NovelToon NovelToon
Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Petualangan / TimeTravel / Contest / Barat
Popularitas:380.7k
Nilai: 5
Nama Author: J

Lanjutan dari kisah Catatan Dinasti Seribu Tahun.
(Jadi baca dulu kisah Catatan Dinasti Seribu Tahun, ya...)

Sebuah perang besar yang merupakan kunci lahirnya dinasti yang kelak akan bertahan hingga seribu tahun lamanya.

**

Bercerita tentang bagaimana Kerajaan Rhapsodia menjadi sebuah kekaisaran besar melalui serangkaian peperangan yang membuatnya berkuasa atas hampir separuh dari benua Elder.

Juga tentang kelanjutan nasib kedua pemuda dari dunia lain. Dapatkah mereka kembali ke dunia asal mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Peluru Sihir

Hari berikutnya Aksa dan Nata bersama Rafa, Lily, dan Luque menuju ke Garnisun Utara pagi-pagi benar. Mereka memerlukan waktu 3 jam mengendarai Kereta Besi dari Stasiun Gondola atas, dengan Aksa, Nata, dan Rafa bergantian mengemudi di tiap jamnya.

Tampak Lucia dan beberapa petinggi militer sudah berkumpul di komplek Garnisun tersebut. Ikut serta juga Cedrik dan beberapa anggota asli Bintang Api.

Tampak pula Parpera yang merupakan bintang tamu dari pertemuan kali ini. Gadis Morra itu mengenakan baju khas penyihir dengan jubah dan topi kerucut berwarna biru gelap. Di tangan kanannya terlihat menggenggam tongkat sihir pipih miliknya.

.

Setelah berbincang sebentar, mereka segera menuju ke gedung tempat para prajurit berlatih Senjata Sihir. Lebih tepatnya ke belakang gedung tersebut. Ke sebuah tanah lapang yang cukup luas, yang berhadapan langsung dengan dinding tebing utara.

Alexander, Eden, dan beberapa anak-anak bangsawan lainnya sudah menunggu di tempat tersebut.

"Wah, sepertinya banyak orang yang ingin melihat aksi Anda hari ini, Nona Parpera," ujar Aksa setelah memperhatikan berapa orang yang sekarang berada di tempat itu.

"Jarang-jarang melihat Penyihir Bulan beraksi," sahut Shuri yang berdiri di sebelah Margaret.

"Aku yakin, Sigurd, Axel, dan Ende akan merasa jengkel bila kita ceritakan tentang hal ini sekembalinya mereka nanti," timpal Shyam di sebelah Shuri.

.

Setelah beberapa pengurus Garnisun menyiapkan sasaran tembak dan memastikan keamanan wilayah sekitar, akhirnya tiba saatnya untuk Parpera beraksi.

Terlihat gadis itu menyimpan tongkatnya menggantung di pinggang sebelah kiri. Kemudian melepas topi kerucutnya dan menyerahkannya kepada Luque untuk disimpan, sebelum menerima pistol dari Rafa.

Semua orang terlihat mundur menjaga jarak dari posisi Parpera berdiri.

Gadis Morra dengan rambut dikepang panjang ke belakang itu mengangkat pistol dengan kedua tangannya. Kemudian membidikannya ke arah potongan logam Dracz, yang berukuran sebesar pintu Kereta Besi dan sudah diimbuh dengan sihir penguat.

Parpera terlihat menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kemudian ia mulai merapal.

Semua orang terlihat serius memperhatikan Parpera yang sedang merapal. Seolah sedang menanti hal penting yang tidak boleh dilewatkan.

Cahaya berbentuk lingkaran perlahan muncul di dapan moncong pistol gadis itu. Tiga kali rapalan, tiga lingkaran dengan warna yang berbeda muncul berjajar di depan moncong pistol tersebut. Kuning, merah, dan biru.

"Apa saja yang sedang ia rapal sekarang ini, Ra?" tanya Aksa kepada Rafa yang berdiri di sebelahnya.

"Anda lihat lingkaran sihir itu? Yang berwarna kuning muda itu sihir penguat. Sedang yang merah tua adalah sihir api. Dan terakhir, biru tua itu untuk sihir petir," jawab Rafa menjelaskan.

"Bersiap," ucap Parpera kemudian memberi aba-aba dan peringatan. Yang membuat semua orang terlihat waspada dengan segera.

Setelah itu Parpera menarik pelatuk pistolnya. Terdengar suara ledakan seperti biasa, dan kemudian peluru pun meluncur melewati laras pistol sebelum kemudian melesat keluar.

Tepat saat meninggalkan moncong pistol, peluru tersebut melewati tiga lingkaran sihir. Dan kemudian terlihat seperti garis sinar berwarna ungu gelap melesat lurus ke arah sasaran.

Suara ledakan keras terdengar menyusul. Cukup kencang hingga menarik perhatian prajurit lain di komplek Granisun tersebut.

Sedang logam Dracz yang cukup tebal dengan tambahan sihir penguat itu tadi, tampak terkoyak di bagian tengahnya. Namun tidak sampai melubanginya.

Sebentar terasa dinding bukit di belakang sasaran tebak itu seperti bergetar. Terlihat debu dan pasir jatuh berhamburan ke bawah.

Suasana menjadi hening sampai kemudian Parpera menurunkan pistolnya. Beberapa orang terlihat menahan nafas menyaksikan kedasyatan senjata yang di sebut dengan Peluru Sihir tersebut.

Aksa terlihat menganga kagum. "Apa itu tadi tembakan laser?" sahutnya dengan semangat.

"Benar-benar mengejutkan." Nata juga tampak kagum melihat kekuatan dari peluru sihir tersebut. "Tapi memang rapalannya memakan cukup banyak waktu untuk satu kali serangan saja," ucapnya lagi memberikan penilaian.

"Itu tadi peluru gabungan petir dan api?" Aksa bertanya memastikan. Ia terlihat sangat antusias.

"Benar. Peluru yang diimbuhi sihir petir dan sihir api akan menghasilkan daya ledak yang cukup besar saat menghantam sasaran. Namun tidak memiliki daya tembus sebesar bila kita mengimbuhkan sihir angin." Rafa memberikan penjelasan tambahan kepada Aksa.

"Jadi setiap kombinasi sihir memiliki dampak yang berbeda-beda? Menarik sekali. Dan apa sihir penguat itu harus selalu digunakan untuk menjaga agar peluru tidak hancur sebelum mengenai sasaran?" duga Aksa kemudian.

"Anda benar sekali, Tuan Aksa. Bila tanpa sihir penguat, peluru akan hancur saat berada di udara. Jadi secara struktur sihir penguat itu memang harus selalu ada. Dan harus dirapal pertama kali. Bila tidak, peluru tidak akan bertahan lebih dari dua jarak tembakan panah." Rafa terlihat mulai terbawa ikut bersemangat.

"Bisakah kau tulisakan secara rinci cara, struktur, dan dampak dari yang pernah kau coba?" pinta Aksa kemudian.

"Bisa, Tuan Aksa," jawab Rafa dengan anggukan dalam. "Nanti malam akan mulai saya kerjakan," tambahnya.

"Jadi bagaimana menurut kalian?" Lucia yang berdiri di antara Jean dan Nata bertanya.

"Apa kalian sudah menemukan cara untuk menahan serangan yang seperti itu?" Alih-alih menjawab, Nata malah balik bertanya.

"Belum." Rafa menjawab.

"Kalian harus segera menemukan caranya. Karena bila metode ini sampai jatuh ke tangan lawan yang kemudian digunakan untuk balik menyerang kita, setidaknya kita sudah siap untuk menghadapinya." Nata menambahkan.

"Oh iya, benar sekali itu." Aksa terlihat mengangguk setuju. "Mengingat setiap penyihir yang bisa menggunakan pistol memiliki kemungkinan besar untuk menembakan peluru berdaya rusak sebesar itu tadi," ucapnya kemudian.

"Saya mengerti tentang hal tersebut." Parpera berjalan mendekat ke arah Rafa. "Saya, Nona Rafa, dan Nona Ende sedang berusaha mencari cara untuk menahan serangan tersebut. Bahkan bila memungkinkan, membatalkan serangan tersebut di tengah jalan," ucapnya kemudian seraya mengembalikan pistol Rafa.

"Dan karena itu juga, sekarang ini cara penggunaan sihir tersebut tidak kita ajarkan di Garnisun Pelatihan Senjata Sihir," lanjut Rafa yang kembali menyimpan pistolnya di pinggang belakang, tersembunyi di balik jubahnya. "Setidaknya sampai kita berhasil menemukan cara untuk menahannya."

"Baguslah kalau memang begitu. Bila sampai metode ini bocor, kita akan sedikit kualahan untuk menghadapinya," jawab Nata yang terlihat sedikit lega.

"Ya, saya mengerti." Rafa dan Parpera menjawab nyaris bersamaan.

"Dan behubung kita semua di sini, sekalian saja aku ingin melihat bagaimana bila jenis sihir penghancur diimbuhkan pada senjata," ucap Aksa ketika Parpera sudah kembali mengenakan topi kerucutnya.

"Bila itu untuk senjata jarak sedang, seperti pedang atau tombak, sihir api adalah jenis sihir yang paling tepat untuk diimbuhkan," sahut Rafa menjawab.

"Baiklah, coba perlihatkan bagaimana wujud dari pedang api itu," ucap Aksa bersemangat.

"Saya akan coba peragakan." Kali ini Parpera yang menjawab.

Dan merekapun kembali memasuki gedung pelatihan.

-

1
HyugaSmoky
Lanjut Thor
Whisnu Grenaldo
test
Hanif Purwo nugroho
skak mat😂
Hanif Purwo nugroho
mungkin senjata penetral sihir punya aksa cocok di terapkan secara masal ke sekumpulan pasukan bruixeria
Hanif Purwo nugroho
emosi tertahan akibat cemburu tanpa sadar 😂
Hanif Purwo nugroho
tumben aksa gak manggil yvone dg panggilan loli elf🤣
Hanif Purwo nugroho
bodohnya augra, kenapa dia gak milih satupun wilayah urbar yg berbatasan dg laut untuk di kuasai. wilayah ignus misalnya. dg begitu kan, mereka bisa punya akses ke laut yg memberi manfaat dalam beberapa hal. walaupun secara geografis. mereka termasuk kerajaan pedalaman yg selama ini terkepung daratan. yg gak bisa gerak kemana² tanpa lewat wilayah kerajaan lain.
Hanif Purwo nugroho
c61 peta augra
Hanif Purwo nugroho
berarti saat ini umur Jean yadah 35 tahun donk.
ANDRY VOKU BADRA
Sepertinya sang author tidak diketahui rimbanya 🤔🤔🤔
juliawan arif susanto
👍👍👍
ANDRY VOKU BADRA
apa kabar authornya? 🤔🤔🤔
Al^Grizzly🐨
Mengulang kembali cerita ini...Sudah 4x baca.
Eny Sulasmi
ya ya yaaaa
Samsul Arif
recommended
Bean Ariyanto
Luar biasa
Sri Dewi
saya kasi 3 sebab g di lanjut
Sri Dewi
ga di lanjut ni tor
Usman Zainal
tamatt..???
Ice cream
ok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!