Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ras Terkuat Di Lantai 32
Jika ada tiga hal yang paling dihindari oleh seluruh karyawan PT Mahardika Megah, jawabannya adalah: lembur di hari Jumat, lift macet, dan Arkananta Mahardika.
Poin ketiga adalah yang paling mematikan. Arkananta atau yang biasa dipanggil Pak Arkan—adalah CEO muda yang ketampanannya setara dengan dewa Yunani, namun sayangnya, efisiensi kerjanya setara dengan robot pembunuh, dan toleransinya terhadap kesalahan sedekat jarak antara kelopak mata saat berkedip. Singkatnya, dia adalah predator puncak di ekosistem korporat ini.
Dan di sinilah Kinanti Amalia berada. Duduk di kubikelnya yang berjarak hanya lima meter dari pintu kaca buram ruangan sang CEO, sementara jam dinding digital sudah menunjukkan pukul 20.45 malam. Di luar, hujan deras khas bulan November mengguyur Jakarta dengan brutal, menciptakan simfoni ketukan air yang berisik di jendela kaca besar lantai 32.
"Kinanti."
Suara interkom berbunyi, dingin dan datar, langsung menusuk gendang telinga Kinanti. Gadis itu tersentak, refleks menegakkan punggungnya yang sudah pegal akut.
"Iya, Pak?" jawab Kinanti, berusaha menyembunyikan nada mengantuk dari suaranya.
"Laporan analisis pasar untuk proyek re-branding di Surabaya. Bawa ke ruangan saya. Sekarang."
Klik.
Sambungan diputus sepihak tanpa menunggu jawaban. Kinanti mengembuskan napas panjang, meniup poni poninya yang mulai lepek. Ia melirik tumpukan kertas di sebelah laptopnya. Dengan pasrah, ia merapikan map jepit berwarna biru tua tersebut, bercermin sekilas di layar ponselnya untuk memastikan lingkaran hitam di bawah matanya tidak membuatnya terlihat seperti zombi, lalu berdiri.
Gadis itu mengetuk pintu kayu mahoni tebal di hadapannya sebanyak tiga kali.
"Masuk."
Kinanti mendorong pintu. Aroma kopi arabika mahal dan parfum maskulin beraroma wood langsung menyergap indra penciumannya. Di balik meja kerja marmer yang luas, Arkan duduk dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku. Dasi hitamnya sudah sedikit dilonggarkan, namun auranya tetap mengintimidasi. Mata elangnya langsung mengunci pergerakan Kinanti.
"Ini laporan yang Bapak minta," kata Kinanti sopan, meletakkan map tersebut di atas meja.
Arkan tidak menjawab. Jemari panjangnya yang mengenakan jam tangan mewah langsung membuka map tersebut. Ruangan itu seketika hening, hanya menyisakan suara lembar kertas yang dibalik dan gemuruh guntur di luar gedung yang samar-samar terdengar.
Setiap detik terasa seperti satu jam bagi Kinanti. Ia memperhatikan dahi Arkan yang perlahan berkerut. Itu pertanda buruk. Sangat buruk.
"Kinanti," panggil Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.
"Ya, Pak?"
"Kamu tahu apa perbedaan antara rencana bisnis dan daftar belanjaan ibu rumah tangga?" tanya Arkan, suaranya teredam tapi tajam. Ia mendongak, menatap Kinanti dengan tatapan yang bisa membekukan air hangat. "Rencana bisnis butuh otak untuk menyusunnya. Sedangkan di halaman empat belas ini, saya hanya melihat spekulasi tanpa data makro yang jelas. Kamu mengerjakannya sambil tidur?"
Kinanti menggigit bagian dalam pipinya. Jantungnya berdegup kencang antara kesal dan takut. Ya Tuhan, saya lembur tiga hari berturut-turut untuk ini! teriaknya dalam hati. Namun secara profesional, yang keluar dari mulutnya adalah, "Maaf, Pak. Di bagian itu, tim riset memang belum memberikan data terbaru karena—"
DUMMM!!!
Belum sempat Kinanti menyelesaikan kalimatnya, sebuah dentuman petir yang luar biasa keras menggelegar tepat di luar jendela. Suaranya begitu dahsyat hingga kaca jendela bergetar hebat. Bersamaan dengan itu, seluruh lampu di lantai 32 mati total.
Gelap gulita.
"Astaga!" Kinanti terpekik, refleks mundur satu langkah. Jantungnya hampir copot.
"Pak Arkan? Bapak tidak apa-apa?" tanya Kinanti panik. Ia meraba-raba sakunya, mencari ponsel untuk menyalakan senter.
Namun, sebelum jemarinya berhasil meraih ponsel, suasana aneh terjadi. Di tengah kegelapan, Kinanti mendengar suara desisan yang aneh dari arah kursi CEO. Itu bukan suara manusia. Itu terdengar seperti... suara kain yang bergesekan dengan kasar, disusul suara hantaman sesuatu yang empuk ke atas lantai.
Meong.
Kinanti membeku. Senter ponselnya akhirnya menyala, memotong kegelapan ruangan mewah tersebut. Ia mengarahkan cahaya lampu ke kursi kerja Arkan.
Kursi itu kosong.
"Pak Arkan?" Pikirannya langsung melayang ke hal-hal aneh. Apakah bosnya diculik alien saat lampu mati? Atau melompat keluar jendela karena stres melihat laporannya?
Senter Kinanti bergerak turun ke lantai. Di sana, di atas karpet wol pembawaan dari Persia, terdapat pemandangan yang membuat otak Kinanti mengalami system crash alias eror total.
Setelan jas hitam mahal milik Arkan tergeletak mengempis di lantai, lengkap dengan kemeja putih dan celana kainnya, seolah-olah sang pemilik baru saja menguap ke udara. Namun, di bagian kerah kemeja yang longgar, sesuatu yang berbulu bergerak-gerak dengan gelisah.
Sebuah kepala berbulu oranye cerah muncul dari balik kerah. Dua telinga segitiga tegak berdiri, dan sepasang mata bulat besar berwarna hijau zamrud menatap langsung ke arah senter Kinanti.
Itu adalah seekor kucing oranye. Gembul, berbulu tebal, dengan corak garis-garis yang sangat simetris.
"M-meong?" Kinanti mengerjap-erkerjap. "Kucing? Kok bisa ada kucing di lantai 32?"
Kucing oranye itu tampak sangat terganggu dengan cahaya senter. Ia mengibaskan ekornya yang tebal dengan gusar, lalu berjalan keluar dari tumpukan baju mahal tersebut dengan langkah yang... anehnya sangat berwibawa. Ia melompat ke atas kursi kerja marmer, menduduki bantal kursi, lalu menatap Kinanti dengan pandangan yang... tunggu dulu.
Kinanti memicingkan mata. Tatapan kucing itu tidak seperti kucing biasa yang minta makan. Mata hijau zamrud itu menatapnya dengan tajam, dingin, penuh penghinaan, dan... sangat familiar.
Itu tatapan mata Pak Arkan.
Meong! MEEONGG! Kucing itu mengeong dengan nada tinggi dan galak, seolah-olah sedang memaki Kinanti dalam bahasa felines. Ia mengangkat satu cakar depannya, menunjuk ke arah laptop yang mati, lalu menunjuk ke arah Kinanti.
"Pak... Arkan?" bisik Kinanti, suaranya bergetar. "Ini... benar-benar Bapak?"
Kucing oranye itu mengembuskan napas berat dari hidung kecilnya yang merah muda—sebuah gestur yang persis sama dengan yang dilakukan Arkan jika sedang menghadapi karyawan bodoh. Kucing itu kemudian melangkah maju di atas meja, meraih sebuah pulpen montblanc mahal dengan mulutnya, dan dengan susah payah menyeretnya di atas kertas laporan Kinanti, meninggalkan goresan cakar berbentuk huruf 'X' besar.
Setelah itu, si kucing duduk tegak, melipat kedua kaki depannya di dada (atau setidaknya mencoba melakukannya dengan tubuh gembulnya), dan menatap Kinanti dengan angkuh.
Kinanti memegangi kepalanya yang mendadak pening luar biasa. Oksigen di otaknya seolah menolak untuk memproses kenyataan ini.
Bosnya yang kejam, dingin, pembenci kesalahan, dan beraset miliaran rupiah... baru saja berubah menjadi ras terkuat di bumi: seekor kucing oranye.
DUMM!
Guntur kembali berbunyi di luar, dan lampu ruangan tiba-tiba menyala kembali.
Kinanti berharap pemandangan di depannya akan berubah kembali menjadi pria tampan berjas. Namun kenyataannya tetap sama. Di atas meja marmer, seekor kucing oranye gembul sedang menatapnya sambil menjilati telapak kakinya dengan ekspresi paling sombong yang pernah ada di dunia.
"Demi apa..." Kinanti bergumam pelan, lututnya terasa lemas. "Saya pasti sudah gila karena kebanyakan lembur."
Kucing itu berhenti menjilat kakinya, menatap Kinanti, lalu mengeong sekali lagi dengan sangat otoriter, seolah mengatakan: Jangan cuma melamun, carikan saya makanan sekarang, Babu!
Hari Jumat malam itu, hidup Kinanti Amalia resmi berubah dari drama korporat menjadi komedi fantasi yang tidak masuk akal.