"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Keluarga Handoko
Setelah mimpi yang mengungkap identitas Srikanti, Puri merasa semakin bertekad untuk mengungkap kebenaran. Namun, tekad itu kini disertai rasa cemas yang mendalam. Ia tahu, melawan keluarga Handoko bukanlah perkara mudah.
Keesokan harinya, Puri menceritakan mimpinya kepada teman-temannya. Awalnya, mereka tampak ragu dan takut. Namun, melihat keteguhan hati Puri, mereka akhirnya setuju untuk membantunya.
"Kita harus berhati-hati," kata Fahri dengan nada serius. "Keluarga Handoko itu punya banyak uang dan kekuasaan. Mereka bisa melakukan apa saja untuk melindungi nama baik mereka."
"Aku tahu," jawab Puri. "Tapi kita tidak boleh menyerah. Kita harus membuktikan bahwa mereka bersalah atas kematian Srikanti."
Sejak saat itu, mereka mulai melakukan penyelidikan secara diam-diam. Mereka mencari informasi tentang keluarga Handoko di perpustakaan desa, mewawancarai penduduk setempat, dan menjelajahi sekitar bale pasanggrahan.
Namun, semakin dalam mereka menggali, semakin banyak kejadian aneh yang menimpa mereka.
Suatu malam, saat Puri sedang belajar di kamarnya, ia mendengar suara ketukan pelan di jendela. Ia membuka jendela dan melihat sebuah batu kecil tergeletak di tanah. Di batu itu, terukir sebuah pesan singkat: "Jangan ikut campur."
Puri merinding. Ia tahu, pesan itu adalah peringatan dari keluarga Handoko.
Keesokan harinya, saat Ayu dan Dina sedang berjalan-jalan di desa, mereka merasa diikuti oleh seorang pria yang mencurigakan. Pria itu terus menatap mereka dengan tatapan yang mengancam.
Malam berikutnya, saat Rio dan Fahri sedang menjaga posko KKN, mereka mendengar suara gaduh di luar. Mereka keluar dan menemukan posko mereka berantakan, beberapa barang rusak, dan sebuah surat ancaman menempel di pintu: "Hentikan penyelidikanmu atau kalian akan menyesal."
Puri dan teman-temannya semakin ketakutan. Mereka tahu, keluarga Handoko tidak main-main. Mereka harus melakukan sesuatu untuk melindungi diri mereka sendiri.
"Kita harus melaporkan ini ke polisi," kata Ayu dengan nada panik.
"Tidak bisa," jawab Puri. "Keluarga Handoko punya banyak koneksi di polisi. Mereka bisa memanipulasi segalanya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Dina dengan nada putus asa.
Puri terdiam sejenak. Ia berpikir keras tentang apa yang harus ia lakukan. Ia tahu, ia tidak bisa menyerah. Ia harus melindungi teman-temannya dan mengungkap kebenaran tentang Srikanti.
"Kita harus mencari bantuan dari orang yang bisa kita percayai," kata Puri akhirnya. "Kita harus mencari Mbah Sastro."
Puri dan teman-temannya segera pergi ke rumah Mbah Sastro. Mereka menceritakan semua kejadian aneh yang menimpa mereka dan meminta bantuannya.
Mbah Sastro mendengarkan cerita mereka dengan seksama. Setelah selesai mendengarkan, ia menghela napas panjang dan berkata:
"Kalian telah membangunkan kemarahan keluarga Handoko," kata Mbah Sastro dengan nada serius. "Mereka tidak akan berhenti sampai kalian menyerah."
"Lalu apa yang harus kami lakukan, Mbah?" tanya Puri dengan nada khawatir.
Mbah Sastro terdiam sejenak. Ia tampak sedang berpikir keras.
"Ada satu cara untuk mengalahkan keluarga Handoko," kata Mbah Sastro akhirnya. "Kalian harus mencari tahu rahasia tergelap mereka. Rahasia yang selama ini mereka kubur dalam-dalam. Rahasia yang bisa menghancurkan mereka."
Ayu menelan ludah. "Rahasia apa itu, Mbah?"
Mbah Sastro menggeleng. "Aku tidak tahu," jawabnya. "Tapi aku yakin, rahasia itu ada hubungannya dengan Srikanti dan bale pasanggrahan ini. Kalian harus menggali lebih dalam, mencari petunjuk di masa lalu, dan mengungkap kebenaran yang tersembunyi."
"Tapi bagaimana kami bisa melakukan itu, Mbah? Keluarga Handoko terus mengawasi kami," kata Dina, suaranya bergetar.
Mbah Sastro menatap Puri dengan tatapan tajam. "Kalian tidak sendirian," ujarnya. "Ada kekuatan lain yang ingin membantu kalian. Kekuatan yang lebih besar dari keluarga Handoko."
Puri mengerutkan kening, tidak mengerti apa maksud Mbah Sastro.
"Selain itu," lanjut Mbah Sastro, matanya menyipit, "Kalian juga harus mencari tahu keberadaan Rendra. Hilangnya dia bukan kebetulan. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres."
Rio mengangguk. "Kami juga khawatir tentang Rendra, Mbah. Dia menghilang begitu saja tanpa jejak. Kami sudah mencoba mencarinya, tapi tidak ada hasil."
Mbah Sastro menghela napas. "Rendra mungkin berada dalam bahaya besar. Kalian harus menemukannya secepat mungkin. Tapi ingat, berhati-hatilah. Jangan sampai kalian terjebak dalam perangkap yang sama."
Puri dan teman-temannya saling bertukar pandang. Situasi semakin rumit dan berbahaya. Mereka harus menghadapi ancaman dari keluarga Handoko, mengungkap rahasia tergelap mereka, dan mencari keberadaan Rendra yang hilang.
"Mbah, apa yang harus kami lakukan pertama?" tanya Puri dengan nada serius.
Mbah Sastro tersenyum tipis. "Kalian harus mulai dengan mencari tahu tentang sejarah keluarga Handoko. Siapa mereka, bagaimana mereka mendapatkan kekayaan, dan apa yang mereka lakukan di masa lalu. Carilah celah dalam pertahanan mereka, cari kelemahan mereka."
"Dan tentang Rendra?" tanya Rio.
"Untuk Rendra, aku akan mencoba membantu dengan cara lain. Aku akan mencoba berkomunikasi dengan dunia lain, mencari tahu keberadaannya melalui mimpi atau penglihatan. Sementara itu, kalian fokus pada keluarga Handoko. Siapa tahu, petunjuk tentang Rendra ada di sana," jawab Mbah Sastro.
Mereka bertukar pandang. Misi mereka semakin berat, namun mereka tidak bisa menyerah. Terutama Puri, yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan teman-temannya dan kebenaran tentang Srikanti.
"Baik, Mbah. Kami akan melakukan yang terbaik," kata Puri, matanya bertekad. "Kami akan mengungkap kebenaran dan menemukan Rendra, apapun yang terjadi."
Malam itu, mereka kembali ke posko KKN dengan perasaan yang campur aduk. Takut, cemas, namun juga bersemangat. Mereka harus menyusun rencana, mencari tahu tentang keluarga Handoko, dan berharap Mbah Sastro bisa memberikan petunjuk tentang keberadaan Rendra.
Puri duduk termenung di depan jendela, menatap bale pasanggrahan yang tampak sunyi dan misterius di bawah cahaya rembulan. Ia merasa ada beban berat di pundaknya. Ia harus melindungi teman-temannya, mengungkap kebenaran tentang Srikanti, dan menemukan Rendra. Tapi bagaimana caranya?
Tiba-tiba, ia teringat pada sesuatu. Ia teringat pada buku harian yang ia temukan di bale pasanggrahan beberapa waktu lalu. Buku harian itu berisi catatan-catatan kuno tentang sejarah bale pasanggrahan dan keluarga Handoko. Mungkin, di dalam buku harian itu, ada petunjuk tentang rahasia tergelap keluarga Handoko dan keberadaan Rendra.
Puri segera bangkit dan mencari buku harian itu. Setelah beberapa saat mencari, ia akhirnya menemukannya terselip di antara tumpukan buku di kamarnya.
Dengan tangan gemetar, ia membuka buku harian itu dan mulai membacanya. Setiap kata yang ia baca membuatnya semakin merinding dan takut. Ia merasa seolah-olah ia sedang membuka kotak pandora yang berisi kejahatan dan kegelapan.
Semakin dalam ia membaca, semakin jelas baginya bahwa keluarga Handoko adalah orang-orang yang kejam dan jahat. Mereka telah melakukan banyak kejahatan di masa lalu, termasuk membunuh dan merampok. Mereka juga terlibat dalam praktik-praktik ilmu hitam yang mengerikan.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, ia menemukan catatan tentang Rendra. Catatan itu menyebutkan bahwa Rendra adalah keturunan dari keluarga Handoko yang telah dikutuk. Ia ditakdirkan untuk mengulangi kesalahan leluhurnya dan membawa malapetaka bagi orang-orang di sekitarnya.
Puri terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ia baca. Apakah benar Rendra adalah orang yang jahat? Apakah benar ia akan membawa malapetaka bagi mereka semua?.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*