NovelToon NovelToon
Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: SulSya

Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.

Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.

Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.

Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.

Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.

Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

Lantai keramik ruang tamu itu terasa teramat dingin menyentuh telapak kaki Maya yang tak beralas.

Jarum jam dinding tua di ruangan itu berdetik nyaring, menunjukkan pukul sepuluh malam.

Maya duduk membatu di sofa, membiarkan kegelapan malam menelan sebagian besar ruang tamu.

Hanya lampu gantung kecil di sudut yang menyala, memantulkan bayangan samar wajahnya yang pucat.

Suara deru mesin mobil yang sangat familiar terdengar berhenti di garasi depan.

Maya menarik napas panjang, mencoba menguasai dadanya yang bergemuruh liar.

Langkah kaki terburu-buru disusul bunyi gemerincing kunci memecah hening.

Pintu terbuka. Bagas melangkah masuk, melonggarkan ikatan dasinya dengan wajah yang menyiratkan kelelahan.

Namun, raut wajahnya mendadak berubah keras saat matanya menangkap sosok Maya yang duduk menantinya dalam remang.

"Kenapa belum tidur? Dan kenapa lampu dimatikan begini, Maya?" tanya Bagas dengan nada ketus, melemparkan kunci mobilnya begitu saja ke atas meja kaca.

Maya tidak langsung menjawab. Ia berdiri pelan, menatap lurus ke dalam manik mata pria yang telah menemaninya selama tiga tahun ini.

Rasa sakit yang berkecamuk sejak sore tadi kini berubah menjadi keberanian yang menuntut keadilan.

"Aku nunggu kamu, Gas," jawab Maya, suaranya terdengar begitu tenang meski hatinya hancur berantakan. "Ada hal penting yang harus kita bicarakan."

Bagas menghela napas kasar, memutar bola matanya tanda jengkel. "Maya, tolonglah. Aku baru pulang kerja, capek setengah mati.

Jangan mulai drama malam-malam begini. Kalau cuma mau nanya masalah uang belanja atau urusan sepele lain, besok saja!"

"Sore tadi kamu di mana, Bagas?" potong Maya cepat. Kalimat itu meluncur dari bibirnya, tajam dan tanpa keraguan.

Langkah Bagas yang hendak menuju kamar mandi terhenti seketika.

Tubuhnya menegak. "Maksud kamu apa? Kan sudah aku bilang berkali-kali dari kemarin, aku ada meeting sama klien di luar!"

Maya tersenyum getir, tawa kecil yang penuh kepedihan lolos dari tenggorokannya.

"Klien? Klien mana yang meeting-nya sambil bergandengan tangan mesra di Grand Indonesia, Gas? Klien mana yang kepala dan dadanya disandarkan begitu nyaman di bahu kamu?"

Raut wajah Bagas berkedip kaget selama beberapa detik. Ada kilat kepanikan yang sempat melintas di matanya, namun dengan cepat digantikan oleh rasa defensif yang dingin.

Ia berbalik, melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap Maya dari atas ke bawah dengan tatapan penuh penilaian yang merendahkan.

"Oh, jadi kamu mata-matai aku?" cibir Bagas tanpa rasa bersalah sedikit pun. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada penjelasan pertobatan.

"Bagus kalau kamu sudah lihat sendiri. Jadi aku tak perlu repot-repot pura-pura lagi."

Maya menahan napas, tak menyangka respon sesadis itu yang keluar dari mulut suaminya.

"Bagas... kamu selingkuh! Kamu mengkhianati pernikahan kita! Dan reaksi kamu cuma seperti ini?"

Bagas melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Bukannya memelas, tatapannya justru penuh amarah yang menyudutkan.

"Selingkuh kamu bilang? Coba kamu ngaca, Maya!" gertak Bagas, menunjuk wajah Maya dengan jarinya yang gemetar.

"Kamu pikir kenapa aku sampai cari kenyamanan di luar? Kamu pikir aku betah pulang ke rumah melihat bentuk kamu yang seperti ini?"

"Apa maksud kamu...?" suara Maya bergetar, sirna sudah ketenangan yang ia bangun sejak awal.

"Lihat diri kamu sendiri!" bentak Bagas lagi, suaranya meninggi memenuhi setiap sudut ruangan.

"Dulu saat aku nikah kamu, kamu itu terawat, wangi, dandanannya rapi, berat badan kamu ideal! Sekarang apa?

Kamu cuma sibuk di dapur, pakai daster kusam, rambut berantakan, badan kamu melar ke mana-mana! Aku malu, Maya! Aku malu kalau harus bawa kamu ke acara kantor atau jalan-jalan di mal!"

Airmata yang ditahan Maya akhirnya tumpah menembus pipinya. Kata-kata Bagas merajam dadanya jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan itu sendiri.

"Aku seperti ini karena ngurusin rumah ini, Bagas! Aku ngurusin semua kebutuhan kamu sampai aku lupa ngurusin diri sendiri! Dan kamu malah nyalahin fisik aku?"

"Alasan!" potong Bagas dingin. "Wanita lain di luar sana tetap bisa menjaga penampilan walau mereka sibuk! Rania... kamu lihat Rania? Dia selalu tampil cantik, wangi, berat badannya terjaga.

Berdiri di samping dia bikin aku merasa bangga sebagai laki-laki! Sedangkan kamu? Berdiri di samping kamu cuma bikin aku merasa jatuh!"

"Bagas, cukup..." bisik Maya, dadanya sesak luar biasa hingga rasanya sulit untuk menghirup udara.

"Kamu yang mulai konfrontasi ini, Maya," sahut Bagas tak acuh. Ia merapikan kembali kerah kemejanya yang agak kusut, lalu menyambar kunci mobilnya di meja.

"Aku malas debat sama orang yang cuma bisa nyalahin orang lain tanpa sadar kekurangan dirinya sendiri. Aku tidur di luar malam ini."

"Bagas! Jangan pergi! Kita belum selesai bicara!" teriak Maya hysteris saat melihat Bagas berbalik menuju pintu keluar.

Tanpa menoleh sedikit pun, Bagas melangkah keluar dan membanting pintu depan dengan sangat keras—meninggalkan Maya yang ambruk di atas lantai dingin, terisak dalam kehancuran yang tak bertepi.

1
Ma Em
Bagas tdk tau diri diwaktu dia sakit Maya yg mengurusnya sekarang setelah sehat malah mau menyingkirkan Maya tanpa memberi kompensasi apapun , semoga usaha Bagas yg dia agung agungkan itu bangkrut dan menerima karma yg sangat menyedihkan karena sdh berkhianat .
SulSya
👍terimakasih kk penyemangat maya
Ma Em
Ayo Maya bangkit tunjukan pada Bagas bahwa tanpa dia Maya bisa cari uang dan sukses , buat Bagas menyesal karena sdh menceraikan mu Maya .
Ma Em
Alhamdulillah Maya selamat dan ada orang yg menolong .
Ma Em
Maya kamu kok bisa kalah dari Bagas sampai ngemis ngemis bikin malu saja , semoga Maya bisa sukses balas si Bagas buat dia menyesal dan berlutut minta maaf sama Maya tapi jgn mau untuk memaafkan nya .
Ma Em
Bagus Maya kamu hrs tegas jgn bisanya cuma nangis itu wanita lemah , Maya hrs berani buat Bagas menyesal setelah ditinggalkan sama Maya .
Ma Em
Thor yg benar nama suami Maya itu sebenarnya Bagas atau Aris jadi bingung , sebentar dipanggil Bagas sebentar dipanggil Aris .
SulSya: Rania mengaku kepada Maya bahwa nama pacar nya itu Aris kepada Maya agar tidak ketahuan sama maya
total 1 replies
Ma Em
Maya kamu jgn cuma nangis cepat bergerak dan selidiki kelakuan Bagas diluar rumah seperti apa kelakuan nya .
SulSya: iya itu, ini malah nangis aja
total 1 replies
SulSya
🙏🙏
Ma Em
Lelaki modelan Bagas yg tdk pantas ditolong sama maya dulu lbh baik biarkan saja dia cacat dan tdk bisa berjalan lagi , sungguh menyebalkan setelah sehat dan mapan malah melupakan Maya yg merawat dan banting tulang untuk membiayai Bagas .
SulSya: bener banget tuh kak, besok kita siksa dia
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!