No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan orang ketiga
“Damian!”
Damian tersenyum ramah.
“Olivia, apa kabar?”
Wanita itu melepaskan pelukannya lalu menatap Damian dengan antusias.
“Aku merindukanmu, aku berusaha merayu Ayah agar aku bisa meninggalkan Faris dan menetap lagi disini.”
Damian hanya tersenyum kecil sebelum menoleh ke arah Valerie.
“Valerie, perkenalkan.”
“Ini Olivia Laurent, teman masa kecilku.”
Olivia mengalihkan pandangannya kepada Valerie lalu tersenyum manis.
“Halo Valerie, senang bertemu denganmu.”
Valerie membalas senyum itu dengan sopan.
“Aku juga senang bertemu denganmu.”
Tak lama kemudian, Olivia justru menarik kursi dan duduk tepat di antara Damian dan Valerie, seolah tanpa menyadari bahwa pasangan suami istri itu sedang duduk berdampingan.
Valerie hanya terdiam.
Namun Jennifer yang duduk tidak jauh dari mereka segera mengangkat alis, ia tersenyum tipis lalu menarik tangan Olivia.
“Aduh sayang, pindah ke sini.”
Olivia tampak bingung.
“Aduh Bibi kenapa?”
Jennifer tersenyum lembut, tetapi nada suaranya terdengar tegas.
“Jangan memisahkan pengantin baru keluarga kami.”
“Mereka sedang menikmati masa-masa awal pernikahan.”
Olivia tampak sedikit kesal.
“Oh...”
Jennifer tertawa kecil.
“Ayo duduk di sampingku, ceritakan kepadaku pengalaman kamu tinggal diluar negeri.”
Dengan enggan, Olivia akhirnya berpindah tempat dan duduk di sebelah Jennifer. Sementara Valerie kembali duduk di samping Damian.
Jennifer tersenyum puas.
“Apa disana sangat menyenangkan?”
Harrison yang melihat tingkah istrinya hanya terkekeh pelan.
“Kamu sangat protektif terhadap Adik Iparmu.”
Jennifer menatap suaminya sambil tersenyum.
“Karena aku tidak suka melihat pengantin baru diganggu.”
Olivia hanya memasang wajah masam sambil meminum jusnya.
Tak lama kemudian, musik berubah menjadi lebih lembut, dan lampu aula sedikit diredupkan. Pembawa acara mengumumkan dimulainya sesi dansa. Beberapa pasangan mulai berjalan menuju lantai dansa.
Damian berdiri lalu mengulurkan tangannya kepada Valerie.
“Mau berdansa?”
Valerie tampak gugup.
“Aku...”
Damian tersenyum tipis.
“Kita hanya mengikuti irama.”
Namun sebelum Valerie sempat menerima uluran tangan itu, Olivia tiba-tiba berdiri.
“Damian aku mau.”
Ia meraih tangan Damian dengan senyum ceria.
“Aku sangat merindukanmu, kita bisa mengobrol santai sambil berdansa.”
“Ayo.”
Valerie terdiam.
Jennifer langsung menutup wajahnya dengan tangan.
“Hari ini Olivia benar-benar tidak tau diri.”
Beberapa tamu mulai memperhatikan mereka, bisik-bisik kecil terdengar. Namun Damian tetap tenang, ia perlahan menarik tangannya dari genggaman Olivia.
“Maaf, Olivia.”
“Aku ingin berdansa dengan istriku.”
“Bukan denganmu.”
Senyum Olivia membeku.
Damian melanjutkan dengan nada sopan.
“Malam ini adalah malam pertama Valerie menghadiri acara sebagai istriku.”
“Aku ingin menghabiskan momen ini bersamanya.”
Olivia terdiam.
Sementara beberapa orang mulai berbisik-bisik.
“Olivia mengincar Damian dari lama.”
“Dia tidak pernah menyerah walau ditolak terus.”
“Damian benar-benar menjaga perasaan istrinya.”
Wajah Olivia memerah karena malu.
Jennifer segera berdiri dan menggandeng tangan Olivia.
“Ayo, duduk.”
“Kadang kita harus belajar menerima kenyataan, lalu melepas apa yang seharusnya tidak ditakdirkan dengan kita.”
Olivia hanya bisa tersenyum kaku sambil kembali ke tempat duduknya.
Sementara Damian akhirnya mengulurkan tangannya lagi kepada Valerie.
“Kali ini kamu tidak boleh menolak ku.”
Valerie tersenyum kecil lalu menerima uluran tangannya, mereka berjalan menuju lantai dansa. Damian meletakkan satu tangannya di pinggang Valerie, sementara Valerie dengan canggung meletakkan tangannya di bahu Damian.
Musik mulai mengalun.
Namun baru beberapa langkah.
“Ehem.”
Damian menghela napas.
Valerie membeku.
“Maaf!”
Beberapa detik kemudian.
“Valerie!”
Valerie kembali menginjak kaki Damian.
Wajahnya memerah.
“Aku benar-benar minta maaf.”
Damian mengusap dahinya.
“Aku sudah menyuruhmu berlatih.”
Valerie menggeleng cepat.
“Berlatih itu butuh waktu berbulan-bulan, bukan dua hari Tuan Damian.”
Damian menghela napas kecil lalu tersenyum tipis.
“Kalau begitu, injak kakiku saja.”
Valerie berkedip bingung.
“Apa?”
“Naik sedikit di atas kakiku.”
“Dengan begitu kamu tidak akan membuatku lumpuh.”
Valerie tertawa kecil.
“Itu tidak akan terjadi.”
Damian menyipitkan matanya.
“Perlahan tapi efektif.”
Dengan ragu, Valerie mengikuti arahan Damian.
Kini gerakan mereka menjadi lebih selaras. Perlahan, Valerie mulai menikmati tarian itu. Jarak mereka semakin dekat, terasa terlalu dekat.
Damian dapat melihat jelas mata indah Valerie, bulu matanya yang lentik. Serta senyum kecil yang muncul saat Valerie mulai merasa nyaman. Entah mengapa, ada sesuatu dalam diri Valerie yang terasa begitu familiar.
Namun Damian segera mengabaikan perasaan aneh itu.
Mustahil?
Valerie tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Tidak mungkin Valerie bisa semirip itu dengannya.
Namun meski berusaha menyangkalnya, Damian tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Valerie. Kali ini hatinya yang selama ini tenang mulai terusik oleh perasaan yang belum mampu ia pahami.
Tatapannya terus terpaku pada wajah Valerie.
Semakin lama ia memperhatikannya, semakin kuat perasaan aneh itu muncul. Wajah itu sangat mirip dengan seseorang dari masa lalunya.
Selena.
Sahabat kecil yang pernah memenuhi hari-harinya sebelum takdir memisahkan mereka.
Damian mencoba menyangkal pikirannya. Tetapi setiap kali ia menatap Valerie, bayangan Selena selalu hadir di benaknya. Mata mereka sama, lembut namun menyimpan kesedihan yang mendalam. Hidung mungil mereka serupa. Lengkungan bibir mereka begitu identik, bahkan senyum tipis yang selalu muncul ketika Valerie merasa malu terasa begitu familiar.
Selama ini Damian berusaha meyakinkan dirinya bahwa Valerie dan Selena adalah dua orang yang berbeda. Namun semakin lama menatap Valerie, semakin sulit baginya membedakan keduanya. Seolah-olah masa lalu perlahan kembali menghampirinya, hal itu membuat jantung Damian berdetak sedikit lebih cepat.
Sementara Valerie yang tidak menyadari apa pun hanya tersenyum canggung.
“Apa kakimu masih sakit?” tanyanya pelan.
Damian tersadar dari lamunannya.
“Tidak.”
“Kamu harus banyak makan, atau minum suplemen.”
“Tubuhmu sangat kecil dan ringan.”
Valerie tampak cemberut.
“Ayahku pendek, begitu juga ibuku.”
“Sangat wajar kalau postur tubuhku kecil.”
“Jika aku tinggi dan semok, Ayah akan melakukan tes DNA kepadaku.”
Damian tidak melepaskan pandangannya.
“Syukurlah, aku tidak menikahi anak haram yang disembunyikan.”
Valerie benar-benar tidak bisa menahan kekesalannya.
Damian tersenyum puas melihat Valerie kesal.
Musik perlahan mencapai bagian akhirnya, pasangan-pasangan mulai berhenti menari.
Valerie mengangkat wajahnya untuk mengucapkan terima kasih, namun saat Damian menatap wajah Valerie yang begitu dekat. Tanpa sadar, tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya.
Dan dalam sepersekian detik, Damian mengecup bibir Valerie.
Valerie membelalakkan matanya, tubuhnya membeku.
Damian sendiri tersentak, seolah baru menyadari apa yang baru saja dilakukannya.