Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Fajar baru saja menyingsing ketika Kael bergerak tanpa suara memasuki kediaman Adrian. Di tangan kanannya tergenggam sebuah map tipis berisi dokumen kontrak. Baginya, menembus sistem keamanan sebuah rumah bukanlah pekerjaan yang sulit. Pengalaman bertahun-tahun membuat setiap langkahnya nyaris tak meninggalkan jejak.
Dengan tenang ia menyusuri lorong hingga tiba di depan kamar Aurora.
Pintu yang tidak terkunci memudahkannya masuk. Di dalam, Aurora masih terlelap dalam tidur yang damai. Tubuh mungilnya meringkuk di balik selimut tebal sambil memeluk guling, rambut panjangnya terurai berantakan di atas bantal.
Tatapan Kael melembut sesaat.
Perlahan ia melangkah mendekat, lalu mengangkat punggung jemarinya untuk menyentuh lembut pipi gadis itu.
"Kau memang cantik... hanya saja keras kepala itu benar-benar membuatku kesal." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Aurora tetap terlelap, sama sekali tidak menyadari kehadiran pria yang berdiri begitu dekat dengannya.
Kael menarik tangannya kembali. Jemari yang beberapa jam lalu masih dipenuhi urusan kelam kini menyentuh wajah gadis itu dengan kelembutan yang bahkan tidak pernah ia sadari masih dimilikinya.
Sebagai sosok yang hidup di dunia penuh bayang-bayang, Kael kerap menerima tugas-tugas berbahaya. Malam sebelumnya, ia baru saja menyelesaikan sebuah operasi rahasia yang menargetkan kelompok kriminal berbahaya. Operasi itu berlangsung atas perintah pihak yang memiliki kewenangan, dengan tujuan menghentikan jaringan yang telah lama merugikan banyak orang.
Meski terbiasa menghadapi kekerasan dan risiko, entah mengapa setiap kali berada di dekat Aurora, sisi dinginnya perlahan runtuh. Untuk beberapa saat, pria yang ditakuti banyak orang itu hanya berdiri diam, memandangi wajah gadis yang masih tertidur lelap, seakan ingin mengabadikan ketenangan yang jarang ia temukan dalam hidupnya.
Kael yang menentukan sendiri akhir dari operasi itu. Dengan keahlian bela diri yang dimilikinya dan tatapan setenang permukaan air, ia menghajar delapan target satu per satu hingga tumbang dan tak lagi bergerak. Ruangan dipenuhi keheningan yang mencekam.
Kael tak pernah menunjukkan kepanikan. Semua berjalan sesuai rencananya.
Namun, semua ketenangan itu mendadak lenyap ketika pikirannya kembali dipenuhi sosok Aurora.
Aneh.
Selama beberapa hari terakhir, aroma apa pun terasa membuatnya mual. Tetapi setiap kali berada di dekat Aurora, seluruh rasa tidak nyaman itu menghilang begitu saja. Sebaliknya, gadis itu justru menghadirkan ketenangan yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Kael mengembuskan napas pelan sambil terus memandangi wajah Aurora yang masih tertidur. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk terus berada di sisi gadis itu.
"Seolah-olah kau adalah candu yang tak bisa kulepaskan..." gumamnya dalam hati.
Kenangan tentang malam ketika takdir mereka saling bertaut kembali berkelebat di benaknya. Sesaat, ia tergoda untuk kembali menunda semua urusan demi tetap berada di dekat Aurora.
Namun waktu tidak berpihak padanya.
Kurang dari dua jam lagi, Aurora dijadwalkan mengucapkan janji suci dengan pria lain.
Dan Kael sama sekali tidak berniat membiarkan hal itu terjadi.
"Aku tidak peduli siapa ayah dari bayi yang sedang kau kandung. Yang kutahu hanya satu... kau harus menjadi milikku, Aurora."
Kalimat itu terus bergema di dalam benak Kael bahkan ketika ia menyelipkan map berisi dokumen ke dalam laci nakas di sisi tempat tidur. Sebelum meninggalkan kamar, pria itu membungkuk perlahan. Punggung jemarinya sempat mengusap lembut pipi Aurora yang masih terlelap, lalu ia mengecup singkat bibir gadis itu—sekilas, nyaris tak terasa—seolah meninggalkan jejak yang hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri.
Tanpa suara, Kael menghilang dari kamar itu.
Tujuan berikutnya adalah sebuah rumah mewah yang berdiri megah di kawasan elite kota.
Menyusup ke kediaman seseorang bukanlah pekerjaan yang sulit bagi Kael. Selama bertahun-tahun ia telah mengasah kemampuan bergerak tanpa jejak, membuat keberadaannya nyaris mustahil disadari.
Dalam hitungan menit, ia telah berada di dalam rumah.
Langkahnya berhenti di depan sebuah kamar yang menurut laporan adalah milik Brema—pria yang disebut-sebut akan menjadi calon suami Aurora.
Kael membuka pintu dengan hati-hati.
Ruangan itu kosong.
Dari balik pintu kamar mandi terdengar gemericik air yang mengalir, diselingi suara seseorang yang bersenandung pelan. Nada itu terdengar ringan dan penuh semangat, seolah pemiliknya sedang menikmati hari terbaik dalam hidupnya. Wajar saja. Beberapa jam lagi ia akan berdiri di pelaminan bersama wanita yang telah dipilihnya.
Sementara itu, di balik tatapan Kael yang dingin, tak tampak sedikit pun emosi. Ia hanya berdiri dalam diam, membiarkan keheningan memenuhi ruangan sambil menunggu saat yang tepat untuk memperlihatkan kehadirannya.
Kael mengeluarkan sebuah diffuser portabel berukuran kecil dari saku jasnya. Dengan gerakan tenang, ia menekan tombol hingga alat itu mulai mengembuskan uap tipis yang nyaris tak terlihat.
Perlahan, keharuman lavender, chamomile, dan musk putih memenuhi ruangan. Aromanya lembut, menenangkan, dan begitu elegan hingga siapa pun yang menghirupnya akan mengira itu hanyalah pengharum ruangan premium. Tak ada yang menyangka bahwa di balik keharuman yang memikat itu tersembunyi senyawa mematikan hasil racikan yang disusun dengan sangat teliti.
Belakangan ini, indera penciuman Kael menjadi jauh lebih sensitif. Aroma apa pun mudah membuat perutnya bergejolak. Karena itu, botol kecil minyak angin selalu berada di saku pakaiannya. Bau khasnya menjadi satu-satunya aroma yang mampu meredakan rasa mual yang sering datang tanpa peringatan.
Sebelum memasuki rumah itu, Kael telah meminum penawar racun yang dibuatnya sendiri sehingga tubuhnya kebal terhadap senyawa yang kini memenuhi udara. Meski demikian, ia tetap mengoleskan sedikit minyak angin di bawah hidungnya. Tanpa aroma itu, rasa mual yang belakangan menghantuinya akan kembali muncul.
Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka memecah kesunyian.
Seorang pria muda bernama Brema keluar sambil menyeka rambutnya yang masih basah. Sebuah handuk putih melilit pinggangnya hingga sebatas lutut, sementara tetesan air masih mengalir dari rambutnya ke bahu. Ia tampak sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah mengawasinya dari sudut ruangan, menunggu saat yang tepat untuk bergerak.
Pintu kamar mandi baru saja tertutup ketika Brema membeku di tempat.
Matanya membelalak begitu mendapati seorang pria asing telah berdiri tenang di dalam kamarnya. Sosok itu menjulang tinggi dengan postur tegap, bahu bidang, serta tatapan tajam yang seolah mampu menembus siapa pun yang berani menatap balik. Aura dingin yang dipancarkannya membuat ruangan terasa jauh lebih sesak.
Brema menelan ludah pelan. Untuk sesaat ia kehilangan kata-kata. Ia belum pernah melihat seseorang yang mampu memancarkan tekanan sebesar itu hanya dengan berdiri diam. Samar-samar, aroma minyak angin yang khas tercium dari arah pria tersebut.
"Siapa kau?" tanya Brema hati-hati, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang mulai merayapi dadanya.
Tatapan Kael tetap datar.
"Batalkan pernikahanmu dengan Aurora."
Nada suaranya rendah dan tenang. Kalimat itu terdengar seperti permintaan, tetapi sorot matanya menjelaskan bahwa itu sama sekali bukan sesuatu yang bisa ditolak dengan mudah.
Brema terdiam beberapa detik. Bukannya langsung menjawab, ia justru melangkah mendekat hingga berdiri beberapa langkah di depan Kael. Ia ingin membaca ekspresi pria misterius itu lebih jelas.
"Kalau aku menuruti permintaanmu," ucap Brema perlahan sambil menatap lurus ke mata Kael, "apa yang akan kudapat sebagai balasannya?"
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Dua pria itu saling bertatapan, masing-masing berusaha mengukur lawan yang berdiri di hadapannya. Atmosfer menjadi tegang, seolah siapa pun yang bergerak lebih dulu akan menentukan arah percakapan berikutnya.
...****************...
maap,unfollow dan unsubscribe