Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.
Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.
Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.
Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
Kening Nero mengkerut dalam. Tangan kecilnya langsung berhenti menggerakkan mainan mobilnya. Logika aneh dari Asia sukses menjebak pikiran kekanak-kannya. Dia tidak mau ayahnya diuntungkan begitu saja.
"Tapi aku makan, kok! Aku cuma enggak mau sarapan sekarang. Aku maunya main!" protes Nero membela diri, gengsi jika dianggap bikin hemat.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Main aja terus," sahut Asia acuh tak acuh. "Sini aku beresin piring kamu."
Tangan Asia bergerak hendak mengambil piring sarapan Nero yang masih utuh di atas meja, sengaja memancing reaksi lanjutan dari bocah keras kepala itu.
Nero mengerucutkan bibir. Wajahnya langsung ditekuk dalam-dalam dengan sorot mata yang menatap Asia dengan penuh kekesalan.
"Kamu mau aku mati?" tanya Nero dengan suara melengking khas anak-anak.
Asia menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap bocah itu dengan ekspresi wajah yang tetap tenang. "Enggak. Kenapa?"
"Kamu ambil makananku," tunjuk Nero saat Asia membereskan piring di depan bocah itu yang berantakan. Jari telunjuknya yang mungil mengarah tepat ke piring miliknya yang diangkat oleh Asia.
Asia kembali melanjutkan kegiatannya menumpuk peralatan makan dengan gerakan santai, sama sekali tidak merasa bersalah. "Kata kamu enggak akan mati meski enggak makan. Ya udah aku beresin. Biar meja makan bersih. Yang lain kan juga sudah selesai makan."
"Enggak gitu," sahut Nero ketus. Tangan Nero bersedekap di depan dada, memalingkan muka karena merasa tersudut oleh ucapan ibu tirinya.
Saat itu Nyonya Malinda muncul kembali dari arah kamar mandi, langkah kakinya terhenti ketika merasakan atmosfer ketegangan baru di ruang makan. Ada apa ini?
Melihat kehadiran sang nenek, Nero langsung menegakkan tubuh dan mencari pembelaan. "Oma! Dia jahat. Wanita ini jahat."
Nyonya Malinda terkejut mendengar aduan langsung dari cucu bungsunya. "Hush. Apa yang kamu katakan, Nero. Itu enggak sopan," tegur beliau cepat. Nyonya Malinda menatap Asia tidak enak, merasa tidak nyaman karena cucunya langsung bersikap sekasar itu pada anggota keluarga baru.
Nero tidak mau kalah. Dia bersikeras bahwa dirinya adalah korban di sini. "Bener kok. Lihat Oma, piring makananku diambil. Katanya mau diberesin. Padahal kan aku mau makan."
Nyonya Malinda melirik ke arah piring yang dipegang Asia. Sedikit heran.
Asia mengangkat piring di tangannya sedikit, menunjukkan bahwa nasi dan lauk di dalamnya memang belum berkurang sama sekali. "Tadi katanya enggak mau makan," kata Asia membela diri dengan nada bicara yang datar dan tenang.
Nyonya Malinda kini mulai paham ada apa.
Melihat Asia tetap tenang, Nero justru semakin tersulut emosi karena merasa posisinya makin terpojok.
"Iya, kamu kan enggak mau makan sampai meja makan berantakan," kata Nyonya Malinda membenarkan kata Asia.
"Aku mau makan," Nero malah ngamuk. Memukul permukaan meja makan dengan kedua tangan kecilnya karena kesal karena tidak bisa lagi mencari alasan untuk menolak makanan itu.
Asia tersenyum tipis dalam hati karena caranya memancing Nero berhasil dengan mulus. Asia mengembalikan piring Nero yang sengaja tidak dicampur dengan piring lainnya sejak awal, karena dia tahu persis bocah ini hanya sedang menguji kesabarannya.
"Ini. Makanlah. Aku ambil lagi kalau kamu tidak mau," kata Asia meletakkan kembali piring tersebut tepat di depan bocah itu sambil diperhatikan oleh Nyonya Malinda yang diam-diam merasa lega melihat cara Asia menghadapi sifat keras kepala cucunya.
Nero masih belum mau menyuap nasinya. Matanya melirik bergantian ke arah Asia dan Nyonya Malinda dengan bibir yang masih maju beberapa sentimeter.
"Dia jahat kan Oma?" tanya Nero, mencari dukungan penuh dari sang nenek.
Nyonya Malinda menghela napas lembut, lalu melangkah mendekat dan mengusap pundak cucunya dengan penuh kesabaran. "Bukan. Tante Asia hanya ingin kamu mau sarapan."
Nero menunduk menatap piringnya, masih merasa dongkol karena kalah berargumen dengan ibu tiri barunya yang bersikap acuh tak acuh itu.
"Tapi kok gitu. Enggak baik itu," gerutu Nero lagi. Nadanya terdengar serius dan berbobot, membuat Nero bicara mirip orang tua yang sedang menasihati anak kecil, padahal dialah yang sedang dibujuk agar mau makan.
Asia yang melihat tingkah bocah itu hanya bisa menahan napas agar tawa gelinya tidak pecah di tempat. Sementara Nyonya Malinda tersenyum tipis, merasa terhibur dengan cara berpikir cucunya yang mendadak dewasa jika sedang merajuk.
"Kalau gitu ayo dimakan," kata Nyonya Malinda menunjuk piring cucunya, mencoba mengakhiri perdebatan pagi itu.
Nero cemberut tapi tetap menyendok makanannya. Ia masih tidak mau makan sebenarnya, tapi dia tidak mau kalah sama Asia. Pikiran kekanak-kannya menolak keras untuk terlihat mengalah di depan wanita itu. Jadi, dengan sisa-sisa kekesalannya, dia memaksakan diri untuk menghabiskan makanannya sampai suapan terakhir.
Asia membereskan piring di meja makan sambil tersenyum tipis. Ia merasa cukup puas karena dapur rumah ini tidak perlu diwarnai drama tangisan anak kecil di hari pertamanya tinggal di sini.
"Biar saya aja yang cuci piring, Nyonya Muda," kata bibi pelayan yang tiba-tiba datang menghampiri meja makan untuk membantu.
"Baiklah," jawab Asia singkat sambil tersenyum. Lalu menyerahkan pada bibi piring yang dibawanya untuk dibawa ke wastafel dapur.
"Asia, kamu makannya sudah?" tanya Nyonya Malinda yang tahu tadi Asia menyegerakan makannya. Beliau memperhatikan piring Asia yang sudah bersih, padahal menantunya itu tadi makan dengan sangat cepat karena sibuk mengurusi Nero.
"Sudah, Bu" jawab Asia ramah.
"Enggak, kalau masih belum kenyang makan aja dulu. Tambah gitu," tawar Nyonya Malinda lagi, merasa tidak enak jika menantunya itu belum benar-benar terisi perutnya.
"Enggak. Sudah kenyang," sahut Asia meyakinkan dengan senyuman tipis.
"Baiklah." Nyonya Malinda mengangguk paham. Beliau tahu berada di rumah ini butuh tenaga besar, karena Asia harus bersiap menghadapi banyak drama dari anak-anak Hugo yang masing-masing memiliki sifat keras kepala.
Telepon berdering. Suara dering yang nyaring itu memecah keheningan yang baru saja tercipta di ruangan tersebut.
Mendengar itu, Asia bangun dari duduknya hendak menerima telepon. Ia berniat untuk segera mengangkatnya sebelum suara bising itu semakin mengganggu ketenangan rumah, terlebih karena bibi pelayan masih sibuk mencuci piring di dapur belakang.
"Biar aku saja," kata Nyonya Malinda. Beliau langsung berdiri untuk berjalan menuju meja tempat telepon rumah diletakkan. Asia mengangguk.
Setelah Nyonya Malinda melangkah pergi, ruang makan kembali sepi.
"Aku sudah!" seru Nero keras.
Akhirnya Nero bisa menyelesaikan sarapannya. Bocah itu meletakkan sendoknya di atas piring kosong dengan bunyi denting yang sengaja dikeraskan, lalu mendongak menatap Asia dengan tatapan bangga seolah baru saja memenangkan sebuah perlombaan besar.
"Benarkah?" Asia tidak percaya. Ia menyipitkan matanya, menatap ke arah piring di depan bocah itu dengan raut wajah sangsi yang sengaja dibuat-buat.