NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Pedang Kayu sang Putra

Suara gemercik air mengalir dari bambu saluran pancuran di halaman belakang menjadi satu-satunya bunyi yang tersisa setelah malam jatuh sepenuhnya. Kabut tebal Hutan Bambu Ungu telah mengunci seluruh pondok kayu, menyerap segala jenis kebisingan dari luar dimensi Gunung Han.

Di dalam kamar utama, Shen Liya telah kembali tertidur lelap akibat efek menenangkan dari obat herbal hitam yang dicampur tipis dengan energi penenang milik Gu Jue. Wajah kuyu sang Dewi tampak jauh lebih relaks, tidak lagi menegang menahan nyeri di meridian tubuhnya seperti saat pertama kali tiba sore tadi.

Di halaman samping pondok, di bawah pendaran cahaya rembulan yang redup, Gu Jue sedang berdiri diam di depan sebuah meja kayu tempat memotong tanaman obat. Tangannya yang kokoh memegang sebilah pisau baja panjang, mengiris akar kering dengan ritme yang sangat teratur.

Sret. Sret.

Langkah kaki yang sangat ringan terdengar mendekat dari arah koridor bambu. Langkah itu sengaja dibuat tanpa suara, meniru taktik mengintai tingkat tinggi. Namun, bagi Gu Jue, setiap pergeseran udara di sekitarnya terasa sejelas dentangan lonceng raksasa.

Gu Jue tidak menghentikan gerakan tangannya. Ia terus mengiris obat kering tanpa menoleh sedikit pun.

"Jika kau ingin menyerangku dari belakang, pastikan kau menahan napasmu dengan lebih baik, Bocah," ujar Gu Jue, suaranya yang rendah dan dingin memecah kesunyian malam.

Di balik bayangan tiang bambu pondok, Gu Yu kecil melangkah keluar ke area terbuka yang tersiram cahaya bulan. Pakaian rami abu-abunya sedikit berkibar ditiup angin malam. Sebelah tangan kecilnya telah mencengkeram erat hulu pedang kayu di punggungnya. Wajah tampannya yang menyerupai cetakan sempurna dari Gu Jue tampak menegang, dengan sepasang mata sehitam tinta yang menatap tajam ke arah punggung pria tegap di depannya.

"Aku tidak ingin menyerangmu," ujar Gu Yu kecil dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin, mencoba menyembunyikan getaran gugup di tenggorokannya. "Aku hanya ingin menanyakan sesuatu yang tidak bisa kutanyakan di depan Ibu."

Gu Jue meletakkan pisau bajanya dengan ketukan pelan di atas meja kayu. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, melipat sepasang lengan kekarnya di depan dada sembari bersandar pada tepian meja. Tatapan matanya yang sedingin es abadi langsung mengunci manik mata hitam putranya.

"Katakan," jawab Gu Jue pendek.

Gu Yu melangkah tiga tindakan lebih dekat, menghentikan jaraknya tepat di bawah bayangan tubuh Gu Jue yang tinggi besar. Keberanian bocah tujuh tahun ini untuk berdiri tegak di depan sosok yang paling ditakuti di tiga alam benar-benar membuktikan betapa pekatnya kualitas darah daging yang mengalir di pembuluh darahnya.

"Ibu membohongimu semata-mata karena ingin melindungiku, aku tahu itu," kata Gu Yu kecil, pandangannya tidak berkedip sedikit pun saat menatap mata Gu Jue. "Aku bukan anak yatim piatu yang dipungut di jalanan. Aku tahu sejak aku lahir, aku hanya hidup berdua bersama Ibu. Ibu selalu menceritakan tentang 'Ah Jue sang tabib hebat' setiap malam sebelum aku tidur. Dan sekarang..."

Gu Yu menarik napas dalam-dalam, tangan kecilnya yang mencengkeram pedang kayu tampak bergetar halus akibat gejolak emosi di dalam dadanya. "Sekarang setelah aku melihatmu dengan mataku sendiri, kau sama sekali tidak terlihat seperti manusia biasa yang lemah. Katakan padaku, siapa kau sebenarnya? Mengapa aura di sekitar tempat ini terasa sangat dingin setiap kali kau melintas?"

Mendengar interogasi yang begitu berani dari putra kandungnya, sudut bibir Gu Jue terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan rasa bangga yang tersembunyi. Mo Jue sang Raja Iblis mengagumi ketajaman insting sensorik anaknya. Gu Yu bisa merasakan hawa dingin kegelapan miliknya yang telah ditekan hingga batas maksimal di balik wujud manusianya.

"Aku sudah mengatakannya di dalam kamar tadi, Bocah. Aku adalah Gu Jue, seorang tabib di gunung ini," jawab Gu Jue dengan dusta yang dipertahankan demi kedamaian pikiran keluarga kecilnya. "Jika kau merasa hawa di tempat ini dingin, itu karena Gunung Han ini diselimuti kabut abadi sepanjang tahun. Manusia fana yang manja dari barat sepertimu memang akan kesulitan beradaptasi dengan udara malam di sini."

"Jangan membohongiku!"

Gu Yu kecil mendadak menghunus pedang kayu dari punggungnya dengan satu gerakan cepat yang sangat presisi. Ia menodongkan ujung pedang kayu tersebut lurus ke arah dada Gu Jue.

Bersamaan dengan gerakan tersebut, sebuah fenomena spiritual yang luar biasa terjadi. Dari balik pembuluh darah di tangan kecil Gu Yu, sekerat riak energi kegelapan sepekat malam—yang bercampur dengan pendaran cahaya emas suci yang halus—meledak keluar secara tidak sadar, menyelimuti permukaan pedang kayunya hingga mengeluarkan suara mendesis yang tajam.

Bocah itu melepaskan getaran energi warisan dari dua ras tertinggi tiga alam akibat rasa frustrasi dan protektif yang teramat sangat pada ibunya.

Gu Jue menatap ujung pedang kayu yang berbalut energi campuran hitam dan emas tersebut dengan mata yang melebar sekilas. Di dalam batinnya, sang Raja Iblis terkesiap hebat. Bakat spiritual Gu Yu jauh melampaui estimasi kasarnya selama ini. Anak ini memikul potensi kekuatan penghancur yang bisa mengguncang tatanan langit dan bumi jika tidak dikendalikan dengan benar sejak dini.

"Gerakan yang bagus untuk anak berumur tujuh tahun," komentar Gu Jue, suaranya tetap terdengar sangat tenang tanpa seulas rasa takut sedikit pun.

Dengan gerakan lambat yang tidak terbantahkan, Gu Jue mengangkat tangan kanannya. Ia mengulurkan dua jarinya, lalu dengan sangat santai menjepit ujung pedang kayu milik Gu Yu. Seketika itu juga, saat kulit jarinya bersentuhan dengan energi campuran di pedang tersebut, sebuah aliran hawa dingin murni milik Mo Jue melesat keluar, menjinakkan dan menyerap seluruh kobaran energi hitam-emas di pedang kayu Gu Yu dalam sekejap mata, mengembalikannya menjadi potongan kayu biasa yang mati.

Gu Yu kecil terbelalak sempurna, mencoba menarik pedang kayunya kembali dengan sekuat tenaga, namun dua jari Gu Jue mencengkeramnya sekokoh jepitan besi gunung abadi. Pria ini menetralkan ledakan energinya hanya dengan sekali sentuh, tanpa menggunakan mantra atau sihir yang terlihat oleh mata.

"Lepaskan!" desis Gu Yu kecil, urat-urat halus di dahi kecilnya menegang karena menahan amarah dan keterkejutan.

Gu Jue melepaskan jepitan jarinya, membuat Gu Yu terdorong mundur dua langkah sebelum akhirnya berhasil menyeimbangkan posisi berdirinya kembali.

"Pedang kayu ini... siapa yang membuatnya untukmu?" tanya Gu Jue, menurunkan pandangannya menatap pedang yang kini dipegang erat oleh putranya.

"Ibu yang memotong kayunya, dan aku yang menghaluskannya sendiri," jawab Gu Yu dengan napas yang sedikit memburu, memasang posisi siaga penuh karena tahu pria di depannya ini memiliki kemampuan yang jauh di atas logikanya. "Aku berlatih setiap hari di hutan desa agar bisa menjadi kuat demi melindungi Ibu."

Gu Jue menatap lekat-lekat mata hitam Gu Yu yang sarat akan ketetapan hati seorang pelindung cilik. Rasa sayang dan kehangatan seorang ayah yang tidak pernah ia duga akan ia miliki mendadak memenuhi seluruh relung dadanya yang sedingin es. Bocah ini berlatih dengan pedang kayu mati demi melindungi ibunya yang sekarat dari ancaman dunia luar.

Gu Jue melangkah maju satu tindakan, membuat bayangan tubuh tingginya menutupi seluruh tubuh kecil Gu Yu. Ia mengulurkan tangan kanannya, meletakkannya di atas kepala Gu Yu, lalu mengelus rambut hitam lebat putranya dengan gerakan yang sangat pelan dan canggung—sebuah gestur kelembutan pertama yang ia berikan sebagai seorang ayah kandung.

Gu Yu kecil tersentak, seluruh tubuhnya menegang kaku menerima sentuhan mendadak tersebut. Ia berniat menepis tangan Gu Jue, namun entah mengapa, hawa dingin yang mengalir dari telapak tangan pria ini justru memberikan rasa nyaman dan kedamaian yang teramat pekat di dalam inti jiwanya. Rasa aman yang aneh ini seolah beresonansi sempurna dengan denyut spiritual di dalam dadanya, meredam seluruh amarah dan kecurigaan yang sejak tadi ia bangun dengan kokoh.

"Menjadi kuat tidak bisa dicapai hanya dengan mengayunkan mainan kayu di tengah malam, Bocah," ujar Gu Jue, suaranya terdengar lebih berat namun sarat akan kehangatan tersembunyi yang dalam.

"Mulai besok pagi, kau akan mengikutiku ke hutan untuk memotong kayu bakar dan mengenali jenis tanaman obat. Jika kau bisa bertahan di bawah didikanku tanpa menangis, aku sendiri yang akan mengajarimu bagaimana cara menggunakan pedang yang sesungguhnya untuk melindungi ibumu."

Gu Jue menarik kembali tangannya, berjalan melewati Gu Yu menuju arah koridor dapur untuk menyelesaikan rebusan obat malam, meninggalkan putranya yang masih berdiri mematung di bawah siraman cahaya rembulan.

Gu Yu kecil menatap telapak tangan kecilnya sendiri, lalu menurunkan pandangannya menatap pedang kayunya yang kini terasa jauh lebih ringan dan stabil setelah disentuh oleh Gu Jue tadi. Tanpa disadari oleh bocah cerdas itu, Gu Jue sebenarnya baru saja menanamkan sebuah segel pelindung iblis tak kasat mata di dalam inti pedang kayunya selama jepitan jari tadi, memastikan sang putra memiliki benteng pertahanan absolut jika terjadi situasi darurat di masa depan.

"Ah Jue..." gumam Gu Yu kecil pada kesunyian malam, sepasang mata sehitam tintanya menatap punggung tegap Gu Jue yang menghilang di balik pintu dapur.

Rasa hormat dan ikatan batin yang kaku kini mulai berakar di dalam hati sang pangeran cilik Alam Kegelapan. Sandiwara sebagai ayah angkat dan murid kecil telah resmi dimulai di bawah atap pondok kayu Gunung Han, merajut kembali jalinan takdir keluarga mereka yang sempat terputus sebelum badai besar tiga alam benar-benar datang melanda kebersamaan mereka kelak.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!