NovelToon NovelToon
Bayangan Di Atas Atap

Bayangan Di Atas Atap

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Kamal Fajar001

Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Truk pengangkut balok es itu melaju pelan, lalu berhenti tepat di depan pintu masuk gudang es. Rendra memanfaatkan keributan saat sopir dan petugas pemeriksa berdebat soal surat jalan, lalu merayap masuk ke ruang sela di antara tumpukan balok es. Udara dingin menusuk tulang seketika, tapi ia tak berani bergerak—di luar, suara langkah kaki berat Inspektur Bagas dan pasukannya masih terdengar jelas.

“Bawa dia ke dermaga ujung,” perintah Bagas dingin. “Biarkan Rendra melihat semuanya sebelum dia sendiri yang menyerah. Jangan lupa periksa setiap sudut—jangan sampai ada tikus yang lolos.”

Rendra menahan napas sampai pasukan itu pergi menjauh. Ia melompat turun perlahan, lalu menyelinap ke lorong samping yang tertutup bayangan. Di saku jaketnya, alat pemindai mendeteksi kabel sensor yang terpasang di setiap pintu—satu sentuhan salah, bom di sekeliling gudang akan meledak seketika. Ia berjalan menunduk, mengikuti jejak panas tubuh yang terdeteksi di layar kecil alatnya, menuju ruang tahanan bawah tanah.

Di lantai dasar, pintu ruang tahanan sedikit terbuka. Ia mengintip dari celah: di dalam terbaring dua orang—istri Surya dan anak laki-lakinya yang berusia tujuh tahun, tangan dan kaki mereka terikat, mulut tertutup kain. Anak itu terisak pelan, sementara ibunya berusaha menenangkan dengan menggeleng pelan agar tidak mengeluarkan suara.

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari belakang. Rendra berputar cepat, menepis tangan penjaga yang hendak berteriak, lalu mengunci leher pria itu ke dinding sebelum ia bisa mengeluarkan suara. Dalam hitungan detik, penjaga itu terkulai lemas. Rendra menyembunyikan tubuhnya di balik lemari besi, lalu masuk ke ruang tahanan.

“Tenang, saya kawan ayah kalian,” bisiknya pelan sambil melepaskan ikatan mereka. “Kita harus pergi sekarang.”

Baru saja ia membantu anak itu berdiri, suara pengeras suara bergema di seluruh gudang:

“Rendra, aku tahu kau ada di dalam. Keluar sekarang, atau aku meledakkan seluruh bangunan ini—bersama dengan mereka bertiga.”

Layar di dinding menyala, menampilkan wajah Bagas yang tersenyum sinis di lantai atas. Di sebelahnya berdiri Surya yang masih terborgol.

“Kau pikir aku hanya menunggu di sini?” lanjut Bagas. “Aku sudah menutup semua jalan keluar. Satu-satunya cara mereka selamat adalah kau menyerahkan dirimu dan perangkat datanya.”

Rendra menatap sekeliling—benar saja, pintu utama sudah terkunci rapat, dan kabel merah menyala terang di setiap sudut ruangan. Ia berbisik pada istri Surya: “Bawa anakmu ke saluran pembuangan di pojok belakang, ada penutup besi yang sudah longgar. Ikuti aliran air sampai keluar ke sungai dekat pelabuhan—ada teman saya yang menunggu di sana.”

Wanita itu mengangguk gemetar, lalu membawa anaknya lari menuju pojok belakang. Rendra mengambil perangkat data, mengangkatnya ke arah kamera, lalu berteriak:

“Aku di sini! Lepaskan Surya, atau aku hancurkan data ini sekarang juga!”

Ia memegang benda itu di atas lantai beton seolah hendak menjatuhkannya. Bagas terkejut sejenak, lalu berteriak marah: “Jangan berani! Turun ke lantai satu sekarang!”

Rendra sengaja berjalan lambat menuju tangga, memberi waktu bagi keluarga Surya untuk lolos. Saat ia sampai di lantai satu, pintu gudang terbuka lebar. Bagas berdiri di tengah jalan, senjata diarahkan tepat ke dada Rendra, sementara Surya berdiri di sampingnya dengan wajah cemas.

“Serahkan datanya, lalu berlutut,” perintah Bagas.

Rendra mengulurkan tangan kiri membawa perangkat, sementara tangan kanannya perlahan meraba pisau di pinggang. Saat Bagas mengulurkan tangan untuk mengambilnya, Rendra tiba-tiba menendang tangan senjata itu ke samping, lalu melempar perangkat ke arah Surya.

“Ambil dan lari ke markas polisi di sebelah! Bawa ke kapten yang masih bersih!” teriaknya.

Surya menangkap benda itu tepat waktu, lalu berbalik berlari. Bagas berteriak geram, lalu menembak ke arah Surya—peluru meleset dan menghantam dinding. Rendra langsung menerjang pasukan di dekatnya, bertarung dengan gerakan cepat yang ia pelajari di akademi dulu. Ia menangkis serangan, menjatuhkan dua orang sekaligus, tapi peluru dari arah samping menembus bahunya. Rasa perih menyengat seketika, tapi ia tak berhenti bergerak.

Bagas berusaha mengejar Surya, tapi Rendra melompat menghadangnya, menghantam perut musuh bebuyutannya dengan keras. Keduanya jatuh ke lantai, bergulat di antara tumpukan peti. Bagas yang lebih kuat mencoba mencekik leher Rendra, tapi Rendra mengerahkan sisa tenaganya, menendang dada Bagas sampai pria itu terpental ke belakang dan menabrak kotak panel listrik.

Sistem keamanan meledak seketika. Lampu padam, dan suara peringatan ledakan berbunyi nyaring—kabel bom tadi terputus karena benturan.

“Keluar!” teriak Rendra sambil berdiri sempoyongan.

Pasukan Bagas panik, berlarian ke segala arah. Rendra memanfaatkan kegelapan, menyelinap ke pintu samping, dan berlari menuju dermaga. Di kejauhan, ia melihat Surya sudah naik ke perahu kecil yang dikemudikan Dika, sementara keluarga Surya melambai darinya dari pinggir sungai.

Perahu itu melaju cepat membelah air laut. Rendra berbalik menatap gudang es yang kini mulai terbakar, dan siluet Bagas yang berdiri di depan api sambil menunjuk ke arahnya dengan marah.

“Kau belum menang, Rendra!” suara itu samar terbawa angin laut.

Rendra tersenyum tipis sambil menekan luka di bahunya. “Belum selesai, memang. Tapi kau sudah mulai kalah.”

Malam itu, angin pelabuhan membawa bau asap dan harapan baru. Mereka belum mendapatkan keadilan sepenuhnya, tapi untuk pertama kalinya, mereka memegang kendali atas jalannya perang ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!