Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Kemarahan Arjuna
Arjuna melangkah masuk ke kelas 12 IPA 2 dengan wajah yang sudah gelap mendung. Begitu melihat kedatangannya, Gibran langsung menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan rekaman video yang diambil Jordi.
Detik demi detik ia tonton, rahangnya perlahan mengeras hingga terlihat urat-urat lehernya menonjol. Tangannya mengepal erat hingga kuku jarinya memutih.
“ANJING… EMANG BANGSAT TUH CEWEK !” umpatnya dengan suara gemetar menahan amarah. Tanpa menunggu lama, ia langsung berbalik dan berlari keluar kelas mencari keberadaan Salsabila.
Gibran tak menyangka kemarahan Arjuna bisa sebesar ini. Ia segera berlari mengejar, diikuti Bowo yang masih tampak bingung namun tetap mengikutinya. -kenapa bisa semarah itu? bukanya hal biasa kalo Salsabila bertindak saat ada cewek lain yang ngedeketin bos gue , dan biasanya pun bos gue cuma masa bodoh. Tapi kenapa sekarang beda? jangan-jangan bos gue udah tobat jadi playboy?- batin Bowo penuh tanda tanya.
Arjuna menyusuri lorong sekolah ke sana kemari, namun belum juga menemukan keberadaan Salsabila. Para siswa yang berpapasan dengannya menunduk ketakutan, ngeri melihat raut wajah Arjuna yang dingin dan memancarkan amarah yang belum tersalurkan. Pencariannya berakhir di kantin...di sana, terlihat Salsabila beserta dua temannya sedang duduk santai sambil tertawa riang, menikmati sisa waktu istirahat yang tinggal sebentar lagi.
Tanpa menunda lagi, Arjuna melangkah cepat menghampiri mereka. Salsabila yang melihat kedatangannya justru bersorak girang, sama sekali tak menyadari bahaya besar yang sedang mengancamnya.
“Eh guys, lihat deh Arjuna datang ke sini. Pasti dia udah bosen sama cewek cupu itu kan?” bisiknya girang sambil buru-buru merapikan rambutnya. Ita dan Gita pun ikut tersenyum senang karena mereka melihat juga kedatangan Gibran dan Bowo yang tepat berada di belakang Arjuna.
Namun senyum itu seketika membeku saat Arjuna berhenti tepat di depan meja mereka. Tanpa belas kasihan, tangannya terulur dan mencengkeram pipi Salsabila dengan sangat kuat hingga gadis itu meringis kesakitan.
“Lu udah berani nyakitin cewek gue. Dan lu pasti tahu betul apa akibatnya kalau berurusan sama gue,” desisnya tajam, matanya menatap lurus ke manik mata Salsabila seolah ingin membakarnya hidup-hidup. Cengkeramannya makin dipererat hingga air mata Salsabila mulai menetes.
Suasana kantin seketika hening. Semua siswa yang ada di sana menahan napas ketakutan. Mereka memang sudah tahu ketua Geng Petir ini kejam dan ditakuti, tapi baru kali ini mereka melihat kemarahan sebesar itu di sekolah.
Meski kesakitan, Salsabila tetap berusaha pura-pura tidak tahu. “Ma-maksud kamu apa?”
Arjuna melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga kepala Salsabila terhempas ke samping.
“GAUSAH SOK NGGA TAHU, BITCH! Lu yang ngurung Laila di gudang tua itu! Dan gara-gara ulah lu yang gila itu, dia nekat lompat dari jendela sampai terluka parah!” bentaknya menggelegar seisi ruangan.
Alih-alih merasa bersalah, Salsabila justru terkekeh puas. “Oh jadi cewek cupu itu terluka? Baguslah, memang pantas dia begitu!”
Kalimat itu menjadi batas kesabaran terakhir Arjuna. Tanpa aba-aba, tangannya bergerak cepat..
PLAK! PLAK!
Dua tamparan keras mendarat bergantian di kedua pipi Salsabila. Kekuatannya begitu besar hingga bibir gadis itu robek dan mengeluarkan darah, sementara tubuhnya terlempar jatuh ke lantai keramik kantin.
Kejadian itu membuat semua orang terbelalak tak percaya. Gibran dan Bowo segera maju menahan bahu Arjuna agar tidak berbuat lebih jauh lagi.
“Jun, udah… dia cewek. jangan sampai gara-gara ini lu berurusan sama bokap lu. udah mending kita cabut aja,” bujuk Gibran pelan namun tegas. Bowo pun ikut menarik perlahan tubuh Arjuna yang masih gemetar karena amarah.
Sebelum benar-benar pergi, Arjuna berhenti dan menatap tajam ke arah seluruh siswa yang masih terpaku diam.
“DENGER BAIK-BAIK SEMUA! SIAPA PUN YANG BERANI GANGGU LAILA… SAMA AJA KALIAN BERURUSAN LANGSUNG SAMA GUE!” suaranya menggelegar, tegas sekaligus penuh ancaman.
“Dan lu…” ia menunjuk tajam ke arah Salsabila. “Ini baru sekadar peringatan. Kalau sampai lu berani berulah lagi… tamat riwayat lu di tangan gue.” ancamnya dengan nada dingin yang menusuk tulang.
Setelah menyampaikan itu, ia langsung berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan kantin yang masih hening seketika.
Ita dan Gita segera menghampiri Salsabila yang masih tergeletak di lantai sambil menangis menahan sakit dan malu.
“Sal… lu nggak apa-apa?” tanya Gita canggung.
Salsabila mendongak, menahan tangisnya lalu berteriak histeris. “AAAA… SEMUA INI GARA-GARA CEWEK SIALAN ITU!” Dadanya naik turun menahan emosi yang meluap-luap. Ia menatap punggung Arjuna yang menjauh dengan tatapan penuh dendam. “Gue bakal balas dendam apa yang gue rasain sekarang, tunggu aja cewek cupu!” gerutunya pelan namun penuh dendam.