Leann Audina putri, gadis berlesung pipi dengan wajah cantik dan pintar, mendapatkan kesempatan untuk kuliah di jurusan kedokteran di salah satu universitas negri di kota x. Jalan hidupnya akhirnya mempertemukan nya dengan pengusaha sukses yang kaya raya ,ganteng tapi arogan dan berhati dingin.
perbedaan gaya hidup dan pola pikir menjadi polemik dalam hubungan mereka.
bagaimana kisah mereka? akan kah Leann bisa menakluk kan hati sang bule tampan?
cerita ini akan menemanimu dengan tawa dan kadang ada air mata..
semoga suka...terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rebutan
Hubungan Leann dan Daniel semakin dekat, lengket bagai prangko. Bu Lia, sangat senang melihat putra kesayangannya itu bahagia. Dia belum pernah melihat Daniel sebahagia itu, dan kebahagian itu hanya bisa diberikan Leann.
Itulah alasan kenapa Bu Lia sangat menyayangi Leann, bukan karena memang dari awal dia menyukai gadis itu, jauh sebelum mereka berpacaran, tapi juga karena Bu Lia sudah menganggap Leann seperti putrinya. Putri yang tidak pernah dia miliki.
Setiap ke Indonesia, Bu Lia akan menghabiskan waktunya dengan Leann. Shopping, ke salon dan kemana pun wanita itu pergi, pasti leann dibawanya. Dengan bangga memperkenalkan gadis itu sebagai calon mantunya.
Semakin banyak dia menghabiskan waktunya dengan Leann, semakin Bu Lia sangat menyayanginya. Bu Lia sampai tidak tahu lagi, mana yang lebih disayanginya, anaknya sendiri atau Leann.
Leann terkejut ketika seseorang memeluk tubuhnya dari belakang dengan eratnya. Dia dan Bu Lia menoleh ke arah pria itu bersamaan, sedangkan pria itu hanya tersenyum sambil mencium pipi kekasihnya.
"Dan, lepasin, ah. Malu dilihat orang." Leann berusaha melepaskan pelukan Daniel yang datang tanpa mengabari sebelumnya. Apa lagi ini masih terlalu cepat untuk pulang dari kantor.
"Biarin aja, 'kan yang aku peluk cintanya aku." Daniel semakin mengeratkan pelukannya, tidak menghiraukan pelototan Leann padanya.
Ibunya yang melihat tingkah laku anaknya hanya tersenyum. "Sudah, Nak! Leann nya jadi malu, kan."
"Lagian Mami apaan, sih, menculik pacarku, mana gak pake izin dulu padaku?"
Bu Lia hanya menggeleng melihat tingkah anaknya yang sudah berumur tiga puluh lima tahun, jatuh cinta kayak anak SMP, lucu melihat Daniel jadi bucinnya Leann.
"Sayang, kamu belanja apa aja? Beli semua barang di butik ini yang kamu suka. Black card yang aku kasih itu bukan untuk hiasan dompetmu, Babe." Daniel membalikkan Leann agar menatapnya.
Leann yang ditatap dengan sorot mata seperti itu, menunduk malu. Walaupun sudah lama pacaran, jantung Leann masih berdebar kencang setiap Daniel menatapnya.
Bu Lia mengakhiri adegan itu dengan mengajak sepasang kekasih itu makan.
"Mama pengen makan udon. Ayo, cari resto Jepang." Bu Lia beranjak, dikuti Daniel dan Leann.
Sehabis makan dan berbincang sebentar, Bu Lia harus pulang sendiri bersama supir. Daniel ingin mengajak Leann nonton dan menghabiskan waktu dengan kekasihnya itu.
Dia ingin memanjakan Leann dengan menuruti semua keinginan gadis itu, walau kadang permintaan yang agak aneh buat Daniel. Dia belum pernah menuruti keinginan kekasihnya dulu seperti saat ini. Menurutnya buang waktu, tapi pada akhirnya, dia luluh memenuhi keinginan Leann, salah satunya seperti kali ini Leann ingin sekali nonton di bioskop.
Daniel mengalah atas permintaan Leann yang mencegahnya membeli semua tiket film yang akan mereka tonton. Akhirnya Daniel hanya membeli tiket sebaris tempat duduk mereka dan juga baris depan dan belakang.
"Ini sama aja gak kayak nonton di bioskop kalo sepi gini ruangannya, Dan!" Leann cemberut.
"Biarin aja, Yang, biar kita nyaman. Kamu tahu sendiri aku gak suka dekat-dekat dengan orang yang ga dikenal." Daniel tetap pada pendiriannya.
Selama film tayang, Daniel hanya sibuk mencium tangan Leann, sambil merangkul tubuh gadis itu.
"Dasar om-om genit," batin Leann.
Film berakhir dengan menyisakan senyum di bibirnya Leann. Malam sudah semakin larut, hingga keduanya memutuskan pulang.
Mobil melaju dijalan dengan diiringi gerimis. Melihat Leann yang tertidur pulas, membuat nyaman perasaan Daniel. Dia hanya berharap setiap detiknya bisa bersama gadis itu, membahagiakannya. Hingga sampai didepan gerbang asrama, Leann juga belum bangun. Ponsel Daniel bergetar, mamanya yang menelpon.
"Sayang, kalian dimana, Nak?"
"Aku lagi ngantar Leann ke asrama, Mi. Ini udah sampai depan gerbang asrama."
"Leann mana? Kasih hape kamu sama dia, Mami mau ngomong!" perintah Bu Lia.
"Dia ketiduran, Mi, ini aja aku lagi nungguin dia bangun. Nyenyak banget soalnya jadi gak tega buat bangunin."
"Ya udah, bawa pulang ke rumah aja, Nak. Mami tunggu." Sambungan telpon dimatikan dalam sekejap, tanpa mendengar jawaban Daniel.
Daniel memutar mobilnya kembali, melajukan ke jalan arah rumah utama. Maminya begitu sayang dengan Leann, pernah meminta agar gadis itu tinggal dengan mereka, tapi ditolak halus oleh Leann.
"Mami apaan sih, nyuruh aku bawa Leann kemari? Mami boleh sayang sama Leann, tapi jangan jadi nuntut gini, lama-lama Mami ngangkat dia jadi anak lag!" gerutu Daniel, saat maminya heboh menyambut kedatangan mereka.
"Ide yang bagus itu, Dan. Kalo gitu kamu cari gadis lain aja buat jadi pacar kamu, biar Leann mami angkat jadi anak aja, biar bisa setiap saat ada bersama Mami."
"Mamiiiiiii.....," teriak Daniel marah, membuat senyum maminya mengerucut.