NovelToon NovelToon
365 Day

365 Day

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Murni
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Kau tidak punya pilihan lain selain menikah dengan ku Embun."ucap Alfaro.

Sementara gadis yang kini tengah menundukkan kepalanya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Hanya karena satu peristiwa yang terjadi di malam kelahirannya gadis itu harus terjebak bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

"Babe apa cinta ku permainan, apa selama ini aku tidak pernah serius mencintai mu hmm...? Jika saja tidak ada halangan dan rintangan aku pun tak ingin kita berpisah. Aku sangat menderita babe tapi mungkin kamu tidak akan pernah percaya dengan itu. Aku harus berpura-pura menerima wanita lain yang jelas-jelas tidak pernah aku cintai. Dan aku harus melepaskan cinta satu-satunya dalam hidup ku."ucap Alfaro panjang lebar.

"Semua itu sudah tidak ada gunanya untuk diungkapkan Al, sekarang yang terpenting adalah putra kita, aku tidak ingin mereka berakhir seperti kita berdua."ucap Embun.

"Babe aku bisa menjamin bahwa mereka tidak akan pernah bernasib sama dengan kita, tapi nasib itu bisa diubah jika kamu bisa memaafkan ku dan kita bisa kembali bersama."ucap Alfaro.

"Aku minta maaf Al, aku tidak bisa."ucap Embun yang membuat Alfaro terdiam.

"Baiklah babe mungkin kamu butuh waktu untuk memikirkan semua itu, tapi aku harap kamu bisa berfikir jernih."ucap Alfaro yang meninggalkan Embun yang kini terduduk di lantai dengan air mata yang bercucuran.

Embun cinta pada Alfaro, tapi dia tidak bisa menggantungkan harapan pada cinta yang telah lama berakhir.

Tangis wanita dewasa itu pun pecah bagaimana tidak semua selama ini Embun sudah berusaha untuk terus menekan perasaan cintanya yang tidak pernah tersampaikan.

Alfaro pun berada di posisi yang sama saat ini, dia termenung di balkon kamar sebelah sambil bercucuran air mata.

Dia tidak pernah ingin semua ini terjadi, bahkan dua puluh tahun lamanya menahan rasa sakit karena tidak pernah bisa bersama dengan wanita yang sangat cintai, dan kini setelah sekian lama ia menunggu waktu dimana dia bisa bersama dengan anak dan istri nya. Embun justru menolak kehadiran nya.

"Aku tau itu sangat menyakiti hati mu babe, aku pun bisa menyalahkan mu untuk apa yang terjadi saat ini, karena sejak awal akulah yang berbuat kesalahan dan kau pantas untuk menghukum ku."ucap Alfaro.

Alfaro pun mencoba untuk memberikan waktu kepada Embun dan anak-anak meskipun saat ini dia sendiri tidak yakin bahwa semua akan kembali seperti semula.

Dan sejak hari itu mereka tetap tinggal bersama meskipun mereka tidak saling bertegur sapa kecuali saat kumpul bersama dengan anak-anaknya.

Alfaro pun sering memberikan perhatian terhadap Embun mulai dari hal terkecil meskipun Embun tetap akan bersikap dingin padanya.

Alfaro tidak pernah menyerah seperti hari ini Alfaro membantu Embun menjemur pakaian karena pelayan rumah sedang berlibur.

Embun yang merasa tidak enak hati pun hendak meraih lingerie yang dipegang oleh Alfaro dan ditatap nya seolah tengah mengingat sesuatu yang permah ada.

"Al lepas biar aku saja."ucap Embun yang membuat Alfaro langsung menatap lekat wajah cantik itu tanpa mau melepaskan genggaman tangannya dari lingerie tersebut.

"Babe.."ucap Alfaro lirih.

"Lepas Al."ucap Embun, tapi Alfaro tetap menggenggam nya.

"Babe..."Alfaro masih ragu untuk meneruskan kata-katanya hingga Embun melepaskan lingerie tersebut dan membiarkan Alfaro yang menjemur pakaian haram tersebut yang semalam ia kenakan.

Hingga Embun selesai menjemur pakaian seluruh anggota keluarga nya, dia tidak melirik kearah Alfaro kini masih menatap kearah nya.

Embun terus berjalan menuju lantai bawah dimana ruang cuci berada, Alfaro pun lanjut mengikuti nya.

Hingga mereka tiba di ruangan tersebut Alfaro langsung merapihkan ruangan yang sedikit berantakan tersebut meskipun dia tidak terlalu pandai untuk hal itu. karena seorang tuan muda yang tidak pernah mengerjakan tugas rumah tidak mungkin benar-benar bisa mengerjakan semua itu.

"Al jangan memaksakan diri dengan itu, aku bisa sendiri dan lebih baik kamu segera bersiap untuk bekerja."ucap Embun.

"Bagaimana aku bisa bekerja dengan tenang jika istriku tidak ada yang membantu untuk bersih-bersih rumah."ucap Alfaro.

Embun pun hanya menghela nafas pelan, dia tidak tau harus bagaimana menghadapi pria yang sampai saat ini masih berharap pernikahan mereka kembali seperti dulu, ya meskipun dulu pun tidak semulus pernikahan orang lain pada umumnya tapi setidaknya dulu mereka pernah saling berbagi suka dan duka meskipun waktunya cukup singkat.

"Al"lirih Embun.

"Babe.... tidak bisakah sekali saja kita kembali seperti dulu lagi?"tanya Alfaro.

Embun pun kembali menghela nafas."Setidaknya selesaikan masalah mu dengan nya setelah itu kita bicara lagi."ucap Embun.

"Baiklah babe tunggu disini aku akan mengambil bukti bahwa aku sudah resmi berpisah dengan nya."ucap Alfaro antusias.

Sementara Embun masih diam di tempat nya dan menatap kepergian Alfaro. Wanita itu tidak habis pikir kenapa pria itu begitu memaksa untuk bersatu kembali dengan nya meskipun Embun sudah menolaknya habis-habisan dan berkata bahwa Embun bersedia kembali tinggal bersama demi anak-anaknya yang kini terlihat lebih dekat dengan Alfaro.

Embun tidak ingin mengecewakan anak-anak nya. Meskipun jujur ia tidak kuat dihadapkan pada masalalunya yang telah membuat dia terluka.

Semua begitu sulit, tapi Embun tidak bisa mengutarakan perasaannya pada kedua anak nya itu.

Alfaro pun kembali dengan bukti perceraian yang ia berikan pada Embun yang kini dibawa oleh nya.

Embun seakan tak percaya dengan itu hingga dia mematung di tempatnya. Dia tidak hanya melihat surat cerai, tapi buku nikah baru miliknya dengan Alfaro yang entah kapan pria itu buat.

Bahkan ada perjanjian rujuk yang tidak pernah Embun tandatangani tapi semua itu terpampang jelas.

"Al apa ini?"tanya Embun.

"Itu akte pernikahan babe kamu bisa baca bukan."ucap Alfaro.

"Ya aku tau itu, tapi aku tidak pernah menyetujui hal ini. Tapi bagaimana bisa semua ini bisa kamu dapatkan"ucap Embun.

"Mungkin kamu tidak pernah menyetujui hal itu tapi anak-anak yang buat persetujuan itu."ucap Alfaro.

"Al ini bukan masalah tentang kamu dan anak-anak, tapi ini tentang kita... Kapan kamu ambil tandatangan ku?"ucap Embun.

"Babe... aku tidak perlu susah-susah payah untuk mendapatkan tandatangan mu karena semua ada di handphone mu."ucap Alfaro.

"Itu pencurian data Al, ini tidak sah."ucap Embun.

"Itu sudah sah sayang karena disana juga ada tanda tangan saksi yaitu kedua putra kita."ucap Alfaro.

Alfaro pun langsung membeberkan bukti-bukti yang ada, dia kembali menikahi Embun tanpa kehadirannya.

Sampai saat semua itu Embun konfirmasi pada kedua anak nya. Saat itu Embun tau bahwa perkataan Alfaro memang benar adanya.

Sekarang semua sudah terlanjur terjadi, dan Embun tidak bisa menolak keinginan putra-putrinya itu.

"Maafkan aku babe, aku tidak pernah ingin kehilangan mu."ucap Alfaro.

...🪵🪵🪵...

Dua tahun sudah berlalu sejak hari dimana Embun benar-benar rujuk dengan Alfaro yang kini sering membawa istrinya berkeliling dunia, sementara kedua anak mereka sibuk dengan urusan pekerjaan.

Dan kini Dilara tengah mengalami masalah yang cukup serius, saat dia hendak pergi ke perusahaan mobilnya dihadang oleh beberapa mobil sedan hitam yang kini menghimpit mobil nya.

Seseorang turun dari dalam mobil tersebut dengan membawa senjata api, Dilara yang kini berada dalam ketakutan dia berusaha untuk bisa tenang dan sesekali menghela nafas kemudian dia membuka pintu karena orang berbadan tinggi besar itu mengetuk pintu mobil itu dengan kasar.

"Anda siapa? dan ada perlu apa?"tanya Dilara yang kini terus berusaha untuk bersikap tenang.

"Ikut saya."ucap pria itu.

"Tidak saya sedang terburu-buru untuk meeting penting."balas Dilara.

"Anda tidak bisa menolak atau mobil anda saya bakar sekarang juga bersama anda didalamnya!"ujar pria yang kini meninggikan suaranya.

"Tapi katakan apa mau mu kenapa kau bersikap seenaknya seperti itu?"ujar Dilara.

"Jangan banyak bertanya sekarang cepat ikut atau kau akan menyesal."ucap pria itu hingga dia menarik tangan Dilara dengan kasar.

"Ahh... sakit, bisa lepas tidak."ucap Dilara.

Pria itu hanya mendelik tajam kearah Dilara yang kini ia tarik tangannya.

Sampai saat Dilara tiba di samping mobil paling depan dan seseorang keluar dari mobil tersebut, mata Dilara pun melotot tajam kearah pria yang tidak lain adalah saudara tirinya itu.

"Kau?"belum sempat Dilara berucap untuk yang kedua kalinya matanya sudah ditutup dan tiba-tiba saja dia tidak sadarkan.

"Bawa dia ke tempat yang sudah dipastikan."ucap Alvino.

Sampai saat tubuh Dilara hendak dimasukkan kedalam mobil, sebuah tembakan beruntun menerjang mereka dari beberapa mobil lainnya yang telah melimpahkan orang-orang yang ada di dalam mobil tersebut kecuali Alvino yang memang sudah pergi lebih dulu.

Seseorang turun dan membawa Dilara pergi entah kemana? Yang jelas saat Dilara tersadar dari pingsan dia sudah berada di atas ranjang di sebuah kamar yang luas dan sangat sepi, entah siapa pemilik kamar tersebut.

Sampai kamar itu berubah menjadi gelap Dilara pun mulai berteriak karena takut dengan kegelapan."Siapa saja tolong aku!!"teriak Dilara.

Dilara tidak berhenti berteriak sampai saat seseorang datang membuka pintu kamar tersebut, saat suara bariton itu terdengar memenuhi telinga gadis cantik itu.

"Apa kau ingin urat leher mu putus?"ucap nya terdengar dingin dan datar, lampu ruangan pun menyala dan tampak lah seorang pria dengan kimono tidurnya menghampiri Dilara untuk memastikan bahwa wanita yang sudah terlelap seharian penuh di atas ranjang empuk nya itu baik-baik saja.

"Siapa anda dan kenapa saya bisa disini?!"teriak dilara.

"Kau bisa tanyakan itu nanti sekarang lebih baik kau temani aku makan."ucap pria asing itu.

"Ini jam berapa dimana barang-barang ku, aku harus menghubungi keluarga ku mereka pasti mencari keberadaan ku."ucap Dilara.

Pria itu hanya memberikan lirikan mata penuh ketegasan yang mengisyaratkan bahwa ia tidak suka diborong oleh pertanyaan.

"Apa kau tidak lelah atau kau ingin aku merobek bibir mu."ucap nya yang begitu mengejutkan dan Dilara langsung membulatkan matanya merasa kaget sekaligus takut saat pria tampan itu berbicara kasar padanya.

Sampai saat tangan dilara ditarik dengan cepat oleh pria tampan itu, dan dia tidak bisa menolak karena pergelangan tangannya terasa sangat sakit.

Dengan langkah terburu-buru Dilara masih tidak bisa mengimbangi langkah pria itu.

Sampai saat mereka tiba di ruang makan Dilara pun dipersilahkan duduk di tempat yang disediakan oleh pria yang kini menarik kursi untuk nya.

"Berikan dia makan yang banyak aku tidak suka wanita bertubuh kerempeng seperti dia."ucap nya.

Pria tampan gagah rupawan itu tidak setampan kata-katanya yang membuat siapapun akan menutup mata.

Bagaimana bisa ada pria menyebalkan seperti itu di dunia ini.

Dilara pun hanya bisa diam tanpa kata dan mengikuti keinginan pria itu untuk makan meskipun tidak sebanyak yang dia katakan karena porsi makan nya tidak sebesar itu.

"Pantas saja tubuh mu kurus, kau makan hanya beberapa sendok dalam satu hari."ucap nya lagi.

Dilara hanya bisa diam, dia tidak bisa terus seperti itu, tapi dia juga tidak akan pernah bisa menang saat berdebat dengan pria itu.

Dilara tidak tau kenapa nasibnya seperti ini, diculik oleh saudara tiri, dan di jual pada orang lain.

Dia juga tidak bisa menghubungi Damian karena semua alat komunikasi nya hilang termasuk jam tangan yang ia kenakan yang biasa dia gunakan untuk memberikan tanda-tanda dirinya dalam bahaya.

Hari ini adalah hari yang seharusnya tidak bisa ia lewatkan mengingat Dilara harus menggantikan sang daddy di rapat pemegang saham.

"Tuan boleh saya pulang keluarga saya menunggu saya di rumah."ucap Dilara.

"Silahkan saja jika kamu bisa keluar dari dalam Pulau ini tanpa bantuan"ucap nya yang bahkan tak melirik sedikit pun pada Dilara yang kini langsung bergegas melihat keluar dan ternyata itu adalah benar adanya mereka berada di tengah-tengah pulau dengan ombak menjulang tinggi silih berganti dan posisi rumah tersebut berada di atas batu karang seakan seperti mercusuar.

Dilara yang kini tengah berdiri di balkon kamarnya itu, sampai saat pria itu datang lagi untuk bertanya."Bagaimana sudah siap."ucap pria yang kini ada di belakang Dilara.

"Tu tuan tolong katakan pada ku apa maksud dan tujuan nya melakukan hal ini, saya punya keluarga di rumah sedang menunggu kepulangan saya."ucap Dilara.

"Bukankah sudah aku bilang bahwa kamu bisa pulang kapan saja jika kamu bisa keluar dari tengah kepulauan ini."ucap pria yang kini membingkai wajah Dilara dengan kedua tangannya tapi sayang tatapan mata itu begitu tajam.

"Apa mau mu tuan, uang kekuasaan aku bisa berikan semua itu tapi aku mohon tolong lepaskan aku."ucap Dilara yang kini mulai menangis karena putus asa.

"Kau pikir aku kekurangan semua itu hmm? sayangnya semua itu tidak berlaku disini."ucapnya.

"Hiks... hiks... jika seperti itu apa yang kau inginkan tuan aku mohon lepaskan aku."ucap Dilara yang kini melorot di lantai.

"Lahirkan anak untuk ku, setelah itu kau aku antar pulang dan kau bebas."ucap pria tampak yang terlihat sangat dingin itu.

"Tidak itu tidak mungkin aku masih belum cukup umur untuk menikah dan melahirkan aku masih sangat muda."ucap Dilara tegas.

"Kau tidak punya pilihan!

1
partini
berbakti pada orang tua tapi bikin orang lain sengsara hah ada gitu yah apa itu ga dosa ,busehhhhh gampang amat
ajaran dari mana itu ????????
Erny Su: Itulah ciri-ciri orang yang keliru.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!