Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Gerbang Besi dan Darah yang Dipanggil Pulang
Lin Tian melangkah keluar dari Gedung Darah, meninggalkan keheningan mencekam di belakangnya. Jalanan berlumpur Kota Qilin Hitam kini terasa berbeda. Para preman dan pembunuh bayaran yang tadi berkeliaran dengan arogan kini menghilang ke dalam bayangan, mengintip dari balik gang sempit dengan tatapan takut dan penuh perhitungan.
Kabar tentang pemenggalan Zhao Yan menyebar lebih cepat daripada wabah pes. Di kota tanpa hukum ini, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Dan Lin Tian baru saja membuktikan bahwa ia adalah hukum yang paling kejam.
Namun, kebebasan itu tidak bertahan lama.
Saat Lin Tian mendekati gerbang utara kota—jalan keluar terdekat menuju rute ibu kota—ia menemukan jalan setapak itu telah diblokir. Ratusan kultivator berjubah hitam bermotif gerhana berdiri berbaris rapi, membentuk dinding manusia yang menutupi seluruh lebar jalan. Obor-obor merah mereka menyala serentak, menerangi malam dengan cahaya berwarna darah.
Di depan formasi itu, berdiri seorang pria tua bertubuh kurus dengan jubah merah tua yang disulam benang emas. Matanya tertutup oleh kain perban hitam, namun aura yang memancar dari tubuhnya jauh lebih menekan daripada Zhao Yan atau Jin Wuya. Ini adalah kultivator di puncak ranah Pondasi Awal, selangkah lagi menuju Inti Emas.
"Namaku Mo Shan, Tetua Agung Perkumpulan Dagang Gerhana," ucap pria tua itu, suaranya terdengar seperti gesekan tulang kering. "Kau telah membunuh salah satu pelanggan tetap kami di atas panggung lelang, merampok barang dagangan kami, dan mempermalukan nama Perkumpulan di depan seluruh dunia bawah tanah."
Mo Shan mengangkat tangan kurusnya, dan ratusan kultivator di belakangnya serentak menghunus senjata. "Serahkan Sumur Darah Yin, token besi, dan cincin spasialmu. Maka aku akan memberimu kematian yang utuh."
Lin Tian berhenti berjalan, jaraknya sekitar dua puluh langkah dari barisan musuh. Ia menatap Mo Shan dengan tatapan yang sama datarnya saat ia menatap batu di pinggir jalan.
"Kalian menghalangi jalanku," ucap Lin Tian pelan.
"Anak sombong!" Mo Shan menghentakkan tongkat kayunya ke tanah. Formasi besar yang telah disiapkan oleh ratusan anak buahnya langsung aktif. Cahaya merah menyala dari kaki setiap kultivator, terhubung menjadi satu jaringan qi raksasa yang menekan ke arah Lin Tian. Ini adalah Formasi Seratus Hantu Pemakan Darah, formasi pembunuh tingkat tinggi yang mengandalkan qi kolektif untuk melumpuhkan dan mengeringkan musuh.
Gelombang tekanan merah menerjang Lin Tian, mencoba memaksa qi di dalam tubuhnya berhenti mengalir dan menarik darahnya keluar melalui pori-pori.
Lin Tian tidak melawan tekanan itu. Ia justru membuka meridiannya lebar-lebar, membiarkan formasi tersebut terhubung dengan lautan qi di dantiannya.
"Makan," bisiknya.
Segel Dewa Penelan Langit berputar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Alih-alih dikeringkan oleh formasi, Lin Tian justru mulai menyedot qi kolektif dari ratusan kultivator yang terhubung melalui jaringan merah tersebut.
Efeknya instan dan mengerikan.
Para kultivator di barisan depan langsung menjerit, merasakan qi mereka tersedot paksa keluar dari tubuh melalui kaki mereka yang terhubung ke formasi. Mereka mencoba memutus koneksi, namun daya hisap Lin Tian terlalu kuat. Kulit mereka mengering, rambut mereka memutih, dan dalam hitungan detik, puluhan kultivator Pengumpulan Qi berubah menjadi mayat-mayat kering yang ambruk ke tanah.
Panik menyebar seperti api di antara barisan Perkumpulan Dagang Gerhana. Mereka mencoba mundur, namun kaki mereka seolah terpaku ke tanah oleh tarikan formasi mereka sendiri yang kini berbalik arah.
Mo Shan merasakan bahaya yang mematikan. Dengan satu gerakan cepat, ia memotong koneksi formasi menggunakan tongkatnya, mengorbankan lima puluh anak buahnya yang sudah terhubung ke jaringan untuk memutus daya hisap. Mayat-mayat kering itu berjatuhan seperti daun gugur.
"Kau... kau praktisi jalan iblis!" Mo Shan mundur tiga langkah, wajah tuanya kini pucat pasi. Kain perban di matanya berkibar, menampakkan sepasang mata yang ternyata sudah tidak ada—hanya dua lubang kosong yang memancarkan cahaya merah redup.
"Jalan iblis?" Lin Tian tertawa pelan, suara yang terdengar lebih mengerikan daripada raungan binatang buas. "Aku hanya memakan apa yang kalian sajikan."
Ia mengangkat pedang hijaunya. Qi hitam keemasan membanjiri bilah korosif tersebut, membentuk perpanjangan bilah sepanjang tiga meter yang berwujud seperti taring naga hitam.
"Formasi Penembus Langit!" Lin Tian mengayunkan pedangnya dalam satu tebasan horizontal. Bilah qi raksasa itu melesat membelah udara, membawa tekanan yang meretakkan batu jalanan dan menghancurkan obor-obor di kedua sisi jalan.
Mo Shan mengangkat tongkatnya, mengaktifkan seluruh pertahanan qi-nya. Namun, bilah hitam keemasan itu menembus perisai qi-nya seolah itu hanyalah kertas tipis, memotong tongkat kayunya menjadi dua, dan menggores dada Mo Shan dari bahu kiri ke pinggang kanan.
Darah segar menyembur. Mo Shan terhuyung mundur, matanya yang kosong menatap dada-nya yang terbelah dengan tatapan tidak percaya. "Kekuatan... ini... bukan Pengumpulan Qi..."
Ia ambruk ke tanah, napasnya terhenti sebelum tubuhnya menyentuh debu.
Melihat Tetua Agung mereka tewas dalam satu tebasan, sisa kultivator Perkumpulan Dagang Gerhana langsung membuang senjata mereka dan berlarian ke segala arah, menghilang ke dalam gang-gang gelap kota seperti tikus yang ketakutan. Tidak ada yang berani menatap Lin Tian lagi.
Lin Tian menyarungkan pedangnya dan melangkah melewati mayat Mo Shan tanpa menoleh. Gerbang utara kota kini terbuka lebar, tidak ada satu pun penjaga yang berani menghalanginya.
Di luar kota, hutan malam membentang luas di bawah cahaya bulan yang tertutup awan. Lin Tian menemukan sebuah gua kecil di kaki tebing dan duduk bersila untuk beristirahat.
Ia mengeluarkan peti giok putih dari cincin spasialnya. Sumur Darah Yin. Cairan merah pekat di dalam wadah batu miniatur itu berputar pelan, memancarkan gelombang kesedihan yang menusuk jiwa.
Lin Tian menatap cairan itu dalam diam. Di dalamnya, ia bisa merasakan sisa-sisa jiwa leluhurnya yang terjebak dalam kutukan. Darah mereka yang seharusnya mengalir bebas, kini dipaksa menjadi alat untuk memperkuat musuh.
"Kalian tidak akan menjadi pupuk untuk iblis lagi," bisik Lin Tian.
Ia membuka penutup wadah batu itu dan menangkupkan kedua tangannya di atas permukaan cairan merah. Segel Dewa Penelan Langit berputar pelan, kali ini bukan untuk menelan, melainkan untuk memurnikan.
Cairan merah itu mulai mendidih, memancarkan uap berwarna hitam yang merupakan esensi kutukan dari ritual Istana Langit Hitam. Lin Tian menyaring kutukan tersebut, membiarkan Segel Dewa Penelan Langit mencerna energi gelapnya, sementara darah murni Keluarga Lin yang tersisa mengalir masuk ke dalam tubuhnya melalui telapak tangannya.
Rasa hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menyebar ke seluruh tubuh. Bukan kekuatan yang meledak-ledak seperti saat menyerap darah naga purba, melainkan kehangatan yang lembut dan dalam, seperti pelukan keluarga yang telah lama hilang.
Di dalam dantiannya, lautan qi hitam keemasan mulai berubah. Urat-urat emas di dalamnya kini bercampur dengan warna merah samar—warna darah Keluarga Lin yang akhirnya kembali ke pemiliknya yang sah.
Lin Tian menutup matanya, membiarkan proses pemurnian ini berlangsung hingga fajar. Ketika ia membuka matanya kembali, cahaya pertama matahari menyentuh wajahnya, dan untuk pertama kalinya sejak pembantaian di Kota Qingshui, ia merasakan sesuatu yang hampir menyerupai kedamaian.
Darah leluhurnya telah pulang. Dan kini, dengan kekuatan yang lebih lengkap, ia siap menghadapi perjalanan terpanjang dalam hidupnya—menuju Ibu Kota Kekaisaran, ke jantung kegelapan yang bersembunyi di bawah Kuil Leluhur, di mana Tetua Xue Tu menunggu dengan ambisi gilanya.
Lin Tian bangkit, menyimpan Sumur Darah Yin yang kini telah kosong dan berubah menjadi batu giok putih biasa. Ia menatap ke arah selatan, ke arah cakrawala yang mulai memerah oleh cahaya pagi.
"Ibu Kota," gumamnya. "Aku datang."