NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Riuh GOR Yang Tak Sama Lagi

“KU YAKIN… HARI INI… PASTI MENANG!!!”

Tabuhan drum bertalu-talu, mengiringi penggalan lagu ‘Garuda di Dadaku’ milik band Netral yang memang sudah sangat umum dijadikan nyanyian pemicu semangat oleh hampir semua kelompok suporter di negara ini. Yel-yel yang terdengar berapi-api tersebut dinyanyikan kompak oleh ratusan siswa di tribun seberang. Kibaran bendera besar bersimbol sekolah mereka memotong udara GOR yang panas dan penuh uap keringat. Terlihat pula beberapa spanduk bertuliskan dukungan untuk sekolah yang dibentangkan oleh sekelompok siswi yang berkumpul di tribun tengah.

Sorak-sorai penonton terus menggema dan memantul di langit-langit tinggi gedung olahraga kampus, saat Doni dan Marcella mulai masuk dan menerobos kerumunan penonton mencoba mencari tempat duduk mereka yang sudah dipesan sebelumnya. Suara peluit wasit yang nyaring, decit karet sepatu yang bergesekan dengan lantai lapangan, dan tabuhan drum dari tim suporter menciptakan atmosfer yang begitu bising dan panas.

Gemuruh itu begitu riuh, sama persis seperti atmosfer yang Doni rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di gedung ini beberapa hari lalu. Namun bagi Doni, riuh GOR sore ini terasa sangat berbeda. Kebisingan di sekitarnya tidak lagi membawa rasa kagum, melainkan berubah menjadi dengungan konstan yang membuat kepalanya berdenyut nyeri. Dia merasa seolah seluruh suara di sekitarnya meredup, bagaikan hanya sekedar bisikan-bisikan kecil yang masuk ke telinganya. Kulit lehernya terasa dingin, dialiri keringat yang terus menetes meski pendingin ruangan GOR berfungsi dengan baik.

"Yes! Masuk lagi! Keren banget kan, Don? Kamu lihat, nggak? Tadi Oliv nge-shoot three point lagi! Jago banget emang adik aku!", Marcella berseru heboh di sampingnya. Gadis itu melompat kecil di kursinya, bertepuk tangan dengan wajah yang memerah karena antusias. Dia mengenakan kaus kasual berwarna hitam yang senada dengan warna jersey tim sekolah Olivia untuk mendukung mereka. Sesekali, Marcella merangkul lengan Doni dengan manja, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu pria itu tanpa beban.

"I-iya, Cell. Jago banget", jawab Doni setengah hati sambil memaksakan sebuah senyuman tipis yang terasa kaku di bibirnya.

Sejak mereka menginjakkan kaki di GOR satu jam yang lalu, fokus Doni sama sekali bukan pada bola basket di lapangan. Matanya terus bergerak liar, menyisir barisan penonton di tribun seberang, tribun atas, tribun bawah, sampai ke barisan mahasiswa yang duduk di dekat pagar pembatas. Kepalanya dipenuhi pikiran paranoid. Setiap kali melihat ada mahasiswa yang memegang ponsel sambil menatap ke arahnya, atau melihat ada mahasiswa yang sedang minum dari sebuah tumbler, jantung Doni langsung berdegup kencang.

“Apakah salah satu dari ratusan orang di sini adalahMatcha_Latte? Apakah dia sedang memperhatikanku sekarang?”, gumam Doni dalam hati sambil terus menyapu barisan penonton dengan ‘mata elang’-nya.

"Don? Kamu kok melamun terus dari tadi? Kamu nggak enak badan? Muka kamu agak pucet juga", tanya Marcella lembut, membuyarkan kepanikan batin Doni. Tangan Marcella bergerak. Dia mencoba menempelkan punggung tangannya menyentuh dahi Doni, matanya memancarkan rasa khawatir yang tulus.

"Ah, nggak kok, Cell. Cuman agak gerah aja karena rame banget", bohong Doni lagi sambil mengusap tengkuknya yang mulai berkeringat. Rasa bersalah kembali mengimpit dadanya. Marcella begitu perhatian, begitu menyayanginya, sementara dia duduk di sini dengan sebuah rahasia besar di dalam tas ranselnya yang dia simpan rapi di kamar kosnya, sengaja tidak dia bawa.

Tak berapa lama, peluit panjang akhirnya berbunyi nyaring di tengah lapangan. Kuarter keempat resmi berakhir. Skor di papan digital mengunci kemenangan tipis untuk tim basket putri dari sekolah Olivia yang resmi lolos ke babak final turnamen antar-sekolah tahun ini. Penonton bersorak riuh.

Di bawah sana, Doni bisa melihat Olivia tengah dikerumuni oleh teman-teman setimnya. Rambutnya yang dikuncir kuda tampak basah oleh keringat, wajahnya lelah namun memancarkan aura kemenangan yang sangat memikat. Saat Olivia mendongak ke arah tribun barat dan melambaikan tangan, matanya secara tidak sengaja berpapasan langsung dengan mata Doni. Doni buru-buru mengalihkan pandangannya. Namun terlambat, ada desiran aneh yang kembali menyengat dadanya. Debaran terlarang yang sama seperti sore itu.

"Horeee… menang! Keren banget Oliv!" Marcella berseru riang. Tanpa diduga, dia langsung menarik pergelangan tangan Doni, memaksa pria itu berdiri dari kursinya. "Ayo, Don! Kita turun ke pinggir lapangan sekarang!"

"Eh, kamu mau turun? Mau ngapain?" Doni tertegun, langkah kakinya tertahan. Sebisa mungkin Doni menahan tubuhnya agar tidak beranjak dari tempat duduknya. Namun, tarikan tangan Marcella terlalu kuat untuk ditahan lengannya. Doni juga berpikir kalau tidak ada alasan yang bisa dia buat untuk menolak ajakan Marcella.

"Iya, kita ucapin selamat ke Olivia langsung sebelum dia masuk ke ruang ganti. Sekalian kita nyapa bentar. Kayaknya dia ga lihat kita, deh. Dia emang gitu. Kalau lagi main, apalagi dalam pertandingan gini, suka terlalu fokus. Kayaknya itu sih yang bikin dia sering menang”, ocehan panjang Marcella membuat Doni hanya bisa pasrah mendengarnya, dan mau tidak mau melemaskan lengannya agar bisa leluasa ditarik oleh Marcella.

“Oh, iya. Gimana kalau nanti kita ajak dia makan malam bareng bertiga? Ya… perayaan kecil-kecilan aja sih buat ngerayain kemenangannya. Aku yang traktir deh", ajak Marcella penuh semangat.

“Apa? Makan malam bareng? Bertiga?” Jantung Doni serasa tersambar petir. Sebuah ajakan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Doni. Kata 'makan malam bareng' terdengar seperti vonis hukuman mati baginya. Berada di satu meja dengan Marcella dan Olivia sekaligus adalah skenario terburuk yang ingin dia hindari. Namun, cengkeraman tangan Marcella begitu erat dan penuh semangat, menyeretnya membelah kerumunan penonton yang mulai bergerak turun dari tribun.

Langkah kaki Doni terasa semakin berat saat diseret oleh Marcella. Doni merasa bagaikan tawanan penjara yang kakinya dirantai oleh bola besi. Waktu terasa berjalan lambat sampai pada akhirnya mereka tiba di area bench pemain. Aroma keringat, balsem otot, dan uap panas tubuh para atlet langsung menyengat indra penciumannya.

"Oliv!" Panggil Marcella dengan nada riang yang melengking.

Olivia, yang saat itu sedang meneguk air mineral dari botol plastik, seketika menoleh. Senyum lebarnya langsung merekah begitu melihat kakak perempuannya datang. "Kak Cella!"

Namun, tepat saat Olivia melangkahkan kakinya mendekat, tatapan matanya bergeser ke arah pria yang berdiri pasrah di belakang kakaknya. Langkah kaki Olivia mendadak melambat. Senyum di wajahnya mengendur, menyisakan tatapan mata yang sulit diartikan.

Kini, Olivia sudah berdiri tepat dua langkah di depan mereka berdua. Napasnya masih memburu, menyisakan bulir-bulir keringat di pelipisnya. Dia menatap Marcella, lalu perlahan mengalihkan sepasang mata cokelatnya yang tajam langsung ke mata Doni, bersiap membuka suara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!