Bukan salah Anggun jika terlahir sebagai putri kedua di sebuah keluarga sederhana. Berbagai lika-liku kehidupan, harus gadis SMA itu hadapi dengan mandiri, tatkala tanpa sengaja ia harus berada di situasi dimana kakaknya adalah harta terbesar bagi keluarga, dan adik kembar yang harus disayanginya juga.
"Hari ini kamu minum susunya sedikit aja, ya. Kasihan Kakakmu lagi ujian, sedang Adikmu harus banyak minum susu," kata sang Ibu sambil menyodorkan gelas paling kecil pada Anggun.
"Iya, Ibu, gak apa-apa."
Ketidakadilan yang diterima Anggun tak hanya sampai situ, ia juga harus menggantikan posisi sang kakak sebagai terdakwa pelaku pencurian dan perebut suami orang, berbagai tuduhan miring dan pandangan buruk, memaksa anggun membuktikan dirinya Hebat.
Mampukah Anggun bertahan dengan semua ketidakadilan keluarganya?
Adakah nasib baik yang akan mendatangi dan mengijinkan ia bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH TUJUH
Anggun berdiri canggung diantara para tamu undangan, ia menggigit bibir bawahnya, seraya meremas ujung kemeja, entah kenapa keringat dingin bahkan tampak membuatnya semakin grogi saat seorang wanita menghentikan langkah tepat di hadapannya, lalu memberikan pelukan hangatnya.
“Anggun … dokter tak menyangka bisa bertemu kamu lagi di sini,” ucapnya lirih seraya mengelus punggung Anggun.
“Tidak! Aku tidak boleh menangis! Malu!” pekik Anggun dalam hati menyambut pelukan dokter Lina.
“Jangan lama-lama pelukannya, kalian bukan Teletubbies!” pangkas dokter Wirya yang berdiri di belakang dokter Lina menunggu giliran untuk menyapa Anggun.
Mendengar kelakaran dokter Wirya, Anggun pun tersenyum geli, rasa haru yang tadinya hampir menarik keluar air matanya, menghilang oleh candaan kecil dokter Wirya.
“Jadi kebetulan sekali ya, mana adik kembarmu itu?” sapa dokter Wirya ringan seraya mengulurkan tangan menyalami Anggun.
“Di sana Dok, kumpul sama teman-temannya,” tunjuk Anggun seraya membereskan titik air mata yang mulai menggenang.
“Siapa sangka adik-adikmu adalah teman sekolah putra dan putrinya perawat Tobia,” sahut dokter Andika seraya mengulurkan tangan menyapa Anggun.
“Iya, aku dengar mereka baru saja pindah,” imbuh Anggun.
Semua tamu bergabung saling menyapa hingga ke acara selanjutnya dan semua yang hadir begitu menikmati pesta meriah itu.
Hari pun semakin petang, udara dingin mulai menyapa tempat pesta outdoor itu. Lampu-lampu lampion mulai dinyalakan membuat suasana menjadi semakin meriah.
Tepat jam enam sore, pesta pun berakhir dengan senyum pamit dari para tamu undangan berbalas senyum bahagia sang empunya acara sebagai ungkapan terimakasih atas partisipasi dan kelegaan hati untuk hadir.
Anggun pun berpamitan selayaknya tamu yang lain, berbaris dengan kedua adiknya berjalan mengiringi di sisi kanan dan kiri menggandeng tangan sang kakak.
“Terimakasih … seru ya kalian kembar juga ternyata!” Senyum cerah berselimut rasa terima kasih begitu nyata di wajah Mada, ibu dari Bellia dan Bellio yang tengah ulang tahun hari itu.
Anggun pun membalas dengan senyuman tulusnya, “Iya, kami mohon pamit, sekali lagi selamat ulang tahun Bellia dan Bellio!”
Berdiri disamping Mada, perawat Tobia pun menyambut uluran tangan Anggun yang berpamitan. “Eh, kamu naik apa? Tunggu aja dulu, biar aku panggilkan taksi!” serunya.
Anggun menggeleng sopan, “Enggak Mas, terima kasih, kami naik angkot saja, rumah kami tak terlalu jauh kok.”
Anggun menolak halus usulan Tobia, ia berjalan menuju ke jalan utama untuk mencari angkot seraya menggandeng kedua adiknya.
“Seru nggak temen barumu itu?” basa-basi Anggun mencairkan suasana yang sedikit gelap sore itu.
“Seru!” jawab kompak bocah kembar itu seraya mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke udara.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan ketiga bocah itu. Anggun menatap kaget karena mobil berhenti tepat di depan mereka. Sikap dan bahasa tubuhnya membentengi diri dan membuatnya waspada saat seseorang membuka pintu penumpang.
“Ayo, biarkan kami antar kalian pulang!” seru seorang pria melongokkan kepalanya dari dalam mobil dan melempar senyum yang manis.
“Ah, jangan Dok! Malah merepotkan,” tegas Anggun kembali canggung membalas tawaran dokter Wirya.
Dokter Lina turun dari mobil, meraih lengan kedua adik Anggun dan membopongnya agar masuk ke dalam mobil.
“Dah, ayo kita sekalian mau main ke rumahmu! Kita kan sudah berteman!” sahut sang sopir yang ternyata adalah dokter Andika.
“Yeaay!! Naik mobil!” seru girang Arpan dan Arpin.
Melihat betapa adiknya begitu senang karena memang mereka belum pernah merasakan bagaimana naik mobil pribadi, membuat Anggun merasa tak tega dan akhirnya ia pun setuju untuk diantar pulang bersama para dokter itu.
.
.
.
Sore itu Deni tengah duduk di depan televisi, sibuk dengan ponselnya. Aulia tampak muncul dari dalam kamar masih dengan penampilan kusut seraya menggosok pelan matanya.
Dengan sigap Deni menyembunyikan ponselnya disela-sela sofa lalu bangkit menghampiri kekasihnya itu. “Eh, udah bangun sayang?” ucapnya seraya mengusap kepala Aulia.
Aulia mengangguk lalu menyipitkan mata menatap selidik pada pria di depannya itu. “Habis ngapain? Chat perempuan lagi?”
Dani meraih Aulia, memeluknya dengan manja. “Enggak dong, kok masih bahas itu? Kan tadi udah janji nggak ada chat gitu-gitu lagi.”
“Habisnya kamu bohong sama aku ….” sahut Aulia manja dengan bibir yang manyun.
“Sayang, aku kan tadi udah bilang, cuma mau ngerjain mereka aja. Cuma iseng Sayang … habisnya aku terlalu kangen sama kamu, terus kamu nggak dateng-dateng, jadi ya beneran iseng aja.”
“Iseng kok janjian ketemuan?” sanggah Aulia namun masih membiarkan tubuhnya tersandar dalam pelukan Deni.
“Kan udah dibilang tadi, aku cuma ngerjain, nggak ada niat buat beneran ketemu. Aku punya kamu aja udah cukup, Sayang. Kamu itu sempurna, aku beruntung bisa memilikimu.”
Rayuan-rayuan maut terus mengalir lancar dari bibir Deni membuat Aulia mabuk kepayang dan hari itu untuk kesekian kalinya Aulia kembali jatuh dalam perangkap birahi Deni.
Hingga malam pun menyapa, Aulia masih tampak bernapas merebahkan tubuhnya di sisi Deni. Tiba-tiba ponselnya berdering dengan nyaring.
“Duuuh! Ada apa sih ini bocah!” seru Aulia menatap nama kontak di ponselnya.
“Harusnya bukan ponselku, sudah aman kusembunyikan di selipan sofa depan tadi.” batin Deni merasa tenang. “Kenapa Sayang?” sahut Deni bangkit lalu duduk merangkul Aulia dari sisi belakang.
“Adekku!” jawab Aulia lalu menggeser tombol penerima panggilan. “Ada apa? Ganggu orang belajar aja!” serunya ketus.
“Udah malem kok rumah kosong? Cum mau tanya pada kemana?” sahut Anggun dari seberang panggilan bernada cemas.
“Nggak tahu! Aku masih di perpus, nggak tahu kalau yang lain!” Tidak ada nada yang lembut atau menyenangkan dari sahutan Aulia.
“Hmm, ya udah Mbak, maaf ganggu.”
Tanpa mengucapkan lagi jawaban apapun, Aulia seenaknya menutup panggilan telepon seraya mendengus kesal.
“Kenapa kesal begitu? Aku mandi duluan ya, habis itu aku bikinkan makanan enak. Jadi kan malam ini menginap?” rayu Deni seakan tak pernah merasa cukup dengan keinginan panasnya.
“Antar aku pulang! Orang tuaku harus tahu aku pacaran sama kamu!” sewot Aulia.
“Buat apa? Kamu kan masih kuliah, nanti kalau disuruh cepet-cepet nikah gimana?” balik Deni.
“Jadi kamu nggak mau nikahin aku?!” seru Aulia dengan ekspresi terkejut sekaligus marah.
“Eh, bukan gitu Sayang … tenang dulu toh, jangan langsung marah. Aku tuh cuma mau dukung cita-cita kamu aja, nanti kalau kamu ketemu orang tuaku terus kamu nggak punya gelar apa-apa, pasti akan sulit dapet restu, jadi minimal lulus kuliah dulu,” terang Deni dengan sangat lihai.
Aulia justru semakin cemberut, “Pokoknya nggak mau tahu! Antar aku pulang, atau kita putus!”
“Hah! Dasar wanita murahan! Kalau mau putus ya putus aja! Toh aku sudah menang banyak!” batin Deni. “Jangan gitu toh Sayang, oke-okelah aku antar kamu sekarang.”
Aulia pun akhirnya luluh lagi karena Deni menuruti permintaannya.
“Tapi sayang juga kalau dibuang, masih aduhai itu dia. Simpan dulu lah buat cadangan.” batin Deni seraya meluruskan pandangannya memperhatikan arus jalanan malam itu.
“Orang tuaku bukan orang tua kuno yang langsung nyuruh kawin, Sayang. Jadi jangan khawatir, aku cuma mau mereka tahu kalau aku punya pacar yang ganteng, dan kaya seperti kamu.”
“Hmm… iya ambil itu uang jajan sejuta di dasbor.”
“Ooh! Makasih sayangku!”
“Lumayan kan dia seharian bisa bebas udah cukup dikasih sejuta, kalau jajan di tempat lain mana bisa cukup sepuas itu dengan satu juta!” batin jahat Deni yang terus membiarkan otak kotornya bekerja.
“Eh! Kok rumahku rame?” seru Aulia.
...****************...
To be continue....