NovelToon NovelToon
Aku Tak Sanggup Lagi

Aku Tak Sanggup Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekad Istri yang Tersakiti

Langkah kaki Anjani terasa seberat timah saat ia menyusuri jalan setapak menuju rumah petak sederhana di pinggiran kota. Cat tembok yang mengelupas dan aroma tanah basah setelah hujan menyambutnya, kontras dengan lantai marmer dingin dan wewangian mahal di rumah Malik yang baru saja ia tinggalkan. Di sini, di rumah ini, Anjani dulu dibesarkan dengan kasih sayang yang tulus meski dalam keterbatasan. Namun, hari ini ia datang bukan sebagai putri yang membanggakan, melainkan sebagai sosok yang hancur, menanggung malu atas kegagalan rumah tangga yang selama ini ia sembunyikan dengan rapat.

Pintu kayu yang berderit nyaring terbuka. Di ruang tamu yang hanya berisi dua kursi kayu tua dan sebuah meja kecil, Pak Santo tengah duduk melipat koran sore, sementara Bu Purwati sibuk menjahit robekan baju di sudut ruangan. Begitu pandangan mereka beralih ke pintu, suasana hening seketika.

Bu Purwati menjatuhkan jahitan di pangkuannya. Matanya yang mulai rabun memicing, mencoba memastikan sosok yang berdiri di depan pintu adalah benar putrinya. "Anjani? Kamu... kenapa pulang malam-malam begini? Malik mana?"

Anjani tak sanggup menjawab. Tenggorokannya tercekat oleh isak yang sejak tadi ia tahan. Ia hanya mampu berdiri mematung, dengan bahu yang bergetar hebat. Melihat kondisi putrinya yang kacau—wajahnya pucat, matanya sembap, dan pakaiannya yang sedikit berantakan—insting seorang ibu langsung bereaksi. Bu Purwati bangkit dari duduknya dengan terburu-buru, kakinya tertatih menghampiri Anjani.

"Anjani? Sayang, ada apa?" Bu Purwati memeluk putrinya dengan erat. Saat merasakan tubuh Anjani yang dingin dan gemetar, bendungan air mata Bu Purwati akhirnya jebol. "Anakku... apa yang terjadi? Kenapa kamu pulang dengan wajah seperti ini? Apa Malik menyakitimu?"

Pak Santo berdiri dengan perlahan. Ia meletakkan korannya ke atas meja dan menatap tajam ke arah Anjani. Kerutan di dahi pria tua itu semakin dalam, menyiratkan firasat buruk yang mulai nyata. "Jani, katakan pada Bapak. Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya kamu berada di rumah suamimu?"

****

Anjani melepaskan pelukan ibunya perlahan, lalu duduk di kursi kayu yang terasa keras. Ia menunduk, menatap lantai semen yang retak. Dengan suara parau yang nyaris tak terdengar, ia mulai menceritakan semuanya. Mulai dari kecurigaannya, hingga momen saat ia memergoki Malik dan Dara di ruang kerja. Ia tak melewatkan sedikit pun detail tentang cemoohan Bu Anne, tentang penghinaan mertuanya terhadap status sosial orang tuanya yang sederhana, dan tentang bagaimana suaminya sendiri tak sedikit pun menunjukkan pembelaan.

Ruangan itu mendadak sunyi senyap setelah Anjani menyelesaikan ceritanya. Hanya terdengar suara detak jam dinding tua yang beradu dengan isak tangis tertahan Bu Purwati.

Bu Purwati menutupi mulutnya dengan sapu tangan, air matanya berderai deras. Hatinya seperti diiris sembilu mendengar betapa hinanya perlakuan keluarga kaya raya itu terhadap putrinya yang ia besarkan dengan tetesan keringat dan doa. "Tega-teganya mereka... Tega-teganya mereka menghinamu seperti itu, Jani. Ibu tidak pernah meminta banyak, Ibu hanya ingin kamu bahagia. Kenapa Malik begitu kejam? Apa gunanya harta yang mereka punya kalau mereka tidak punya hati nurani?"

Pak Santo, yang sedari tadi terdiam, mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu. Sebagai seorang ayah yang selalu berusaha menjaga martabat keluarganya meski dalam kemiskinan, mendengar putrinya diinjak-injak harga dirinya oleh ibu mertua yang angkuh dan dikhianati oleh pria yang ia percayai, adalah pukulan yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan pekerjaan atau uang.

"Jadi itu alasan mereka selama ini memandang kita rendah?" suara Pak Santo rendah namun bergetar hebat karena amarah. Ia menatap dinding, seolah sedang menahan gejolak emosi yang hampir meledak. "Selama ini Bapak diam, Bapak sabar karena Bapak pikir menantu Bapak adalah pria terhormat yang bisa membahagiakanmu. Tapi kalau ternyata dia hanya pengecut yang membiarkan ibunya menginjak-injak kehormatan istri sendiri... Malik benar-benar tidak pantas mendapatkanmu, Jani."

"Pak, tolong jangan marahi Malik dulu," isak Anjani lirih. "Aku sudah tidak peduli padanya. Yang membuatku sakit adalah... Bu Anne menghina Bapak dan Ibu dengan kata-kata yang tidak pantas. Dia bilang kita keluarga sampah yang menumpang hidup. Dia bilang... dia bilang aku ini parasit."

****

"Parasit?" Pak Santo tertawa sinis, sebuah tawa yang penuh dengan kepedihan. Ia melangkah mendekati Anjani, lalu meletakkan tangannya yang kasar dan penuh bekas luka kerja di atas pundak putrinya. "Anjani, dengarkan Bapak. Kita memang miskin, kita memang tidak punya rumah mewah atau harta berlimpah seperti mereka. Tapi Bapak tidak pernah mendidikmu untuk menjadi wanita yang tidak punya harga diri. Rumah ini memang kecil, tapi tidak ada satu pun orang di dalamnya yang pernah mengkhianati orang lain."

Bu Purwati mendekat dan membelai rambut Anjani dengan penuh kasih. "Anjani, Nak, kalau kamu memang tidak bahagia lagi di sana, Ibu tidak akan memaksamu untuk kembali. Biarlah kita hidup susah asalkan hati kita tenang. Ibu tidak rela kalau kamu harus diperlakukan seperti babu di rumah suamimu sendiri."

Anjani menatap orang tuanya bergantian. Di mata Pak Santo, ia melihat sebuah tekad untuk melindungi, sementara di mata Bu Purwati, ia melihat ketulusan yang selama ini ia abaikan demi ambisi dan harapan akan kehidupan rumah tangga yang sempurna. Ia menyadari satu hal: di saat dunia luar menghujat dan mengkhianatinya, rumah inilah tempat satu-satunya yang menerima ia apa adanya.

"Aku tidak akan kembali, Bu," ucap Anjani mantap, menghapus sisa air mata di pipinya. "Tapi aku juga tidak akan membiarkan mereka menang begitu saja. Mereka pikir dengan menginjak-injak kita, mereka bisa lepas tangan begitu saja? Tidak, aku akan memastikan mereka tahu bahwa Anjani Direja bukanlah wanita yang bisa dibuang sesuka hati."

****

Pak Santo menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada secercah kebanggaan yang tumbuh di sana, namun juga kekhawatiran yang mendalam. "Apa yang ingin kamu lakukan, Jani? Jangan sampai dendam menghancurkan dirimu seperti mereka menghancurkanmu."

"Aku tidak ingin menghancurkan mereka, Pak," jawab Anjani dengan nada dingin yang belum pernah terdengar sebelumnya. "Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hakku, dan membuktikan pada mereka bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh isi rekening bank mereka."

Malam itu, di rumah kecil tersebut, keputusan besar telah diambil. Anjani bukan lagi wanita yang datang dengan tangisan pilu. Ia adalah wanita yang sedang menata strategi. Sementara di luar, hujan mulai reda, meninggalkan genangan yang mencerminkan cahaya lampu jalanan yang remang—seperti nasib Anjani yang kini tengah bersiap untuk menentukan arah masa depannya sendiri.

Namun, Anjani sadar bahwa Malik dan Bu Anne bukanlah lawan yang mudah. Mereka memiliki kekuasaan, jaringan, dan uang untuk membungkam siapa saja. Sementara ia, hanya memiliki orang tua yang renta dan tekad yang kini menyala dalam dadanya. Apakah kekuatan tekad ini cukup untuk meruntuhkan tembok kesombongan keluarga Wiratama yang angkuh itu?

1
Heriyani Lawi
ceritanya ky film India, meskipun ditangkap bbrp kali msh aja lolos. klo aku mungkin dah kutembak mati aja tuh si dara, ngapain diserahkn ke polisi klo ujung2nya lepas lg
Heriyani Lawi
ceritanya agak aneh menurutku thor. sdh tau dara melarikan diri dan bersifat licik, knp ayahnya Anjani tidak dikawal dan dibiarkan sendiri
Dew666
👍
Iffanaya 😽
dara tu gk bisa dimasukin penjara lg, orang mcm dara lbih baik dimusnahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!