NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Hadiah Lautan Lepas dan Berakhirnya Kemiskinan Mental

​Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam yang pekat dan suara deburan ombak yang membentur lambung kayu kapal penumpang Sea Breeze. Layar-layar putih raksasa mengembang sempurna, menangkap angin yang mendorong kapal karavel itu membelah lautan East Blue yang biru dan tak bertepi.

​Di buritan kapal, jauh dari keramaian penumpang lain yang sibuk bersosialisasi atau bermain kartu di dek utama, Muzan Kibutsi duduk bersila di atas gulungan tali tambang yang tebal. Jubah hitam berkerudungnya menutupi separuh wajahnya, menyembunyikan ekspresi datarnya dari pandangan awak kapal yang sesekali berpatroli.

​Pelayaran menuju Kota Shells memakan waktu sekitar empat belas jam. Ini adalah pertama kalinya Muzan benar-benar merasakan sensasi berada di lautan lepas dunia One Piece. Di kehidupan sebelumnya, ia hanya melihat hamparan air ini melalui panel-panel manga dua dimensi atau layar animasi. Kini, ia bisa merasakan dinginnya cipratan air laut, goyangan konstan dari gelombang, dan ancaman samar yang selalu mengintai di balik kedalaman air yang gelap.

​Muzan menutup matanya, mengatur ritme pernapasannya. Sejak pertarungan melelahkan semalam, ia menyadari bahwa mengendalikan boneka-boneka yang memiliki kekuatan super tidaklah gratis. Sistem mungkin menanggung manifestasi fisik dan energi boneka, tetapi "bandwidth" atau jalur koneksi komputasi untuk mengendalikan mereka ditarik langsung dari kapasitas otak dan kekuatan mentalnya sendiri.

​Status Kekuatan Mentalku saat ini adalah 86, batin Muzan. Angka itu jauh lebih tinggi dari manusia normal karena aku memiliki jiwa orang dewasa yang bertransmigrasi. Tapi untuk mengendalikan monster seperti Giyu dan Zenitsu secara bersamaan, angka 86 terasa seperti mengalirkan air bah melalui sedotan plastik.

​Tiba-tiba, di tengah meditasinya, sebuah suara mekanis yang sudah mulai akrab berdenting jernih di dalam benaknya.

​«"DING!"»

​Sebuah panel holografik biru keemasan muncul menembus kegelapan di balik kelopak matanya. Tepi panel itu dihiasi oleh ilustrasi jangkar dan ombak.

​«"Achievement Terbuka: [Langkah Pertama Menuju Cakrawala]"»

«"Kondisi: Host telah meninggalkan pulau tempat reinkarnasi pertama kali dan memulai pelayaran melintasi lautan lepas dunia One Piece."»

«"Deskripsi: Setiap legenda lautan dimulai dari satu langkah kecil meninggalkan daratan yang aman. Anda bukan lagi anak gembel yang terikat pada satu tempat; Anda kini adalah musafir lautan."»

«"Hadiah Achievement: 250 Poin Kekuatan Mental (Mental Skill Points)."»

«"Apakah Host ingin mengintegrasikan poin ini sekarang?"»

​Mata Muzan seketika terbuka. Terkejut adalah reaksi yang sangat jarang ia tunjukkan, namun melihat angka 250 Poin Kekuatan Mental sebagai hadiah pasif benar-benar di luar ekspektasinya. Ini bukan penambahan kecil satu atau dua poin seperti saat ia beradaptasi semalam. Ini adalah lompatan kuantitatif yang masif.

​"Integrasikan sekarang," perintah Muzan tanpa ragu.

​«"Mengintegrasikan 250 Poin Kekuatan Mental..."»

​Dalam sepersekian detik, sensasi yang luar biasa membanjiri kepala Muzan. Itu bukanlah rasa sakit, melainkan kebalikannya. Rasanya seolah-olah seseorang baru saja menuangkan air es yang sangat murni ke dalam otaknya yang sedang kepanasan. Tekanan di pelipisnya lenyap tanpa sisa. Penglihatannya seketika menjadi lebih jernih, pendengarannya menajam, dan kejernihan berpikirnya meningkat hingga ke tingkat yang menakutkan.

​Jika sebelumnya otaknya adalah sebuah jalan sempit berdebu, kini jalan itu telah diperlebar menjadi jalan tol berlapis aspal baja yang mampu dilalui oleh ratusan kendaraan informasi secara bersamaan tanpa mengalami kemacetan sedikit pun.

​Muzan segera memanggil panel statusnya.

​[STATUS HOST]

Nama: Muzan Kibutsi

Usia: 14 Tahun

Afiliasi: Tidak Ada

Kekuatan Fisik: 4.1

Kecepatan: 5

Ketahanan: 3.1

Kekuatan Mental: 336 (+250)

Kapasitas Pengendalian Boneka: 2

​Muzan menghela napas panjang, menghembuskan uap tipis dari mulutnya. Seringai kepuasan terukir di wajahnya. "Ini... ini luar biasa. Dengan kekuatan mental setinggi ini, beban sinkronisasi ganda tidak akan lagi membuatku pingsan. Bahkan, aku yakin persepsi sensorik dari boneka utilitas akan meningkat drastis."

​Ia harus mengujinya. Tidak ada tempat yang lebih baik untuk menguji jangkauan sensorik daripada di lautan lepas yang tidak memiliki penghalang fisik.

​Muzan bangkit berdiri dan berjalan menyusuri sisi kapal, mencari area yang benar-benar sepi. Ia menemukan sebuah sudut di dekat ruang penyimpanan tong air bersih yang terhalang oleh tiang layar utama. Tidak ada awak kapal maupun penumpang di sana.

​"Sistem," bisik Muzan. "Keluarkan Neji Hyuga."

​Partikel cahaya ungu berputar di samping Muzan, dan dalam sekejap, pemuda berambut cokelat panjang dari klan Hyuga itu berdiri di hadapannya. Pakaian putihnya berkibar pelan tertiup angin laut. Matanya yang putih bersih menatap kosong ke depan.

​"Mari kita lihat sejauh mana Byakugan ini bisa melihat sekarang."

​Muzan menutup matanya dan memindahkan tiga puluh persen kesadarannya ke dalam tubuh Neji. Transisi itu terasa begitu mulus bagaikan membalik telapak tangan. Tidak ada rasa pusing, tidak ada penolakan saraf. 250 poin tambahan itu benar-benar menjadi pondasi beton bagi kemampuannya.

​Melalui tubuh Neji, Muzan membuka matanya.

​"Byakugan," perintahnya.

​Urat-urat nadi seketika bermunculan di sekitar mata Neji. Penglihatan Muzan meledak keluar. Warnanya berubah menjadi hitam putih, menembus kayu lambung kapal seolah-olah itu hanyalah udara kosong. Ia bisa melihat ke bawah, menembus puluhan meter ke dalam lautan, mengamati kawanan ikan yang berenang menghindari bayangan kapal, dan bahkan melihat seekor Raja Laut (Sea King) kecil berbentuk ular yang sedang tidur di dasar karang yang dalam.

​Ia mengalihkan pandangannya ke permukaan laut di sekitar kapal. Jangkauan Byakugan ini luar biasa. Satu kilometer... dua kilometer... tiga kilometer. Radius penglihatannya berbentuk bola sempurna 360 derajat. Segala sesuatu dalam radius tiga kilometer terlihat sejelas melihat telapak tangannya sendiri.

​Dan tepat pada saat itu, di batas jangkauan penglihatannya—sekitar dua setengah kilometer di arah tenggara kapal penumpang ini—Byakugan menangkap sebuah objek yang mendekat.

​Objek itu adalah sebuah kapal berukuran sedang. Tidak seperti kapal dagang yang terawat, lambung kapal itu dipenuhi tambalan kayu kasar. Layarnya berwarna hitam kusam, dan di tiang tertingginya, berkibar bendera tengkorak dengan sepasang pedang bengkok bersilang.

​Sebuah kapal bajak laut.

​Mereka menggunakan arah angin yang sama, memanfaatkan sedikit kabut tipis di horison untuk mendekat tanpa disadari oleh petugas jaga di sarang burung Sea Breeze. Kecepatan kapal bajak laut itu sangat tinggi; mereka memiliki dayung tambahan di sisi bawah kapal yang dikayuh oleh puluhan budak atau bawahan.

​Muzan memfokuskan penglihatannya menembus kabut dan kayu lambung kapal bajak laut tersebut. Ia melihat puluhan pria bersenjata tajam sedang tertawa dan mengasah pedang. Di geladak utama, berdiri seorang pria berjanggut lebat dengan penutup mata dan sebuah pedang melengkung besar, memandang rakus ke arah kapal Sea Breeze.

​"Bajak laut acak yang mencari mangsa kapal penumpang," analisis Muzan dengan tenang, menarik kesadarannya kembali dari Neji secara perlahan agar urat di mata boneka itu mereda.

​Ia mempertimbangkan opsinya. Jika ia diam saja, kapal bajak laut itu akan menyusul dalam waktu lima belas menit. Akan terjadi kepanikan, pembantaian, dan kemungkinan kapalnya akan ditenggelamkan atau dijarah. Itu berarti perjalanannya menuju Kota Shells akan tertunda atau gagal, dan tubuh aslinya akan berada dalam bahaya besar.

​Namun, jika ia bertarung secara terbuka di atas kapal ini, ia akan menarik perhatian Angkatan Laut, mengingat banyak pedagang yang memiliki koneksi. Ia tidak ingin identitasnya sebagai pemilik boneka-boneka pembunuh terungkap secepat ini.

​"Solusinya sederhana," gumam Muzan. "Tenggelamkan mereka sebelum mereka terlihat."

​Muzan segera menyarungkan Neji kembali ke dalam Puppet Storage.

​"Giyu," panggil Muzan.

​Kilatan cahaya biru memadat, dan sang Hashira Air berdiri tegak di tempat Neji sebelumnya berdiri. Pedang Nichirin tersarung di pinggangnya, wajahnya sedingin dasar samudera.

​Muzan mengambil alih lima puluh persen kesadaran Giyu. Dengan kapasitas mental barunya, ia tidak merasakan beban sama sekali. Ia merasa bisa mengendalikan tubuh ini untuk menari selama berjam-jam tanpa lelah.

​Melalui mata Giyu, Muzan menatap lautan bergolak di bawah sisi kapal.

​"Misi pembunuhan senyap. Target berjarak dua setengah kilometer. Tidak boleh ada satu pun yang tahu siapa pelakunya," perintah Muzan pada dirinya sendiri yang berada dalam tubuh Giyu.

​Giyu mengangguk pelan. Ia melompat melewati pagar kayu pembatas kapal.

​Berkat Teknik Pernapasan Konsentrasi Penuh, kontrol tubuh seorang Hashira melampaui batas fisika normal. Saat kaki Giyu menyentuh permukaan air laut yang bergolak, ia tidak tenggelam. Ia memfokuskan energi ke telapak kakinya, menciptakan tolakan ringan yang cukup untuk menahan berat badannya.

​Dalam sekejap, sosok berhaori dua warna itu melesat meluncur di atas permukaan laut layaknya peluru kendali yang menempel di air. Gerakannya sangat halus, menyatu dengan gelombang ombak sehingga tidak ada satu pun awak kapal Sea Breeze yang melihat kepergiannya.

​Jarak dua setengah kilometer bagi seorang Giyu Tomioka yang berlari di atas elemen alaminya—air—hanyalah masalah waktu kurang dari dua menit. Kabut tipis di lautan membantu menyembunyikan pendekatannya.

​Di atas kapal bajak laut, sang kapten berjanggut lebat tertawa keras. "Awak kapal! Siapkan jangkar lempar! Kapal penumpang di depan itu berisi saudagar kaya dari Loguetown! Malam ini kita akan mandi emas dan wanita!"

​"HUAHAHAHA! HIDUP KAPTEN DORAN!" teriak para bajak laut dengan penuh semangat.

​Mereka sama sekali tidak menyadari kematian yang meluncur ke arah mereka.

​Giyu mendekat dari arah depan, tepat di bawah sudut buta haluan kapal bajak laut tersebut. Ia tidak naik ke geladak. Ia tidak butuh konfrontasi. Muzan, yang berpikir dengan efisiensi seorang mesin pembunuh, tahu bahwa menghabisi puluhan orang memakan waktu. Menghancurkan kapal jauh lebih cepat.

​Giyu berhenti di atas air tepat di jalur yang akan dilewati oleh moncong kapal bajak laut tersebut. Tangan kirinya mencengkeram sarung pedang, sementara tangan kanannya menggenggam gagang Nichirin.

​Ia mengambil napas dalam-dalam. Oksigen mengisi paru-parunya, memicu aliran darah yang menderu layaknya sungai yang meluap.

​Udara di sekitar Giyu seolah berubah menjadi pusaran air raksasa.

​Tepat ketika haluan kayu berpelat besi dari kapal bajak laut itu tinggal berjarak lima meter darinya, Giyu mencabut pedangnya dalam satu gerakan horizontal yang dipenuhi energi mematikan.

​"Pernapasan Air, Bentuk Keenam: Pusaran Air (Whirlpool)."

​Giyu memutar tubuh bagian atas dan bawahnya secara bersamaan, menciptakan sebuah tebasan berputar yang melengkung indah, memancarkan bilah air berwarna biru tua yang sangat tajam dan masif.

​SYAAAATTT!

​Tebasan air itu melesat melengkung ke atas, tidak hanya membelah udara, tetapi juga mengikat gelombang laut di sekitarnya, memperkuat massa serangannya.

​Bilah air raksasa itu menghantam tepat di bagian bawah haluan kapal, memotong kayu ek tebal dan pelat baja seolah-olah memotong selembar kertas tisu basah. Tidak ada ledakan api, tidak ada suara mesiu. Hanya ada suara robekan kayu yang luar biasa keras dan bersih.

​Tebasan itu menembus lurus ke belakang, membelah lunas kapal, ruang penyimpanan bawah, tiang utama, hingga akhirnya keluar menembus dek belakang.

​Di atas kapal, Kapten Doran yang sedang tertawa tiba-tiba merasakan dunia bergetar hebat. Ia melihat ke bawah kakinya. Lantai geladak tempatnya berdiri mendadak terbelah menjadi dua. Garis retakan yang bersih memanjang dari ujung ke ujung kapal.

​Tiang layar utama yang terpotong bagian bawahnya rubuh menimpa puluhan anak buahnya.

​"A-Apa yang terjadi?!" teriak Kapten Doran histeris, wajahnya pucat pasi.

​Ia tidak mendapat jawaban. Air laut masuk dengan kekuatan ribuan ton dari celah raksasa di bawah kapal mereka. Kapal itu tidak hanya bocor, kapal itu terbelah dua.

​Dalam waktu kurang dari dua puluh detik, jeritan panik para bajak laut tenggelam bersamaan dengan hancurnya kapal mereka. Pusaran air raksasa sisa dari tebasan Giyu menyedot pecahan kayu dan para bajak laut ke dasar laut tanpa ampun.

​Di permukaan air yang berjarak belasan meter dari kapal yang tenggelam itu, Giyu mengibas pedangnya dan menyarungkannya kembali dengan tenang. Tidak ada noda darah, tidak ada penyesalan. Ia menatap gelembung-gelembung air terakhir yang naik ke permukaan, lalu memutar tubuhnya.

​Dengan langkah yang seringan angin, ia berlari kembali melintasi lautan menuju Sea Breeze yang tidak menyadari bahwa mereka baru saja diselamatkan dari kiamat kecil.

​Di sudut tersembunyi Sea Breeze, Muzan kembali menyerap Giyu ke dalam sistem tepat sebelum seorang pelaut melewati area tersebut.

​"Sempurna," bisik Muzan, membuka matanya yang kembali ke sudut pandang tunggal. Tidak ada pusing, tidak ada sakit kepala. 250 Poin Mental itu benar-benar bekerja layaknya keajaiban.

​Muzan kembali duduk di atas gulungan tali tambang, seolah-olah ia tidak pernah bergerak dari sana. Ia memanggil panel sistemnya. Sayangnya, karena ia menenggelamkan bajak laut itu tanpa mengambil buronan mereka, ia tidak mendapatkan uang Belly. Namun, membunuh gerombolan ancaman tak dikenal tampaknya tetap memberikan hadiah kecil.

​«"DING!"»

«"Membasmi Ancaman Kecil: Bajak Laut Doran (Bounty: 300.000 Belly)."»

«"Karena Host tidak menukarkan buronan fisik, kompensasi hadiah diubah menjadi Poin Pengalaman Sistem: +50 XP."»

​"Bounty 300.000 Belly mati tenggelam begitu saja. Sayang sekali uangnya hilang," gumam Muzan pragmatis. "Tapi tidak masalah. Tangkapan besarnya ada di depan."

​Beberapa jam kemudian, matahari mulai condong ke ufuk barat, melukis langit dengan warna jingga keemasan. Burung camar berputar-putar di udara, mengeluarkan suara riuh yang menandakan kedekatan dengan daratan.

​Dari kejauhan, siluet sebuah pulau mulai terlihat jelas. Namun, yang paling menonjol dari pulau tersebut bukanlah pelabuhannya yang ramai atau rumah-rumah penduduknya, melainkan sebuah bangunan masif berdinding batu putih tinggi yang berdiri mendominasi di pusat kota. Di bagian tengah bangunan itu, menjulang sebuah menara tebal berlambang Angkatan Laut, dan di puncaknya, tiang-tiang penyangga kayu sedang digunakan untuk membangun sesuatu yang terlihat seperti patung raksasa.

​Kota Shells. Markas Angkatan Laut Cabang ke-153. Wilayah kekuasaan mutlak Kapten Morgan si Tangan Kapak.

​Kapal Sea Breeze merapat perlahan di dermaga pelabuhan yang cukup sibuk. Penumpang mulai turun satu per satu. Muzan melangkah turun dari kapal, menarik kerudung jubahnya agar bayangannya menutupi sebagian wajahnya.

​Suasana di Kota Shells terasa berbeda dengan Toroa. Di sini, jalanan memang ramai, tetapi ada atmosfer ketegangan yang kental. Penduduk berjalan dengan kepala menunduk. Tidak ada yang berani berbicara terlalu keras atau tertawa. Anggota Angkatan Laut berpatroli dengan wajah arogan, dan warga menyingkir dengan tergesa-gesa saat mereka lewat. Tyranny Morgan benar-benar mencekik kehidupan kota ini.

​Tujuan pertama Muzan bukanlah markas Angkatan Laut. Seperti biasa, ia membutuhkan tempat yang aman untuk tubuh aslinya. Ia mencari penginapan yang terletak di bukit kecil atau memiliki lantai tinggi yang menghadap langsung ke arah alun-alun markas Angkatan Laut.

​Ia menemukan sebuah kedai tua bernama 'The Golden Clam' yang menyewakan kamar di lantai tiga. Jaraknya hanya sekitar empat ratus meter dari gerbang markas Angkatan Laut, memberikan sudut pandang yang sempurna dari jendela kamarnya. Muzan menyewa kamar itu dengan beberapa keping Belly yang tersisa di sakunya.

​Begitu ia masuk ke kamar dan mengunci pintu, Muzan berjalan ke arah jendela, menyingkap tirainya sedikit.

​Hari sudah menjelang sore. Di balik dinding batu markas Angkatan Laut yang tinggi, ia tidak bisa melihat halaman dalamnya dengan mata telanjang. Namun, ia tidak perlu menggunakan matanya sendiri.

​"Neji."

​Sosok Neji Hyuga kembali bermanifestasi di dalam ruangan.

​"Gunakan Byakugan dan laporkan apa yang kau lihat di dalam markas itu. Fokus pada tahanan di halaman, brankas penyimpanan, dan Kapten pangkalan." perintah Muzan secara verbal, meski ia tetap menghubungkan sedikit kesadarannya agar ia bisa melihat melalui mata Neji secara visual.

​Urat di pelipis Neji kembali menonjol. Pandangan hitam putih x-ray menembus jarak empat ratus meter dan menembus dinding batu markas Angkatan Laut Cabang 153.

​Muzan tersenyum tipis ketika penglihatannya mendarat di halaman tengah markas yang berdebu.

​Di sana, diikat pada sebuah salib kayu kasar di bawah terik sisa matahari sore, terdapat seorang pria yang sangat familiar. Rambut hijau lumutnya kotor, kepalanya tertunduk kelelahan, bibirnya kering pecah-pecah, dan perutnya berbunyi menahan lapar. Roronoa Zoro. Ia telah menyerahkan dirinya untuk melindungi seorang gadis kecil dari serigala peliharaan Helmeppo.

​"Jadi kau benar-benar ditangkap, Zoro," batin Muzan. "Bagus. Linimasa masih berjalan sesuai jalurnya."

​Pandangan Byakugan kemudian menelusuri bangunan utama. Di lantai paling atas, di sebuah ruangan besar yang mewah, Muzan melihat sosok raksasa dengan rahang bawah berlapis baja—bukan, kali ini adalah logam sungguhan yang menyatu dengan tubuhnya. Pria itu bertubuh sangat kekar, dan tangan kanannya telah diamputasi, digantikan oleh sebuah kapak besi raksasa yang tertanam langsung ke dalam lengannya. Kapten Morgan. Pria itu sedang tertidur di kursinya.

​Dan yang paling penting, pandangan x-ray Neji menembus lantai di bawah ruang kerja Morgan. Di sana, terdapat sebuah ruangan tanpa jendela yang dilindungi oleh pintu baja setebal sepuluh sentimeter. Di dalamnya, bertumpuk koper-koper berisi uang kertas Belly, emas batangan, dan perhiasan hasil pemerasan warga selama bertahun-tahun.

​Muzan menjilat bibirnya yang kering. Itu adalah tiketnya menuju pembukaan fitur Shop.

​Namun, sebelum Muzan sempat merencanakan rute penyusupan, Neji tiba-tiba memutar kepalanya ke arah pelabuhan kota, seolah menangkap pergerakan energi yang tidak biasa. Muzan mengarahkan pandangannya mengikuti arah penglihatan Byakugan.

​Di dermaga pelabuhan kecil yang tidak jauh dari tempat berlabuhnya Sea Breeze tadi, sebuah perahu kayu kecil dengan layar kain usang merapat. Dua orang melompat turun dari perahu itu.

​Satu orang adalah anak remaja bertubuh pendek, gemuk, berkacamata, dengan rambut merah muda yang terlihat sangat penakut. Coby.

​Dan yang kedua adalah seorang remaja kurus namun memiliki otot liat, mengenakan kemeja merah tanpa lengan, celana selutut biru, sandal jepit, dan yang paling ikonik: sebuah topi jerami usang di kepalanya. Pria itu berdiri di tepi dermaga, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arah angin laut, tertawa dengan suara yang sangat ceria dan tanpa beban yang menembus keheningan kota yang mencekam.

​Monkey D. Luffy telah tiba.

​Muzan menarik napas dalam-dalam. Semua aktor utama telah berkumpul di atas panggung. Pahlawan, anti-hero, dan penjahat tiran. Mereka bersiap untuk menulis legenda pertama mereka.

​Namun, Muzan menyela pikiran itu dengan sebuah perintah dingin dalam sistemnya.

​"Sistem," bisik Muzan, matanya menyala dalam kegelapan kamar penginapan. "Persiapkan Zenitsu dan Giyu untuk deployment instan. Kita tidak akan membiarkan bocah topi jerami itu menjadi satu-satunya pahlawan malam ini. Brankas Morgan adalah milikku."

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!