Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bebek Terbang
Layar ponsel pintar Arya yang terpasang di dasbor motor kembali mengedipkan warna merah menyala, memproyeksikan sebuah jam pasir digital gaib yang menghitung mundur dengan kecepatan yang sangat mengintimidasi nurani seorang pekerja keras.
[SISA WAKTU: 6 MENIT 40 DETIK]
"Nona, tolong pegangan sekuat mungkin," ujar Arya sambil menatap Tiara sekilas lewat kaca helmnya yang penuh goresan. "Malam ini, saya gak akan biarkan paman Anda atau siapa pun menghancurkan impian yang sudah Anda bangun sejak kecil. Tutup mata Anda rapat-rapat kalau perlu, dan percaya sama saya!"
"Arya..." batin Tiara mengeja nama itu di tengah kepanikan, merasakan sedikit kehangatan yang aneh menyelinap di dada yang tadinya dingin karena takut. Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, layar ponsel Arya kembali memancarkan peringatan darurat tambahan yang sangat krusial bagi kelangsungan hidup rahasia mereka.
[PERINGATAN LOGIKA LOGISTIK: DENSITAS MATA PUBLIK TERDETEKSI TINGGI!]
Analisis Area: Koridor Sudirman memiliki tingkat kepadatan 450 pasang mata per meter persegi. Melakukan penerbangan terbuka akan memicu histeria massal, viralitas media sosial, pencarian oleh badan intelijen negara, dan pembatalan ulasan Bintang 5 secara otomatis karena merusak stabilitas sosial.
Fitur Tambahan Aktif: "Aura Kamuflase Optik (Mode Siluman Indrawi)" kini diaktifkan secara otomatis.
Prinsip Kerja: Selama motor berada di udara, publik dan alat perekam visual hanya akan melihat distorsi udara kabur mirip angin ribut sesaat. Keberadaan fisik motor terbang diburamkan dari persepsi visual publik. Namun, penumpang di atas motor akan tetap merasakan dan melihat segalanya secara nyata.
"Baguslah! Setidaknya gua gak akan dituduh pake ilmu hitam sama warga Jakarta!" batin Arya mengembuskan napas lega. Ia langsung menarik tuas gas motor Supra-nya hingga mentok. Suara raungan mesin tua itu mendadak berubah menjadi dengungan frekuensi tinggi yang sangat halus, mirip mesin jet tempur modern yang sedang melakukan pemanasan taktis.
Pendaran cahaya hijau neon yang sangat pekat mulai menyelimuti kedua ban karet motor bebek tersebut. Tekanan udara di sekeliling roda bawah mendadak menjadi sangat padat, menciptakan efek kompresi masif yang membuat paving block di jalur pembatas jalan bergetar halus.
"Arya? Ini suara apa? Kenapa motor kamu getarannya aneh kayak gini?!" tanya Tiara dengan nada suara yang mulai naik, insting atletnya mendeteksi ada perubahan energi kinetik yang sangat tidak wajar di bawah kursinya.
"Pegang yang erat, Nona Tiara! Petualangan rahasia kita dimulai sekarang!" seru Arya dengan wibawa penuh.
BOOOOOOMMMM!!!
Dengan satu sentakan tangan Arya pada tuas rem yang dilepaskan secara mendadak, motor Supra Fit tua itu melesat vertikal ke atas langit dengan sudut kemiringan yang sangat ekstrem. Kekuatan dari skill Karet Ketapel melontarkan kendaraan seberat seratus kilogram itu bersama dua manusia di atasnya menembus atmosfer rendah Jakarta, melompati deretan atap mobil pribadi yang sedang terjebak macet di bawah mereka.
"KYAAAAAAAAHHHHHHH!!!! MOMMYYYYY!!!"
Jeritan histeris dengan desibel tertinggi langsung keluar dari mulut Tiara Puspita. Seluruh pertahanan mentalnya sebagai seorang perempuan dewasa runtuh seketika dalam waktu kurang dari satu detik. Matanya yang semula terpejam langsung terbuka karena syok akibat tekanan gaya G-force yang mendadak menarik tubuhnya ke belakang. Dan apa yang ia lihat di sekelilingnya benar-benar membuat otaknya mengalami blue screen total.
Di bawah kaki jenjangnya, lampu-lampu merah dari barisan mobil di jalan raya perlahan-lahan mengecil. Udara malam yang dingin langsung menghantam wajah cantiknya dengan kecepatan luar biasa, membuat rambut ponytail-nya berkibar heboh di udara. Mereka tidak sedang berkendara di atas aspal; mereka sedang melayang di ketinggian tiga puluh meter dari permukaan tanah, sejajar dengan lampu-lampu sorot dari papan reklame raksasa yang menampilkan iklan jam tangan mewah!
"KITA TERBANG!!! ARYA, DEMI TUHAN KITA TERBANG!!! INI APA-APAAN?! KAMU PAKE SIHIR YA?! KAMU DUKUN JALANAN?! TURUNIN AKU!!! EH JANGAN, JANGAN TURUNIN AKU DI SINI, AKU GAK MAU MATI JATUH DARI LANGIT!!!" teriak Tiara beruntun dengan suara melengking panik, air matanya kini benar-benar keluar bukan karena sedih, melainkan karena syok murni akibat pelanggaran hukum fisika di depan matanya.
Dalam kepanikan puncaknya, kedua lengan kencang Tiara langsung mengunci pinggang Arya dengan kekuatan maksimal seorang atlet sprint. Ia memeluk punggung Arya begitu erat, menyembunyikan wajah pucat pasinya di balik pundak bidang sang driver ojol, seolah-olah punggung pria asing itu adalah satu-satunya pelindung mutlak yang memisahkannya dari kematian instan di atas langit Jakarta.
"Aduh, aduh, aduh! Ini jepitan lengannya kenceng banget kayak sabuk pengaman jet coaster! Mana tekanan estetik di punggung gua makin kerasa padat dan nyata lagi! Fokus, Arya, fokus! Jangan sampai lu oleng di udara gara-gara baper sama pelukan erat mahasiswi cantik!" jerit monolog batin Arya yang ikut panik, mencoba mempertahankan konsentrasi kemudinya di tengah terjangan angin malam dan sensasi kehangatan tubuh Tiara yang begitu intens menempel di punggungnya.
Untuk menenangkan penumpang belakangnya yang sudah hampir kehilangan kesadaran karena syok, Arya harus segera mengeluarkan penjelasan rasional paling absurd yang bisa ia karang di bawah tekanan udara tinggi ini.
"Nona Tiara! Tolong tenang dan dengerin saya!" teriak Arya setengah melawan desingan angin malam. "Ini bukan sihir! Ini bukan dukun! Ini adalah proyek uji coba teknologi prototipe rahasia generasi terbaru dari manajemen pusat Godjek! Namanya 'God-Flight Anti-Congestion System'!"
"Hah?! Apa?!" teriak Tiara di balik jaket Arya, suaranya teredam namun penuh dengan nada tidak percaya yang sangat kental.
"Iya! Motor bebek tua saya ini sengaja dipilih oleh tim riset dan pengembangan internal untuk dipasang generator induksi elektromagnetik portabel! Tujuannya khusus untuk menyelamatkan ulasan pelanggan VIP dalam kondisi bencana macet total seperti sekarang! Saya driver khusus yang dilatih secara militer oleh perusahaan untuk mengoperasikan alat ini! Tolong jangan disebarluaskan setelah ini, ini rahasia industri tingkat tinggi!" Arya membual dengan ekspresi wajah yang dibuat senormal mungkin di balik helmnya, meskipun di dalam lubuk hatinya ia sedang memohon ampun pada Tuhan karena telah mencatut nama jajaran direksi manajemen pusat aplikasi dengan begitu sembarangan.
"Maafkan gua ya Tuhan, terpaksa bawa-bawa divisi R&D perusahaan! Tapi masa iya gua harus jujur kalau motor Supra butut ini digerakkan oleh sistem gaib yang mengancam bakal mengubah kendaraan gua jadi kendaraan Barbie pink imut? Malah makin dianggap gila dan langsung dibawa ke rumah sakit jiwa gua!" pikir Arya dengan kepasrahan komedi yang berlapis-lapis.
Tiara Puspita terdiam di balik punggung Arya. Logika otaknya yang sedang terdesak mencoba mencerna informasi luar biasa tersebut. Sebagai seorang mahasiswi generasi Z yang hidup di era lompatan teknologi kecerdasan buatan, penjelasan tentang "teknologi prototipe rahasia tingkat tinggi milik korporasi besar" entah bagaimana terdengar jauh lebih masuk akal dibandingkan opsi "driver ojol ini adalah titisan jin penunggu pohon beringin Tambora".
Ia perlahan-lahan mengangkat wajahnya dari pundak Arya, mengintip kembali ke arah dasbor motor. Di sana, ia melihat layar ponsel pintar Arya yang menampilkan visual trajektori holografis keemasan yang sangat rumit—sesuatu yang jelas tidak ada di aplikasi ojol biasa milik teman-teman kampusnya. Ditambah lagi dengan profil samping wajah Arya yang tampak begitu tenang, tegap, dan penuh kendali mutlak di atas setang motor, seolah-olah terbang di antara gedung pencakar langit Jakarta adalah rutinitas harian yang biasa ia lakukan setelah membeli bensin eceran.
Rasa takut yang semula mendominasi mental Tiara perlahan-lahan mulai terkikis, digantikan oleh gelombang kekaguman yang sangat asing dan pekat. Udara malam yang dingin menyapu helai rambutnya, namun punggung kokoh Arya yang terlapisi jaket premium hijau perak itu memancarkan kehangatan yang luar biasa stabil. Di bawah siraman cahaya bulan malam ini, lanskap gedung-gedung tinggi di kawasan Sudirman tampak berdiri berjajar layaknya pilar-pilar kristal raksasa yang sangat megah. Dan di tengah-tengah kegilaan teknologi rahasia ini, pria di depannya sedang bertaruh nyawa menembus langit malam hanya demi memastikan impian masa depan seorang gadis asing tidak hancur di tangan keluarganya sendiri.
"Kalau aku sampai gagal ikut seleksi ini... semua yang udah aku bangun dari kecil bakal hilang begitu aja," bisik Tiara pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Arya, menyembunyikan wajahnya yang mendadak merona di balik bahu kokoh sang driver. "Makanya... makasih, Arya. Beneran."
"Belum saatnya berterima kasih, Nona. Kita belum sampai," sahut Arya, suaranya sedikit teredam angin namun tetap tegas. "Sisa waktu kita tinggal sedikit—bersiaplah, saya akan menukik ke arah Medan Merdeka!"
Dengan koordinasi taktis tingkat tinggi yang diberikan secara pasif oleh sistem, Arya menarik setang motor Supra-nya, bersiap melakukan manuver penukikan tajam membelah kegelapan langit ibu kota, membawa sang atlet cantik menuju garis takdirnya yang baru.
Di atas ketinggian lima puluh meter dari permukaan jalan, Arya mengendalikan setang motor tuanya dengan ketenangan seorang pilot tempur veteran berkat bantuan mikro-koreksi dari sistem gaib. Di bawah mereka, ribuan pengendara mobil yang sedang stres menatap ke luar jendela hanya bisa mengucek mata mereka berulang kali dengan ekspresi tidak percaya yang teramat sangat kocak. Mereka melihat sekilas bayangan sebuah motor Supra Fit ojol terbang melintas cepat di atas atap mobil mereka layaknya pegasus dari mitologi kuno.
"Gila! Ini sistem bener-bener gak main-main kalau urusan bikin atraksi ekstrem! Gua terbang! Ojol dari Tambora terbang di atas langit Sudirman pakai motor Supra yang pajaknya mati dua tahun! Kalau ada polisi lalu lintas yang lihat ini, mereka pasti bingung mau nilang gua pakai pasal yang mana, karena gak ada pasal undang-undang lalu lintas yang mengatur tentang batas ketinggian terbang motor bebek!" monolog Arya dalam hati sambil tertawa lepas di balik helmnya, merasakan sensasi kebebasan mutlak yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh kecepatan terbang itu membuat tubuh Tiara semakin menempel lekat tanpa celah pada tubuh Arya. Di tengah ketakutannya yang luar biasa, ia merasakan sebuah rasa aman yang mutlak terpancar dari punggung kokoh Arya yang berdiri tegak sebagai pelindungnya dari terpaan angin badai ketinggian Jakarta. Pria ini tidak hanya tampan, tetapi memiliki keberanian dan kegilaan yang murni demi menyelamatkan impian hidupnya yang hampir hancur.
Dengan keahlian berkendara tingkat dewa yang diberikan secara pasif oleh Sistem Godjek, Arya mengarahkan setang motornya menukik tajam ke arah kawasan Medan Merdeka. Motor Supra tua itu membelah kegelapan malam, meluncur melewati bayangan patung kuda Arjuna Wijaya dengan perlindungan kamuflase optik penuh, hingga akhirnya roda depan dan belakangnya menyentuh permukaan paving block di area parkir luar Stasiun Gambir dengan getaran yang sangat minimal.
SREEEEKKKK!!!
Roda motor bergeser halus di atas permukaan beton, menyisakan jejak gesekan tipis yang langsung menghilang diterpa angin malam. Begitu motor berhenti sempurna di area yang agak temaram dan sepi dari jangkauan lampu merkuri utama, efek kamuflase optik dari sistem secara otomatis dinonaktifkan dengan suara dengungan halus yang tidak terdengar. Arya melirik jam digital gaib di sudut pandang matanya.
[SISA WAKTU: 2 MENIT 15 DETIK]
"Nona Tiara, kita sudah sampai di koordinat tujuan! Ayo turun sekarang sebelum pintu gerbang peron atas ditutup!" seru Arya sambil dengan gerakan cepat memotong tali karet pengikat koper besar di jok belakangnya menggunakan satu sentakan tangan yang efisien.
Tiara tersentak dari lamunan emosionalnya. Ia segera menggerakkan tubuh atletisnya untuk melompat turun dari jok motor. Namun, karena efek pusing yang luar biasa akibat transisi mendadak dari kecepatan terbang tinggi kembali ke gravitasi normal bumi, kedua kaki jenjangnya yang biasa digunakan untuk berlari kencang mendadak terasa lemas seperti jeli. Tubuh rampingnya limbung ke depan, kehilangan keseimbangan di atas aspal.
"Ah...!" Tiara memekik kecil, bersiap merasakan hantaman keras beton pada lututnya.
Namun, hantaman itu tidak pernah terjadi. Dengan refleks kilat setingkat pendekar yang disokong oleh sisa energi kinetik sistem, Arya langsung menangkap tubuh Tiara sebelum gadis itu jatuh. Kedua tangan kekar Arya menopang pinggang ramping Tiara dengan sangat kokoh, menahan beban tubuh sang atlet dengan kestabilan mutlak. Posisi mereka mendadak berubah menjadi sangat intim; wajah cantik Tiara yang berkeringat sehat dan memiliki struktur estetis yang eksotis hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajah tampan Arya yang rahangnya tegas di bawah temaram lampu stasiun.
Untuk beberapa detik yang sangat krusial, waktu seolah-olah berhenti berputar di area parkir Stasiun Gambir tersebut. Angin malam menerpa sekeliling mereka, membawa aroma parfum mint maskulin dari jaket Arya dan aroma keharuman alami tubuh Tiara yang bercampur menjadi satu simfoni yang sangat memicu baper tingkat tinggi. Tatapan mata mereka saling mengunci—sebuah kontras mutlak antara keanggunan seorang dewi sirkuit lari dan kekuatan bersahaja seorang pekerja mandiri kelas bawah.
"Ka-Kamu gak apa-apa, Nona?" tanya Arya dengan suara berat yang mendadak sedikit canggung karena merasakan kelembutan kulit pinggang Tiara di balik telapak tangannya.
Pipi Tiara seketika merona merah padam seperti tomat matang hingga ke batas leher jenjangnya. Jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada saat ia melakukan sprint seratus meter di sirkuit kejuaraan. Ia buru-buru membetulkan posisi berdirinya dengan salah tingkah yang luar biasa menggemaskan, merapikan setelan baju olahraga ketatnya yang sedikit bergeser akibat insiden barusan.
"A-Aku gak apa-apa! Cuma sedikit pusing aja karena baru pertama kali nyobain teknologi rahasia perusahaan kamu," sahut Tiara dengan suara yang agak terbata-bata, mencoba menyembunyikan getaran asmara yang sedang meledak-ledak di dalam dadanya.
"Waktu kita tinggal satu menit lagi! Kereta Anda di peron atas sudah siap melakukan keberangkatan terakhir!" Arya mengingatkan dengan tegas sambil menyerahkan gagang koper besar biru tua itu ke tangan Tiara. "Lari, Nona! Tunjukkan kecepatan asli seorang calon juara pelatnas Indonesia! Jangan biarkan impian Anda dihancurkan oleh siapa pun!"
Mendengar dorongan itu, jiwa kompetitif Tiara kembali menyala dengan kobaran api yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Rasa lemas di kakinya lenyap seketika, digantikan oleh kekuatan baru yang bersumber dari motivasi asmara yang baru saja lahir malam ini. Ia menatap Arya dengan tatapan mata yang dipenuhi tekad yang teramat sangat pekat.
"Arya! Aku pasti akan memenangkan seleksi di Surabaya! Dan begitu aku kembali ke Jakarta dengan medali emas, aku bersumpah akan memesan layanan kamu lagi lewat aplikasi! Aku akan menemukan kamu kembali, apa pun caranya!" teriak Tiara penuh penegasan.
Tanpa menunggu jawaban dari Arya yang masih tertegun, Tiara langsung berbalik dan melakukan sprint lari jarak pendeknya yang legendaris menuju pintu pemeriksaan tiket stasiun. Kecepatannya begitu luar biasa, melesat melewati para petugas keamanan dan tangga berjalan layaknya kilat hitam yang membelah kegelapan malam, membawa koper besarnya seolah benda itu tidak memiliki bobot sama sekali.
Arya berdiri diam di samping motor Supra-nya, memperhatikan kepergian sang atlet dengan senyuman tipis penuh kepuasan seorang pekerja keras yang baru saja menyelamatkan masa depan seseorang. Tepat saat bayangan tubuh sporty Tiara menghilang di balik pintu kaca keberangkatan peron atas, ponsel gaib di dalam saku celana jeans Arya kembali bergetar dengan heboh, memecah keheningan malam di sudut Gambir.
TING-TONG!
Layar holografis keemasan mencuat ke udara dengan kembang api digital yang meriah, menandakan penyelesaian misi yang sangat sukses tanpa menimbulkan kekacauan publik sedikit pun.
[NOTIFIKASI SISTEM: MISI DARURAT KELAS KAKAP BERHASIL DISELESAIKAN SECARA SEMPURNA!]
Target Penyelamatan: Tiara Puspita berhasil mencapai peron kereta eksekutif Argo Bromo Anggrek tepat waktu (Sisa waktu: 4 detik sebelum pintu gerbang ditutup otomatis). Karier atletik internasional target terselamatkan secara total, dan skenario perjodohan paksa oleh paman oportunis berhasil digagalkan dari akar takdirnya.
Skor Kepuasan Pelanggan: Bintang 5 Kelap-Kelip (Tingkat Kepuasan Mutlak / Penyelamatan Berkarisma Tinggi).
Hadiah Reward Permanen Diklaim: 1. "Uang Tunai Rp 15.000.000 (Langsung Ditransfer ke Rekening Go-Pay Driver)". 2. "Skill Permanen: Stamina Kuda Sembrani (Kekuatan fisik, daya tahan tubuh, dan kapasitas energi Driver meningkat sebesar 300% secara permanen, membuat Driver memiliki kebugaran mutlak yang tidak akan pernah merasakan lelah atau encok meskipun harus bekerja selama 48 jam nonstop tanpa tidur)".
Efek Samping Jangka Panjang: Target Tiara Puspita telah mengalami penguncian keterikatan emosional tingkat tinggi terhadap Driver. Motivasi utamanya untuk memecahkan rekor kecepatan nasional kini sepenuhnya didorong oleh keinginan untuk segera kembali ke Jakarta dan mencari sosok "Driver Prototipe Rahasia" miliknya melalui pelacakan ID aplikasi Godjek.
Arya mengembuskan napas kelegaan yang teramat sangat besar dari dalam paru-parunya, membuat dadanya yang bidang naik turun dengan teratur. Ia menyandarkan tubuhnya yang kekar pada jok motor Supra Fit kesayangannya, merasakan gelombang energi baru yang sangat hangat dan padat mulai mengalir ke seluruh pembuluh darah, jaringan saraf, dan setiap serat otot di tubuhnya—sebuah efek langsung dari aktivasi skill permanen Stamina Kuda Sembrani. Otot-otot punggungnya yang semula agak kaku akibat menahan beban sentrifugal di udara mendadak terasa sangat segar, ringan, dan penuh tenaga baru yang melimpah, seolah-olah ia baru saja mendapatkan terapi pijat refleksi premium kelas atas.
"Fiuuuhhh... aman! Motor legenda gua gak jadi berubah bentuk jadi skuter roda tiga Barbie warna pink menyala yang bunyinya 'Aku Imut'! Selamat sudah harga diri gua sebagai laki-laki normal dari Tambora! Dan dapet transferan lima belas juta lagi! Mantap bener ini sistem kalau urusan menambah kesejahteraan finansial kaum pekerja mandiri. Tapi ini penjelasan prototipe rahasia Godjek tadi semoga gak bikin itu cewek malah nekat datang ke kantor pusat Godjek buat nyari gua ya? Ah, sudahlah, yang penting hari ini target selesai dengan bintang lima kelap-kelip!" monolog Arya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi komedi yang pasrah namun penuh rasa syukur.
Meskipun mulutnya mengeluh secara kocak terhadap keabsurdan sistem, Arya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Total tabungan gaibnya di akun Go-Pay kini sudah mencapai angka dua puluh lima juta rupiah hanya dalam waktu kurang dari satu hari kerja. Jumlah uang yang sangat besar bagi keluarganya di gang sempit Tambora. Dengan uang ini, ia bisa memastikan token listrik rumah petaknya tidak akan pernah mengeluarkan nada sedih lagi selama beberapa tahun ke depan, dan ibunya bisa meningkatkan kualitas bahan baku dagangan nasi timbelnya menjadi kelas premium tanpa harus berutang pada rentenir keliling.
Arya segera memakai kembali helm INK bututnya, memutar kunci kontak motor, dan menghidupkan mesin Supra Fit-nya yang kini terdengar semakin halus namun menyimpan potensi tenaga kinetik tersembunyi yang sangat dahsyat. Ia memutar arah kendaraannya, melaju meninggalkan kawasan Stasiun Gambir yang mulai sepi, bergerak membelah malam menuju arah pulang ke Tambora untuk beristirahat.
Namun, tanpa disadari sedikit pun oleh Arya Prasetya yang memiliki tingkat ketidakpekaan asmara yang sangat tinggi, perang dingin perebutan hati sang driver tampan di kalangan wanita-wanita papan atas Jakarta kini dipastikan akan semakin membara dari berbagai lini kehidupan. Di dalam gerbong kereta eksekutif yang sedang melaju kencang menembus kegelapan malam menuju Surabaya, Tiara Puspita tampak sedang memegangi dadanya yang masih berdebar kencang, menatap layar riwayat transaksi aplikasinya yang menampilkan nama 'Arya' dengan senyuman penuh rencana asmara jangka panjang. Sementara itu di belahan Jakarta yang lain, Nadia Anastasia si supermodel mewah di galeri seni Menteng dan Citra Kirana sang CEO muda cantik di Grand Indonesia tampaknya juga sedang menyusun langkah strategis masing-masing untuk kembali memonopoli waktu sang driver ojol idaman mereka. Panggung komedi romantis penuh intrik absurd berlatar belakang jalanan ibu kota kini resmi memasuki babak yang jauh lebih panas, rumit, dan sama sekali tidak terduga oleh logika manusia biasa!