Nadila terkejut saat pulang dari butik nya, dia menemukan wanita hamil di rumah nya. Irfan, suami nya Nadila mengatakan bahwa dia adalah Rani, sepupu nya yang baru saja datang dari desa.
Irfan mengatakan bahwa bahwa suami nya Rani baru saja meninggal dunia dan dia tidak punya siapa- siapa di desa.
Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, awal nya Nadila percaya dengan semua ucapan suami nya. Tapi tidak berselang lama Nadila menemukan bukti, bahwa wanita itu bukan lah sepupu nya Irfan, melainkan istri sirih nya.
Setelah ketahuan, Irfan membela diri dan mengatakan alasan dia menikahi Rani karena Nadila tidak bisa memberi nya keturunan.
Nadila membalas semua perbuatan Irfan, setelah itu dia membeberkan sebuah fakta yang membuat Irfan menyesal seumur hidup nya.
Ikuti kisah nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Setelah menunggu selama beberapa jam, hasil tes kesehatan Irfan keluar. Nadila dan Mama Nilam tidak sabar melihat nya, mereka ingin tahu apa penyebab Nadila tidak kunjung hamil padahal sudah bertahun - tahun menikah.
Dengan tangan bergetar, Nadila membuka kertas hasil pemeriksaan kesehatan Irfan. Nadila membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di sana, dan betapa terkejut nya dia saat membaca semua itu.
"Dok, ini benar kan?" Tanya Nadila pada dokter Alfi.
"Benar, bu Nadila. Pak Irfan yang bermasalah, tapi jangan khawatir. Kalian bisa melakukan pengobatan, tidak ada penyakit yang tidak ada obat nya!" Jelas Dokter Alfi.
"Ma, ternyata benar mas Irfan yang bermasalah!" Nadila memperlihatkan hasil tes nya pada Mama Nilam.
"Dugaan kita benar, anak yang di kandung Rani bukan lah anak nya Irfan. Itu arti nya Rani menipu Irfan!" Ucap Mama Nilam.
"Aku akan memberikan kejutan untuk mas Irfan, saat waktu nya tiba. Tapi sebelum nya aku akan memberi pelajaran pada mas Irfan, Ma!" Nadila menggenggam erat surat yang berada di tangan nya.
Kini Nadila dan Mama Nilam sudah mengantongi bukti bahwa bukan lah dia yang bermasalah, tapi Irfan. Semua bukti itu bisa sangat berguna, untuk membungkam mulut Irfan dan Nadila. Kini Nadila ingin mencari tahu, anak siapa yang sedang di kandung oleh Nadila.
Sementara itu di rumah, Rani baru bangun tidur padahal hari sudah siang. Dia keluar dari dalam kamar nya, dan dis segera pergi ke dapur. Dia tidak menemukan sarapan apapun, di dapur tidak ada makanan sama sekali.
"Kenapa tidak ada sarapan? Apa Nadila tidak memasak pagi ini?" Rani bertanya pada diri nya sendiri.
Rani membuka kulkas, di sana memang tersedia banyak bahan makanan. Tapi dia malas untuk memasak, di tambah lagi saat ini badan nya masih sangat gatal.
"Ini tidak bisa di biarkan, aku harus memberi tahu mas Irfan!" Rani langsung mengambil ponsel nya.
Dia menghubungi Irfan, dia ingin agar Irfan membeli sarapan untuk nya. Panggilan pertama nya langsung di jawab oleh Irfan.
"Hallo mas, kamu udah di kantor ya?" Tanya Rani pada Irfan.
"Iya sayang, mas udah di kantor. Tadi mas sengaja gak bilang sama kamu pasti berangkat kerja, karena mas lihat kamu masih tidur dengan nyenyak!" Irfan berkata dari seberang sana.
"Mas, aku laper banget ni. Nadila dan Mama nya benar - benar keterlaluan, mereka seperti nya sengaja tidak memasak. Kamu belikan aku makanan ya!" Rani berkata dengan nada manja.
"Sayang, kamu pesan makanan online saya ya. Saat ini mas tidak bisa pulang, nanti pas istirahat mungkin mas akan pulang. Itu pun kalau Mama tidak ada di rumah, jika dia ada di rumah mungkin mas tidak akan pulang, takut nya kita malah ketahuan!" Irfan berkata pada wanita yang menjadi selingkuhan nya tersebut.
"Mas, saat ini mertua mu sedang tidak ada di rumah, seperti nya dia sedang keluar! Mas pulang ya saat makan siang nanti, tubuh ku masih gatel banget dan aku mau mas antarkan aku ke dokter!" Kembali Rania berkata pada Irfan.
"Iya sayang, mas akan usaha kan pulang nanti. Kamu jangan lupa makan, kasihan anak kita!" Irfan mengingat kan Nadila.
"Iya mas, tapi aku mau nya kamu yang pesan makanan untuk ku ya. Ini keinginan anak kamu loh!" Rani sengaja menggunakan bayi nya gara Irfan mau menuruti semua keinginan nya.
"Iya sayang, ya udah mas pesan kan makanan untuk mu, kamu tunggu sebentar ya. Mas kerja dulu ya, dah sayang!" Irfan mematikan sambungan telepon nya.
"Kapan sih mas Irfan mau membuang wanita mandul itu, aku udah gak sabar lagi ingin menjadi nyonya di rumah ini!" Rani membayangkan betapa bahagianya diri nya saat dia menjadi istri satu - satu nya Irfan.
Rani tersenyum sambil mengelus perut buncit nya, anak ini benar - benar membawa keberuntungan bagi nya.
Sudah hampir satu tahun mereka menjalani hubungan di belakang Nadila, dan sudah sering kali mereka melakukan hubungan suami istri. Tapi Rani tidak kunjung hamil, padahal dia akan menggunakan kehamilan nya untuk memaksa Irfan agar menikahi nya.
Karena tidak kunjung hamil, akhir nya Rani melakukan hubungan badan dengan seorang preman di belakang Irfan. Dan hasil nya tidak lama kemudian, dia hamil. Rani sengaja mengatakan bahwa itu adalah anak nya Irfan, agar Irfan mau membawa Rani tinggal di rumah besar nya.
"Sayang, kau akan mendapatkan kehidupan yang sangat menyenangkan nanti nya. Papa Irfan akan menjadi Papa mu, dan kau akan mewarisi semua harta nya!" Rani berkata pada Bayi nya sambil mengusap perut buncit nya.
Pada saat itu Nadila dan Mama Nilam tiba di rumah, hasil tes dan hasil lab itu membuat Nadila tidak mood untuk bekerja. Akhir nya dia memutuskan untuk pulang ke rumah saja, mereka berdua pulang dengan menggunakan taksi online sebab tadi mereka berangkat di antar oleh Irfan.
Pada saat yang bersamaan, kurir yang mengantarkan pesanan untuk Rani pun tiba di rumah. Nadila heran karena dia merasa tidak memesan makanan itu.
"Pesanan atas nama pak Irfan, bu!" Kurir itu berkata dengan ramah.
"Pak Irfan? Dia sedang di kantor saat ini, mungkin ini di antarkan ke kantor nya saja!" Ujar Nadila.
"Tapi dia meminta untuk di anatarkan ke rumah nya bu, dan ini benar alamat nya!" Kurir itu menunjuk kan detail pesanan Irfan.
"Benar, ini alamat rumah nya. Apakah makanan ini sudah di bayar?" Tanya Mama Nilam.
"Sudah bu!" Jawab Kurir itu lagi.
"Ya udah mas, bawa sini. Mungkin dia sengaja memesan makanan ini untuk ku!" Nadila lalu mengambil makanan tersebut.
"Ini bu, terima kasih!" Lalu Kurir pengantar makanan itu segera pergi.
"Irfan pasti memesan makanan untuk gundik nya, kita kerjain dia biar kelaparan!" Ujar Mama Nilam sambil tersenyum smirk.
"Iya Ma, biar tahu rasa!" Nadila setuju dengan saran Mama nya.
Mereka berdua segera masuk ke dalam rumah, dan benar saja Rani sedang berada di ruang tamu. Seperti nya dia sedang menunggu Kurir mengantarkan pesanan nya.
"Enak banget ya jadi kamu, udah numpang di rumah orang tapi tidak tahu malu!" Mama Nilam berkata dengan ketus.
"Aku lapar tante, aku belum makan sejak tadi!" Jawab Rani dengan kesal.
"Kalau mau makan ya masak dong, semua bahan makanan udah tersedia semua. Kamu tinggal masak saja, lagian ya harus nya kamu itu tahu diri sedikit lah. Udah numpang tinggal secara gratisan, makan masih saja minta siapin lagi. Gak tahu diri banget kamu!" Semprot Mama Nilam.
Wajah Rani langsung berubah merah padam, dia ingin sekali menjawab ucapan Mama Nilam. Tapi saat ini tidak akan ada yang membela nya, Irfan tidak ada di rumah. Jadi dia harus bertahan di sana untuk bisa menyingkirkan Nadila.