NovelToon NovelToon
BOS MAFIA MUDA

BOS MAFIA MUDA

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Gibela26 Siyoon93

Felisberta Divya Deolinda gadis pemalas dan putri kesayangan keluarganya, Naumi sebagai seorang sahabat selalu membantu dia dalam pelajaran. Sampai suatu hari terjadi kecelakan dan membuat Feli koma, saat terbangun dia terkejut mendapatkan dirinya ada di dalam novel yang selalu dibacanya berjudul ‘Bos Mafia Muda’. Pemeran utama wanita di novel itu bernama Shanaya, dalam cerita Shanaya berakhir menyedihkan. Feli menjadi Shanaya dan menjadi istri dari Bos Mafia Muda itu yang bernama Shankara Pramudya Anggara. Di usia yang masih muda Shankara bisa menaklukkan semua Mafia yang ada di Negaranya, sosok laki-laki itu ditakuti semua orang tidak ada siapa pun yang berani menentang maupun melawannya karena itu Shankara Pramudya Anggara dikenal sebagai Bos dari semua Mafia yang ada di Negaranya atau di sebut Bos Mafia Muda. Alur ceritanya berubah seiring waktu setelah Feli menjalankan kehidupannya bersama Shankara.

@KaryaSB026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibela26 Siyoon93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Mengambil teleskop “Mari lihat ada apa saja disana, wah pemandangan yang indah. Tunggu ada sebuah rumah besar disana,” memperbesar lensa.

“Rumah itu banyak sekali pengawal, tunggu …” ganti baju cepat lalu turun.

“Shanaya oh Feli maksudku ayo sarapan.”

“Kakek dimana lensa yang paling besar semalam aku menyimpannya di meja ini.”

“Oh itu aku bantu menyimpannya,” membuka laci.

Mengambilnya lalu berlari ke atas “Ada apa dengannya ?”

“Mungkin menemukan harta karun.”

“Kenapa bisa menginap disini sih,” keluh Feli melihat jelas mansion Shankara dari teleskop.

Di mansion terlihat Shankara sedang bekerja di halaman, Nenek dan Ibunya datang menghampiri.

“Shan ?” Shankara menutup laptop.

“Bagaimana acara kemarin ?” tambahnya duduk.

“Cukup baik.”

“Makanlah sedikit,” Ibunya membawakan bubur hangat.

“Terima kasih Bu,” mencoba beberapa sendok.

“Makan lebih banyak.”

“Nanti aku habiskan.”

“Setelah menantu pergi anak ini tidak makan teratur.”

“Setelah makan pergi istirahat, dari kemari Nenek lihat kamu hanya duduk disini.”

“Tidak apa Nek, aku baik-baik saja.”

“Entah mengapa aku merasa merindukan Annya,” ucap Nina dari kejauhan memperhatikan.

“Sudah setahun Annya meninggalkan kita rasanya sunyi.”

“Semoga dia bahagia di surga,” sambung Raymond.

“Takdir sangat kejam padanya.”

“Bukan kejam hanya saja takdir tidak mau dia terluka lebih dalam.”

“Ngomong-ngomong soal kejam wanita licik itu kenapa hari ini tidak terlihat.”

“Jangan membicarakan dia.”

“Baguslah semoga hari ini dia tidak ada,” baru saja mereka bertiga membicarakan Hera. Mobil yang di kendarai Hera parkir depan mansion.

“Shan Shan …”

“Dasar ular betina.”

“Wanita beracun datang.”

“Wanita gila itu datang aku kira dia sudah tiada,” keluh mereka bertiga dan bubar.

“Ada Nenek dan Ibu juga disini, sedang apa kalian ?” datang dengan penuh senyuman.

“Hanya mengobrol saja.”

“Kalian bicara saja, Ibu mau mengantar Nenek istirahat.”

Setiap kali Hera datang ke mansion semua orang selalu menghindar “Jika bukan karena dia cucu menantuku pasti masih hidup.”

“Ternyata kesembuhanku mengorbankan nyawa menantu perempuanku.”

“Untuk apa kou datang ?”

“Aku merindukanmu Shan.”

“Kemarin kita sudah bertemu.”

“Rinduku selalu ada tidak peduli kapan terakhir kita ketemu,” manja-manja ke Shankara.

“Gue muak lihatnya,” Raymond yang berjaga di depan langsung berbalik ke belakang.

“Jaga Bos dengan baik !”

“Baik.”

“Jika tidak ada kepentingan silahkan pergi, aku masih memiliki banyak pekerjaan.”

“Shan di pusat perbelanjaan kota ada pameran bagaimana kalau kita pergi kesana, jangan bekerja terus,” menarik tangan Shan agar pergi bersama.

“Tidak perlu.”

“Kalau kamu tidak pergi gelang ini aku hancurkan.”

“Gelang itu yang aku berikan ke Shanaya,” batinnya.

“Dari mana kamu mendapatkannya ?”

“Jika kou ikut bersamaku, gelang ini akan menjadi milikmu.”

“Baiklah.”

“Bodoh, cuman karena gelang ini.”

Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke pusat perbelanjaan di kota. Secara tidak kebetulan Feli dan Maya sedang berbelanja disana.

“Feli baju ini sangat cocok untukmu,” mengambil baju berwarna putih lalu mencocokkannya dengan badan Feli.

“Aku sudah lelah dari tadi berdiri terus mencoba baju pilihanmu.”

“Sabarlah sebentar lagi aku mohon,” bujuknya.

“Okey 5 menit lagi.”

“Tidak masalah.”

Mengambil baju yang lain “Astaga semua baju yang ada disini sangat cocok denganmu bagaimana aku bisa memilihnya.”

“Aku rasa yang tadi sudah cukup,” melirik beberapa tentengan berisi baju.

“Tidak cukup, emn tolong bungkus semuanya untukku !”

“Tentu saja Nona,” dengan gembira pelayan toko melayani mereka berdua.

“Bagaimana aku memakai baju sebanyak itu ? dan menurutku ini namanya pemborosan.”

“Kita banyak uang jangan khawatir.”

“Oh iya Kak, bagaimana kabar kedua orang tua ku ?”

“Mereka baik tapi mereka tidak tau kalau kamu masih hidup.”

“Kenapa Kak Maya tidak memberitahunya.”

“Suatu hari nanti pasti.”

“Syukurlah kalau mereka baik-baik saja.”

“Feli lihat sepatu itu pasti cocok denganmu ayo !”

“Ehh pelan-pelan nanti nabrak orang.”

Shankara dan Feli berpapasan “Dia ada disini juga ?” batin Feli melihatnya.

“Gadis itu ?”

“Shan ayo kesana.”

“Wanita itu kenapa aku merasa ingin memukulnya yah.”

“Cepat coba !”

“Baiklah baiklah.”

“Tolong bungkus yang ini ini ini dan itu juga ukurannya sesuaikan dengan sepatu coklat ini.”

“Ini terlalu berlebihan hah …” bernapas berat.

“Dulu jangankan membeli semua ini satu sepatu pun sangat sulit sekarang aku pastikan kamu tidak kekurangan apapun.”

“Astaga keluar dari mansion sekarang malah masuk kerajaan yang dijadikan ratu.”

“Berhenti mengeluh ayo kesana !”

“Cukup, aku perlu ke toilet dulu.”

“Ah baiklah aku antar.”

“Kak aku haus.”

“Kalau begitu kamu pergi sendiri aku akan membeli minum.”

“Akhirnya aku bisa bernapas dengan lega juga.”

“Wanita itu kenapa aku selalu bertemu dengannya.”

“Eh nona cantik mau kemana ?” menggoda Feli.

“Urusannya sama loe apa,” sinis Feli.

Menarik tangan Feli “Jangan sentuh gue,” menendang cowok itu.

“Menarik,” Shankara melihat dari kejauhan.

“Wanita murahan beraninya.”

“Kenapa tidak,” menusuknya dengan jarum.

“Aww kurang ajar. Aku adalah bawahan Bos Mafia memperlakukanku seperti ini apa kou tidak takut.”

“Kou ataupun dia aku tidak takut,” pergi.

“Beraninya dia menggunakan namaku.”

“Shan mau kemana ?”

“Toilet.”

“Aku ikut …”

“Nona Hera rasanya tidak pantas jika seorang wanita pergi bersama ke toilet.”

“Kalau bukan karena Shankara aku sudah pasti membuatnya lenyap.”

Shankara dengan rombongan menunggu laki-laki tadi di pintu keluar belakang.

“Siapa kalian minggir !” jalan terhuyung-huyung.

“Tadi seseorang menyebut namaku dengan berani sekarang kenapa berbicara kasar ?”

“Orang seperti mereka tidak pantas Bos,” Dika mengeluarkan pisau.

“Sayang sekali sudah berakhir,” melempar pistol ke Shankara dan door tembakan tepat di kepala orang itu.

Feli terhenti mendengar suara tembakan samar-samar “Ada apa ?”

“Bukan apa-apa.”

“Ayo kita pulang, aku sudah lelah berjalan kesana kemari.”

“Annya ?” nada sedih bercampur bahagia.

“Malah bertemu dengannya disini,” hendak melarikan diri.

Nina memeluk Feli dengan erat “Annya kamu masih hidup, aku sungguh merindukan mu.”

“Eh Nona maaf sepertinya anda salah orang,” cegah Maya.

“Tidak mungkin salah.”

“Dia adikku Feli bukan Shanaya.”

“Feli ?”

“Iya sudah lama aku kehilangan adikku.”

“Setahuku dia tidak mengetahui tentangku,” batin Maya khawatir.

“Mustahil kenapa wajahnya mirip dengan Annya ?”

“Saya juga berpikir demikian tapi dia memang adikku Feli.”

“Oh begitu yah, maaf …” dengan sedih Nina pergi.

“Ehh …” Feli tidak kuat ingin memeluk kembai Nina tapi jika dia melakukannya maka usahanya akan sia-sia.

“Belanja kita sudah cukup ayo pulang,” ajak Nina melihat Feli bersedih.

“Bos yakin dia bukan Annya ?”

“Belum pasti.”

“Suara ribut apa ?” Dika mendengar suara keributan.

Anak buahnya datang melapor “Nona Hera menembak seorang anak kecil, anak itu tidak sengaja menabraknya dan mengotori bajunya.”

“Anak kecil aja kena dasar wanita jahanam,” kesal Nina.

“Baju ini lebih berharga dari pada nyawa anakmu itu.”

“Nona tolong ampuni anak saya,” memohon terus dan bersujud.

“Sudahlah.”

“Beri kompensasi ke kelurganya !”

“Baik Bos.”

“Shan kamu sudah kembali ?”

“Ditinggal sebentar saja membunuh anak kecil tidak berdosa.”

“Begitulah jika kou meninggalkanku maka akan ada banyak korban,” berbisik.

“Jika aku pergi mungkin kamu yang mati.”

“Ayo kita menonton pamerannya.”

“Kenapa gue harus diam-diam mengamatinya sih,” Feli yang tadinya akan pulang terus memikirkan Shankara hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengikutinya.

“Dengan keahlian Feli saat ini dia tidak akan ketahuan tapi kenapa aku masih saja khawatir,” batin Maya di dalam taksi.

“Gadis bodoh,” ternyata Shankara tahu kalau Feli membuntutinya.

“Hatiku berkata itu kamu, sorot matamu tidak bisa berbohong.”

“Barusan dia melihatku ? ah perasaanku saja.”

“Shan lihat ada manisan,” menarik Shankara.

“Cobalah !”

“Tidak perlu, kamu lanjutkan saja aku akan menunggu disana.”

“Haha kasian ditinggalin,” Nina puas Hera di acuhkan Shankara.

“Shan suatu saat kamu pasti akan menjadi milikku,” menggenggam gelas itu sampai pecah.

“Nona kenapa tidak mencoba menggunakan kekuatan untuk menaklukannya ?”

“Kekuatanku tidak berpengaruh terhadapnya ataupun keluarganya.”

“Kekuatan Nona sangat besar mustahil tidak berpengaruh pada mereka.”

“Aku juga tidak tau ada apa di mansion itu ataupun dalam diri Shankara sehingga kekuatanku tidak mempan pada nya.”

“Nampaknya ada yang melindungi mereka.”

“Setiap aku memasuki mansion itu seakan ada benda yang melingkar di sekelilingnya.”

“Benda itu bagaimana menghancurkannya.”

“Benda itu sudah menyatu dengan semua orang di mansion selain itu kekuatannya sangat besar sulit untuk menghancurkannya, setiap kali aku mencoba energiku habis.”

“Sangat aneh.”

“Pergi cari tahu !”

“Baik Nona.”

“Begitu ternyata,” semua perbincangan Hera dan anak buahnya jelas terdengar Feli.

“Dipikir-pikir menjadi diri sendiri lebih nyaman dari pada menjadi Shanaya walaupun sisa dari diri Shanaya ada dalam diriku,” memainkan topi yang dikenakannya.

“Hatiku berkata kamu adalah Shanaya tapi pikiranku kamu seperti orang lain,” diam-diam Shankara memperhatikan.

Seorang pria kekar tidak sengaja menyenggol Feli yang duduk di pagar ujung lantai 3 “Eh hati-hati dongs, hampir aja jatuh.”

Tiba-tiba ada yang berlari “Tidaaakkk ….” berhasil selamat dari yang pertama yang kedua malah kena.

“Sepertinya Nona senang sekali di gendong olehku.”

“Suaranya sangat familiar apa sekarang aku di surga ? jatuh dari lantai 3 udah pasti gak selamat.”

“Nona ingin aku membawamu ke rumah sakit ?”

“Eh serasa nyata ?” mencubit dada sisfex Shankara.

“Sebaiknya Nona tidak memainkan milikku,” meraih tangan Feli.

Membuka satu mata “Ah kenapa pangeran surgaku harus dia sih,” keluhnya bernapas panjang.

“Apa nona menyesal aku menyelamatkanmu ?”

“Hah ?” segera berdiri.

“Ternyata aku masih hidup hehe …”

“Annya ?” Raymond dan Dika terkejut begitu pun Hera yang tidak sengaja melihatnya.

“Dia masih hidup ? mana mungkin, anak buahku berkata dia sudah di makan binatang buas.”

“Annya benarkah itu ?”

“Kamu ??”

“Ah kalian salah orang namaku Feli.”

“Feli ?”

“Sungguh kebetulan secara langsung,” senyum jahat Hera mendekat.

“Tuan ku sungguh baik mau menolong mu nona.”

“Oh dia tuanganmu yah,” nada datar Feli.

“Apa dia bukan Annya tapi kenapa mereka mirip sekali.”

“Terima kasih sudah menolongku,” pergi begitu saja.

“Shan aku sudah puas jalan-jalan ayo kita pulang saja,” ajak Hera melirik Feli yang semakin menjauh.

Di perjalanan pulang Dika dan Raymond masih memikirkan orang yang mirip dengan Shanaya tadi. Shankara keluar dari mobil tanpa mengatakan sepatah katapun dan membuat mereka semakin bertanya-tanya karena Shankara bersikap tenang padahal baru saja bertemu orang yang sangat mirip dengan istri tercintanya.

“Gue gak ngerti ada hal seperti itu di dunia, dua orang terlihat mirip tapi bukan sodara.”

“Tidak ada sedikit pun pembeda diantara mereka, terlalu mirip.”

“Jika itu benar Shanaya dia pasti respon dengan Bos tapi melihat kejadian tadi …” geleng-geleng mengatakan kemustahilan.

Dibalik pembicaraan mereka bertiga Hera merasa terancam kembali dengan kehadiran orang yang sangat mirip dengan Shanaya.

“Panggil mereka yang membunuhnya !”

Anak buahnya menyeret lima orang pria yang diikat “Nona mereka yang sudah membunuhnya,” mundur.

“Ampun Nona kami sudah dia tewas kami melihat sendiri tubuhnya di cabik-cabik hewan buas, jika wanita itu masih hidup mustahil tubuhnya utuh,” tubuh gemetar ketakutan.

“Yang dikatakan dia benar Nona, selain kami tidak ada orang lain lagi di hutan itu.”

“Potong mereka menjadi beberapa bagian !!”

“Nona kami mohon ampuni kami …”

“Nona ampun nona ….”

Suara teriakan kesakitan mereka terdengar ke seluruh ruangan, darah mereka mengalir begitu deras. Hera bukan hanya licik dia juga kejam, siapapun yang menyinggungnya tidak pernah selamat. Dunia mafia yang awalnya hanya mengenal Shankara sang Bos mafia muda sekarang ada Nona muda kejam dari negeri mafia.

“Berapa banyak orang yang tewas hari ini ?”

“Kurang lebih 20 orang Bos.”

“Hera sudah kelewatan tapi saat ini kita tidak memiliki kekuatan melawannya.”

“Strategi yang Bos bilang sebelumnya kapan kita akan memulainya ?”

“Kita harus mendapat dukungan orang-orang kita kembali untuk memulainya.”

Setelah kepergian Shanaya banyak hal yang berubah di negeri mafia. Orang-orang yang awalnya berada di pihak Shankara sekarang berada di pihak Hera, meski mereka tidak ingin di keesokan harinya mereka berubah pikiran seakan ada yang mengendalikan pikiran dan tubuh mereka. Sedangkan Khara tidak mau lagi berurusan dengan negeri mafia, dia fokus berbisnis di pulau barak.

****

“Dimana murid kesayanganku ?”

“Dia masih bermain.”

Pukulan melayang ke kepalanya “Kenapa kou membiarkan dia sendirian.”

“Guru aku juga muridmu kenapa hanya dia yang disayang.”

“Dia lebih cepat belajar darimu, dia lebih banyak memiliki kemampuan dari mu tentu saja aku lebih menyayanginya.”

“Tidak adil.”

“Apanya yang tidak adil ?”

“Astaga sejak kapan kamu datang ?”

“Semenjak kakek guru memujiku,” ekspresi senang sekaligus sombong.

“Kenapa guru pilih kasih ?”

“Hahaha sudahlah jangan cemburu, dia banyak yang mengincar berbeda denganmu jelas aku lebih mengkhawatirkannya meski sekarang dia jago beladiri.”

“Dan jago senjata.”

“Ah kenapa kalian begitu tidak senang saat memujiku.”

“DIAM KAMI SANGAT KHAWATIR !!!”

“Khawatirnya mereka lebih menakutkan,” mengambil apel.

“Itu belum di cuci !”

“Aku sudah mengelapnya hehe …”

“Kekanak-kanakan sekali,” menutupi senyuman.

“Oh iya kek tadi aku mendapatkan sebuah rahasia.”

“Rahasia ?”

“Hera mengatakan ada aura kuat di sekeliling mansion Shankara, aura itu sudah melekat dia tidak bisa menghilangkannya. Semakin dia berusaha maka energinya semakin berkurang.”

“Aura itu berada di mansion Shankara tapi kenapa saat di luar pun Shankara tidak terpengaruh?”

“Aku juga tidak mengerti.”

“Ulurkan tangan mu !”

“Untuk apa ?”

1
Yaniee.25
/Slight/
Chimer02609
wokey 👌
Azαzel
mampir juga thor😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!