NovelToon NovelToon
DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MHKaylid_

Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".

"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"

bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.

Mariska tersenyum licik.

"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."

"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.

"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."

Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.

Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.

"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.

"Jangan sampai gadis itu lolos!"

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.

Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Langit masih diselimuti awan hitam ketika iring-iringan kendaraan hitam milik keluarga Laurent melaju tanpa suara menuju kawasan industri tua di pinggiran kota.

Lampu depan dimatikan beberapa ratus meter sebelum mencapai target.

Mesin-mesin kendaraan berhenti bersamaan.

Di dalam SUV paling depan, Lucas menatap layar tablet yang menampilkan denah gudang milik Patrick.

Adrian berdiri di sampingnya.

"Tuan, hasil pengintaian drone menunjukkan ada sekitar tiga puluh orang bersenjata."

Lucas tidak mengalihkan pandangannya.

"Pos penjaga?"

"Dua di gerbang utama, empat di atap, sisanya berpatroli di dalam."

"Thermal?"

Adrian menggeleng.

"Tidak ada tanda-tanda seseorang yang terikat atau dikurung di ruangan utama."

Lucas menyipitkan mata.

"Tidak ada?"

"Tidak ada, Tuan."

Lucas mengetukkan jarinya perlahan di atas meja lipat.

"Itu aneh."

Adrian ikut berpikir.

"Bisa jadi mereka menyembunyikan Isabel di ruang bawah tanah."

Lucas menggeleng pelan.

"Atau..."

"Mereka memang tidak pernah membawanya ke sini."

Ucapan itu membuat seluruh tim terdiam.

Seorang pengawal maju.

"Kalau begitu, kita batalkan operasi?"

Lucas menatap lurus ke arah bangunan tua yang menjulang dalam gelap.

"Tidak."

"Kalau ini jebakan..."

"Patrick pasti ada di dalam."

Tatapan mata abunya berubah dingin.

"Dan aku ingin mendengar sendiri apa yang sebenarnya dia inginkan."

Beberapa menit kemudian...

Isyarat tangan Lucas terangkat.

"Tiga..."

"Dua..."

"Satu."

Brak!

Gerbang besi tua dihantam kendaraan lapis baja hingga roboh.

Alarm langsung meraung.

"Musuh!"

"Laurent datang!"

Suara teriakan memenuhi halaman.

Rentetan peluru langsung menghujani rombongan Lucas.

Tak!

Tak!

Tak!

Pengawal Laurent segera berlindung di balik kendaraan.

"Balas tembakan!"

Dor!

Dor!

Suara tembakan bersahut-sahutan.

Percikan api memenuhi malam yang diguyur hujan.

Lucas melangkah keluar dari mobil tanpa sedikit pun menunjukkan rasa gentar.

Jas hitamnya mulai basah.

Namun langkahnya tetap tenang.

Seorang pria bertubuh besar menyerbu sambil mengayunkan batang besi.

"Haaah!"

Lucas memiringkan tubuh.

Whus!

Ayunan itu meleset.

Buk!

Satu pukulan keras mendarat tepat di rahang lawan.

Pria itu terjungkal.

Belum sempat bangkit...

Lucas meraih lengannya.

Krak!

Suara patahan tulang terdengar.

"Aaaargh!"

Lucas mendorong tubuh pria itu hingga menghantam dua orang lainnya.

Di sisi lain...

Adrian bertarung melawan beberapa pria bersenjata.

"Jangan biarkan mereka masuk ke gudang!"

Namun pasukan Laurent bergerak terlalu cepat.

Dalam hitungan menit...

Halaman depan berubah menjadi arena baku hantam.

Tong-tong besi berguling.

Kaca pecah.

Suara benturan logam memenuhi udara.

Lucas terus maju menuju pintu utama gudang.

Brak!

Ia menendang pintu baja hingga terbuka.

Ruangan itu gelap.

Kosong.

Tidak ada Isabel.

Hanya peti-peti kayu tua.

Beberapa kursi rusak.

Dan noda darah yang sudah mengering.

Lucas memperhatikan sekeliling.

Tatapannya semakin tajam.

"Kosong..."

Adrian masuk dari belakang.

"Tuan!"

"Kami sudah memeriksa seluruh lantai satu."

"Tidak ada siapa-siapa."

Lucas berjalan ke tengah gudang.

Lalu berjongkok.

Tangannya menyentuh lantai.

Debu tebal.

Tidak ada bekas seseorang baru saja ditahan di sana.

Ia berdiri perlahan.

"Sial..."

Adrian mengepalkan tangan.

"Berarti benar."

"Foto itu diambil di tempat lain."

Lucas menatap dinding yang dipenuhi karat.

"Patrick..."

"Kau memang ingin membuang waktuku."

Tepat saat itu...

Tepuk.

Tepuk.

Tepuk.

Suara tepuk tangan bergema dari balkon besi di lantai dua gudang.

Semua orang langsung mengangkat senjata.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun muncul dari balik bayangan.

Mengenakan mantel abu-abu panjang.

Tongkat hitam berada di tangan kirinya.

Wajahnya dipenuhi senyum tipis.

Patrick.

"Pertunjukan yang bagus, Lucas."

Lucas menatap dingin.

"Akhirnya kau muncul."

Patrick tertawa kecil.

"Aku tahu kau akan datang."

Lucas melangkah maju.

"Di mana Isabel?"

Patrick mengangkat bahu.

"Isabel?"

"Oh..."

"Perawat itu?"

"Aku bahkan tidak membawanya ke sini."

Ucapan itu membuat Adrian geram.

"Brengsek!"

Lucas mengangkat tangan memberi isyarat agar semua tetap tenang.

Tatapannya tidak pernah lepas dari Patrick.

"Jadi kau memang sengaja memancingku."

Patrick tersenyum puas.

"Benar."

"Dan kau datang persis seperti yang kuharapkan."

Lucas berbicara datar.

"Apa tujuanmu?"

Patrick turun perlahan melalui tangga besi.

Dua puluh pengawal langsung mengelilinginya.

Namun ia sama sekali tidak tampak takut.

Ia berdiri hanya beberapa meter di depan Lucas.

Hujan yang masuk dari atap bocor membuat lantai licin.

Patrick menatap Lucas lama.

Lalu bertanya pelan,

"Apa sebenarnya kepentinganmu melindungi Alyssa?"

Lucas tidak menjawab.

Patrick kembali tersenyum.

"Seorang kepala keluarga Laurent."

"Mempertaruhkan puluhan anak buah."

"Menghabiskan miliaran."

"Hanya demi seorang wanita."

"Bukankah itu terlalu berlebihan?"

Lucas menjawab singkat.

"Itu bukan urusanmu."

Patrick menggeleng pelan.

"Justru itu urusanku."

Tatapan pria tua itu berubah tajam.

"Karena Alyssa adalah milik keluarga Patrick."

Suasana mendadak membeku.

Adrian langsung mencabut pistolnya.

Patrick sama sekali tidak bergeming.

Lucas hanya menatapnya.

"Apa maksudmu?"

Patrick mendekat selangkah.

"Alyssa adalah alat yang sah."

"Warisan terakhir yang ditinggalkan Isabel."

Lucas mengernyit.

"Alat?"

Patrick mengangguk.

"Ya."

"Ia adalah alat tular yang disiapkan Isabel untuk menghancurkan keluarga Patrick... sekaligus satu-satunya kunci untuk membuka semua rahasia yang selama ini disembunyikan."

Lucas menatap Patrick tanpa mengubah ekspresi.

"Bicara yang jelas."

Patrick terkekeh pelan.

"Kau bahkan tidak tahu siapa wanita yang kau lindungi."

Lucas membalas dingin.

"Aku tidak membutuhkan masa lalunya untuk memutuskan melindunginya."

Patrick tersenyum sinis.

"Itulah kelemahanmu."

"Kau mulai memakai hati."

Lucas tidak terpancing.

Patrick kembali berkata,

"Bertahun-tahun lalu..."

"Isabel mencuri sesuatu."

"Sesuatu yang bukan miliknya."

"Dan sekarang..."

"Ia mewariskannya kepada Alyssa."

Lucas bertanya singkat,

"Apa yang dicuri?"

Patrick menggeleng.

"Itu tidak penting."

"Yang penting..."

"Alyssa harus kembali."

Lucas menatap lurus ke mata Patrick.

"Kalau dia menolak?"

Patrick tertawa pelan.

"Lucas..."

"Sejak kapan keluarga Laurent menjadi panti perlindungan?"

"Jangan berpura-pura menjadi pahlawan."

Lucas menjawab datar.

"Sejak orang sepertimu mulai menyiksa mereka yang tidak bersalah."

Wajah Patrick mulai mengeras.

"Tidak ada orang yang benar-benar tidak bersalah."

Lucas selangkah lebih maju.

"Kalau tujuanmu hanya Alyssa..."

"Lepaskan Isabel."

Patrick menggeleng.

"Aku tidak bisa."

"Kenapa?"

"Karena Isabel masih berguna."

Lucas mengepalkan tangan.

"Di mana dia?"

Patrick tersenyum tipis.

"Kau pikir aku akan memberitahumu?"

"Tidak."

"Selama Alyssa masih berada di mansionmu..."

"Isabel akan tetap menjadi tamu kami."

Tatapan Lucas berubah sedingin es.

"Kalau satu helai rambut Isabel terluka lagi..."

Patrick memotong.

"Kau akan membunuhku?"

Lucas menjawab tanpa ragu.

"Aku akan menghancurkan semua yang kau miliki."

Beberapa detik...

Keduanya hanya saling menatap.

Tak ada yang mundur.

Tak ada yang berkedip.

Patrick akhirnya tertawa kecil.

"Menarik."

"Aku mulai mengerti."

Lucas tetap diam.

Patrick menyipitkan mata.

"Kau jatuh cinta padanya, ya?"

Suasana kembali sunyi.

Para pengawal saling berpandangan.

Lucas tidak memberikan jawaban.

Patrick justru semakin yakin.

"Hahaha..."

"Lucas Laurent yang terkenal berhati dingin..."

"Ternyata bisa selemah ini."

Lucas berkata pelan,

"Kalau pembicaraanmu sudah selesai..."

"Aku akan mulai menghitung."

Patrick mengangkat alis.

"Menghitung?"

"Sampai tiga."

"Setelah itu..."

"Aku tidak akan lagi menganggap malam ini sebagai perundingan."

Patrick masih tersenyum.

Lucas mengangkat satu jari.

"Satu."

Para pengawal Laurent mulai bersiap.

Patrick tetap berdiri.

"Dua."

Pengawal Patrick ikut mengokang senjata.

Hening.

Hanya suara hujan yang terdengar.

Lucas mengucapkan angka terakhir dengan suara rendah.

"Tiga."

Brak!

Pertempuran kembali pecah di dalam gudang.

Patrick segera mundur ke belakang barisan pengawalnya.

Lucas menerjang maju tanpa ragu, sementara Adrian memimpin pasukan Laurent mengejar. Namun di balik senyum tipis Patrick, masih tersimpan satu rahasia yang belum ia ungkapkan—rahasia tentang Alyssa dan Isabel yang dapat mengubah arah peperangan antara keluarga Laurent dan keluarga Patrick untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!