NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##11

Sinar matahari pagi menembus celah-celah tirai tipis Penthouse, membiaskan hangatnya cahaya keemasan di atas sofa kulit hitam di ruang keluarga.

Udara dingin khas pendingin ruangan berpadu dengan kehangatan dua tubuh yang terlelap dalam keheningan yang amat tenang—sebuah pemandangan yang tak pernah terbayangkan akan terjadi di antara dua insan yang dulunya saling melempar tatapan benci.

Di atas sofa yang luas itu, Braxton dan Lux tertidur lelap dalam posisi saling memeluk.

Braxton berbaring miring, lengan kekarnya melingkar protektif di pinggang Lux, menarik tubuh mungil istrinya erat ke dalam dadanya.

Sementara itu, Lux bersandar sepenuhnya di dada bidang Braxton; satu tangannya melingkar di pinggang pria itu, dan jemari lainnya mencengkeram lipatan kaos hitam Braxton, seolah-olah ia mencari perlindungan dari mimpi buruk sepanjang malam.

Silk slip dress merah marun yang dikenakan Lux sedikit terangkat di area paha, menampilkan ukiran tatonya yang kini tampak kontras dengan kehangatan pelukan mereka.

Perlahan, kelopak mata Braxton bergerak halus. Pria itu terbangun lebih dulu saat kehangatan sinar matahari menyentuh wajahnya.

Braxton menyesuaikan pandangannya yang masih sedikit buram. Saat menyadari posisi mereka—bagaimana kepala Lux bersandar nyaman di dadanya dan bagaimana napas halus istrinya berhembus teratur menembus kain kaosnya—senyum tipis nan hangat yang amat tulus terukir di bibirnya. Braxton tidak bergerak sedikit pun, takut pergerakan sekecil apa pun akan merusak kedamaian langka yang sedang dinikmati wanita di dalam pelukannya.

Beberapa menit berlalu. Lux mulai menggeliat pelan.

Mata abu-abu Lux berkedip beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi. Sensasi pertama yang dirasakannya saat terbangun bukanlah dinginnya marmer Penthouse, melainkan aroma maskulin khas kayu cendana dan kehangatan tubuh yang melingkupinya secara utuh.

Lux mengedipkan matanya penuh kesadaran. Saat mendongak, pandangannya langsung bertabrakan dengan sepasang mata cokelat hangat milik Braxton yang sedang menatapnya dengan binar lembut.

Deg.

Ingatan tentang kejadian semalam mendadak menghantam memori Lux bagaikan gelombang pasang: bagaimana ia menangis histeris, membongkar rahasia kelam pernikahan palsu orang tuanya, meraung membenci percintaan, hingga akhirnya menyerahkan dirinya tenggelam dalam pelukan Braxton di atas sofa ini hingga tertidur bersama.

Rona merah padam mendadak merebak hebat di kedua pipi Lux. Wajah galak yang biasanya dingin itu kini dipenuhi oleh rasa malu dan canggung yang luar biasa.

Lux terperanjat, buru-buru melepaskan pegangan tangannya di kaos Braxton dan mencoba melepaskan pelukan pria itu dengan gerakan panik.

"B-Braxton... lepaskan!" bisik Lux gagap, suaranya parau khas orang baru bangun tidur, bercampur dengan nada canggung yang amat manis.

Braxton terkekeh renyah—sebuah tawa dalam yang menggetarkan dadanya, tempat di mana dahi Lux tadi bersandar. Bukannya melepaskan, Braxton justru mengetatkan pelukannya selama tiga detik, menikmati rona merah dan tingkah salah tingkah istrinya yang sangat jarang terjadi ini.

"Kenapa harus buru-buru?" goda Braxton dengan suara serak pagi harinya yang seksi. "Semalam kau sendiri yang mencengkeram kaosku sangat erat dan tidak mau melepasnya."

"Braxton! Aku tidak—" Lux makin memerah, berusaha menepis lengan kekar Braxton hingga akhirnya pria itu melepaskan kuncian tangannya seraya tertawa geli.

Lux dengan cepat duduk tegak di tepi sofa, merapikan gaun sutranya yang tersingkap dengan jemari yang sedikit gemetar. Ia memalingkan wajahnya membelakangi Braxton, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat.

Harga dirinya rasanya runtuh sepenuhnya karena telah menunjukkan sisi paling rapuh dan menyedihkan di depan pria yang setiap hari ia maki.

Braxton perlahan mendudukkan dirinya di samping Lux. Ia mengusap rambutnya yang sedikit berantakan, menatap punggung Lux yang kaku. Pria narsis yang biasanya suka memancing amarah Lux itu kini benar-benar telah menanggalkan topengnya. Yang tersisa hanyalah sosok suami yang penuh pengertian dan kedewasaan murni.

Braxton mengulurkan tangannya, meletakkan telapak tangannya yang hangat di atas bahu mulus Lux—tepat di atas salah satu ukiran tato bunga yang menghiasi kulitnya.

Lux sedikit tersentak, namun ia tidak menepis tangan itu.

"Lux..." panggil Braxton lembut, suaranya mengalun bagaikan penawar bagi kebingungan di kepala Lux. "Melihatmu malu seperti ini jauh lebih menggemaskan daripada melihatmu berpura-pura galak."

"Diamlah, Brengsek," bisik Lux pelan, suara galaknya kini kehilangan taji, berganti menjadi cicitan pasrah yang amat halus. "Kau pasti sedang tertawa di dalam hatimu karena melihatku menangis konyol semalam."

"Aku tidak tertawa, Lux. Sama sekali tidak," sahut Braxton tegas namun sangat lembut.

Braxton perlahan menggeser duduknya, merapatkan jarak hingga tubuh mereka kembali bersisian. Ia meraih kedua tangan Lux yang saling bertaut di pangkuan, menggenggam jemari dingin istrinya itu dengan kehangatan jemarinya.

Lux menahan napasnya saat merasakan genggaman itu. Perlahan, ia memutar kepalanya, menatap Braxton dengan mata abu-abu yang masih menyisakan sedikit jejak smudged eyeliner dari sisa tangis semalam.

Braxton menatap langsung ke dalam mata Lux, memancarkan keseriusan dan ketulusan yang belum pernah dilihat Lux pada pria mana pun.

"Dengarkan ku baik-baik, Lux," tutur Braxton dengan intonasi yang begitu dalam. "Aku tahu... trauma dari apa yang kau lihat pada orang tuamu selama bertahun-tahun telah menanamkan luka yang sangat dalam di hatimu. Kau melihat pernikahan sebagai panggung sandiwara, dan kau melihat cinta sebagai sebuah kebohongan yang menakutkan. Aku mengerti kenapa kau memilih membentengi dirimu dengan tato, pakaian berani, dan sikap dingin ini."

Lux menggigit bibirnya, matanya kembali berkaca-kaca mendengar pemahaman yang begitu utuh dari Braxton.

"Tapi kau harus ingat satu hal, Lux..." lanjut Braxton, menatap jemari Lux yang berada dalam genggamannya. "Cinta dan pernikahan itu sendiri bukanlah hal yang jahat. Yang membuatnya rusak adalah ketika orang-orang di dalamnya berhenti jujur dan memilih untuk bersandiwara. Orang tuamu mengambil keputusan mereka sendiri, tapi itu adalah kisah mereka—bukan kisahmu, dan bukan kisah kita."

Braxton mengangkat satu tangan Lux, menempelkan punggung tangan istrinya ke pipinya sendiri, membiarkan Lux merasakan kehangatan kulitnya.

"Kau tidak perlu takut menjadi seperti ibumu, Lux," bisik Braxton dengan nada menguatkan yang amat dahsyat. "Kau adalah wanita yang sangat kuat, sangat berani, dan sangat jujur pada perasaanmu. Kau tidak akan pernah terjebak dalam sandiwara karena kau memiliki keberanian untuk menyuarakan apa yang kau benci. Dan aku... aku janji tidak akan pernah membiarkanmu merasa sendirian atau terpaksa berpura-pura di depanku."

Kata-kata penguat dari Braxton merembes masuk ke dalam relung hati Lux yang paling dalam. Rasa takut akan pengkhianatan dan kebohongan yang selama belasan tahun menggerogoti jiwanya mendadak terasa jauh lebih ringan.

Untuk pertama kalinya, Lux merasa ada seseorang yang benar-benar melihat luka di balik keliarannya dan memilih untuk merangkul luka itu, bukannya menghakiminya.

"Tapi... bagaimana kalau suatu hari nanti kau bosan?" bisik Lux dengan kejujuran yang tersisa, matanya menatap Braxton dengan kerapuhan yang amat polos. "Bagaimana kalau perasaan yang kau sebut 'suka' ini hanya bertahan sementara, lalu kau berubah menjadi dingin seperti ayahku?"

Braxton menyunggingkan senyum hangat—sebuah senyum yang sarat akan janji seumur hidup.

"Maka ingatkan aku pada pagi ini," jawab Braxton tanpa ragu sedikit pun. "Ingatkan aku pada bagaimana jantungku berdetak saat memelukmu di atas sofa ini. Jika suatu hari nanti ada badai di antara kita, kita akan menghadapinya bersama. Kita berdebat, kita bicara, tapi kita tidak akan pernah bersandiwara."

Braxton mengecup lembut punggung tangan Lux yang berada di pipinya—sebuah kecupan tulus yang penuh penghormatan, sama sekali tidak mengandung rasa birahi atau niat memanfaatkan.

Hati Lux berdesir hebat. Senyuman tipis yang amat manis dan tulus—senyuman pertama tanpa nada sinis yang pernah Lux tunjukkan pada Braxton—perlahan terukir di bibirnya.

Rona merah di pipinya semakin merona, namun kali ini bukan lagi karena malu, melainkan karena kehangatan cinta yang mulai mekar di dalam dadanya.

"Kau... benar-benar pandai bersilat lidah, Braxton Desmon," gumam Lux pelan, menyembunyikan wajahnya yang merona dengan menunduk.

Braxton terkekeh puas melihat perubahan ekspresi istrinya. Ia melepaskan kuncian tangannya pelan-pelan, lalu berdiri dari sofa seraya meregangkan badannya yang sedikit kaku akibat tertidur di sofa sepanjang malam.

"Nah, Nyonya Desmon," ujar Braxton kembali ke nada santainya yang hangat, "karena kita sudah saling jujur dan tidak ada lagi rahasia berat di antara kita... bagaimana kalau kita mulai pagi ini sebagai tim yang kompak?"

Lux mendongak, menaikkan sebelah alisnya. "Tim yang kompak?"

"Ya," Braxton menyunggingkan senyum miring gilanya yang menawan. "Hari ini hari Sabtu. Tidak ada jadwal kuliah di kampus. Dan karena kita berdua adalah pasangan suami istri rahasia yang kompak... aku akan memasakkan sarapan untukmu, dan kau bertugas membuatkan kopi untukku. Deal?"

Lux menatap Braxton selama beberapa detik. Bayangan tentang bagaimana mereka biasanya saling berteriak di dapur mendadak tergantikan oleh ide tentang sebuah kerja sama manis.

Lux menghembuskan napas pelan, lalu berdiri dari sofa seraya merapikan gaun merah marunnya.

"Deal," sahut Lux singkat, mencoba mempertahankan nada dinginnya meski senyum tipis di bibirnya tak bisa disembunyikan. "Tapi jika masakanmu tidak enak, aku akan melemparkan serbet ke wajahmu."

"Tantangan diterima," jawab Braxton tertawa.

Sepuluh menit kemudian, suasana dapur Penthouse berubah menjadi arena kerja sama yang hangat dan penuh keceriaan.

Braxton membalut tubuhnya dengan celemek hitam, sibuk mengocok telur dan memotong roti untuk membuat French Toast, sementara Lux berdiri di sebelahnya di depan mesin kopi espresso, menyiapkan dua cangkir cappuccino hangat.

Tidak ada lagi perang dingin, tidak ada lagi lemparan jaket tebal atau tuduhan-tuduhan liar. Mereka bergerak di area dapur yang terbatas dengan keserasian yang mengejutkan.

Sesekali, bahu mereka bersentuhan halus, dan setiap kali hal itu terjadi, Lux akan menyunggingkan rona merah di pipinya yang langsung disambut oleh tatapan goda dari Braxton.

"Gula dua sendok untukmu, kan?" tanya Lux seraya memutar tubuhnya membawa cangkir kopi yang mengepul hangat.

Braxton yang sedang membalikkan roti bakar di atas teflon melirik Lux, matanya berbinar hangat. "Kau mengingatnya?"

"Aku bukan orang pikun," cetus Lux gengsi, meletakkan cangkir kopi itu di atas meja konter. "Aku memperhatikanmu selama dua bulan ini, tahu."

"Ohooo... jadi selama dua bulan ini istri galakku diam-diam memperhatikanku?" goda Braxton, mematikan kompor dan memindahkan French Toast yang harum ke atas piring porselen.

"Jangan mulai lagi, Braxton," jawab Lux cepat, memutar matanya meski sudut bibirnya terangkat. "Cepat sajikan rotinya, aku sudah lapar."

Mereka berdua duduk berdampingan di kursi konter dapur, menikmati sarapan buatan mereka bersama dalam suasana yang begitu harmonis. Kombinasi rasa gurih French Toast dan kopi hangat melengkapi kedamaian pagi itu.

Saat Lux sedang memotong bagian kecil rotinya, seuntai rambut panjangnya terlepas dari kunciran dan jatuh menutupi sebagian wajahnya, hampir menyentuh piring.

Tanpa menghentikan kunyahannya, Braxton bergerak dengan begitu alami. Tangan kirinya terulur lembut, menyelipkan untaian rambut Lux ke belakang telinganya, membiarkan jemarinya mengusap pelan rahang halus istrinya.

Gerakan refleks yang begitu manis dan perhatian itu membuat Lux membeku sejenak. Matanya berkedip pelan, menatap Braxton yang hanya tersenyum santai seraya melanjutkan makan seolah-olah hal itu adalah hal paling wajar di dunia.

Kekompakan di antara mereka terasa begitu nyata. Mereka tidak perlu lagi mengucapkan janji-janji manis yang berlebihan; dari cara Braxton memperhatikan detail kecil tentang Lux, dan dari cara Lux mulai menerima serta mempercayai keberadaan Braxton di sisinya, sebuah ikatan rumah tangga yang sejati perlahan-lahan telah terbentuk.

"Brakton," panggil Lux pelan di tengah suapan rotinya.

Braxton menoleh. "Ya?"

Lux menatap kopi di dalam cangkirnya sejenak sebelum menatap Braxton dengan mata abu-abunya yang kini memancarkan rasa percaya yang utuh.

"Terima kasih," bisik Lux tulus. "Untuk... semuanya. Untuk tidak melepaskanku semalam, dan untuk... perkataanmu pagi ini."

Braxton tertegun sejenak. Senyum di wajahnya melebar—bukan senyum narsis, melainkan senyum kebahagiaan murni dari seorang pria yang merasa usahanya telah membuahkan hasil paling manis.

"Sama-sama, Istriku," balas Braxton lembut, mengusap puncak kepala Lux dengan penuh kasih sayang. "Ingat, kita adalah tim sekarang. Di kampus kita merahasiakannya, tapi di dalam Penthouse ini... kita adalah pasangan paling kompak di Los Angeles."

Lux terkekeh pelan, menyenggol lengan Braxton dengan siku tangannya seraya menyunggingkan senyum cantiknya yang merona.

Pagi itu, di lantai tertinggi kota Los Angeles, bayang-bayang ketakutan masa lalu Lux perlahan memudar digantikan oleh cahaya harapan baru.

Di bawah naungan ikatan pernikahan rahasia yang dulunya dianggap sebagai kutukan, Braxton dan Lux telah menemukan satu sama lain—dua jiwa yang saling melengkapi, saling menguatkan, dan siap melangkah bersama menghadapi dunia tanpa ada lagi kata kebohongan atau sandiwara.

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!