Julian begitu orang memanggilnya di sekolah dan Bos Ian menjadi nama panggillannya jika di luar sekolah. Manusia terburuk yang pernah Lyin kenal. Manusia yang punya hobby melayangkan tinjunya bagi siapapun yang dia anggap bersalah. Siapa sangka pertemuan singkat mereka menjadi awal benih cinta tumbuh di hatinya. Apakah Lyin akan lepas darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elfian Syera Nasution, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Bunga
Lyin cemas menunggu kabar dari Bunga, Jarum jam sebentar lagi akan menunjuk angka empat. Sebentar-sebentar Lyin memeriksa hpnya tanpa henti. Setelah menulis beberapa menit, jam, bahkan setelah selesai dari kamar mandi.
Lyin menggunakan ide briliannya dan merasa menemukan satu solusi terbaik, yaitu meminta Novia untuk meluangkan waktu mengajarinya.
Drek...
Pintu berderit saat Lyin membuka pintu kamar Novia, tapi Novia tidak ada ditempatnya. Lyin mengerutkan dahinya bingung harus bagaimana. Dia harus segera berlatih untuk ujian nanti.
Ting.
Hp Lyin berbunyi, Lyin segera berlari mengambil hpnya. Benar saja pesan dari Bunga baru saja masuk. Bukannya senang raut wajah Lyin terlihat kecewa sebab pesan itu.
" Lyin, aku sudah bilang pada Julian tentang pesanmu dan dia tidak bisa sebab kami ada acara sore ini, tapi tenang saja Juna akan mengajarimu sore ini jam 4 : 30, datang saja ke sekolah" tulis Bunga berbohong.
Lyin kecewa dengan Julian yang menolak permintaannya padahal dia sangat membutuhkan bantuan Julian saat ini.
" Kak Juna? aku malas bertemu dia, tapi apa boleh buat" ucap Lyin dalam hati.
Lyin bersiap-siap untuk latihan bersama Juna. Lyin memakai pakaian olahraganya yang berwarna pink serta sepatu senada. Sentuhan akhir dari persiapannya adalah mengingat rambutnya ke atas lalu pergi ke sekolah dengan botol minum di tangannya.
...****************...
Lyin sampai di sekolah, benar saja apa yang dikatakan Bunga, Juna sudah ada di lapangan dengan bola ditangannya, dia juga sudah menggunakan pakaian olahraga. Sejak Bunga memberi tahunya Lyin ingin diajari memukul bola voly, Juna menyerahkan semua tugasnya sebagai pemimpin rapat ke wakilnya. Lyin adalah hal utama untuknya sekarang.
Begitu Lyin mendekat ke lapangan, Juna langsung melempar bola ke arah Lyin. Bukannya memukul balik Lyin malah menangkapnya. Juna tersenyum menatap Lyin yang terlihat manis dengan pakaian yang dikenakannya.
" Maaf kak aku terlambat" ucap Lyin sambil menyerahkan bola pada Juna.
" Tidak masalah, aku juga baru sampai, gimana kalau kita mulai saja" tawar Juna yang sudah tidak sabar mengambil kesempatan berdua dengan Lyin.
Juna melempar bola ke Lyin yang berada di seberang net. Sekali Lyin masih tidak bisa. Juna melempar kembali sampai berpuluh kali bola tidak juga berhasil melewati net. Juna tetap tersenyum pada Lyin yang sudah terlihat begitu lelah.
Tidak terasa Waktu sudah lewat setengah jam, mereka melanjutkan latihan. Sekali dua kali Lyin berhasil memukul bola meski masih keluar lapangan.
Sementara itu Julian keluar dari ruang rapat. Pemandangan yang pertama kali dia lihat membuat suasana hatinya memanas sore itu. Bagaimana tidak dia merasa kecewa Lyin mengajak Juna bukan dirinya, apalagi dua orang itu terlihat senang berlatih bersama.
Bunga datang ke dekat Julian, menyadari rencananya berhasil Bunga tersenyum licik memandang Lyin. Bunga berhasil membuat Julian merasa diabaikan oleh Lyin dan Juna adalah orang yang disukai Lyin itulah rencana yang telah dia rencanakan.
" Kupikir kalian dekat, tapi Lyin malah mengajak Juna untuk mengajarinya padahal semua orang juga tahu kau lebih baik dari Juna dibanding itu" ucap Bunga memperkeruh suasana hati Julian.
Dika ikut bergabung diantara mereka. Dika menyadari apa yang terjadi setelah melihat Lyin dan Juna di lapangan. Dika meraih bahu Julian berharap marahnya sedikit berkurang. Julian menepis tangan Dika dan berlalu hendak ke lapangan.
Julian menangkis pukulan dari Juna begitu sampai di lapangan. Lyin terkejut melihat kehadiran Julian yang katanya ada rencana dengan Bunga sore ini. Julian mengisyaratkan agar menjauh dari lapangan. Lyin mengikuti kemauan Julian.
Julian menantang Juna bermain. Juna menerima dengan senang hati apalagi pertandingan ini akan disaksikan oleh orang yang mereka sukai.
Julian menangkis semua pukulan dari Juna tanpa terkecuali bahkan beberapa kali dia berhasil membuat pukulan smash. Hampir tiga puluh menit berlalu, orang-orang yang ikut menghadiri rapat bergabung menyaksikan pertandingan sengit itu.
Juna tidak diberi kesempatan satu kalipun untuk mencetak skor oleh Julian. Semua orang terbawa suasana, meneriaki nama Julian sebagai orang yang akan memenangkan pertandingan dadakan ini. Tentu saja Lyin takjub melihat kelihaian Julian di lapangan tidak sedetikpun matanya luput dari memandang Julian.
Hanya Olivia dan gengnya yang sibuk berteriak di kubu Juna yang wajahnya memerah akibat dipermalukan Julian apalagi di depan Lyin.
Bunga merasa kesal sebab rencananya melenceng dari tujuan awalnya. Dia hanya ingin Julian marah lalu pergi bukan seperti ini. Jujur saja Bunga semakin tidak ingin merelakan Julian begitu saja pada siapapun terutama Lyin.
Skor 25 : 0
Itulah akhir dari pertandingan Julian dengan Juna. Semua orang bertepuk tangan untuk Julian yang sekarang sedang berjalan mendekati Lyin dengan bola ditangannya. Lyin sedikit cemas dengan kedatangan Julian. Julian melempar bola ke tangan Lyin dan Lyin tidak berhasil menangkapnya.
" Kau akan berhasil menangkap bola itu kalau kau diajari orang yang tepat, bijaklah dalam memilih" sindir Julian sambil tersenyu miring menatap Lyin.
" Kau yang tidak maukan, kerana kau lebih memilih pergi bersama Bunga" ucap Lyin dalam hati. Raut wajahnya tampak kesal sekarang.
" Kenapa diam, kau kesal telah memilih orang yang salah" tambah Julian kali ini tatapannya beralih ke Juna.
" Bukannya kau keterlaluan, Kak Juna tidak seburuk itu, walaupun kau hebat jangan mengecilkan orang lain" ucap Lyin merasa Julian sudah begitu sombong dan melewati batasnya.
" Kau ingin bukti lagi. bagaimana dengan satu ronde lagi" jawabnya semakin kesal sebab Lyin membela Juna.
Semua mata menatap Lyin, menunggu jawaban dari Lyin yang sekarang hanya diam. Sebagian dari mereka ingin lagi melihat pertandingan yang jarang ini. Sebab meski ahli Julian tidak pernah lagi bermain dilapangan. Ini kali pertama setelah sekian lama.
" Tidak perlu, aku mengakui kehebatanmu" ucap Lyin datar.
" Sekarang kau bisa mengubah keputusanmu untuk berlatih dengan siapa" tantang Julian.
" Sayang sekali aku tidak akan mengubah keputusanku" Lyin kesal dengan Julian yang mempermalukan orang lain di depan umum. Dia juga ingin mengembalikan harga diri Juna yang diinjak-injak bukan karena apa tapi itulah karakternya memihak pada yang betul.
Julian menyeringai kesal menatap Lyin, dia tidak terima Lyin lebih memilih Juna dibanding dirinya. Juna yang menyadari Lyin lebih memilih dirinya merasa tertolong dan sedikit lega. Julian meraih tangan Lyin kuat dan menariknya ke dekatnya.
" Kau pasti salah memilih orang" ucap Julian berang.
" Aku memilih orang yang tepat" jawab Lyin sedikit takut melihat mata Julian yang menatap tajam.
Bunga semakin senang melihat apa yang terjadi. Keadaan seperti ini lebih baik menurutnya walau tidak sesuai rencana.
" Begini juga baik" ucapnya dalam hati sambil tersenyum licik.
Bersambung.....
Hai, hai, hai...
Seperti yang author katakan my bad boy up lagi nih. Semoga suka ya dengan episode kali ini.
Author sangat berterima kasih kepada semua pembaca jika diberi like, komentar, dan vote untuk menyemangati author.
Selamat membaca.
Salam hangat dari author.
di cerita
Ten Years Later
dan
lyric of love
saling dukung terus thor