Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 - Tetangga yang Tidak Diundang
Nadira masih berdiri mematung di depan rumah kontrakannya.
Di hadapannya, Arga menggaruk tengkuk sambil tersenyum canggung, seolah semesta baru saja melontarkan lelucon yang bahkan ia sendiri tidak minta.
"Jangan lihat aku kayak gitu," katanya pelan. "Aku juga baru tahu."
Nadira mengembuskan napas panjang.
"Semoga cuma kebetulan."
"Ya memang kebetulan."
"Kebetulan yang buruk."
Arga terkekeh.
"Oke, itu aku setuju."
Tanpa menunggu jawaban, Nadira mengangkat kardusnya dan berjalan masuk. Ia bahkan sengaja menutup pagar sedikit lebih keras dari biasanya.
**Brak!**
Arga hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.
"Galaknya konsisten."
---
Rumah kontrakan itu masih dipenuhi kardus.
Ruang tamunya hanya berisi sofa kecil dan meja lipat. Beberapa pigura masih bersandar di dinding karena belum sempat dipasang.
Nadira meletakkan kardus terakhir di dapur.
Belum lima menit ia menarik napas lega...
**Ting tong.**
Bel rumah berbunyi.
"Aduh..."
Ia melirik jam.
Hampir pukul tujuh malam.
Siapa pula?
Begitu pintu dibuka, ia langsung menyesal.
Arga berdiri di depan pagar sambil membawa sebuah kotak makan.
"Apa lagi?"
"Bukan apa-apa."
"Lalu?"
"Aku mau minta maaf yang benar."
Nadira mengangkat sebelah alis.
"Ini?"
"Mama masak kebanyakan."
"Kebetulan sekali."
"Beneran."
"Terlalu kebetulan."
Arga menghela napas.
"Oke, jujur."
Nadira menyilangkan tangan.
"Aku memang sengaja minta Mama nambah masak."
"Kenapa?"
"Karena aku merasa bersalah."
Hening.
Nadira memperhatikan wajah pria itu beberapa saat.
Tidak ada senyum jahil.
Tidak ada nada bercanda.
Tatapannya justru terlihat tulus.
Namun...
"Terima kasih."
Arga tersenyum.
"...tapi tidak usah."
Senyumnya langsung memudar.
"Nggak diterima?"
"Aku nggak biasa menerima makanan dari orang asing."
"Padahal kita tetangga."
"Justru itu."
"Logikanya di mana?"
"Di kepalaku."
Arga terkekeh pelan.
"Oke. Susah juga ya."
Nadira hendak menutup pintu ketika suara seorang perempuan memanggil dari luar.
"Arga!"
Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah sebelah sambil membawa celemek.
Wajahnya ramah.
"Oh... kamu tetangga baru?"
Nadira langsung memasang senyum sopan.
"Iya, Tante."
"Astaga, dari kemarin Tante mau mampir, tapi belum sempat."
Perempuan itu mendekat.
"Nama kamu siapa?"
"Nadira."
"Bagus sekali namanya."
Beliau melirik Arga.
"Kamu apain tetangga sampai mukanya jutek begitu?"
Arga langsung mengangkat kedua tangan.
"Demi apa pun, Ma, aku udah minta maaf."
"Minta maaf kenapa?"
"Sedikit insiden."
Nadira spontan menyahut.
"Kopi."
"Oh..."
Mama Arga langsung memukul pelan lengan anaknya.
"Kamu numpahin kopi lagi?"
"Lagi?"
"Iya."
Beliau menatap Nadira sambil tersenyum pasrah.
"Dia memang ceroboh dari kecil."
Arga mendesah.
"Ma..."
"Dulu waktu SD saja dia pernah—"
"Ma, jangan."
"—numpahin kuah bakso ke kepala gurunya."
Nadira refleks menoleh.
"...Serius?"
Mama Arga mengangguk mantap.
"Serius."
Arga menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Itu kecelakaan."
"Yang kayak gitu kok bisa sering?"
Tanpa sadar, sudut bibir Nadira sedikit terangkat.
Hanya sedikit.
Namun cukup membuat Arga membelalak.
"Loh."
"Apa?"
"Kamu bisa senyum juga."
Senyum itu langsung hilang.
"Nggak jadi."
Mama Arga tertawa kecil melihat tingkah mereka.
---
Keesokan paginya...
Nadira keluar rumah lebih awal.
Hari ini ia tidak mau mengambil risiko bertemu Arga.
Ia membuka pagar perlahan.
Sepi.
Bagus.
Motor dinyalakan.
Baru saja hendak berangkat...
"Selamat pagi."
Suara itu muncul dari belakang.
Nadira memejamkan mata.
Perlahan ia menoleh.
Arga sedang menyiram tanaman di halaman rumah sambil mengenakan kaus hitam dan celana training.
"Kamu sengaja nungguin?"
"Nggak."
"Lalu?"
"Aku tiap pagi memang nyiram bunga."
"Bunganya banyak?"
"Enggak."
"Lalu kenapa lama?"
Arga tersenyum.
"Soalnya tadi aku lihat kamu ngintip dari balik gorden."
Pipi Nadira memanas.
"Aku nggak ngintip."
"Oke."
"Aku cuma memastikan jalan kosong."
"Oke."
"Jangan senyum begitu."
"Aku senyum bagaimana?"
"Menyebalkan."
Arga tertawa.
Suara tawanya ringan, tidak dibuat-buat.
Anehnya, tawa itu tidak terdengar mengganggu.
Justru... cukup hangat.
Nadira buru-buru mengenakan helm.
"Permisi."
"Semangat kerja."
Ia melajukan motor tanpa menjawab.
Di kaca spion, Arga masih berdiri sambil melambaikan tangan.
"Cerewet."
Gumam itu keluar begitu saja.
Namun entah kenapa, sepanjang perjalanan menuju kantor, sudut bibir Nadira beberapa kali nyaris terangkat mengingat ekspresi Arga saat dimarahi ibunya semalam.
Ia segera menggeleng.
"Jangan aneh-aneh, Nadira."
Pria itu tetap menyebalkan.
Tetap ceroboh.
Dan tetap menjadi alasan presentasi pentingnya berantakan.
Tidak ada alasan untuk memikirkan hal lain.
Setidaknya... itu yang berusaha ia yakini.
---
Sesampainya di kantor, Nadira baru duduk beberapa menit ketika Pak Dimas keluar dari ruangannya.
"Nadira."
"Iya, Pak?"
"Mulai minggu depan ada proyek baru."
"Baik, Pak."
"Kliennya besar."
Nadira mengangguk.
"Saya ingin kamu menjadi project leader."
Matanya berbinar.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak."
"Tapi ada satu hal."
Perasaan Nadira tiba-tiba tidak enak.
"Karena proyeknya lintas divisi, kamu akan didampingi satu orang dari tim strategi."
"Siapa, Pak?"
Pak Dimas membuka map di tangannya.
"Dia baru dipindahkan ke divisi kita."
Jantung Nadira berdetak sedikit lebih cepat.
"Namanya..."
Tok.
Tok.
Tok.
Seseorang mengetuk pintu ruangan.
"Permisi."
Suara yang sangat dikenalnya.
Pak Dimas tersenyum.
"Nah, kebetulan dia sudah datang."
Nadira menoleh perlahan.
Dan benar saja.
Arga berdiri di ambang pintu dengan senyum yang sama seperti kemarin.
"Selamat pagi."
Tatapan mereka bertemu.
Arga tampak sama terkejutnya.
"...Serius?"
Pak Dimas mengernyit.
"Kalian sudah saling kenal?"
Nadira menarik napas panjang.
"Oh, sangat kenal."
Arga menelan ludah.
"Kayaknya... proyek ini bakal panjang."
**Bersambung...**