Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Setelah menyelesaikan obrolan nya dengan zahra. Khaulah mencoba menghubungi orang tuanya yang tak kunjung tersambung. Sedangkan Alie dan fatemah di pesantren sedang beristirahat setelah lelah membersihkan sisa kebakaran. Berkumpul bersama di lapangan luas dengan para santri membuat pemandangan sore itu menjadi indah.
"Terimakasih banyak anak-anak sudah membantu Abi dan umi." Ucap Alie.
"Sama-sama Abi, umi. Kami senang bisa membantu Abi sama umi." Ujar faqih sebagai perwakilan teman-temannya. Mereka mengangguk menyetujui apa yang dibilang oleh faqih.
Eva mengeluarkan satu kotak sedang yang berisi uang dari iuran yang mereka adakan sendiri.
"Umi, Abi, ini dari kami keluarga santriwati."
Faqih pun sama mengeluarkan satu kotak sedang yang berisi uang dari iuran yang mereka adakan sendiri.
"Abi, umi, ini dari keluarga santriwan."
"Kami berinisiatif untuk membantu umi dan Abi bangun rumah lagi. Biarpun nilainya tidak besar setidaknya bisa menambah-nambah untuk kebutuhan pembangunan nanti." Jelas Eva.
"Benar, kami tidak keberatan untuk hal ini Abi umi, di terima yah umi Abi." Pinta faqih.
Fatemah sudah menangis, sesekali ia mengusap air matanya. Fatemah melihat Alie yang sedang menunduk menahan tangisnya.
"Maaf, umi sama Abi tidak bisa menerima uang ini." Fatemah menyentuh kotak itu. "Sebaiknya uangnya kalian simpan untuk keperluan kalian saja. Kalian tahu kan, bagaimana susahnya orang tua kalian mencari uang untuk sekedar mengirim uang itu untuk anaknya. Adab yang harus kalian lakukan terhadap uang itu adalah menggunakan uang tersebut dengan sebaik-baiknya, gunakan untuk kebutuhan kalian selama di sini. Menghemat, karena tidak setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, rezeki orang tua kalian itu lancar. Adakalanya orang tua bingung untuk membagi uang yang pas-pasan hanya bisa untuk sehari-hari, belum untuk mengirim jatah kalian. Jadi, jangan gunakan uang kalian untuk membantu umi sama Abi."
"Kalian gunakan uang itu untuk keperluan kalian menuntut ilmu seperti kitab, ataupun buku-buku yang dapat menambah wawasan kalian. Kalian harus membuktikan sama orang tua kalian, kalau uang yang orang tua kalian keluarkan tidak sia-sia, karena anaknya pulang membawa ilmu, wawasan, pengalaman, yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun untuk orang lain."
Khaulah semakin khawatir karena orang tuanya belum juga bisa dihubungi. Melihat ke khawatiran khaulah membuat Fatih merasa bersalah karena tidak jujur pada istrinya.
"Khaulah, Abi baik-baik saja. Maaf saya tidak jujur tadi. Saya salah, maafkan saya khaulah." Sesalnya
"Kenapa harus bohong mas?" Khaulah menatap suaminya kecewa. "Yasmine, kamu juga tahu kan soal ini?" Tatapan nya beralih pada Yasmine yang sedang duduk tak jauh dari dirinya.
"Maaf, karena Abi yang minta gak ngasih tahu kamu dulu sal."
Alie dan fatemah masih sibuk dengan santri-santri, hingga tidak sadar jika khaulah telah menghubungi nya berkali-kali.
"Kalian bagikan uang ini masing-masing, lalu simpan. Gunakan saat kalian butuh. Seperti Eva tadi yang ingin beli kitab karena sudah rusak, seperti faqih yang ingin membeli buku hadist karena belum punya. Gunakan uang kalian untuk membeli sesuatu agar dapat menambah ilmu kalian. Fahimtumna?"
"Fahimna." Jawab mereka.
"Alhamdulillah, ya sudah sekarang. Ayok kita beresin sampah makanannya. Yuk, kita bareng-bareng beresinnya, karena sudah mau magrib." Ajak fatemah.
"Siap umi."
Lantas mereka membersihkan sampah sehabis makanan nya. Alie menghampiri para ustadz-ustadzah yang sedang membantu santri-santri.
"Eh, kyai..." Kaget Zubair. Karena Alie tepat berada dibelakangnya. "Ada apa kyai?"
"Afwan, membuat mu terkejut. Ustadz, saya titip anak-anak ya."
"Nggih pak kyai, kyai mau ke rumah sakit lagi nggih?"
Alie mengangguk. "Na'am ustadz."
"Baiklah kyai, kami akan jaga santri-santri. Nanti saya sampaikan kepada ustadz-ustadzah yang lain."
"Syukron ustadz, saya sama istri pamit sekarang."
"Sekarang kyai?" Alie mengangguk. "Saya kira setelah ba'da magrib."
"Nanti anak-anak bertanya, saya tidak mau kejadian seperti tadi terulang."
Zubair mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah, kyai hati-hati dijalan selamat sampai tujuan." Zubair memeluk Alie dan mencium tangan nya.
"Aamiin, Syukron Zubair, saya berhutang Budi padamu."
"Tidak kyai, sungguh saya ikhlas dan ini sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai ustadz-ustadzah di sini, orang tua untuk santri-santri juga."
"Ma syaa Allah, saya senang dengarnya." Alie menjeda ucapannya. "Kalau begitu saya pamit yah ustadz, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam kyai."
Fatemah hendak menyusul suaminya namun dering handphone menghentikan langkahnya. Tertera nama putrinya membuat rasa bahagia tidak bisa ia sembunyikan.
"Salma... Sayang, nak."
"Assalamu'alaikum umi." Terdengar suara dari seberang sana.
"Wa'alaikumussalam, hehe maaf umi lupa."
Khaulah ikut tertawa. "Umi, gimana kondisi umi sama Abi, juga santri-santri gimana? Mereka aman?"
Kening fatemah sedikit mengerut. "Kamu tahu dari mana nak?"
"Ammah zahra, umi. Ammah telepon aku, ngabarin kalau besok ammah sama bilal akan ke Indonesia."
Fatemah terdiam, membuat khaulah kembali berkata.
"Umi..., bagaimana kondisi di sana?"
"Alhamdulillah aman nak. Kamu bagaimana hm?"
"Alhamdulillah sudah membaik umi, umi sama Abi kapan ke sini? aku rindu."
"Ini mau ke sana tapi kamu telepon, jadi belum berangkat deh."
"Afwan umi."
"Gapapa nak. Yasudah yah kita ketemu di sana. Assalamu'alaikum."