NovelToon NovelToon
Benih Pengikat Kaisar

Benih Pengikat Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Balas Dendam / CEO / Cinta setelah menikah / One Night Stand / Percintaan Konglomerat
Popularitas:83.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Puji170

Satu tahun menikah, tapi Sekar (Eka) tak pernah disentuh suaminya, Adit. Hingga suatu malam, sebuah pesan mengundangnya ke hotel—dan di sanalah hidupnya berubah. Ia terjebak dalam permainan kejam Adit, tetapi justru terjatuh ke pelukan pria lain—Kaisar Harjuno, CEO dingin yang mengira dirinya hanya wanita bayaran.

Saat kebenaran terungkap, Eka tak tinggal diam. Dendamnya membara, dan ia tahu satu cara untuk membalas, menikahi lelaki yang bahkan tak percaya pada pernikahan.

"Benihmu sudah tertanam di rahamiku. Jadi kamu hanya punya dua pilihan—terima atau hadapi akibatnya."

Antara kebencian dan ketertarikan, siapa yang akhirnya akan menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Bola mata Eka membulat sempurna saat mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Kai.

“Hah, apa? Ngidam?” ulangnya, ekspresinya penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan.

Sekujur tubuhnya yang sempat menegang kini mulai mengendur. Awalnya, ia pikir Kai tahu sesuatu tentang rencana balas dendamnya. Jika benar, habislah dia. Lelaki itu bisa saja menangkapnya hidup-hidup dan menghabisinya tanpa ampun. Namun, kata-kata yang keluar dari mulut Kai justru membuatnya tidak bisa langsung mencerna maksudnya.

“Salah kamu hamil anakku, jadi sekarang aku yang ngidam. Aku ingin ketemu kalian berdua, jadi setelah malam ini kamu harus tinggal di sini.”

Nada suara Kai terdengar datar—terlalu datar. Seolah itu bukan sekadar keinginan, melainkan keputusan yang tak bisa diganggu gugat. Tak ada ruang untuk negosiasi.

Eka mengerjap. "Alasan konyol macam apa itu?" desisnya, separuh frustrasi, separuh tak percaya bahwa seorang Kaisar Harjuno bisa mengucapkan sesuatu sebodoh itu.

Tapi Kai tetap tak menunjukkan emosi. Ia hanya menyandarkan punggungnya ke sofa, tatapannya tajam namun malas-malasan.

"Kamu pikir aku bercanda?" Suaranya dingin, menusuk. "Kalau aku menginginkan sesuatu, aku akan mendapatkannya. Dan saat ini, aku ingin kamu di sini."

Jantung Eka mencelos. Bukan hanya karena kata-kata itu, tapi cara Kai mengatakannya. Begitu yakin. Begitu mutlak. Seakan dunia ini memang selalu bergerak mengikuti kehendaknya. Eka seharusnya tidak heran dengan sikap itu, tapi sebagai orang yang baru mengenal sosok seperti Kai, ia tetap tak percaya.

"Aku tidak bisa tinggal di sini," Eka berusaha mempertahankan keberaniannya, meskipun suaranya terdengar lebih lemah dari yang ia harapkan.

Kai menatapnya, menilai. Ia menarik napas pelan, lalu bersedekap.

"Bukan urusanku," jawabnya dingin. "Kamu yang membawa anakku, jadi kamu yang harus menyesuaikan diri. Bukan aku."

Eka menggigit bibir, otaknya berpacu mencari celah untuk keluar dari situasi ini. Tapi tatapan Kai seperti seorang raja yang bosan mendengar rakyatnya berdebat tentang sesuatu yang sudah diputuskan.

"Aku tidak suka dipaksa."

Kai menyeringai kecil—bukan senyuman hangat, melainkan senyuman berbahaya.

"Dan aku tidak suka ditolak."

Ruangan itu terasa lebih dingin. Jantung Eka berdebar kencang, sinyal bahaya menyelimuti pikirannya. Sial, ini bukan bagian dari rencananya.

Belum sempat ia menarik napas untuk mengumpulkan keberanian, tubuhnya tiba-tiba terangkat ke udara.

"Kai! Turunkan aku!" Eka meronta, memukul bahu lelaki itu, tapi Kai seolah tak terpengaruh.

Tanpa kesulitan, Kai membawanya ke arah kamar seperti membawa barang ringan.

Eka semakin berontak. Sayangnya, suara Kai yang tenang, tetapi mengandung ancaman yang tak bisa dianggap main-main, membuat darah Eka terasa membeku di nadinya.

"Diam, atau aku lempar kamu dari lantai dua ini."

Eka menatap Kai dengan tatapan tak percaya, dadanya naik turun karena amarah dan ketakutan yang bercampur jadi satu. Lelaki itu benar-benar gila. Mengancamnya seolah nyawanya bisa ia buang kapan saja. Namun, melihat tatapan dingin Kai, Eka tahu satu hal, ancaman itu bukan sekadar gertakan kosong.

Ia bisa merasakan tekanan di sekelilingnya, udara seakan menjadi lebih berat. Otot-ototnya menegang, tapi tubuhnya juga membeku, seolah otaknya masih mencerna fakta bahwa dirinya benar-benar tak berdaya dalam cengkeraman Kai.

Sial. Ini bukan rencananya. Seharusnya, dialah yang mengendalikan permainan ini.

Kai berjalan dengan langkah stabil, membawa Eka masuk ke kamar yang terasa terlalu luas dan mewah dibandingkan dengan tempat mana pun yang pernah ia tinggali sebelumnya. Tapi saat ini, kemewahan itu justru terasa seperti jeruji besi yang akan mengurungnya.

Setelah menutup pintu dengan satu tendangan ringan, Kai akhirnya menurunkannya di atas tempat tidur.

Eka segera bergeser ke ujung ranjang, napasnya memburu. "Kai, kamu tidak bisa memaksaku seperti ini!"

Kai hanya menatapnya, lalu duduk di kursi di dekat jendela, menyilangkan kakinya dengan ekspresi yang nyaris bosan.

"Aku bisa. Dan aku sudah melakukannya. Harusnya hal semacam ini sudah bisa kamu prediksi sebelumnya. Kamu yang ingin masuk dalam duniaku, kan?"

Nadanya begitu santai, seolah ini bukan masalah besar. Seolah dirinya baru saja memintanya untuk makan malam bersama, bukan menahannya di rumah dengan ancaman yang begitu jelas.

Eka mengepalkan tangannya. "Iya, tapi nyatanya kita belum sah menjadi suami istri."

Kai menatapnya, lalu mengangkat sebelah alis. "Aku nggak peduli."

Eka terkesiap, kesal dengan jawaban Kai yang terasa acuh tak acuh. Kini ia berpikir bagaimana nasibnya ke depan jika sudah menyandang status sebagai Nyonya Harjuno. Ah... karena dendamnya, kini ia justru terjebak dalam masalah lain. Apa ini yang dimaksud keluar dari kandang buaya masuk ke kandang singa? Seandainya waktu bisa ia putar kembali...

"Apa yang kamu pikirkan? Tidur," perintah Kai akhirnya, sebelum bangkit berdiri.

Eka tersentak dari pikirannya. Ia masih ingin menolak Kai. Entahlah, padahal ia yang memprovokasi duluan, tapi kini ia justru ingin sekali menghindari Kai dan hanya ingin mendapatkan status pernikahan saja.

"Dan kalau aku menolak?" tanya Eka akhirnya.

Kai menatapnya dengan santai, lalu berjalan ke pintu. "Kamu bisa tidak tidur semalaman kalau mau," katanya ringan. "Dan aku bisa menemanimu bermain di atas ranjang."

Seketika itu, Eka buru-buru menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Tak lama kemudian terdengar suara pintu tertutup membuat Eka sedikit bernapas lega.

***

Esok harinya, Eka terbangun dengan napas tersengal. Hatinya masih dipenuhi kegelisahan dari malam sebelumnya, dan tubuhnya terasa sedikit kaku karena tidur dalam posisi waspada. Matanya perlahan terbuka, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang mulai merayap masuk melalui celah gorden.

Namun, sesuatu terasa aneh. Hawa di sekitarnya terlalu tenang—terlalu dekat. Saat Eka menoleh ke samping, jantungnya langsung berhenti berdetak sesaat.

Kai ada di sana. Berbaring santai di sebelahnya, satu lengan tersampir di balik kepala, sementara matanya terpejam seolah sedang menikmati tidur yang nyenyak. Nafasnya stabil, dada bidangnya naik turun dengan ritme yang tenang, tetapi keberadaannya begitu mendominasi ruangan.

Eka tersentak mundur dengan gerakan spontan. Selimut yang tadi membungkusnya terhempas begitu saja saat ia berusaha menciptakan jarak secepat mungkin.

“A—Apa yang kamu lakukan di sini?!” suaranya melengking, nyaris bergetar. Semalam ia cukup yakin jika Kai pergi dari kamar, tapi kenapa sekarang justru tidur di sampingnya?

Kai mengerjap perlahan sebelum akhirnya membuka mata. Mata hitamnya yang tajam bertemu langsung dengan tatapan terkejut Eka. Alih-alih kaget atau merasa bersalah, lelaki itu justru tampak malas-malasan, seolah baru saja terganggu dari tidurnya.

"Kamar ini milikku, ranjang ini milikku. Harusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan di sini?" jawabnya datar, suaranya serak khas orang yang baru bangun tidur.

Eka menganga, tak percaya dengan betapa santainya lelaki itu. "Aku—Aku tidur di sini karena kamu memaksaku tadi malam!"

Kai mendesah pelan, lalu duduk perlahan, meregangkan tubuhnya tanpa sedikit pun kehilangan aura dominannya. "Dan sekarang kamu terbangun di sampingku. Seharusnya kamu lebih berhati-hati saat tidur," gumamnya, matanya menelusuri wajah Eka dengan sorot samar.

Eka tersentak. "Apa maksudmu?"

Kai menyeringai kecil, ekspresinya begitu tenang tapi berbahaya. "Kamu yang bergeser ke sisiku semalam. Bukan aku yang mendekat."

Wajah Eka langsung memanas. "Bohong!"

Kai hanya mengangkat bahu. "Percaya atau tidak, terserah. Tapi kalau kamu masih ingin melanjutkan sandiwara ini, silakan. Aku bisa saja pura-pura lupa bahwa kamu sempat menyentuhku duluan."

Eka terbelalak, kepalanya terasa mendidih. "Aku tidak mungkin—"

Tanpa peringatan, Kai mencondongkan tubuhnya, membuat jarak di antara mereka semakin sempit. Suara napasnya terdengar begitu dekat di telinga Eka, membuat bulu kuduknya meremang.

"Aku bisa buktikan," bisiknya pelan.

Detik itu juga, Eka meloncat turun dari ranjang dan menghambur ke sudut ruangan, memelototi lelaki itu seakan ia adalah ancaman terbesar dalam hidupnya.

Kai terkekeh rendah, ekspresi puasnya membuat darah Eka semakin berdesir.

"Sialan..." gumam Eka, setengah mengutuk dirinya sendiri karena entah bagaimana, ia benar-benar tertidur lelap di sisi Kaisar Harjuno.

1
Ismi Kawai
hem, aku mesem2
Hayurapuji: gemes ya
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
Nur Adam
ljuut
Queen kayla
jgn" ..adiknya yg di jdkan pengganti nadin
Ismi Kawai: bisa jadi nih
total 1 replies
Ismi Kawai
tapi trrnyata adit sayang jg ya sama nadin. hmmm
Hayurapuji: sayang dia cinta pertama kan
total 1 replies
Ismi Kawai
emang drama queen ya keluarga adit itu.
Suparmin N
Luar biasa
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Hikmal Cici
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
putrie_07
hemm😏😏😏😏
putrie_07
Eka namany seperti mantan suamiku wkwkwkw
Muji Lestari
knp Kao bodoh yaa harusnya si Nadin di undang ke desa
Hayurapuji: nadin lagi berjuang kak
total 1 replies
elis farisna
Luar biasa
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Jeng Ining
hadeuh Eka.. kok ga nanyain sekalian stts pernikahan kalian kmren..masa iya kamu mesti nyamper ke rmhnya si Adit itu, rugi tenaga rugi waktu rugi ongkos atuh😖
Jeng Ining
jgn² pria ini jg baru lepas perjaka, kok kaga tau mana yg pertma kali ngelakuin mana yg udh biasa ngelakuin🙄🙄🙄
Hayurapuji: bisa jadi ini kak
total 1 replies
Ismi Kawai
makin seruuuuu
Nur Adam
lnjut
Ema Elyna
lema kepada org bodo yg xade ape ape nya tpi tegas kepada org yg berkuasa itu la eka sungu bodo skip
Su.izMila_s
bagus
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Ismi Kawai
jdi kangen pas akad nikah. 🤭
Ismi Kawai: hahah, mksdnya nikah lagi??
Hayurapuji: gas kak, biar kayak artis jaman sekarang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!