NovelToon NovelToon
Nenekku Pahlawanku

Nenekku Pahlawanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

Shen Yu dikenal sebagai tuan muda paling bermasalah di Kota Qinghe. Ia gemar menghamburkan uang, membuat keributan, dan menghabiskan waktunya di rumah hiburan. Anehnya, setiap kali ia membuat masalah, sang nenek selalu berada di belakangnya.

Nyonya Lin bukanlah wanita tua biasa. Ia adalah legenda dunia persilatan, pendiri Aliansi Seratus Perguruan, dan sosok yang pernah menjaga kedamaian Dunia.

Namun ketika bayang-bayang perang kembali muncul dan musuh-musuh lama mulai bergerak, Shen Yu harus menghadapi kenyataan bahwa perlindungan neneknya tidak akan ada selamanya. Demi menjaga warisan orang yang paling ia cintai, ia perlahan berubah dari seorang tuan muda manja menjadi pendekar yang akan menentukan masa depan Kekaisaran dan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Pagi itu, dua ekor kuda berhenti tepat di depan gerbang megah Keluarga Mu.

Di belakangnya, belasan kereta kuda berjejer rapi membawa puluhan peti kayu berukuran besar. Setiap peti dihiasi kain merah sebagai tanda mahar.

Orang-orang yang melintas segera memperlambat langkah.

"Hei, lihat itu."

"Bukankah itu iring-iringan Keluarga Shen?"

"Kenapa mereka membawa mahar sebanyak itu?"

"Tentu saja untuk melamar Nona Mu"

Tak lama kemudian, jalan di depan kediaman Keluarga Mu dipenuhi warga yang ingin menyaksikan apa yang terjadi.

Shen Yu turun dari kudanya sambil mengibaskan kipas lipat di tangannya.

Ia menguap panjang.

"Haaah... jauh juga perjalanan ini."

Yan Luo berdiri di belakangnya dengan kedua tangan di belakang punggung. Wajahnya tetap datar tanpa sedikit pun perubahan. Shen Yu menatap gerbang besar itu lalu tersenyum.

"Pak Tua Yan."

Perintah Shen Yu yang langsung dipahami Yan Luo

Yan Luo mengangguk pelan, lalu melangkah satu langkah ke depan. Dengan suara yang dipenuhi tenaga dalam, ia berseru.

"Keluarga Shen datang menjemput Nona Mu Xueyi sesuai perjanjian pertunangan!"

Suara itu menggema ke seluruh kompleks keluarga Mu. Bahkan dedaunan di sekitar gerbang ikut bergetar.

Tak lama kemudian...

Gerbang perlahan terbuka. Belasan pengawal keluar lebih dahulu. Di belakang mereka berjalan seorang pria paruh baya dengan jubah biru tua. Dialah Kepala Keluarga Mu, Mu Zheng.

Di sisi kirinya berdiri seorang gadis bergaun putih dengan wajah cantik bak lukisan. Tatapannya yang jernih langsung berubah dingin ketika melihat Shen Yu.

"Jadi dia Shen Yu..."

gumamnya pelan.

Mu Xueyi sudah sering mendengar nama itu. Seorang tuan muda yang hanya tahu berjudi, mabuk, dan menghabiskan malam di rumah hiburan.

Pria seperti itu...

Tidak pantas menjadi suaminya.

Shen Yu justru melambaikan tangan dengan santai.

"Nona Mu, akhirnya kita bertemu juga."

Mu Xueyi mendengus pelan.

"Aku tidak pernah mengakui pertunangan itu."

Shen Yu membuka kipasnya.

"Tidak apa-apa. Nanti setelah menikah, pelan-pelan juga terbiasa."

"Kau!"

Wajah Mu Xueyi langsung memerah karena marah.

Sementara warga yang menonton mulai berbisik-bisik.

"Dasar Shen Yu."

"Masih sempat menggoda."

"Kali ini dia benar-benar mencari mati."

Mu Zheng melangkah maju dan berkata.

"Tuan Muda Shen. Kami memang menerima surat dari Nyonya Lin, Namun putriku tidak setuju. Karena itu, silakan kembali."

Shen Yu tersenyum tipis.

"Lalu mahar ini bagaimana?"

"Kami tidak membutuhkannya."

"Oh..."

Shen Yu mengangguk pelan.

"Kalau begitu sayang sekali."

Ia menoleh ke arah para kusir.

"Buka semuanya."

Satu per satu peti kayu dibuka. Kilauan emas langsung memantulkan cahaya matahari.

Peti berikutnya berisi sutra terbaik dari wilayah timur.

Peti lainnya dipenuhi tanaman obat berusia ratusan tahun.

Ada pula batu roh, mutiara laut, hingga pedang berkualitas tinggi. Kerumunan langsung gempar.

"Astaga..."

"Sebanyak ini?"

"Hanya maharnya saja sudah bisa membeli sebuah keluarga kecil."

Bahkan beberapa tetua keluarga Mu tampak terkejut.

Namun Mu Xueyi tetap menggeleng.

"Aku tidak akan menikah hanya karena harta."

Shen Yu tersenyum.

"Tidak masalah, karena kau tidak berhak membuat keputusan disini. Aku tetap akan membawa mu pergi ke kediaman keluarga Shen."

Mu Zheng akhirnya kehilangan kesabaran.

"Pengawal!, Usir mereka!"

Empat pengawal terbaik keluarga Mu melesat maju. Aura mereka langsung memenuhi halaman depan.

Warga yang menonton buru-buru mundur beberapa langkah.

Namun...

Yan Luo hanya melangkah pelan ke depan Shen Yu.

"Tuan Muda."

"Silakan mundur."

Shen Yu mengangguk santai.

"Jangan terlalu keras."

Yan Luo memberi hormat singkat.

"Hamba mengerti."

Empat pengawal itu menyerang bersamaan. Pedang mereka berkilat ke segala arah. Namun tepat sebelum serangan mengenai tubuh Yan Luo...

Sosoknya menghilang.

"Hilang?"

Salah satu pengawal membelalakkan mata.

Brak!

Brak!

Brak!

Brak!

Empat tubuh terpental hampir bersamaan hingga menghantam tanah beberapa meter di belakang.

Pedang mereka bahkan terlepas dari genggaman.

Seluruh halaman mendadak sunyi. Tak seorang pun melihat kapan Yan Luo bergerak. Ia sudah kembali berdiri di tempat semula.

Seolah tidak pernah melakukan apa pun.

Mu Zheng menyipitkan mata.

Ekspresi para petinggi keluarga Mu langsung berubah.

Mu Xueyi yang semula memandang rendah Shen Yu kini mulai menatap Yan Luo dengan penuh kewaspadaan.

Sementara Shen Yu hanya mengibaskan kipasnya sambil tersenyum.

"Aku sudah bilang...Lebih baik kita bicara baik-baik. Kalau tidak....nanti malah tambah merepotkan."

Di sisi lain halaman, seorang tetua keluarga Mu menggenggam sebuah kotak kayu tua yang selama puluhan tahun tidak pernah disentuh.

Ia menatap Mu Zheng dan berkata dengan suara berat,

"Patriark...Kalau kita terus mundur....harga diri keluarga Mu akan hancur."

Mu Zheng terdiam beberapa saat. Lalu perlahan mengangguk.

"Bawa pusaka keluarga."

"Baik!"

Seorang pelayan berlari menuju aula leluhur.

Tak lama kemudian, ia kembali membawa sebuah pedang kuno yang tersimpan di dalam kotak kayu hitam.

Begitu pedang itu dicabut...

Dengungan tajam memenuhi seluruh halaman.

Aura pedang yang kuat membuat para warga di luar gerbang tanpa sadar mundur.

"Itu Pedang Leluhur keluarga Mu!"

"Konon hanya digunakan saat keluarga Mu berada di ambang kehancuran."

Mu Zheng menggenggam pedang itu dengan kedua tangan.

Aura tubuhnya meningkat drastis.

Ia menatap Yan Luo dengan sorot mata tajam.

"Orang luar."

"Hari ini aku akan mempertahankan kehormatan keluarga Mu!"

Begitu kalimat itu selesai...

Mu Zheng melesat.

Pedangnya membelah udara, meninggalkan jejak cahaya yang memanjang.

Yan Luo tetap berdiri tanpa bergerak.

Baru saat pedang itu tinggal beberapa inci dari wajahnya...

Ia mengangkat dua jarinya.

Clang!

Pedang leluhur berhenti.

Mu Zheng membelalakkan mata.

"Dihentikan... dengan dua jari?"

Ia meraung marah lalu mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

Namun pedang itu tetap tidak bergerak sedikit pun.

Yan Luo menghela napas pelan.

"Masih terlalu lemah."

Jari-jarinya sedikit menekan.

Krak...

Retakan mulai menjalar di sepanjang bilah pedang.

"Tidak...!"

Mu Zheng mencoba menarik kembali pedangnya.

Terlambat.

Brak!

Pedang leluhur keluarga Mu hancur berkeping-keping.

Seluruh keluarga Mu membeku.

"Itu... pusaka keluarga..."

"Tidak mungkin..."

Belasan pengawal langsung menyerbu Yan Luo secara bersamaan.

Namun...

Yan Luo akhirnya mencabut pedangnya.

Sreeeng...

Satu tebasan.

Angin pedang menyapu seluruh halaman.

Boom!

Belasan pengawal terpental ke segala arah.

Sebagian menghantam dinding.

Sebagian lagi berguling di tanah sambil memuntahkan darah.

Dalam beberapa tarikan napas...

Tidak ada seorang pun yang masih mampu berdiri. Yan Luo perlahan memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung.

Tatapannya tetap tenang.

"Ada lagi?"

Tidak ada yang menjawab.

Mu Zheng mengepalkan tangannya hingga berdarah.

Namun ia tahu...

Perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Kalaupun seluruh keluarga Mu maju bersama...

Hasilnya tetap sama.

Ia perlahan menundukkan kepala.

"Keluarga Mu..."

"...mengaku kalah."

Para tetua keluarga Mu saling berpandangan.

Tak lama kemudian, mereka ikut menundukkan kepala.

Satu per satu para pengawal yang masih sanggup berdiri juga meletakkan senjata mereka.

Mu Xueyi menggigit bibirnya.

Ia tidak pernah menyangka...

Keluarga yang selama ini ia banggakan dikalahkan hanya oleh satu orang pengikut keluarga Shen. Shen Yu menutup kipasnya sambil tersenyum puas.

"Nah, dari tadi begini kan enak."

Ia menatap Mu Zheng.

"Patriark Mu. Aku datang membawa mahar, bukan membawa permusuhan. Lalu sekarang...Aku akan membawa tunanganku pulang."

Tak seorang pun berani menghalangi.

Seluruh halaman dipenuhi keheningan.

Keluarga Mu...

Telah kalah sepenuhnya.

1
anggita
like👍iklan☝, Shen Yu.
Mirage Ink: 🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!