Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Aroma daging panggang dan saus anggur merah memenuhi udara di dalam restoran VIP tersebut.
Deni berjalan dengan mata berbinar-binar menatap meja-meja mewah yang dilapisi taplak putih bersih.
Srek.
Seorang pelayan berpakaian rapi menarik kursi untuk Clara dengan sangat sopan.
"Silakan duduk Nona Clara, meja Anda sudah kami siapkan seperti biasa."
Sapa pelayan pria itu sambil membungkukkan badannya sedikit.
"Terima kasih, tolong bawakan buku menunya sekarang ya."
Jawab Clara dengan senyum tipis yang anggun.
Deni langsung menarik kursinya sendiri dan duduk berhadapan dengan bos cantiknya itu.
Klotak.
Siska duduk di sebelah Clara sambil merapikan rok kerjanya yang sedikit kusut.
"Wah kursinya empuk sekali, rasanya pantatku seperti duduk di atas tumpukan kapas."
Komentar Deni sambil menggoyang-goyangkan badannya di atas kursi.
Pelayan tadi kembali membawa tiga buah buku menu berdesain elegan berlapis kulit.
Deni membuka buku menu itu dan dahinya langsung berkerut dalam.
"Nona bos, kenapa makanan di sini namanya aneh-aneh semua dan bahasanya susah dibaca."
Tanya Deni membolak-balik halaman buku menu itu dengan bingung.
"Tulisannya juga kecil-kecil, mana tidak ada gambar paha ayam gorengnya sama sekali."
Clara tertawa pelan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Ini restoran gaya Eropa Deni, jadi bahasanya pakai bahasa asing."
Jelas Clara dengan sangat sabar menghadapi pengawalnya itu.
"Biar aku saja yang pesankan untukmu, kamu mau makan daging sapi atau ikan laut."
Deni langsung menutup buku menu itu dan mendorongnya menjauh dari piringnya.
Brak.
"Dua-duanya saja Nona bos, pesan yang porsinya paling besar dan harganya paling mahal."
Jawab Deni seenaknya tanpa ada rasa sungkan sedikit pun.
Siska mencubit lengan Deni dari bawah meja karena gemas dengan kelakuan pemuda itu.
"Kamu ini benar-benar tidak tahu malu ya, Nona Clara kan yang bayar semuanya pakai uang pribadinya."
Bisik Siska memelototi Deni dengan tatapan tajam.
"Aduh sakit Siska, kan Nona bos sendiri yang tadi bilang mau mentraktirku makan besar hari ini."
Keluh Deni sambil mengelus lengannya yang kena cubitan maut.
Clara hanya tersenyum dan menyebutkan beberapa nama hidangan mahal kepada pelayan tersebut.
"Tolong siapkan lima porsi steak daging sapi wagyu ukuran paling besar untuk pemuda berjaket oranye ini."
Perintah Clara yang seketika membuat mata pelayan itu terbelalak kaget.
"L-lima porsi Nona, apakah Anda yakin perut Tuan ini bisa menampung semuanya."
Tanya pelayan itu ragu-ragu menatap perut Deni yang rata.
"Tentu saja muat paman pelayan, perutku ini ibarat karung beras yang tidak ada batas bawahnya."
Sahut Deni menepuk perutnya sendiri dengan sangat bangga.
Pelayan itu hanya bisa mengangguk pasrah lalu mencatat pesanan mereka dan pergi bergegas ke dapur.
Sambil menunggu makanan datang, suasana di meja itu menjadi sedikit lebih serius dari sebelumnya.
"Deni, menurutmu apakah Serikat Bayangan Hitam akan langsung membalas dendam setelah kau menghancurkan markas cabang mereka."
Tanya Clara mencondongkan tubuhnya ke depan menatap Deni.
Wajah cantiknya kembali menyiratkan sedikit kekhawatiran soal masa depan keamanan perusahaannya.
Deni mengambil segelas air es di depannya dan meminumnya dengan sangat santai.
Glek glek.
"Mereka pasti akan marah besar Nona bos, apalagi ketua mereka yang jelek itu patah tulang rusuknya."
Jawab Deni meletakkan gelasnya kembali ke atas meja kaca.
"Tapi Nona tidak perlu takut, selama mereka itu manusia dan masih makan nasi, aku pasti bisa membereskan mereka semua."
Siska ikut menimpali pembicaraan itu dengan nada suara yang sengaja direndahkan.
"Tapi aku dengar dari rumor orang-orang di luar sana, pemimpin tertinggi mereka itu bukanlah manusia biasa Deni."
Kata Siska bergidik ngeri membayangkan cerita-cerita seram di jalanan.
"Katanya dia bisa menghancurkan batu karang raksasa hanya dengan meremasnya pakai tangan kosong."
Deni tertawa kecil mendengar rumor yang menurutnya terlalu berlebihan itu.
"Wah kalau dia pintar memecah batu, harusnya dia kerja jadi kuli bangunan saja Siska biar dapat gaji halal."
Canda Deni yang sama sekali tidak menangkap aura ketakutan dari cerita Siska barusan.
"Lagipula aku juga butuh lawan yang kuat agar sistemku bisa kasih misi dengan hadiah ulasan yang sangat banyak."
Batin Deni di dalam hati sambil tersenyum misterius memikirkan target seribu ulasannya.
Tidak lama kemudian, para pelayan datang beriringan membawa nampan-nampan besar berisi makanan hangat.
Aroma daging panggang yang sangat wangi langsung menusuk indra penciuman Deni.
Nyam.
Deni menelan ludahnya sendiri melihat lima piring besar berisi steak daging tebal tersaji rapi di depannya.
"Selamat menikmati hidangannya Tuan dan Nona."
Ucap kepala pelayan sebelum mundur teratur meninggalkan meja mereka beriga.
Deni langsung meraup pisau dan garpu lalu mulai memotong daging itu dengan gaya yang tidak sabaran.
Sret sret.
Daging wagyu mahal itu begitu lembut sehingga sangat mudah dipotong oleh pisau di tangan Deni.
Deni memasukkan potongan daging raksasa itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan rakus.
Nyam nyam nyam.
"Wah gila, daging ini rasanya lumer di mulut Nona bos, enak sekali rasanya seperti mau terbang."
Puji Deni dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Makan pelan-pelan Deni, nanti kamu tersedak kalau memakannya terlalu terburu-buru begitu."
Tegur Clara sambil memotong daging miliknya sendiri dengan gerakan yang sangat anggun.
Selama tiga puluh menit ke depan, area meja itu hanya dipenuhi oleh suara denting alat makan.
Trang ting.
Clara dan Siska baru menghabiskan setengah porsi makanan mereka saat Deni sudah menumpuk lima piring kosong di pinggir meja.
"Ah kenyang sekali, rasanya aku bisa tidur nyenyak di kursi ini sampai besok pagi."
Ucap Deni bersandar santai di kursi sambil memegangi perutnya yang sudah mulai membuncit.
Pemuda itu lalu bersendawa pelan tanpa menutupi mulutnya.
Burp.
Siska membuang muka ke arah jendela karena malu melihat tingkah laku Deni di tempat semewah ini.
"Kamu ini benar-benar merusak pemandangan Deni, untung saja restoran ini sedang sepi pengunjung siang ini."
Omel Siska sambil menyeka bibirnya menggunakan serbet kain putih.
Tiba-tiba ponsel pintar milik Clara yang tergeletak di atas meja bergetar sangat hebat.
Trrrt trrrt.
Clara menunduk melihat layar ponselnya dan dahinya berkerut melihat nomor tidak dikenal yang meneleponnya.
"Siapa yang menelepon nomor pribadiku siang-siang begini ya."
Gumam Clara bingung sambil menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Halo dengan Clara dari Grup Nirvana di sini, ada yang bisa saya bantu."
Sapa Clara dengan nada bicara profesional khas seorang pemimpin perusahaan.
Tapi dari seberang telepon, sama sekali tidak ada suara orang berbicara membalas sapaannya.
Hanya terdengar suara nafas yang berat dan suara detak jarum jam mekanik yang berjalan sangat lambat.