NovelToon NovelToon
Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:742
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.

Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.

Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

 

Bab 18: Tuduhan Kembali Muncul

Ketenangan yang sempat menyelimuti rumah kecil mereka perlahan terganggu oleh bisikan-bisikan halus yang mulai terdengar di sudut-sudut kota. Awalnya hanya berupa gumaman samar yang lewat di telinga, namun lama-kelamaan bisikan itu tumbuh menjadi cerita yang kian meluas dan menyakitkan hati.

Suatu sore, saat Dika sedang pergi sebentar membeli keperluan obat untuk Raina, tetangga sebelah rumah datang berkunjung dengan wajah yang tampak canggung dan penuh rasa iba. Wanita itu duduk di tepi tempat tidur Raina dengan ragu-ragu, matanya sesekali melirik perut Raina yang mulai sedikit menonjol.

"Raina..." panggilnya pelan dengan suara berhati-hati. "Kau harus hati-hati ya... Banyak orang di luar sana yang berbicara sembarangan tentangmu."

Raina yang sedang memegang buku langsung menurunkan benda itu perlahan. Hatinya mencelos tak enak.

"Mereka bicara apa?" tanyanya pelan dengan suara bergetar.

Tetangga itu menghela napas panjang. "Mereka bilang... anak yang kau kandung ini bukanlah anak Dika. Mereka bilang kau hamil sebelum menikah dengan Dika, atau bahkan anak itu adalah anak dari mantan suamimu. Mereka menuduh Dika hanya menjadi korban dan menanggung malu karena membela wanita sepertimu."

Dunia seolah runtuh seketika di telinga Raina. Wajahnya seketika pucat pasi, tangannya mencengkeram seprai dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit yang tajam menusuk jantungnya, jauh lebih perih daripada rasa sakit fisik yang pernah ia rasakan.

"Mengapa... mengapa mereka bisa bicara begitu?" bisik Raina dengan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Anak ini adalah darah daging Dika. Aku tidak pernah menyentuh pria lain selain suamiku."

Tetangga itu hanya bisa menggeleng sedih. "Aku tahu kau wanita baik, Raina. Tapi rasa iri hati orang-orang tidak ada habisnya. Mereka tidak suka melihat Dika begitu mencintaimu, tidak suka melihat kalian bahagia. Jadi mereka menciptakan cerita bohong untuk merusak nama baikmu."

Saat Dika pulang, ia langsung merasa ada yang tidak beres. Suasana rumah terasa sunyi dan berat. Saat melihat Raina yang menangis tersedu-sedu di tempat tidur, hati Dika seakan teriris tajam.

"Sayang, kenapa kau menangis?" tanyanya cemas, langsung berlari mendekat dan memeluk istrinya.

Raina menceritakan semua tuduhan mengerikan itu dengan suara yang terputus-putus karena tangis. Semakin ia bercerita, semakin rahang Dika mengeras. Matanya yang biasanya hangat kini berkilat penuh amarah yang membara.

Malam itu, Dika tidak tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil menggenggam tangan istrinya erat. Ia berjanji dalam hatinya, tidak akan membiarkan siapa pun menodai nama baik wanita yang dicintainya.

Keesokan harinya, berita itu semakin menyebar luas hingga terdengar oleh kerabat jauh dan teman-teman lama Dika. Beberapa orang bahkan berani datang ke rumah atau bertemu Dika di jalan untuk menasihatinya seolah-olah Dika telah tertipu.

"Kau harus sadar, Dik! Jangan mau dimanfaatkan wanita itu!" kata salah satu kerabat dengan nada tinggi di depan banyak orang. "Siapa yang tahu siapa ayah sebenarnya dari anak itu? Jangan sampai kau menanggung malu seumur hidup!"

Saat itu juga, Dika berhenti melangkah. Wajahnya yang tenang kini berubah tegas dan dingin. Ia menatap orang-orang yang berkumpul di sana satu per satu dengan pandangan yang tak tergoyahkan.

"Dengarkan aku baik-baik," ucap Dika dengan suara lantang dan tegas sehingga terdengar jelas oleh semua orang yang hadir. "Raina adalah istriku yang sah. Wanita yang paling tulus, paling jujur, dan paling baik yang pernah aku temui seumur hidupku."

Ia berhenti sejenak, menelan ludah untuk menahan amarahnya.

"Anak yang dikandungnya adalah darah dagingku. Aku yang tahu kebenarannya, aku yang tahu kesucian hatinya. Kalian semua yang menyebarkan fitnah ini hanya didasari rasa iri dan kebencian yang tidak beralasan."

Dika menatap tajam ke arah kerabat yang tadi berbicara kasar.

"Kalian boleh membenci aku, boleh menjelekkan aku. Tapi jangan pernah sekalipun kalian berani menyakiti hati istriku. Jika ada yang berani mengucapkan satu kata buruk tentangnya lagi di hadapanku, aku tidak akan segan-segan menegur kalian dengan cara yang tidak kalian sukai."

Suara Dika begitu berwibawa dan penuh keyakinan sehingga membuat semua orang yang mendengarnya terdiam seribu bahasa. Tidak ada satu pun yang berani membantah atau mengeluarkan suara lagi.

Sore itu, saat Dika pulang ke rumah dengan wajah sedikit lelah namun tenang, Raina menunggunya di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca penuh rasa syukur.

"Kau tidak perlu melakukan itu demi aku, Dik..." ucap Raina pelan saat suaminya mendekat.

Dika tersenyum lembut, lalu mengusap wajah istrinya dengan penuh kasih sayang.

"Siapa lagi yang akan membela kau selain aku, Sayang?" bisiknya lembut. "Kau adalah kehormatanku. Jika nama baikmu ternoda, berarti namaku juga ternoda. Aku tidak akan membiarkan kebohongan orang lain merusak kebahagiaan kita."

Malam itu, rasa takut di hati Raina hilang sepenuhnya. Ia sadar, selama ia memiliki suami yang siap membela dirinya sampai mati, ia tidak perlu takut pada dunia mana pun.

...Malam itu, rasa takut di hati Raina hilang sepenuhnya. Ia sadar, selama ia memiliki suami yang siap membela dirinya sampai mati, ia tidak perlu takut pada dunia mana pun.

Sejak hari itu, Dika melakukan hal yang tak disangka-sangka oleh siapa pun. Ia tidak hanya menegur mulut orang-orang, melainkan menunjukkan bukti nyata kasih sayangnya di hadapan semua orang. Setiap kali ia harus pergi ke luar rumah, ia akan dengan bangga memapah Raina berjalan perlahan di taman kota atau jalanan desa. Ia menatap siapa pun yang menatap mereka dengan pandangan menantang, seolah berkata: "Lihatlah, ini istriku yang aku cintai dan banggakan."

Ia juga sengaja mengundang dokter kandungan ke rumah saat ada kerabat yang datang berkunjung. Di hadapan mereka semua, dokter menjelaskan dengan jelas bahwa usia kandungan Raina sangat pas dengan waktu pernikahan mereka, membantah semua tuduhan bohong itu seketika.

Melihat ketegasan dan kepercayaan diri Dika yang tak tergoyahkan, serta melihat betapa bersinar dan bahagianya wajah Raina setiap kali berada di samping suaminya, perlahan mulut-mulut yang dulu berbisik jahat mulai terdiam. Rasa curiga mereka berubah menjadi rasa malu yang mendalam.

Suatu sore, tetangga yang dulu pernah menyampaikan kabar buruk itu datang kembali. Kali ini wajahnya penuh rasa bersalah. Ia membawa sepiring kue buatan tangan sendiri sebagai tanda permintaan maaf.

"Maafkan kami ya, Raina," ucap wanita itu dengan suara rendah. "Kami terlalu mudah percaya pada omongan orang lain tanpa mencari tahu kebenarannya. Kami melihat betapa tulusnya cinta suamimu padamu, dan kami sadar kami telah salah menilai."

Raina tersenyum lembut, menerima permintaan maaf itu dengan lapang dada. "Tidak apa-apa. Yang penting kalian sekarang tahu kebenarannya."

Malam harinya, saat mereka berdua duduk bersandar di teras menikmati angin malam yang sejuk, Raina memeluk lengan Dika erat.

"Terima kasih, Dik," bisiknya pelan. "Kau tidak hanya membela namaku. Kau juga mengajarkan semua orang apa arti cinta yang sesungguhnya."

Dika mencium punggung tangan istrinya dengan lembut.

"Cinta itu bukan hanya soal perasaan, Sayang. Tapi juga soal berani berdiri di depan dunia demi orang yang kita sayangi. Dan aku akan selalu melakukan itu, untukmu dan untuk anak kita."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!