Sekuel dari 'Menikah Muda Denganmu' sebelumnya. Klik profil jika ingin membaca cerita yang pertama!
Sofia Putri Anggara, gadis berisik yang penuh ide gila di kepalanya. Gadis muda berusia 19 tahun ini harus extra keras meluluhkan hati seorang
duda tampan dan kaya raya bernama Dilan Danuarta.
Duda yang memiliki sikap dingin, tegas dan tak suka dibantah.
Karena sebuah surat peninggalan adik kesayangannya, Dilan terpaksa harus menikah dengan Sofia gadis pilihan sang adik yang sudah meninggal.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara gadis sembilan belas tahun dan pria beranak satu ini?
Usia yang terpaut dua belas tahun dan sikap yang bertolak belakang.
Sofia
"Abang akan jatuh cinta sama Sofi!"
Dilan
"Dalam mimpi!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide Baru
Sofia menelan salivanya. Menghadapi maminya memang hal paling tersulit di hidupnya. Bisa panjang jika maminya tau apa yang di lakukan suaminya tadi malam padanya.
Haruskah ia berbohong? Atau jujur saja? Sofia mengangkat kepalanya, ia menatap Raya dengan perasaan yang bercampur aduk.
Sungguh ia benar-benar tak ingin bicara apapun. Tapi bukan Raya jika melepaskannya begitu saja.
Entah ini benar atau tidak. Mungkin lebih baik dia yang di omeli Raya dari pada Dilan yang terkena dampaknya. Bagaimanapun Sofia tidak ingin orangtuanya tau tentang perlakuan suaminya. Biarlah dia yang menutupi kesalahan Dilan di depan orangtuanya.
"Gini mi ...Sofi ... Sofi belum siap begituan sama Abang. Jadi Sofia pindah ke kamar lain. Abang juga gak marah kok mi hehehehe." Ucapnya sambil cengengesan.
"Jadi, kamu ninggalin suami kamu di malam pertama hanya karena kamu belum siap? Ya ampun Sofia ...," Raya menepuk jidatnya. Ia setengah tak percaya, tapi melihat ekspresi Sofia. Raya jadi tak curiga. Sofia Memang ahlinya bersandiwara.
Rafa menghampiri Sofia. Ia memeluk tubuh putrinya itu dengan hangat.
"Papi percaya sama kamu Sofi. Papi juga percaya Dilan akan mengerti kamu. Cuma saran papi jangan pernah meninggalkan suami kamu di kamar sendirian. Jika masalahnya karena kamu belum siap, kalian bisa bicarakan baik-baik." Pesan Rafa yang selalu membuat Sofia nyaman.
"Iya pi, maafin Sofia ya pi. Sofia gak akan ngulangin kesalahan yang sama."
"Pantes aja Dilan pulang tanpa pamit. Suami mana yang gak kecewa Sofi. Udahlah sekarang mendingan kamu siap-siap. Kita pulang aja sekarang. Mami udah gak niat untuk jalan-jalan. Ayo ... Kamu bilang sama anak buahnya si Dilan itu, kalo kita akan pulang sekarang juga." Tegas Raya.
"Iya mi." Sofia keluar dari kamar dan menghembuskan nafas perlahan.
"Selamat ... selamat." Batin Sofia.
* * *
Dilan melonggarkan dasinya. Duduk bersandar di kursi kebesarannya di dalam ruang kantornya.
"Bagaimana keadaan James Boy? Kamu sudah mengurus pria penghianat itu?"
"Sudah Tuan. Saya pastikan dia tidak akan berani berulah lagi."
"Bagus Boy, Carikan Lano pengawal sementara, tapi saya tidak ingin memecat James. Saya rasa dia pria baik. Saya juga yakin suatu saat nanti dia kita butuhkan."
"Baik Tuan."
"Itu saja Boy, keluarlah sekarang! saya ingin tidur sebentar."
"Kenapa Anda tidak pulang saja Tuan? Saya mendapat info bahwa Nona Sofia dan keluarganya sudah di perjalanan pulang."
"Saya tidak ingin di ganggu Boy, soal Sofia saya serahkan padamu. Urus semua keperluannya di dalam ruang besar. Turuti saja apa yang dia inginkan." Dilan berucap datar.
"Baiklah Tuan."
Boy keluar meninggalkan Dilan sendiri. Sebagai orang kepercayaan Dilan. Boy hanya bisa melakukan apa yang di inginkan Dilan, apalagi di saat seperti ini. Boy sudah tau apa yang seharusnya ia lakukan. Dilan butuh waktu menyesuaikan diri, Boy tau itu. Dilan bukan pria yang mudah di nasehati jika perasaannya sedang kacau. Cukup biarkan dia sendiri sampai hatinya sedikit tenang dan saat itu Boy akan mencoba berbicara dari hati ke hati pada pria itu.
Sofia dan keluarganya sudah sampai di rumah mereka. Sofia mampir ke rumah orangtuanya dulu.
Sedang Ghaisan dan Gracia sudah masuk ke kamar mereka. Karena kondisi Ghaisan yang memang belum pulih sepenuhnya.
Raya dan Rafa duduk di sofa sambil mengeluarkan oleh-oleh yang sempat mereka bawa pulang.
"Kamu udah jadi istri orang Sofia. Sebaiknya kamu langsung pulang aja ke rumah suami kamu!" Suruh Raya.
"Iya Sofia, Dilan pasti udah nunggu kamu di rumah." Lanjut Rafa.
"Sofia mau ambil barang Sofia mi, sekalian mau tidur juga. Capek, ntar malem atau gak besok baru Sofia pulang." Kata Sofia malas. Ia benar-benar masih kesal pada Dilan.
"Ya udah kalo kamu mau istirahat sebentar, tapi harus izin dulu sama Dilan. Nanti dia khawatir."
Sofia mengangguk lalu berjalan menuju kamar pribadinya.
Sofia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil mencoba memikirkan sesuatu. Di otak gadis itu hanya Dilan dan Dilan.
Abang lagi apa ya? Sofi kangen Abang. Tapi Sofi masih kesal dengan Abang. Huuh ... kenapa aku jadi melow?
Sofia akhirnya memejamkan mata.
* * *
Di sore hari ...
Boy datang kerumah Sofia. Pria itu meminta izin Raya untuk meminta Sofia pulang bersamanya. Raya pun mengiyakan dan memanggil Sofia.
Sofia keluar dari kamar dan berjalan malas sambil sesekali menguap lebar, Ia menghampiri Boy yang sudah menunggunya.
"Sofia pulangnya besok aja Mas Boy. Sofi masih mau di sini malam ini." Kata Sofi acuh.
"Ini permintaan Tuan Nona, saya hanya di suruh menjemput Anda pulang."
"Sudahlah Sofia, kamu harus nurut sama suami kamu! Gak baik kalo kamu di sini tanpa izin suami." Raya mencoba menasehati Sofia.
Sofia melirik Boy mereka berdua berbicara lewat mimik wajah yang di buat-buat.
"Ayolah Nona jangan keras kepala, setidaknya jangan bikin saya lelah dengan sikap kekanakan Nona dan Tuan."
"Tuan kamu aja yang keras kepala mas Boy, kenapa bukan dia aja yang jemput Sofia? Sesibuk apa sih Abang sampe gak punya waktu jemput istrinya."
"Sudahlah Nona. Mengalah saja untuk saat ini, akan ada saatnya Tuan akan tunduk pada Anda, tapi ini bukan waktunya."
"Kalian emang pria-pria egois. Mas Boy dan Abang sama aja."
Raya melirik Sofia dan Boy bergantian.
"Kalian kok malah diem-dieman? Katanya mau pergi? Sofia, Boy?"
Boy dan Sofia tersadar. Percakapan aneh mereka terhenti. Sofia segera masuk kembali ke kamarnya, membawa barang untuk di bawa kerumah suaminya.
"Anda tidak perlu membawa banyak barang Nona! saya sudah menyiapkan semua keperluan Anda di rumah besar," Ujar Boy.
Sofia tak peduli ia tetap membawa baju kesayangan untuk ia bawa. Setelah memastikan semuanya tertata rapi, Sofia segera menghampiri Boy dan menyeret koper kecil di tangannya.
"Ayo mas Boy!" Sofia menyalami mami dan papinya lebih dulu sebelum pergi. Setelah berpamitan, Sofia dan Boy pun meninggalkan kediaman Raya dan Rafa.
Di dalam mobil ...
"Abang di mana mas Boy?"
"Tuan masih di kantor Nona."
"Sofia mau mampir sebentar ke mall."
"Mau apa Nona? Semua kebutuhan Anda di rumah besar sudah di siapkan Tuan."
"Kamar Sofia sama Abang pisah atau Sofia tidurnya bareng Abang?"
"Pertanyaan apa itu Nona? Jelas Anda akan sekamar dengan Tuan Nona. Kalian kan suami istri? Anda ada-ada saja Nona." Boy menggeleng.
"Kali aja kayak di drama atau novel mas, biasanya pasangan yang tidak saling cinta kamarnya kan pisah dulu. Kalo udah cinta baru satu kamar." Ucap Sofia santai.
"Bukan TIDAK tapi BELUM Nona."
"Sama aja, pokoknya kita mampir sebentar. Nanti juga mas Boy tau apa yang akan Sofia beli. Mas Boy punya banyak uang kan? Uang Sofia gak cukup kalo mau beli itu."
"Tentu saja Nona, saya akan membelikan apapun yang Anda mau. Tuan Dilan sudah memberi pesan pada saya untuk memberikan apa yang Anda inginkan."
"Baguslah ... Ayo kita belanja mas Boy." Sofia sumringah kembali. Ia sudah memikirkan ide gila di kepalanya lagi untuk membalas perlakuan Dilan suaminya.
Pria itu harus di beri sedikit pelajaran. Ayo kita adu ketahanan Abang ...
* * *
Apalagi ini? 🤔🤔
Si Sofi emang gak mudah di tindas ya?
Jangan lupa tinggalkan jejak!!
Othor butuh semangat, biar bisa update tiap hari.😊😉