NovelToon NovelToon
30 Hari Bersama Sang Mafioso

30 Hari Bersama Sang Mafioso

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penikahan Kontrak / Penyesalan Suami / Kontras Takdir / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: pitufina

Cassidy tak lagi punya apa-apa untuk diberikan pada dunia. Pernikahannya hancur oleh pengkhianatan, dan seluruh hidupnya kini bertumpu pada satu hal: menyelamatkan putri kecilnya yang sekarat. Ketika biaya operasi menjadi jurang yang mustahil ia seberangi, seorang pria asing bermata dingin datang dengan tawaran gila—satu juta dolar, dengan satu syarat: tiga puluh hari hidup di sisinya.

Pria itu Nicolás Tomasolli, penguasa dunia yang tak boleh disentuh siapa pun. Bagi Cassidy, kesepakatan ini hanyalah jalan keluar. Baginya, ada rencana yang jauh lebih dalam dari sekadar uang.

Tapi tiga puluh hari cukup untuk mengubah segalanya. Cukup untuk membuat dua orang yang seharusnya saling memanfaatkan justru saling jatuh. Cukup untuk membongkar rahasia berdarah tentang siapa Cassidy sebenarnya—rahasia yang bahkan tak pernah ia ketahui, dan yang membuat namanya diperebutkan oleh kerajaan-kerajaan paling berbahaya di dunia.

Dari gemerlap Roma hingga dinginnya Moskow, dari ranjang mewah hingga medan pertumpahan darah, ini kisah tentang cinta yang lahir dari kesepakatan terlarang, tentang perempuan rapuh yang dipaksa takdir menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan dari para pria di sekelilingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pitufina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Dalam satu hal aku harus mengakui Nicolás benar, pusat kota kecil ini sempurna. Toko-toko pakaian di satu sisi jalan, dan toko roti serta toko makanan di sisi lain. Di saat-saat seperti inilah jiwa gembulku muncul, dan sementara Nicolás dan Hannah mengunjungi toko boneka, aku memanfaatkan kelengahannya untuk membeli aneka kue kecil untuk diriku. Guillermo meliriku dan menggeleng-gelengkan kepala sementara seulas senyum penuh persekongkolan terbentuk di wajahnya ketika kusuguhkan sebagian dari hasil buruanku. Buruan yang sama yang akan kubagikan pada semua orang begitu keinginanku mencicipi seluruh kelezatan ini terpuaskan.

"Kalau Nona mengizinkan, izinkan saya merekomendasikan buah bersalut cokelat dan kacang tanah, atau cokelat dan potongan almon," ucapnya ketika kuberi sepotong donat berlapis cokelat putih dan taburan warna-warni. Anak buah keamanan lainnya juga memandangi kami dengan penasaran, tapi aku tak peduli, dan mereka pun tak peduli ketika kutawari apa yang kupunya, dan mereka menerimanya dengan senang hati. Kini mereka menjadi kaki tanganku.

Begitu Nicolás dan Hannah keluar dari toko boneka, kutawarkan pada masing-masing sebuah permen berbentuk beruang kecil yang khusus kubeli untuk mereka. Sementara si kecilku memandanginya dengan sedikit sedih karena harus memakan binatang mungil yang begitu manis, Nicolás mendekatiku dan mengusap sudut bibirku.

"Penipu kecil, enak juga rupanya yang kaumakan," ia mengulum jarinya, dan pipiku memerah.

"Aku hanya mencicipi sesuatu," ucapku sambil mengalihkan pandangan. Dari sudut mata kulihat ia memandangi anak buahnya dengan alis berkerut. "Aku membagi sedikit dari yang kubeli, jangan berani-berani memarahi mereka."

"Ayo, aku ingin membawa kalian ke sebuah butik agar kalian memilih beberapa gaun untuk malam ini," ia menggandeng tanganku dan dengan tangan yang lain mengangkat Hannah, mendudukkannya di lengannya. Siapa pun yang melihat kami akan mengira kami sebuah keluarga.

Para perempuan yang melayani tempat itu tampak sangat bersemangat mendekati Nicolás, dan sesuatu dalam diriku bergolak. Meski ia tak tampak senang dikelilingi begitu banyak perempuan, ia juga tak menjauhkan mereka, tapi ia memang meminta mereka menyiapkan berbagai busana untuk anakku. Seorang gadis berusia sekitar 25 tahun mendekati kami setelah semua jalang itu pergi.

"Selamat sore dan selamat datang, ayo, gadis kecil, kita akan mencoba semua busana yang seukuran dengamu," ucapnya sambil tersenyum dan menggenggam tangan Hannah.

"Boleh, Mami?" tanya Hannah sambil mengerucutkan bibir kecilnya padaku.

"Boleh, sayang, pergilah dengannya," ucapku sambil memberinya senyum penuh percaya.

Hannah menyambut tangan si gadis dan mengikutinya ke ruang pas tempat sudah tersedia beberapa gaun yang ideal untuknya.

"Kita akan pergi ke mana?" tanyaku pada Nicolás begitu kami tinggal berdua.

"Akan jadi kejutan untuk kalian," ucapnya sambil memandangku dengan tatapan hangat.

Seorang gadis lain mendekatiku dan memintaku mengikutinya ke ruang pas tempat tergantung lima gaun dengan warna berbeda-beda.

Gaun-gaun itu indah, sampai aku begitu kesulitan memilih hanya satu. Suatu saat aku begitu asyik mengamati diriku di cermin, sampai tak menyadari Nicolás telah masuk ke ruang pas bersamaku.

"Yang itu tampak sangat cantik padamu dan cukup praktis untuk situasi tertentu," ucapnya sambil melahapku dengan tatapan. Gaun merah yang kukenakan memperlihatkan salah satu kakiku, dan lagi ia membalut dadaku cukup ketat sehingga menonjolkan volumenya.

"Aku ingin kau membantuku memilih satu," ucapku sambil menunjuk gaun-gaun lain yang tergantung.

"Baiklah, berlenggaklah untukku dan akan kukatakan mana yang terbaik," ia duduk di bangku yang ada di sana dan menatapku lekat-lekat.

"Aku tak akan berganti baju di depanmu," ucapku dengan tersinggung.

Ia bangkit dan memelukku erat. "Aku ingin bisa membantumu."

"Tapi kalau kau keluar, aku bisa memanggilmu saat sudah siap," ucapku sambil membalas pelukannya. "Lagi pula, kalau aku tahu ke mana kita pergi, itu akan memudahkanku memilih mana yang tepat."

"Akan jadi sesuatu yang sangat indah dan istimewa, hanya kita bertiga," ucapnya sambil kembali duduk.

"Baiklah," aku mengembuskan napas dan mulai menanggalkan pakaian di depannya.

Kucoba semua gaun, dan begitu selesai kupandangi ia agar memberikan putusannya.

"Kita ambil semuanya," ucapnya sambil menyambar gantungan-gantungan baju dan keluar dari ruang pas, meninggalkanku ternganga. Aku hanya menginginkan satu.

Ketika aku keluar dari ruang pas, Hannah sudah menungguku di luar, dan petugas keamanan yang berdiri di belakangnya juga memegang beberapa kantong berisi gaun. Rupanya bukan hanya aku yang menerima beberapa gaun alih-alih hanya satu.

"Mama, aku mencoba gaun-gaun putri, semuanya indah, si gadis bilang kalau rambutku dikepang atau digerai, aku akan tampak sangat cantik," ucapnya sambil melompat-lompat ke sana kemari. Aku suka melihat putriku begitu bahagia, maka sebagai ungkapan terima kasih aku mendekati Nicolás dan membubuhkan ciuman manis di pipinya.

"Terima kasih," bisikku setelah menciumnya.

"Kalian pantas mendapatkan lebih dari ini, malah aku ingin kau membiarkanku memberi kalian jauh lebih banyak lagi," ucapnya sambil menerima kartu emas yang dikembalikan wanita pemilik tempat itu setelah membayar semuanya.

"Tak perlu, dan kau tahu itu," ucapku sambil tersenyum.

Kami langsung pulang ke mansion. Para petugas keamanan menyerahkan kantong-kantong itu kepada para pelayan, dan merekalah yang akan menyimpan semuanya di lemari. Kami sendiri pergi ke dapur tempat Magdalena dan María sedang mengobrol sambil menyeruput teh.

"Akhirnya kalian pulang, aku sangat merindukan si kecil ini," ucap Magdalena sambil memeluk Hannah erat-erat.

"Ibu, malam ini kami bertiga akan keluar, jangan hitung kami untuk makan malam, tolong," ucap Nicolás dengan nada serius.

"Aku senang kau terus mengajak mereka mengenal seluruh kota. Semoga kalian sangat menikmatinya," ucapnya pada kami.

María menuangkan teh untukku dan susu hangat untuk anakku. Nicolás mencium kami berdua lalu pergi mencari ayahnya.

"stai meglio? (kau sudah lebih baik?)" tanya Magdalena, dan aku bersyukur ia melakukannya dalam bahasa Italia agar Hannah tak mengerti.

"Per fortuna sì, abbiamo trascorso una giornata spettacolare, anche se non mi sono ancora abituato al fatto che Nicola mi comprasse tutto ciò su cui si posano gli occhi (untunglah, ya, kami melewati hari yang luar biasa, meski aku masih belum terbiasa dengan Nicolás yang membelikanku segala yang menjadi sasaran mataku)," ucapku sambil tertawa dan menyeruput teh.

Kami semua sedang tertawa dan Hannah bercerita tentang hadiah-hadiahnya ketika tiba-tiba ponselku berdering. Kukeluarkan dari tasku dan aku membeku ketika membaca nama di layar.

"Halo," ucapku dengan suara agak lesu. Panggilan itu tak mungkin membawa kabar baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!