NovelToon NovelToon
Misi Terlarang Sang Mayor

Misi Terlarang Sang Mayor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Protokol Lazarus

​Hujan badai mengguyur ibu kota, menciptakan tirai air yang menyamarkan pergerakan truk lapis baja Unit Phoenix. Di dalam kabin yang remang-remang, Elara memeriksa magasin senapan serbunya untuk terakhir kali. Ayahnya telah diamankan di sebuah lokasi rahasia yang hanya diketahui oleh Kael. Kini, fokusnya hanya satu: menghentikan Jenderal Gedeon sebelum tombol aktivasi Protokol Lazarus ditekan.

​"Kediaman pribadi Gedeon bukan sekadar rumah," Zian menjelaskan sambil memproyeksikan hologram denah bangunan di tengah kabin. "Ini adalah bunker kelas satu yang dilapisi beton anti-nuklir. Protokol Lazarus dikendalikan dari ruang komando di lantai bawah tanah. Hanya ada satu cara masuk: melalui lift kargo di bagian belakang yang digunakan untuk pasokan logistik."

​Elara menatap titik merah di hologram itu. "Dan aku berani bertaruh, lift itu dijaga oleh pasukan elit yang lebih kuat dari Black-Ops."

​"Tepat," sahut Zian. Matanya menatap Elara dengan intensitas yang berbeda. "Elara, jika Protokol Lazarus aktif, gas syaraf VX akan dilepaskan melalui sistem ventilasi kota dalam waktu sepuluh menit. Kita tidak punya ruang untuk kesalahan."

​Truk berhenti di sebuah gang gelap yang berjarak tiga ratus meter dari gerbang belakang kediaman Jenderal. Elara dan Zian melompat keluar, bergerak seperti hantu di antara bayang-bayang. Mereka mengenakan setelan infiltrasi terbaru yang dilengkapi dengan teknologi active camouflage—mampu membiaskan cahaya dan membuat mereka hampir tidak terlihat oleh kamera pengintai biasa.

​Mereka mencapai gerbang lift kargo. Dua penjaga dengan helm sensor termal berjaga di sana. Elara memberi isyarat tangan. Dia bergerak ke kiri, Zian ke kanan. Dalam koordinasi yang sempurna, mereka menyerang secara bersamaan dari titik buta. Elara menggunakan kawat monofilament untuk melumpuhkan lawannya dalam diam, sementara Zian menggunakan teknik patahan leher yang cepat.

​"Lift diamankan," bisik Elara ke radio.

​Mereka masuk ke dalam lift kargo yang luas. Saat lift turun menuju lantai bawah tanah, keheningan menyelimuti mereka. Zian memegang tangan Elara sejenak. Tangannya kasar dan hangat, memberikan kekuatan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.

​"Setelah ini selesai," bisik Zian, "aku ingin kita pergi ke tempat di mana tidak ada seragam, tidak ada senjata, dan tidak ada pengkhianatan."

​Elara tersenyum tipis di balik masker taktisnya. "Simpan janji itu, Kolonel. Aku akan menagihnya."

​Ting.

​Pintu lift terbuka, dan mereka langsung disambut oleh hujan peluru. Pasukan garda depan Gedeon sudah menunggu.

​"Kontak! Berlindung!" teriak Zian.

​Mereka berlindung di balik peti-peti besi logistik. Elara melepaskan tembakan balasan yang presisi, menjatuhkan dua penembak jitu di balkon atas. Zian melemparkan granat empuk (concussion grenade) yang meledak dengan dentuman yang memekakkan telinga, melumpuhkan sensor elektronik musuh selama beberapa detik berharga.

​"Maju! Maju!"

​Mereka merangsek melalui koridor beton, menembak dan bergerak dengan sinkronisasi yang mengerikan. Elara bergerak seperti badai; tendangan, pukulan, dan tembakan jarak dekatnya menghancurkan pertahanan musuh. Dia bukan lagi sekadar agen intelijen; dia adalah perwujudan dari kemarahan yang terkendali.

​Mereka mencapai pintu ruang komando. Pintu baja itu setebal tiga puluh sentimeter.

​"Zian, pasang peledak termit di engselnya!" perintah Elara sambil terus menembaki pasukan bantuan yang datang dari arah belakang.

​Zian bekerja dengan kecepatan luar biasa. Percikan api termit mulai memakan baja pintu. Saat pintu itu akhirnya tumbang dengan dentuman keras, Elara melompat masuk terlebih dahulu, melakukan salto di udara untuk menghindari tembakan dari dalam ruangan.

​Di tengah ruangan, duduk Jenderal Gedeon di depan jajaran layar monitor yang menampilkan peta kota dengan titik-titik lokasi penyebaran gas. Wajahnya tenang, hampir religius.

​"Selamat, Mayor Vanya. Kolonel Arkana. Kalian berhasil sampai ke altar pengorbanan," ujar Gedeon tanpa menoleh.

​"Hentikan ini, Jenderal!" teriak Zian, senjatanya mengarah tepat ke kepala Gedeon. "Serahkan kode pembatalannya!"

​Gedeon berbalik perlahan, sebuah senyuman kecil menghiasi bibirnya yang pucat. "Kalian bicara soal menghentikan masa depan? Protokol Lazarus bukan tentang pembunuhan, ini tentang pembersihan. Negara ini butuh rasa takut untuk menjadi kuat kembali. Dan kalian adalah martir yang sempurna untuk narasi ini."

​Tangan Gedeon berada di atas tombol merah besar di konsol utama.

​"Jangan bergerak!" Elara berteriak, jarinya sudah menekan pelatuk setengah jalan.

​"Sudah terlambat," kata Gedeon. "Hitung mundur dimulai. Dalam lima menit, sejarah akan ditulis ulang."

​Gedeon menekan tombol itu. Layar di ruangan berubah menjadi merah, dengan angka hitung mundur yang berkedip: 04:59.

​"Sialan!" Zian menerjang konsol komando, mencoba meretas sistemnya. "Enkripsinya terlalu kuat! Elara, aku butuh kunci biometrik dari mata Gedeon untuk membatalkannya!"

​Elara mendekati Gedeon, namun tiba-tiba pintu rahasia di samping ruangan terbuka. Kolonel Tristan muncul—kali ini dia duduk di kursi roda mekanis yang dipersenjatai dengan senapan mesin mini, kakinya yang hancur dibungkus perban tebal.

​"Kau pikir aku akan membiarkanmu menang begitu saja, Elara?" Tristan tertawa histeris. Senapan mesin di kursi rodanya mulai berputar.

​"Zian, urus sistemnya! Tristan bagianku!" teriak Elara.

​Pertarungan pecah di ruang komando yang sempit. Elara harus menghindari hujan peluru dari kursi roda Tristan sambil mencoba mendekati Gedeon. Dia menggunakan kelincahannya, melompati meja dan berguling di lantai.

​Tristan menembak membabi buta, menghancurkan layar-layar monitor. "Aku akan membawamu mati bersamaku, Elara!"

​Elara berhasil mencapai jarak dekat. Dia menendang kursi roda Tristan hingga terbalik, lalu menghantamkan wajah Tristan ke lantai beton. Tanpa membuang waktu, dia berbalik ke arah Gedeon yang mencoba mengambil pistol dari laci mejanya.

​Dor!

​Elara menembak tangan Gedeon sebelum ia sempat meraih senjatanya. Dia menarik Gedeon dengan kasar ke arah pemindai retina di konsol pusat.

​"Batalkan, atau aku akan mencungkil matamu dan menaruhnya sendiri di pemindai itu!" desis Elara dengan mata yang berkilat kejam.

​Gedeon menatap Elara, menyadari bahwa Mayor di depannya ini tidak sedang menggertak. Dengan tangan gemetar, Gedeon mendekatkan matanya ke pemindai.

​Biometric Match. Access Granted.

​"Cepat, Zian!" seru Elara.

​Zian dengan cepat memasukkan perintah pembatalan. Angka hitung mundur berhenti di 00:02.

​Seluruh ruangan hening. Lampu merah kembali menjadi normal.

​"Berhasil..." bisik Zian, keringat bercucuran di dahinya.

​Namun, di tengah kelegaan itu, suara Tristan terdengar tertawa lemah dari lantai. "Kalian pikir... Gedeon adalah dalang utamanya? Gedeon hanyalah bidak. Protokol Lazarus... tetap akan aktif di sektor lain. Organisasi ini... jauh lebih besar dari satu Jenderal."

​Zian dan Elara saling berpandangan. Wajah Gedeon tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi, bukan karena takut, tapi karena racun yang ia telan sendiri melalui gigi palsunya. Gedeon ambruk ke lantai, tewas seketika.

​"Zian, lihat monitor satelit!" Elara menunjuk ke sebuah layar kecil yang masih berfungsi.

​Di sana, terlihat sebuah kapal kargo di lepas pantai sedang bersiap meluncurkan rudal. Itu bukan milik militer negara mereka. Itu milik organisasi tentara bayaran internasional yang selama ini mendanai Gedeon.

​"Mereka tidak butuh Gedeon lagi," kata Zian dengan suara berat. "Mereka akan menghancurkan kota ini untuk menghapus jejak investasi mereka yang gagal."

​Elara mengambil senapan serbunya kembali. "Maka kita punya satu misi terakhir. Kita harus menuju pelabuhan."

​"Elara," Zian memegang bahunya, "ini misi bunuh diri. Kita tidak punya dukungan udara, tidak punya tim cadangan."

​Elara menatap Zian, lalu menciumnya dengan cepat namun dalam. "Kalau begitu, ini adalah hari yang baik untuk menjadi pahlawan, Kolonel."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!