NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 : Di serang Monster

Raungan ketiga terdengar menggelegar, kali ini begitu dekat hingga cangkir teh di atas meja kayu bergetar hebat sebelum akhirnya retak menjadi dua. Angin berbau anyir tanah dan belerang menyapu halaman, membawa serta kabut hitam pekat yang mulai merayap naik ke tangga batu Paviliun Belakang.

Di dalam, Shen Rui masih berdiri mematung sambil menatap Lin Yue yang tergeletak pingsan di lantai.

“Yuan,” panggil Rui perlahan.

“Angkat dia,” jawab Shen Yuan tanpa melepaskan pandangan dari gulungan kabut di luar. Tangannya sudah memancarkan pendar cahaya putih kebiruan, tanda elemen anginnya bersiap.

Rui menunjuk dirinya sendiri. “Angkat? Aku?”

“Ya.”

“Kenapa aku?!” protes Rui sambil berkacak pinggang, jubahnya sedikit berkibar. “Aku ini jenius elemen es tingkat tinggi. Pewaris kekuatan langka. Tanganku diciptakan untuk membekukan lautan dan menaklukkan dunia, bukan untuk menggotong perempuan pingsan!”

Yuan menoleh dengan tatapan mematikan. “Lalu kau mau membekukan lautan sekarang, atau membiarkan siluman itu memakan kita bertiga?”

Rui mendengus kasar. “Kau tidak asyik.”

Dengan sangat terpaksa, ia berjongkok di sebelah Lin Yue. Ia mengulurkan tangan, lalu tiba-tiba berhenti. Wajahnya yang sejak tadi terlihat malas perlahan mencerah. Otaknya yang biasanya lambat memproses sesuatu mendadak menemukan jalan pintas.

Cahaya biru perlahan muncul dari telapak tangannya. Ia membekukan lantai kayu tepat di bawah tubuh Lin Yue, menciptakan semacam papan seluncur es tipis yang pas seukuran tubuh gadis itu.

Rui berdiri sambil menepuk tangan dengan bangga.

“Lihat. Kejeniusan yang sulit dicari tandingannya,” kata Rui angkuh. “Aku tinggal menendang pelan papan es ini dan dia akan meluncur sendiri menjauhi bahaya. Praktis, elegan, dan yang terpenting aku tidak perlu berkeringat.”

Yuan memijat pelipisnya. Pembuluh darah di dahinya berkedut keras. “Kau benar-benar minta dihajar.”

Sebelum perdebatan mereka berlanjut, pintu ganda paviliun hancur berkeping-keping.

BRAAAK!

Serpihan kayu berserakan di udara. Sesosok makhluk setinggi tiga meter dengan bulu sekeras jarum baja dan mata menyala semerah darah menerobos masuk. Mulutnya yang penuh taring meneteskan liur hitam yang langsung melelehkan lantai kayu berukir itu saat menetes.

Makhluk itu menatap tajam ke arah Shen Yuan dan Shen Rui, menggeram rendah, bersiap untuk menerkam.

Bukannya panik, Rui justru melipat tangan di dada dengan gaya paling sombong yang bisa ia buat. Dagu dan hidungnya sedikit diangkat.

“Cih, hanya anjing kabut rendahan,” decih Rui angkuh, padahal kakinya sudah mundur dua langkah ke belakang tubuh kakaknya. “Berani sekali kau mengganggu waktu istirahatku. Asal kau tahu, kalau aku mengeluarkan sepuluh persen saja dari kekuatan rahasiaku, kau sudah berubah menjadi es serut rasa taring!”

Yuan meliriknya tajam. “Bagus. Kalau begitu cepat bekukan dia.”

“Malas,” jawab Rui tanpa dosa. “Tanganku masih kram sehabis membuat es buah tadi. Lagipula orang hebat selalu menyerang paling akhir. Kau saja yang urus, anginmu lumayan untuk mengeringkan bulu rontoknya.”

Siluman raksasa itu seakan mengerti dirinya sedang diremehkan. Dengan raungan memekakkan telinga, ia melompat maju. Namun, alih-alih menyerang kedua pemuda itu, tebasan cakarnya justru menghantam meja kayu tempat mangkuk es buah sisa Rui berada.

PRANG!

Meja terbelah dua. Mangkuknya hancur berkeping-keping. Sisa es batu bercampur madu dan potongan buah segar terlempar ke udara, lalu jatuh berhamburan ke lantai.

Tepat pada detik itu juga, hidung Lin Yue yang sedang pingsan di atas seluncuran es berkedut.

Penciumannya menangkap aroma madu. Telinganya mendengar suara mangkuk pecah.

Mata gadis itu terbuka lebar dalam sekejap.

“ES BUAHNYAAA!”

Lin Yue melompat bangun dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran orang yang baru saja pingsan. Ia mengabaikan siluman bertaring mengerikan di depannya. Ia juga mengabaikan paviliun yang setengah hancur.

Matanya justru tertuju pada bongkahan es raksasa yang tadi jatuh dari atap, yang kini tergeletak manis di sudut ruangan.

Gadis itu langsung melompat-lompat kegirangan sambil bertepuk tangan riang.

“Wahhh! Esnya masih ada! Rui, Rui! Cepat buatkan lagi! Buatkan lagi pakai madu yang banyak! Kita bisa pakai es yang besar itu!” seru Lin Yue persis seperti anak berumur lima tahun yang baru melihat festival kembang gula. Wajahnya berseri-seri penuh harap, sama sekali tidak peduli ada monster mematikan yang sedang meneteskan liur di dekat kakinya.

Siluman itu berhenti di tengah gerakannya. Otak monsternya tampak kebingungan melihat mangsanya malah bertepuk tangan meminta makanan padanya.

Rui, melihat ada orang yang mengagumi kekuatannya, langsung tersenyum lebar. Kesombongannya kembali naik ke puncak tertinggi.

“Tentu saja! Es buatanku memang tiada duanya di seluruh Benua Timur!” Rui membusungkan dada. “Lihat dan pelajari, Yuan. Beginilah caramu membuat pengikut setiamu bersorak gembira!”

“KALIAN BERDUA BENAR-BENAR IDIOT!” bentak Yuan. Kesabarannya akhirnya benar-benar habis, menguap tanpa sisa.

Siluman itu kembali mengaum marah karena merasa diabaikan. Ia bersiap menerkam Lin Yue yang jaraknya paling dekat. Yuan segera memutar tangannya, menciptakan badai angin sekuat tenaga untuk mendorong tubuh besar makhluk itu mundur. Angin berputar kencang di dalam ruangan, menerbangkan tirai sutra, pecahan meja, dan perabotan paviliun.

“Rui! Gunakan esmu sekarang! Tahan kakinya!” teriak Yuan sambil menahan dorongan siluman itu.

Rui mendecak sebal. “Iya, iya, tidak usah teriak. Kau merusak konsentrasiku. Perhatikan baik-baik teknik agungku ini!”

Bukannya membidik kaki monster itu dengan benar, Rui malah dengan malas mengarahkan telapak tangannya secara asal-asalan ke depan. Ia melepaskan gelombang energi biru yang teramat besar sambil menguap.

Masalahnya, tembakan es Rui sangat tidak terarah. Gelombang energi es itu meleset dari kaki monster dan justru bertabrakan langsung dengan pusaran angin milik Yuan.

Seketika, angin spiritual Yuan menyedot energi es Rui.

“Eh?” Rui mengerjap dengan wajah bodoh.

“Tarik kembali energimu, bodoh!” teriak Yuan panik saat melihat pusaran anginnya berubah warna menjadi biru beku.

“Tidak bisa ditarik! Memangnya ini layangan?!” balas Rui ikut panik.

Kedua elemen murni itu bergabung seketika. Reaksi berantai terjadi. Sebuah badai salju bertekanan luar biasa tinggi tercipta di dalam ruangan tertutup. Suhu paviliun anjlok drastis ke titik beku terdalam hanya dalam hitungan detik. Angin puting beliung es menyapu seluruh ruangan, menghantam si siluman, merayap cepat ke dinding kayu, menaiki tiang-tiang penyangga, hingga membekukan seluruh atap.

Lin Yue yang melihat badai es berkilauan berputar di tengah ruangan malah semakin keras bertepuk tangan. Matanya berbinar-binar kagum.

“Wahhh! Hujan es! Cantik sekali! Mau makan yang itu!”

“TUNDUK!” teriak Yuan.

Tanpa ampun, Yuan menarik kerah jubah belakang Rui dengan tangan kiri, dan menyambar kerah Lin Yue dengan tangan kanan. Ia menyeret paksa kedua orang bodoh itu melompat keluar melalui jendela paviliun yang sudah hancur.

Mereka bertiga berguling di halaman berumput, tepat sebelum sebuah ledakan hawa dingin memekakkan telinga terdengar dari dalam.

KRAAAAK! WUUUSH!

Ketika debu es dan kabut salju perlahan memudar ditiup angin pagi, ketiga remaja itu duduk di atas rumput sambil terdiam.

Di depan mereka, Paviliun Belakang yang tadinya berdiri anggun dengan arsitektur kuno nan megah, kini telah berubah sepenuhnya menjadi balok es raksasa transparan. Di dalamnya, siluman bayangan itu membeku abadi dalam pose melompat dengan mulut terbuka lebar, persis seperti patung es murahan di pasar malam.

Lin Yue membersihkan jubahnya yang kotor karena rumput, lalu menatap paviliun beku itu dengan takjub.

“Wah, es serut raksasa! Kapan kita bisa memakannya?” tanyanya polos.

Rui perlahan berdiri sambil membersihkan debu di bajunya. Ia mengangkat dagu, berusaha menutupi keterkejutan sekaligus rasa bersalahnya dengan sisa-sisa kesombongan.

“Sudah kubilang, kan?” Rui tersenyum kaku. “Sepuluh persen kekuatanku. Makhluk ini bukan apa-apa bagiku. Semuanya sudah kuperhitungkan.”

Yuan berdiri perlahan. Ia menatap paviliun yang hancur lebur dan membeku total itu dengan wajah sepucat kertas. Urat di pelipis dan lehernya berkedut keras menahan amarah yang rasanya bisa membakar satu gunung.

“Bukan apa-apa katamu?” desis Yuan. Suaranya sangat pelan, tapi entah mengapa jauh lebih menakutkan daripada auman siluman raksasa tadi. “Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan, Shen Rui?”

Rui berkedip. “Menyelamatkan dunia?”

“Kau baru saja membekukan paviliun pusaka milik Tetua Pertama.”

Rui terdiam. Kesombongannya luntur seketika tak bersisa. Ia menelan ludah. “...Oh.”

“Dan tebak siapa rombongan yang sedang berlari ke arah kita sekarang dari gerbang depan?” Yuan menunjuk ke ujung halaman perguruan.

Di sana, Tetua Pertama bersama belasan murid senior sedang berlari ke arah mereka dengan wajah merah padam karena murka. Beberapa dari mereka membawa pedang spiritual yang bersinar terang.

Lin Yue berkedip polos, lalu menarik-narik lengan baju Rui. “Rui, apa kita akan diajak makan sarapan bersama kakek tua yang wajahnya merah itu?”

“Tidak, Yue,” jawab Rui dengan wajah memelas, kakinya sudah mengambil posisi bersiap-siap. “Kita yang akan dijadikan sarapannya. LARI!”

****

Like yaaaaa Likeeee

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!