NovelToon NovelToon
Mahar 5000

Mahar 5000

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Romantis / Pengantin Pengganti / Duda
Popularitas:133.9k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"

Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.

"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"

baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Pagi yang mendung terasa berat bagi Cantika. Jemarinya bergetar saat menekan nomor ibunya di ponsel. Suaranya tercekat, “Ma… Rava kecelakaan.”

Dari seberang, Yani langsung bangkit dari kursi rotan di ruang tamu. “Apa? Astaga, Nak… gimana keadaannya?”

“Kakinya retak, Ma. Terus kepala juga luka, tapi nggak parah. Sekarang di rumah sakit.”

Yani berdiri dengan wajah pucat. “Ya Allah, Cantika. Kamu jangan panik, Mama ke sana sekarang!” Ia menutup telepon terburu-buru, lalu berteriak dari teras. “Mas! Mas Ibra! Rava kecelakaan!”

Dari dapur, Ibra yang sedang menyiapkan kopi buru-buru keluar. “Hah? Siapa? Rava?”

“Iya, katanya kecelakaan , kepala luka! Ayo ke rumah sakit!” Yani sudah sibuk membuka gerbang, tangannya gemetar saat menarik motor keluar.

Baru saja mesin motor menyala, suara dari rumah sebelah menyusul. “Lho, Yan, mau ke mana pagi-pagi gini?” Itu suara Pak Haris, kakaknya sendiri.

Yani hanya sempat menoleh cepat. “Rava, Mas! Dia kecelakaan!”

"Astaghfirullah, innalillahi..."

"Kok innailaihi sih, Mas? Rava belum mati."

"Ya ampun, Yan. Kan emang enggak dilanjut itu. Sampai sana aja," sahut Pak Haris. "Makanya ikut kajian biar tau, kalau ada orang jatuh gitu nyebutnya."

Dari dalam, terdengar suara Maya, istri Pak Haris, setengah menjerit namun bukan karena kaget—melainkan nyinyir. “Karma tuh! Udah dibilang jangan nyakitin orang!”

Kepala Yani langsung menengadah dengan mata menyala. “Maya! Kamu tuh kalau ngomong dijaga! Itu anak orang lagi kesakitan di rumah sakit, bukan waktu buat nyindir!”

Maya cuma melipat tangan di dada, “Ya ampun, aku kan cuma ngomong kenyataan. Kadang hidup tuh—”

"Udah Bun." pak Haris kasih isyarat pada istrinya agar diam dulu.

"Apa? Enggak usah menggurui kau!" sambar Yani, pak Haris menegur istrinya pelan jadi engak terdengar sama Yani.

“Udah, Yan,” potong Ibra cepat sambil menarik helm dan menyerahkan satu ke istrinya, “nggak usah diperpanjang. Ayo, cepat. Kita harus ke rumah sakit, kan?”

Yani mendengus, masih panas. “Mas, kamu tuh enak banget diem aja. Aku dibilangin gitu nggak dibela!”

“Sekarang bukan waktunya berantem. Ayo, nanti kelamaan,” tegas Ibra, sabar tapi tegas.

Dengan wajah cemberut, Yani naik ke motor, masih mendumel pelan. “Udah tahu aku lagi panik, malah dibilang karma.”

Ibra hanya menghela napas dan menyalakan motor. Sebelum pergi, ia menoleh ke Pak Haris. “Mas, kami ke rumah sakit dulu ya.”

Pak Haris mengangguk pelan, merasa sedikit canggung. “Iya, hati-hati di jalan.”

Motor itu melaju, meninggalkan suara knalpot yang menggema di jalan kampung yang masih basah oleh embun.

 

Di rumah sakit, aroma antiseptik menusuk hidung. Rava terbaring di ranjang dengan kaki kanan digips dan perban melingkari keningnya. Pandangannya kosong menatap langit-langit putih. Di dadanya, sesak yang tak berasal dari luka fisik—melainkan dari sesuatu yang jauh lebih dalam.

Citra… bahkan tahu aku di rumah sakit pun dia nggak datang.

Ia menghela napas panjang. Mungkin memang sudah waktunya aku berhenti berharap. Dia udah punya Rama. Udah selesai, Va.

Suara langkah tergesa memecah lamunan. “Rava!” seru Yani begitu sampai di depan pintu kamar rawat.

Rava menoleh, tersenyum lemah. “Mama…”

Yani langsung duduk di sisi ranjang, menatap kaki yang digips dengan mata berkaca-kaca. “Ya Allah, Nak… gimana bisa begini? Siapa yang nabrak kamu?”

“Bukan ditabrak, Ma,” jawab Rava pelan. “Aku cuma… nyetir sendiri. Mungkin kurang fokus. Mobil oleng.”

Ibra berdiri di ujung ranjang, menghela napas. “Kamu bawa mobil sendirian?”

Rava menatap lantai. “Iya, Pah. Cuma pengin cari angin pagi, pikiran lagi penuh.”

“Pikiran penuh?” Yani memiringkan kepala, khawatir tapi juga heran. “Terus Cantika mana waktu itu? Kalian baru selesai resepsi padahal, udah jenuh aja.”

Rava menelan ludah. “Dia masih tidur, Ma. Aku nggak mau ganggu.”

Cantika yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan, hanya melirik tajam. "Bohong," batinnya. "Aku udah bangun waktu kamu keluar, Va. Kamu pikir aku nggak tahu kamu pergi buat siapa?"

Namun ia memilih diam, hanya menatap wajah Rava yang pucat dan matanya yang masih menyimpan bayangan seseorang.

Yani menepuk pelan tangan Rava. “Yang penting kamu istirahat, Nak. Jangan banyak mikir. Nanti luka malah lama sembuhnya.”

Rava tersenyum kecil, meski getir. “Iya, Ma.”

Ibra mendekat, menyentuh bahu Rava. “Kamu butuh apa-apa, bilang aja. Kita bantu.”

“Terima kasih, Pah.”

Namun dalam hati, Rava tahu tak ada yang bisa menyembuhkan yang satu itu—selain waktu, atau mungkin Citra sendiri.

 

Malam menurunkan tirainya di rumah utama milik Rama. Suara binatang malam terdengar berirama. Di kamar yang remang, Citra berbaring di dada Rama, tubuhnya masih terbungkus selimut tipis.

Hening hanya dipecahkan oleh detak jantung yang berpadu. Wajah Citra memerah, antara malu dan canggung. Tubuhnya masih terasa perih di bagian bawah, tanda bahwa malam itu adalah kali pertama ia sepenuhnya menjadi milik Rama.

Rama membuka mata, menatap lembut. Ia menyentuh pipi Citra yang panas. “Sakit, ya?”

Citra menunduk, menggigit bibir. “Sedikit…” katanya lirih. “Kamu kasar banget tadi.”

Rama terkekeh pelan, suaranya serak. “Aku nggak tahan. Kamu menggoda banget, Cit.”

Citra mendengus pelan, separuh malu, separuh sebal. Ia bangkit perlahan, merapikan rambutnya yang berantakan. Saat tirai sedikit tersibak, sinar lampu luar menyorot ke seprai putih—noda merah samar terlihat di sana.

Ia menatapnya lama, dadanya berdebar aneh. Aku benar-benar sudah jadi miliknya.

Citra bergegas ke kamar mandi, tapi setiap langkah terasa ngilu. Ia menahan napas saat buang air kecil—terasa perih menusuk. “Aduh…” gumamnya pelan. “Sakit banget.”

Saat keluar, Rama sudah duduk di tepi ranjang, memegang segelas air. Ia menatapnya dengan wajah menyesal. “Aku minta maaf, Citra. Aku nggak bermaksud nyakitin kamu.”

Citra menarik napas panjang, lalu tersenyum samar. “Nggak apa-apa. Aku cuma kaget aja. Aku pikir nggak bakal sesakit itu, pak Rama bilang enggak sesakit yang kupikir.”

Rama memegang tangannya, hangat. “Maaf, ya. Aku janji, nggak bakal maksa lagi. Aku cuma…. Setelah semua yang kita lewatin.”

Citra menatap wajahnya lama, seolah ingin memastikan semua ini nyata. “Sebwnarya, pak Rama enggak maksa kok tadi, cuma... Pinter aja memanfaatkan waktu.”

Rama tersenyum kecil, menunduk, lalu menempelkan keningnya di kening Citra. “Iya, maaf ya. Aku kaget tadi kamu keluar cuma pakai handuk. Aku pikir kamu udah siap.”

Citra memejamkan mata, menikmati hangat napasnya. Tapi jauh di dalam pikirannya, bayangan Rava sempat melintas sekilas—wajahnya yang luka, tatapannya yang dulu memohon. Namun ia menepisnya cepat-cepat. Sudah cukup. Aku nggak boleh lihat ke belakang lagi.

Rama mengusap rambutnya lembut. “Tidur yuk, udah malam.”

Citra tersenyum. “Belum ngantuk.”

“Kalau gitu ngobrol aja. Aku suka denger kamu cerita,” kata Rama, menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.

Citra tersenyum lebar, pipinya masih merah. “Tentang apa?”

“Ceritain waktu kecil kamu, yang suka manjat pohon depan rumah. Aku pengin tahu semuanya.”

Ia tertawa kecil, malu. “Kamu tuh… aneh. Masa abis gitu malah bahas masa kecil?”

Rama tertawa pelan. “Aku cuma pengin tahu kamu dari semua sisi. Bahkan sisi yang belum pernah kamu ceritain ke siapa pun.”

Citra memandangnya lama, hatinya menghangat. Malam itu mereka terus bicara, tentang hal-hal kecil—tentang masa lalu, mimpi, dan ketakutan. Suara tawa lembut terdengar di antara deru ombak, menutup malam dengan kehangatan yang pelan-pelan menggantikan rasa sakit di tubuh Citra.

.

1
EkaYulianti
sebelum resepsi
partini
ku kira suaminya lani tegas ehh melohoyyy,dah tau lihat pula istri nya kaya gitu
Rahmawati
selamat ya citra dan Rama, akhirnya Rama akan punya darah daging sendiri
Rahmawati
kayaknya fadli nih yg bunuh daud
Rahmawati
penasaran siapa yg ngomong sama Daud tadi itu,
Rahmawati
lani ketakutan gitu, berarti bener rava buka anak biologis rama
Rahmawati
nah nah, apa rava bukan anak Rama ya
Rahmawati
opo meneh to, nenek peyot😂
Rahmawati
setres bu lani ini, gagal move on padahal udah punya suami
Rahmawati
makanya belajar sopan santun km cantika
Rahmawati
ke PD an km lani😂
Rahmawati
enaknya punya mertua kayak bu lilis
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
anak ku lahir Oktober 2011
meninggal Juni 2012
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
ya allah cerita ini sama seperti aku yang kehilangan anakku di usia 7 bulan sedih
😭😭
tenny
suaminya lani namanya rubah2 kadang Fahri kadang Fadli entah mana yg bener 😄
tenny: semangat Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
Rahmawati
cantika gk tau diri bgt
Rahmawati
syukurin km rava, siapa suruh tinggal dirumah rama
Ma Em
Innalillahi wainnailaihi rojiun Cinta anak yg blm punya dosa pasti akan masuk sorga , semoga Cantika dan Rava diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini manusia hanya berusaha tapi nasib Allah yg menentukan .
Rahmawati
gk boleh dong, nanti rava gangguin citra lagi
Rahmawati
beruntung bgt pak Rama dapet gadis ting ting
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!