dengan perasaan lega yang luar biasa.
Setelah situasi kondusif, Pak Usman pamit untuk kembali ke kantor yayasan untuk menemui pak surya. Namun, Fatih masih berdiri di sana, menatap Raisa yang kini mulai membereskan buku-bukunya yang jatuh.
"Saya sudah bilang," gumam Fatih pelan, hanya untuk didengar oleh Raisa. "Jangan pernah merasa harus menghadapi badai ini sendirian."
Raisa mendongak, menatap Fatih dengan binar mata yang berbeda. Untuk pertama kalinya, Ice Queen itu memberikan senyum kecil yang tulus. "Terima kasih, Dokter Fatih. Dan sampaikan terima kasih saya lagi pada Pak Usman."
Fatih hanya mengangguk kecil dan meninggalkan Raisa
....................
Setelah kepergian Ibu Baskoro yang memalukan, Gavin tidak bisa lagi membendung rasa bangganya. Dengan langkah lebar dan wajah yang berseri-seri, ia mengejar Kakek dan Om-nya yang baru saja keluar dari gedung administrasi sekolah.
"Kek! Om Fatih! Tunggu!" seru Gavin sambil berlari kecil.
Pak Usman dan Fatih berhenti di koridor yang teduh. Gavin langsung menyalami tangan kakeknya dengan takzim, lalu menepuk pundak Fatih dengan gaya akrab yang biasanya akan dibalas dengan tatapan dingin oleh sang dokter, namun kali ini Fatih hanya diam membiarkannya.
"Keren banget, Kek! Tadi itu benar-benar momen skakmat paling epic yang pernah Gavin lihat. Muka Ibu Baskoro langsung pucat pas lihat Kakek masuk," ujar Gavin dengan nada heboh. "Terima kasih ya, Kek, sudah mau turun tangan bantu Bu Raisa. Ngomong-ngomong kakek dan om kenapa disini"
Pak Usman tersenyum bijak, ia menepuk bahu cucunya itu. "Kakek tidak hanya membantu Bu Raisa, Gavin. Kakek sedang membantu masa depan sekolah ini. Kebenaran memang harus ada yang mengawal."
Pak Usman terdiam sejenak, memandang ke arah ruang guru di mana Raisa masih terlihat sibuk menenangkan diri. "Gavin, Kakek sudah memutuskan. Mulai bulan depan, yayasan keluarga kita akan menjadi donatur tetap untuk SMA Pelita Bangsa, khususnya untuk program perlindungan siswa dan pengembangan karakter."
Gavin ternganga, matanya berbinar. "Serius, Kek? Wah, ini berita besar! Pasti Bu Raisa senang banget dengarnya."
"Kakek melihat kegigihan Bu Raisa," lanjut Pak Usman dengan nada serius. "Sangat jarang ada guru yang mau mempertaruhkan posisinya demi membela keadilan bagi siswi kecil seperti Vina, apalagi melawan orang sekuat Baskoro. Orang-orang berintegritas seperti dia harus didukung agar tidak merasa sendirian."
Gavin langsung menyenggol lengan Fatih. "Denger tuh, Om! Kakek aja sampai terpesona sama prinsipnya Bu Raisa. Om jangan cuma jadi patung es terus. Dukungan dana dari Kakek sudah masuk, masa dukungan perasaan dari Om masih pending?"
Fatih mengalihkan pandangannya, mencoba menyembunyikan sedikit rasa takjubnya pada keputusan sang Ayah. "Gavin, jaga bicaramu. Kita di sekolah, bukan di ruang makan rumah," sahut Fatih datar, meski sebenarnya ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya terhadap Raisa.
"Tapi ayah benar," tambah Fatih sambil menatap sang Ayah. "Infrastruktur sekolah ini butuh sistem yang lebih baik agar kasus seperti Vina tidak terulang. Keputusan Ayah sangat tepat."
Pak Usman mengangguk. "Nah, Gavin, tugasmu sekarang adalah pastikan teman-temanmu tahu bahwa sekolah ini sekarang punya standar baru. Tidak ada lagi kasta-kastaan karena harta orang tua."
"Beres, Kek! Gavin bakal jadi garda terdepan!" seru Gavin semangat. "Habis ini Gavin mau kasih tahu Bu Raisa. Dia pasti lega banget"
Gavin kemudian berlari kembali menuju ruang guru dengan semangat yang meluap-luap, meninggalkan Pak Usman yang tersenyum puas dan Fatih yang masih berdiri mematung, menatap ke arah pintu ruang guru dengan pikiran yang semakin berkecamuk.