Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan dari Liona
Tanpa berkata apa-apa, Sagara mengeluarkan dompet dari saku jasnya.
Ia menarik sebuah kartu hitam, lalu melemparkannya hingga jatuh di depan kaki Ainun.
Plak.
“Cukup?” tanyanya dingin.
Ainun menunduk menatap kartu itu beberapa saat.
Perlahan, ia mengangkat kembali wajahnya.
Sorot matanya dipenuhi rasa tidak percaya.
“Aku bukan wanita penggoda,” ucapnya lirih, tetapi tegas.
“Bukan?” Sagara terkekeh pelan. Senyum sinis terukir di sudut bibirnya. “Kalau begitu, pelukanmu dengan pria itu tadi apa artinya?”
Napas Ainun tertahan.
“Mas Sagara...” suaranya mulai bergetar. “Mas yang meninggalkan aku sendirian.”
Ia menunjuk ke arah sofa.
Tatapannya langsung terpaku pada tas selempang yang tergeletak di sana.
“Itu tasku.”
Ainun melangkah cepat mengambil tas tersebut, lalu memeluknya erat.
“Mas yang membawa tasku tanpa izin,” lanjutnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku nggak punya ponsel. Aku nggak bisa menghubungi siapa pun.”
Bibirnya bergetar mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
“Aku bahkan hampir dilecehkan sama tiga preman.”
Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.
“Kalau Pak Faizan nggak datang menolong...” suaranya tercekat. “Entah apa yang akan terjadi sama aku.”
Tanpa sadar, telapak tangannya berpindah memeluk perutnya sendiri.
“Aku hanya diantar pulang karena nggak punya cara lain.”
Tatapannya lurus menatap Sagara.
“Apa itu juga salahku?”
Keheningan menyelimuti ruang tamu.
Sagara menatapnya tanpa perubahan ekspresi.
“Itu karena kamu lemah,” ucapnya datar. “Kamu tidak bisa menjaga diri, Ainun.”
Ainun terdiam.
Kalimat itu terasa menghantam dadanya lebih keras daripada penghinaan sebelumnya.
‘Lemah...?’
Jemarinya perlahan mengepal di sisi tubuh.
Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tangisnya tidak kembali pecah.
‘Apa perempuan yang diserang di jalan memang pantas disalahkan hanya karena nggak mampu melawan?’
Ainun mengulas senyum tipis yang terasa begitu pahit.
“Kalau yang berada di posisiku itu Mbak Liona,” ucapnya lirih sambil menatap Sagara, “dan Mas Sagara nggak ada di sana, lalu ada pria lain yang menyelamatkannya... apa Mas juga akan mengatakan hal yang sama?”
Tatapan Sagara tetap dingin.
“Jangan samakan Liona dengan dirimu,” ujarnya datar. “Kamu tidak sebanding dengannya.”
Kalimat itu membuat dada Ainun kembali sesak.
Ia menundukkan kepala sejenak. Jemarinya perlahan mengepal hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan.
‘Sudah kuduga...’
Perlahan, Ainun mengembuskan napas panjang.
“Aku nggak mau bertengkar,” ucapnya pelan. “Aku tetap menghargai Mas Sagara karena Mas lebih tua dariku, sekaligus suamiku.”
Tak ingin memperpanjang perdebatan yang tak akan pernah menemukan jalan keluar, Ainun membungkukkan badan tipis.
“Permisi.”
Ia berbalik, lalu melangkah menuju kamarnya.
Namun, baru beberapa langkah... Pergelangan tangannya tiba-tiba dicengkeram dengan kuat.
“Akh...”
Tubuh Ainun tersentak ke belakang.
Belum sempat ia menyeimbangkan tubuhnya, Sagara sudah menariknya dengan paksa.
“Kamu harus dihukum, Ainun,” ucap pria itu dingin.
“Mas...”
Ainun berusaha melepaskan cengkeraman yang terasa menyakitkan itu.
“Lepaskan aku.”
Namun, Sagara tetap berjalan tanpa mengendurkan genggamannya.
Tubuh Ainun nyaris terseret mengikuti langkah panjang pria itu menuju tangga.
“Jangan, Mas Sagara,” pintanya dengan suara bergetar. “Aku mohon... jangan.”
Rasa perih mulai menjalar dari pergelangan tangannya. Ia mencoba menahan langkah, tetapi tenaganya kalah jauh.
“Mas... sakit....”
Air matanya kembali menggenang.
Sementara Sagara tetap melangkah tanpa menoleh sedikit pun.
Seolah tidak mendengar setiap permohonan yang keluar dari bibir Ainun.
Dengan tangan yang masih bebas, Ainun refleks memeluk perutnya, berusaha melindungi kehidupan kecil yang kini menjadi satu-satunya alasan ia harus tetap bertahan.
.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di depan kamar Sagara.
Belum sempat Ainun menenangkan napasnya, Sagara membuka pintu dengan kasar, lalu menyeretnya masuk.
Bruk.
Tubuh Ainun terjatuh di atas kasur.
Kasur itu berderit pelan menahan berat tubuhnya.
Ainun buru-buru menopang tubuhnya dengan kedua tangan. Napasnya masih memburu, sementara tatapannya dipenuhi kecemasan saat melihat Sagara berjalan mendekat.
Pria itu berhenti tepat di hadapannya.
“Kenapa?” tanyanya dingin. “Bukankah saya sudah membayar mu? Kamu tidak bisa menolaknya.”
Kalimat itu membuat dada Ainun semakin sesak.
‘Dia masih menganggap ku wanita seperti itu...’
Sagara kembali melangkah hingga jarak mereka nyaris tak bersisa.
Refleks, Ainun bergeser ke belakang.
“Mas...” suaranya bergetar. “Jangan.”
Namun, ruang geraknya semakin sempit.
Dengan panik, Ainun buru-buru membuka suara.
“Aku sedang halangan!”
Ruangan mendadak sunyi.
Sagara tidak langsung menjawab. Tatapannya menyapu wajah Ainun seolah sedang memastikan kebenaran ucapan itu.
Ainun menahan napas.
Beberapa detik terasa begitu panjang. Akhirnya, Sagara berdiri tegak dan menjauh darinya.
Beban di dada Ainun seketika terasa sedikit terangkat.
Ainun mengembuskan napas panjang tanpa disadarinya.
Brak!
Pintu kamar tertutup keras setelah Sagara keluar.
Ainun masih terdiam beberapa saat di atas kasur.
Dadanya naik turun, berusaha menenangkan detak jantung yang sejak tadi berpacu begitu cepat.
Perlahan, ia mengusap sudut matanya yang mulai basah. Lalu, dengan satu tangan yang refleks melindungi perutnya, ia bangkit dari kasur.
“Aku harus kuat,” bisiknya lirih.
Setelah memastikan dirinya cukup tenang, Ainun melangkah keluar dari kamar itu, meninggalkan kamar Sagara yang sejak tadi membuatnya dipenuhi ketakutan.
.
Perlahan, Ainun menuruni anak tangga satu per satu.
Langkahnya begitu hati-hati. Sesekali tangannya berpegangan pada pagar tangga, sementara tangan yang lain tanpa sadar menyentuh perutnya.
Setibanya di ruang tamu, pandangannya langsung tertuju pada tas selempang yang tadi diletakkan Sagara di atas sofa.
Ainun menghampiri, lalu meraih tas itu dan memeluknya sebentar.
Setelah memastikan tidak ada seorang pun di ruang tamu, ia segera melangkah menuju kamarnya.
. . .
Begitu masuk ke kamar yang sempit itu, Ainun mengunci pintu dari dalam.
Ia meletakkan tas di atas kasur, lalu membuka ritsleting nya.
Ponselnya segera diambil.
Layar ponsel langsung menyala, menampilkan belasan panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari nomor yang tidak disimpannya.
Kening Ainun sedikit berkerut.
“Siapa, ya?”
Dengan rasa penasaran, ia membuka salah satu pesan itu.
{Ainun, minggu ini aku akan kembali. Kamu bersiap pergi.}
Napas Ainun tertahan.
Ia segera membuka pesan berikutnya.
{Oh ya, untuk kompensasi, kamu bisa tentukan lebih dulu.}
Jemarinya mulai bergetar.
Pesan terakhir segera dibukanya.
{Ainun, aku juga sudah memesankan tiket untukmu. Kamu pergi sejauh mungkin.}
Mata Ainun membulat.
“Mbak Liona...”
Perlahan, senyum yang selama ini jarang menghiasi wajahnya mulai merekah.
“Mbak Liona akan kembali.” Matanya mulai berbinar. “Artinya... aku bebas.”
Air mata kembali menggenang, tetapi kali ini bukan karena kesedihan.
“Aku nggak perlu hidup dalam tekanan lagi.”
Tatapannya berkeliling menatap kamar sempit yang selama ini menjadi tempatnya bertahan.
Jemarinya mengusap perlahan dinding yang mulai kusam.
“Sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini.”
‘Dan memulai hidup baru bersama anakku.’
Ainun mengembuskan napas panjang.
“Kalau begitu, aku harus bersiap.”
Ia segera berjalan menuju lemari tua yang berdiri di sudut kamar.
Pintu lemari dibukanya pelan.
Dari bagian bawah, Ainun mengeluarkan sebuah koper yang sudah lama tidak dipakai.
Koper itu diletakkannya di atas lantai, lalu dibuka perlahan.
Tanpa menunda lagi, ia mulai melipat pakaian-pakaiannya. Satu per satu pakaian yang menjadi miliknya dimasukkan ke dalam koper dengan rapi.
.
Di tempat yang sama namun di sebuah ruangan yang berbeda.
Sagara masih duduk di sofa dengan tubuh bersandar. Tatapannya tertuju pada layar monitor yang menampilkan rekaman dari kamera pengawas.
Di layar itu, Ainun terlihat sibuk membuka lemari tua di kamarnya.
Satu per satu pakaian wanita itu dilipat, lalu dimasukkan ke dalam koper.
Kening Sagara perlahan mengernyit.
“Apa yang sedang dia lakukan?” gumamnya pelan.
Tatapannya tak beralih sedikit pun dari layar.
“Kenapa dia memasukkan semua bajunya ke dalam koper?”
Rasa heran perlahan menyelinap di benaknya.
Jemarinya meraih salah satu ponsel yang tergeletak di atas meja.
Layar menyala.
Tak lama, matanya menangkap beberapa notifikasi baru dari nomor yang selama ini diam-diam dipantaunya.
Sagara membuka salah satu pesan itu.
Nama pengirim yang muncul membuat sorot matanya berubah.
Liona.
“Ternyata sudah kembali....”
Ia membaca beberapa pesan yang dikirim kepada Ainun hingga rahangnya mengeras.
“Jadi, itu alasan Ainun berkemas?”
Tanpa membuang waktu, Sagara mengambil ponsel lainnya. Jemarinya bergerak cepat memilih satu nama.
Liam.
Beberapa detik kemudian, sambungan telepon tersambung.
“Pak...”
Suara Liam terdengar dari seberang.
“Saya ingin tahu,” ujar Sagara datar, “apa yang terjadi di sana hingga Liona memutuskan pulang.”
“Baik, Pak,” sahut Liam tanpa banyak bertanya. “Besok saya akan mencari semua informasinya.”
Sagara tidak memberikan tanggapan. Ia langsung mengakhiri panggilan itu.
Ponsel diletakkannya kembali di atas meja.
Tubuhnya bersandar pada sofa, sementara tatapannya kembali tertuju pada layar monitor yang masih menampilkan Ainun yang sibuk mengemasi barang-barangnya.
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪