"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BALIK PINTU PRIVAT
Bel penanda berakhirnya kelas Teori Makroekonomi bergema nyaring di sepanjang koridor gedung Fakultas Ekonomi. Suara riuh rendah mahasiswa yang membereskan buku dan bersiap keluar langsung memenuhi ruangan. Di barisan tengah, Karin menepuk pundak Queen yang masih asyik merapikan alat tulisnya dengan gerakan yang sengaja diperlambat.
"Queen, yuk langsung ke kantin. Gue laper banget gila, dengerin materi Pak Arga tadi bikin otak gue serasa diperas," ajak Karin sambil menyampirkan tasnya.
Alya ikut mengangguk, melirik ke arah depan kelas di mana Arga tampak sedang mematikan laptopnya dengan wajah dingin tanpa ekspresi. "Iya, Queen. Yuk buruan, keburu penuh tuh kantin bawah."
Queen menyunggingkan senyum manis tak berdosanya, menatap kedua sahabat dekatnya bergantian. "Kalian berdua pergi ke kantin duluan aja deh. Gue ada urusan sebentar, ada berkas tugas mandiri yang harus gue urus langsung. Nanti gue nyusul, oke?"
Alya menyipitkan mata bulatnya, kembali menaruh curiga mengingat cara jalan Queen yang masih agak kaku dan tanda merah di leher sahabatnya yang sengaja ditutupi syal tipis itu. "Urusan apa? Lo gak lagi ngerencanain hal aneh-aneh buat gangguin Pak Arga lagi, kan?"
"Ih, suudzon amat lo jadi sahabat! Udah sana hus-hus, pergi duluan. Cacing di perut Karin udah demo tuh," canda Queen bar-bar sambil mendorong pelan bahu kedua temannya agar segera melangkah keluar kelas.
Setelah berhasil meyakinkan Karin dan Alya, Queen membiarkan kelas kosong seutuhnya. Begitu memastikan kedua sahabatnya sudah menghilang di belokan koridor menuju kantin, senyum penuh kemenangan merekah di wajah baby face-nya. Jiwa cegil-nya yang ugal-ugalan kembali meronta. Alih-alih pergi ke arah lobi, langkah kaki Queen justru berputar menuju lantai tiga gedung rektorat lama tempat di mana jajaran kantor dosen senior berada.
Di universitas ini, posisi Arga Dirgantara bener-bener istimewa. Selain karena statusnya sebagai dosen berprestasi lulusan luar negeri, keluarganya merupakan salah satu donatur terbesar yayasan. Oleh karena itu, kantor Arga dibuat terpisah dan berbeda dari dosen-dosen lainnya. Jika dosen lain harus berbagi ruang kerja dalam bilik-bilik sekat, kantor Arga bersifat privat, terletak di ujung lorong yang sepi dengan pintu kayu jati tebal yang kokoh.
Queen melangkah pelan menelusuri lorong yang sunyi tersebut. Suara langkah sepatunya lamat-lamat bergema. Begitu sampai di depan pintu dengan papan nama kuningan bertuliskan 'Arga Dirgantara, S.E., M.B.A.', Queen menarik napas dalam-dalam. Dengan senyum nakal yang terukir di bibirnya, jemari lentiknya mengetuk pintu itu dengan ritme yang teratur.
Tok... Tok... Tok...
Hanya butuh beberapa detik sampai terdengar suara kunci diputar dari dalam. Pintu ek tebal itu terbuka perlahan, menampilkan sosok tegap Arga yang masih mengenakan kemeja biru dongker formalnya, namun kancing teratasnya sudah dibuka dan dasinya sedikit dilonggarkan, memberikan kesan maskulin yang teramat seksi.
Begitu netra elang Arga menangkap sosok mahasiswi sekaligus kekasih rahasianya berdiri di depan pintu, pria berusia 30 tahun itu tersentak kaget. Ia langsung melirik ke kanan dan ke kiri lorong, memastikan tidak ada staf atau mahasiswa lain yang melintas. Dengan gerakan cepat, Arga menarik lengan Queen masuk ke dalam ruangannya lalu menutup pintu kembali hingga terdengar suara klik terkunci.
"Queen, kenapa kamu kesini, Hem?" tanya Arga langsung dengan suara baritonnya yang berat dan sedikit menekan, mencoba mempertahankan wibawanya. "Kita sudah sepakat untuk mem-privat hubungan ini. Kalau ada yang lihat kamu masuk ke keruangan saya sendirian bagaimana, Sayang?"
Deg.
Kata 'Sayang' yang meluncur begitu saja dari bibir kokoh Arga seketika membuat dunia Queen seolah berhenti berputar. Jantungnya berdegup dengan ritme yang teramat kencang hingga dadanya terasa sesak. Jiwa cegil-nya menjerit histeris kegirangan. Meskipun Arga mengucapkannya dengan nada yang kaku dan sarat akan kekhawatiran, Queen tahu bahwa benteng es yang membungkus hati dosen killer-nya itu perlahan-lahan mulai luruh dan retak karena keberadaannya.
"Aku kangen dengan kekasih ku ini," ucap Queen dengan manja, sepasang mata bulatnya berkilat penuh damba yang teramat dalam.
Tanpa membuang waktu dan memedulikan tatapan kaku Arga, Queen langsung maju selangkah, menepis jarak di antara mereka. Ia berjinjit, melingkarkan kedua lengan lentiknya di leher kokoh Arga, dan langsung membungkam bibir pria dewasa itu dengan sebuah ciuman yang penuh tuntutan. Ciuman yang sarat akan rasa rindu setelah seharian hanya bisa menatap pria itu dari kejauhan di dalam kelas.
"Nnggh..." Arga mengerang rendah di dalam tautan bibir mereka.
Awalnya, akal sehat Arga mencoba memberontak. Ini adalah lingkungan kampus, tempat di mana reputasinya dipertaruhkan. Namun, kehangatan bibir manis Queen, aroma vanila yang menguar dari tubuh gadis itu, dan cara Queen melumat bibirnya dengan begitu posesif seketika meruntuhkan sisa-sisa pertahanan logikanya. Rasa sakit hati akibat pengkhianatan Keysha kembali terobati oleh keliaran dan ketulusan cinta yang ditawarkan oleh mahasiswanya ini.
Arga membalas ciuman Queen tidak kalah dalam. Tangan kekarnya bergerak turun, mencengkeram pinggang ramping Queen dengan posesif, mengangkat tubuh mungil gadis itu hingga menempel erat pada dada bidangnya. Lumatan mereka berubah menjadi lebih panas, dalam, dan menuntut. Lidah Arga mulai menginvasi rongga mulut Queen, membalas setiap tuntutan kekasih mudanya dengan dominasi pria matang yang sedang terbakar gairah.
Napas keduanya mulai memburu pendek ngos-ngosan. Di tengah pagutan bibir yang semakin liar, sisa kesadaran di otak Arga berputar. Tidak mungkin ia dan Queen melanjutkan tindakan sejauh ini di area meja kerja kantor utama. Dinding ruangan ini memang kedap suara, namun kaca besar yang mengarah ke taman dalam masih bisa memicu risiko jika ada seseorang yang tidak sengaja mengintip dari celah tirai.
Tanpa melepaskan tautan bibir mereka yang basah dan panas, Arga dengan gerakan yang terampil dan mendominasi langsung menggiring tubuh Queen melangkah mundur. Tangan kanannya meraba dinding di samping meja kerjanya, menekan sebuah tombol rahasia yang membuka pintu kamuflase menuju sebuah kamar pribadi tersembunyi yang ada di dalam kantornya.
Kamar pribadi berukuran minimalis itu memang sengaja disediakan untuk tempat Arga beristirahat atau menginap jika tugas kampus sedang menumpuk. Di dalamnya terdapat sebuah ranjang single yang rapi, kamar mandi dalam, dan pencahayaan yang temaram.
Brak.
Arga mendorong tubuh Queen dengan lembut hingga terjerembab di atas kasur empuk kamar rahasia tersebut, sementara tubuh tegapnya langsung menyusul, mengungkung tubuh seksi Queen di bawah dominasi fisiknya.
"Bapak... ternyata lebih nakal dari aku ya," bisik Queen terengah-engah dengan napas ngos-ngosan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman genit yang teramat menantang, sementara tangannya mulai dengan berani membuka satu per satu kancing kemeja biru dongker milik sang kekasih.
Arga tidak menjawab. Tatapan matanya telah menggelap sepenuhnya oleh kabut gairah yang terlarang namun teramat candu. Di balik pintu privat kantornya, di dalam kamar rahasia yang terisolasi dari dunia luar, Arga siap menenggelamkan dirinya kembali ke dalam pusaran cinta gila bersama Queen, mengabaikan status dan aturan demi memeluk kebahagiaan baru yang nyata di dalam dekapannya.