Revan adalah pria tampan dan pengusaha muda yang sukses. Namun di balik pencapaiannya, hidup Revan selalu berada dalam kendali sang mama, termasuk urusan memilih pendamping hidup. Ketika hari pertunangan semakin dekat, calon tunangan pilihan mamanya justru menghilang tanpa jejak.
Untuk pertama kalinya, Revan melihat kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. Bukan sekadar mencari pengganti, ia menginginkan seseorang yang benar-benar ingin ia perjuangkan.
Hingga ia teringat pada seorang gadis yang pernah ia lihat… sosok sederhana namun mencuri perhatiannya tanpa ia pahami alasannya.
Kini, Revan harus menemukan gadis itu. Namun mencari keberadaannya hanyalah langkah pertama. Yang lebih sulit adalah membuatnya percaya bahwa dirinya datang bukan sebagai lelaki yang membutuhkan pengganti, tetapi sebagai lelaki yang sungguh-sungguh ingin membangun masa depan.
Apa yang Revan lakukan untuk meyakinkan wanita pilihannya?Rahasia apa saja yang terkuak setelah bersatu nya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Gugup
Celin uring-uringan tidak karuan. Hingga saat Revan dan Eliana resmi menikah, tak satu pun rencananya berhasil. Semua upaya yang ia lakukan justru hampir menjerumuskannya ke dalam masalah besar.
Ia mondar-mandir di dalam kamar, tangannya mengepal, dadanya naik turun menahan amarah.
“Semua gagal… semuanya!” gumamnya kesal.
Keinginan untuk bertindak semakin kuat, namun ia tahu, tidak semudah itu untuk bertindak. Terlebih kedua orang tuanya sudah berkali-kali mengingatkan agar ia berhenti berharap pada Revan.
Satu-satunya orang yang masih berdiri di sisinya hanyalah Tante Miranda. Namun bahkan Miranda pun tak mampu membatalkan pernikahan putranya sendiri.
Harapan Celin sempat menggantung pada Aldo, pria yang berjanji akan membantunya mendapatkan Revan kembali. Celin begitu yakin pada kata-kata manisnya.
Tapi kenyataannya, dua hari sebelum pernikahan Revan berlangsung, Aldo menghilang. Ia pergi dengan alasan urusan perusahaan yang mendesak. Sejak itu, tak ada kabar. Nomornya tak aktif. Pesan-pesan Celin tak pernah dibalas.
Amarah Celin semakin memuncak ketika ia membuka media sosial.
Berita pernikahan Revan dan Eliana terpampang di mana-mana. Foto-foto mereka yang tampak serasi. Komentar pujian. Doa-doa tulus dari para netizen.
Tangannya gemetar saat membaca komentar satu per satu.
Kenapa tidak ada satu pun yang berkomentar buruk tentang wanita itu?
Padahal mereka tahu dia hanya pengganti…
“Seharusnya aku yang berdiri di samping Revan,” ucap Celin lirih, penuh amarah dan kepedihan.
“Bukan wanita itu.”
Namun sekeras apa pun ia menolak kenyataan, satu hal tak bisa ia ubah, Revan bukan lagi miliknya.
Di tengah kekacauan batinnya, ponsel Celin tiba-tiba berdering. Ia melirik layar. Nomor tak dikenal.
Celin mengernyit. Awalnya ia enggan mengangkat. Namun ponsel itu terus berbunyi.
Dengan perasaan campur aduk, Celin akhirnya menerima panggilan itu.
“Halo?” suaranya terdengar lemah.
“Hai, Celin,” sapa suara dari seberang.
Jantung Celin berdegup kencang.
“Aldo?”
“Ternyata kamu cepat juga menghafal suaraku,” jawab Aldo terdengar santai.
“Kamu ke mana saja?” suara Celin meninggi, tak mampu menahan emosi.
“Kenapa baru menghubungiku sekarang? Mereka sudah menikah, Aldo!”
“Aku minta maaf,” jawab Aldo terdengar tenang.
“Aku benar-benar sibuk. Ponselku juga sempat hilang. Makanya aku pakai nomor lain untuk menghubungimu.”
Celin mendengus kesal.
“Terserah alasanmu apa. Jadi sekarang apa yang akan kita lakukan?”
“Tidak mungkin kita membiarkan mereka begitu saja, kan?”
“Kamu tenang dulu,” ujar Aldo singkat.
“Nanti setelah aku pulang, kita bicarakan semuanya. Sudah dulu ya, nanti aku hubungi lagi.”
Tanpa menunggu jawaban, panggilan itu terputus.
Celin menatap layar ponselnya yang terlihat gelap. Dengan emosi ia melemparkan ponsel itu ke atas ranjang.
“Huh…” ia tertawa getir.
“Sepertinya kamu tidak pernah benar-benar serius, Aldo.”
Kamar itu kembali sunyi. Namun di balik kesunyian, amarah dan kekecewaan Celin justru semakin menguat, menjadi bara yang belum padam.
---
Eliana dan Revan baru saja memasuki kamar pengantin. Pintu tertutup perlahan, menyisakan keheningan yang terasa canggung. Keduanya berdiri beberapa detik tanpa bicara, sama-sama menyadari kegugupan yang menyelinap di dada.
Eliana menggenggam ujung jarinya sendiri. Tubuhnya terasa lelah setelah rangkaian acara panjang sejak pagi. Ia ingin segera mandi, membersihkan diri dan beristirahat. Namun Eliana ragu. Ia tahu Revan pasti merasakan kelelahan yang sama.
Belum sempat ia berkata apa-apa, Revan lebih dulu melangkah menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Revan keluar setelah.
“El, sebaiknya kamu mandi dulu,” ucapnya lembut.
“Kamu pasti sudah sangat lelah. Airnya sudah aku siapkan.”
Eliana menoleh, sedikit terkejut. Ia tidak menyangka akan diperlakukan setenang dan seperhatian itu oleh pria yang kini sah menjadi suaminya.
“Re… seharusnya aku yang menyiapkan air untukmu,” ucap Eliana merasa tidak enak.
Revan tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa. Sekarang giliran kamu. Ayo mandi.”
Ia lalu menambahkan dengan nada bercanda, “Atau mau aku mandikan?”
“Ee..eh… aku mandi sekarang!” jawab Eliana cepat, wajahnya memerah.
Masih mengenakan gaun pengantin, Eliana melangkah masuk ke kamar mandi dengan sedikit kesulitan. Ia melepaskan satu per satu detail gaun yang sejak tadi melekat di tubuhnya. Butuh waktu beberapa saat, namun akhirnya ia berhasil.
Begitu tubuhnya terendam air hangat, Eliana menghela napas panjang. Seluruh ototnya terasa lebih rileks. Aroma terapi memenuhi ruangan, membuat pikirannya perlahan tenang.
Ia tidak ingin Revan menunggu terlalu lama. Setelah membersihkan diri, Eliana segera mengakhiri mandinya. Sebelum keluar, ia menyempatkan diri menyiapkan air bersih untuk Revan mandi.
Eliana melangkah keluar dari kamar mandi mengenakan jubah mandi yang sudah tersedia. Rambutnya basah dibalut handuk, wajahnya tampak segar meski masih menyisakan rasa gugup.
“Re… aku sudah selesai,” ucapnya pelan.
Revan yang sejak tadi duduk di sofa sambil memeriksa email lalu menoleh dan tersenyum. Ia segera menutup laptopnya.
“Baik, terimakasih” ucapnya singkat, lalu berdiri dan masuk ke kamar mandi.
Eliana mengganti pakaian dengan piyama panjang yang sopan dan nyaman. Setelah itu, ia mengambilkan baju ganti untuk Revan dan meletakkannya di tempat yang mudah dijangkau. Ia duduk di depan cermin, mengeringkan rambutnya perlahan sambil mencoba menenangkan degup jantungnya.
Tak lama kemudian, Revan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Tanpa sengaja, Eliana menoleh.
Ia terdiam.
Dada bidang dan perut Revan yang terbentuk jelas membuat Eliana salah tingkah. Ini adalah pertama kalinya ia melihat pemandangan seperti itu secara langsung.
“Itu… itu bajumu sudah aku siapkan,” ucap Eliana gugup, cepat memalingkan wajah.
“Terima kasih," Lagi-lagi hanya jawaban singkat dari Revan.
Revan menyadari kegugupan Eliana, namun ia memilih tidak berkomentar. Ia mengambil pakaian itu dan masuk ke ruang ganti, memberi Eliana waktu untuk menenangkan diri.
Saat Revan kembali dengan pakaian lengkap, Eliana masih duduk di depan cermin, mencoba menormalkan napas dan detak jantungnya.
“Kamu belum tidur?” tanya Revan sambil bersandar di ranjang.
“Atau… kamu belum mau tidur denganku? Kalau begitu tidak apa-apa, aku bisa tidur di sofa.”
Revan hendak berdiri, namun Eliana segera bangkit.
“Bukan begitu,” ucap Eliana cepat.
“Maaf… jangan salah paham.”
Ia melangkah menuju ranjang. Revan pun kembali duduk.
“Aku mengerti,” ucap Revan lembut.
“Kamu pasti masih gugup. Aku tidak akan memaksamu.”
“Terima kasih,” jawab Eliana pelan, merasa bersalah.
Maafkan aku, ya Allah, batinnya lirih. Aku belum bisa menjadi istri sepenuhnya.
“Ayo tidur,” ucap Revan pelan.
“Besok kita harus bangun pagi dan bersiap.”
“Bersiap ke mana?” tanya Eliana.
“Nanti juga kamu tahu,” jawab Revan sambil membenarkan selimut.
Revan menahan diri. Ia tidak ingin berbuat lebih jauh sebelum Eliana benar-benar siap. Baginya, kenyamanan dan ketenangan istrinya jauh lebih penting dari segalanya.
Di kamar pengantin itu, malam pertama mereka berlalu dengan keheningan yang hangat, dipenuhi rasa saling menghormati dan awal kepercayaan yang perlahan tumbuh.
emang sepaket y..
jafi pinisirain.. 😁😁😁
sprti ny Revan, hrs menyia jan pengawslbsysngsn deh buat Elliana.
jingga segitu nyenilsi dxn ketidak sukaan ny pada Elliana