Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Belum Dramanya?
Deg!
Jantung Tasya hampir saja copot mendengar suara dingin dan penuh penekanan dari Setyo. Tasya mematung di tempat, tangannya gemetar seraya memegang koper. "M-Mas Setyo... belum tidur?"
Setyo duduk di atas kursi roda, wajahnya agak pucat dan matanya menyalang karena amarah. Setyo lalu tertawa sumbang. "Menurutmu, apa aku bisa tidur saat istriku pergi beberapa hari ke luar kota dan tertawa bahagia dengan lelaki lain?"
Tasya menahan nafas. Jantungnya berdegup makin kencang. Andai Setyo berada di sebelahnya, ia pasti bisa mendengar betapa kencangnya jantung Tasya berdegup saat ini. "M-maksud Mas apa ya? Aku tidak mengerti."
"Cih, makin pandai berbohong ya kamu, Sya?" Setyo mengirimkan foto Tasya bersama Radit.
Tasya segera membuka pesan yang Setyo kirimkan. Mata Tasya membola melihat foto dirinya saat tertawa lepas bersama Radit bisa ada di tangan Setyo.
"Masih mau berkelit?" Setyo terus mendesak Tasya untuk mengaku.
Wajah Tasya pucat pasi. Hidupnya akan semakin kacau kalau Setyo tahu dirinya sudah berselingkuh dengan lelaki lain. Tasya berusaha menenangkan dirinya. Wajah Radit tidak terlihat di foto dan mereka tidak sedang bermesraan. Aman.
"Apa yang mau aku elak?" balas Tasya. Ia menatap Setyo dengan tatapan bak orang suci tak berdosa. "Memang, apa yang salah dengan foto itu, Mas?"
Rahang Setyo mengeras. "Apa yang salah? Kamu bertanya, apa yang salah? Sudah jelas kamu bersama lelaki lain, tertawa bahagia di luar sana, kamu masih bertanya apa yang salah?" Wajah Setyo kini marah, suaranya naik, membuat seisi rumah terbangun dan mulai berdatangan ke ruang keluarga untuk mengetahui apa yang telah terjadi.
Tasya memasang wajah polos. "Aku tidak mengerti, Mas. Apa salah kalau aku tertawa? Apa aku harus terus murung dan menangis, itu yang Mas mau?" balas Tasya.
"TASYA PRAMESWARI!" bentak Setyo.
"Ya, Mas. Tak perlu membentakku!" balas Tasya seolah tak ada takutnya. "Aku dengar, Mas. Sangat mendengarnya."
Tasya melirik Ibu Welas yang berdiri di anak tangga sedang tersenyum senang melihat dirinya bertengkar hebat dengan Setyo tengah malam buta. Di sebelah Ibu Welas, nampak Sisca dengan wajah sok prihatin padahal dalam hati bersorak riang melihat hubungan Setyo dan Tasya yang semakin renggang.
"Mas mau aku seperti apa? Menangis? Ketakutan? Memohon ampun sambil berlutut padamu? Seperti itu?" Tasya lelah dengan hari ini namun ia harus melawan. Saat ia pergi, ia mendapat rasa sakit hati yang dalam. Kini saat kembali, ia tak dibiarkan istirahat dan langsung diajak ribut. "Mas senang kalau hidupku selalu menderita, wajahku selalu kusut, tak ada senyum dan selalu menangis? Salah kalau aku tertawa? Dosa kalau aku bahagia, hah?"
"Kamu tertawa dengan lelaki lain, Sya!" balas Setyo.
"Lalu, aku harus tertawa dengan siapa? Tertawa sendiri di depan cermin, atau tertawa di bawah pohon beringin, baru kamu ijinkan?" Tasya makin menjadi membalas Setyo.
"Pintar sekali kamu berkelit, Sya. Dia yang sudah merubahmu?" Setyo kali ini menyalahkan Radit, sosok di dalam foto yang ia tak tahu bagaimana rupa dan siapa namanya.
Tasya tertawa mengejek. "Bukan dia yang mengubahku, Mas. Kamu dan keluargamu yang mengubahku," balas Tasya.
"Enak saja membawa-bawa keluarga ini. Kamu yang salah, mengapa kami yang kamu salahkan. Lihatlah, dia kini sudah berani menertawakanmu, Yo." Ibu Welas yang emosi ikut memanasi suasana. "Apa dia jadi berani karena kamu sakit dan tak bisa menjadi suami yang baik, Yo?"
"Tak ada alasan lain yang bisa Ibu pakai apa? Lagi-lagi alasan seperti itu, aku sampai muak dibuatnya. Aku melawan bukan karena Mas Setyo sakit. Aku melawan karena kalian terus memojokkanku." Tasya mengusap wajahnya dengan kasar. Air mata menetes dari sudut matanya namun ia abaikan. Ia tak mau terlihat lemah hanya karena meneteskan air mata. "Aku lelah, Mas. Apapun yang akan kukatakan tak akan pernah kamu dengarkan. Satu lagi, bukan aku yang berubah tapi kamu. Sejak kembali ke rumah ini, kamu tak lagi menganggapku sebagai istrimu. Aku capek, aku mau istirahat!"
Tasya kembali menyeret koper miliknya ke arah kamar pembantu, tempat ia biasa tidur. Ucapan Ibu Welas kembali membuat emosi yang susah payah ia redam kembali tersulut.
"Menyalahkan keluarga ini tapi kembali untuk tinggal di rumah ini, apa tidak punya urat malu?" sindir Ibu Welas.
Langkah Tasya terhenti. Ia berbalik badan lalu menatap tajam ke arah Ibu Welas. "Ibu lupa kalau Ibu yang meminta Mas Setyo kembali ke rumah ini?"
"Setyo yang kuminta kembali, bukan kamu!" balas Ibu Welas.
"Aku tak mau kembali ke rumah ini, Bu. Aku punya rumah sendiri meski masih ngontrak. Untuk apa aku merelakan rumah nyamanku hanya demi tinggal di kamar pembantu? Hanya demi menjadi istri yang baik untuk Mas Setyo-"
"Pergi saja kamu, kembali ke rumahmu yang nyaman itu!" Ibu Welas memotong ucapan Tasya sebelum Tasya menyelesaikannya.
"Memang itu yang akan kulakukan. Aku akan pergi dan tak akan kembali jika itu mau Ibu." Tasya menatap Setyo dengan tatapan lelah bercampur marah. "Aku akan ajukan gugatan cerai untukmu, Mas. Diusir dari rumah ini, berarti Ibumu menginginkanku pergi juga dari sisimu."
"Baguslah kalau kamu-" Kini gantian, Ibu Welas belum selesai bicara, Setyo yang memotong ucapannya.
"Cukup, Bu!" Setyo menatap Ibu Welas dengan tajam. "Tasya tak akan pergi dari rumah ini. Kalau Tasya pergi, aku juga akan pergi!" ancam Setyo.
Tasya tersenyum puas. "Lihat bukan? Bukan aku yang tidak mau pergi, tapi anak Ibu sendiri yang tak mau aku pergi. Sudah belum dramanya? Aku ngantuk. Sampai jumpa besok, bye!" Tasya melenggang dengan santai sambil menyeret kopernya masuk ke dalam kamar pembantu lalu mengunci pintu.
Di dalam kamar, Tasya langsung duduk di lantai yang sempit. Kakinya seolah tak kuat lagi menopang tubuhnya. Keberaniannya tadi hilang sudah. Ia kini menutup mulutnya agar tangisnya tidak ada yang mendengar.
Sayup-sayup terdengar pertengkaran di luar. Ibu Welas sedang memarahi Setyo yang membela Tasya. "Istrimu akan makin besar kepala jika kau bela terus, Yo! Istri macam apa yang kurang ajar pada mertuanya sendiri!"
"Sudah, Bu, cukup! Ini masalah rumah tangga Setyo. Biarkan Setyo yang mengurusnya. Setyo tak mau Ibu terus ikut campur!" Setyo memarahi balik Ibu Welas.
Sisca lalu hadir bak pahlawan. "Sudah, Tante, Mas. Jangan dilanjutkan lagi. Hari sudah malam. Tak enak didengar tetangga."
"Tante." Sisca berbicara dengan lembut dan menatap Ibu Welas dengan tatapan meyakinkan. "Tante kembali tidur ya. Biar aku yang berbicara dengan Mas Setyo, oke?"
"Baiklah, kamu saja yang sadarkan dia. Biar dia membuka mata agar tidak selalu membela istrinya itu!" Ibu Welas mendengus sebal. Ia percaya Sisca akan menyelesaikan semua dengan baik lalu kembali ke kamarnya.
Selesai menangani Ibu Welas, Siska mendekati Setyo. "Mas, aku antar Mas ke kamar ya?" bujuk Sisca dengan lembut.
Setyo tak berkata apa-apa. Ia terus menatap kamar Tasya dengan tatapan kosong. Ia diam saja saat Sisca membawanya ke dalam kamar.
Sisca menutup pintu kamar Setyo. Ia membantu Setyo naik ke atas tempat tidur lalu duduk di dekatnya. "Mas, yang sabar ya. Jangan terlalu termakan emosi. Segalanya bisa dibicarakan baik-baik."
Setyo menatap Sisca dengan tatapan seorang laki-laki yang rapuh. "Tasya tak pernah seperti ini sebelumnya, Sis. Tak pernah sekalipun. Ia adalah istri penurut dan penyabar, tapi kini... dia berubah."
Sisca memegang tangan Setyo lalu menatapnya dengan lekat. "Aku tahu Mas kecewa dengan apa yang Mbak Tasya lakukan. Mas, selingkuh itu banyak penyebabnya, salah satunya kebutuhan biologis yang tak terpenuhi."
Setyo menggelengkan kepalanya. "Tak mungkin Tasya melakukan semua itu hanya karena alasan yang... ah, sudahlah. Tak mungkin, Sis!"
"Mas yakin?" Sisca tersenyum penuh maksud. Ia tahu, Setyo kini mudah untuk dicuci otaknya. "Boleh aku tahu, apakah selama ini kalian masih sering melakukan hubungan suami istri?"
****
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣